
Kayla diam saja tidak berkata sepatah kata pun. Dia malas menanggapi nasihat Andre. Menurutnya Andre masih termakan ucapan David.
"Ayo kita pulang dulu! Besok kita kembali lagi! Suasana hati kalian masih memanas, jadi akan sulit berkomunikasi dengan baik," ajak Andre memegang tangan David.
"Tidak! Aku tidak akan pulang kalau istriku belum memaafkan aku!" tolak David kekeh.
"Hem, terserah padamu saja!" Andre mengusap bahu David untuk menguatkannya.
"Aku mau izin pulang sekarang! Oh ya, tolong pikirkan matang-matang ucapanku tadi Kay. Ingat penyesalan tidak akan datang di awal," pamit Andre tersenyum menatap Kayla.
Kayla semakin malas menanggapi ucapan Andre. Dia menghembuskan napasnya kasar.
Andre segera pergi dari sana. Hanya tinggal David dan Ibu kos saja.
"Ibu kos, aku mohon pamit untuk tidur kembali," izin Kayla tersenyum ramah.
"Eh, la ini suamimu bagaimana?" tanya Ibu kos cemas dan bingung.
Kayla langsung menghela napas panjang.
"Terserah dia saja, Bu! Mau dia pulang atau mau tidur di mana saja ... yang terpenting jangan tidur di kamarku. Ya sudah. Aku masuk dulu ke dalam," jelas Kayla malas. Dia langsung menutup pintunya.
"Aduh, memang sulit rasanya menyatukan dua insan yang sedang dilanda amarah!" Ibu kos menggelengkan kepala.
"Maaf, aku juga harus segera kembali! Suamiki pasti menungguku," pamit Ibu kos menghela napas.
"Iya, Bu." David mengangguk.
Ibu kos segera berlalu dari sana. Dia tak ingin terlalu ikut campur masalah rumah tangga orang lain.
Kini tinggal David sendiri di depan kamar kos Kayla. Dia memutuskan untuk duduk di emperan lantai menunggui istrinya. Hembusan angin malam terasa sangat dingin menyapu tubuhnya.
Kayla segera membaringkan tubuhnya di samping Kaysa yang masih terlelap. Dia sama sekali tidak peduli dengan aksi berlebihan David. Baginya apa yang dilakukan David hanya sebuah usaha untuk menggapai hati adiknya kembali.
"Kita lihat saja sampai mana pertahananmu itu," gumam Kayla tersenyum getir.
***
Cukup lama David melamun di luar. Tiba-tiba suara gemuruh petir mengagetkan David. Dia langsung menatap ke arah langit. Gemerlap cahaya listrik terlihat menyala-nyala di awan. Dia tak peduli akan turunnya hujan atau badai sekalipun. Dia tetap pada pendiriannya. Duduk manis sambil meratapi nasibnya.
Tak lama kemudian gemeritik air jatuh dari langit. David tetap diam saja di tempatnya menikmati tetesan demi tetesan air yang jumlahnya semakin banyak membasahi tubuhnya. Hatinya langsung mendingin merasakan sejuknya air.
__ADS_1
"Ups, ternyata hujan turun malam ini. Pasti dia sudah tidak ada lagi di depan. Mana mungkin dia bertahan malam-malam di bawah guyuran air hujan," gumam Kayla kembali memejamkan matanya.
Baru saja Kayla memejamkan matanya, terdengar suara seorang pria bertegur sapa dengan David. Dia kembali membuka matanya lebar-lebar. Memasang telinganya baik-baik untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
"Mas, hujannya begitu lebat! Sebaiknya, Mas ikut masuk saja ke dalam kamar kosku! Kita kan laki-laki, jadi tidak masalah dalam satu ruangan!" teriak pria itu kasihan.
"Terima kasih, Mas! Aku di sini saja! Air hujan ini malah terasa begitu menyejukkan hatiku," tolak David tersenyum.
"Haduh, ini orang kalau lagi galau dinginnya air hujan malah dianggap menyejukkan." Pria itu menepuk jidatnya pelan.
"Memang sejuk sih, Mas! Akan tetapi, kalau terlalu lama bisa-bisa Mas masuk angin entar!" teriak pria itu menasihati David.
"Baguslah kalau sampai aku masuk angin! Bahkan, kalau perlu disambar petir pun aku tak masalah!" David tersenyum getir.
"Oh Tuhan, akal manusia memang suka eror kalau lagi galau gitu! Mati saja seolah tak takut. Padahal jika lagi bahagia mintanya panjang umur terus," gumam pria itu tersenyum tak percaya.
Kayla di dalam langsung tersenyum mengejeki aksi bodoh yang dilakukan David. Dia seolah tak memiliki hati membiarkan David tersiksa di luar menahan dinginnya guyuran air hujan.
"Oh Tuhan, bisa-bisanya adikku berjodoh dengan pria macam dia! Pintar sekali dia mencari belas kasihan orang lain." Kayla menghembuskan napasnya kasar.
"Kalau dia sampai sakit pasti aku yang akan direpotkan ... bukanlah istri mudanya itu! Dasar David si kadal buntung ... bisa-bisanya dia membuat kesusahan untuk adikku terus!" Kayla segera bangkit dari posisinya.
Dengan gembiranya David segera menengok ke arah pintu. Bibirnya melengkung ke atas. Hatinya senang sekali melihat sang istri membuka pintu.
"Kay!" sapa David.
"Ayo masuk!" ajak Kayla dengan nada ketus.
"Kamu serius?" tanya David belum percaya.
"Hem," balas Kayla malas.
David bersemangat bangkit dari duduknya. Kondisi tubuhnya yang basah kuyub membuatnya ragu untuk masuk ke dalam kamar kos. Dia takut kamar Kayla jadi basah semua.
"Tapi, Kay, nanti kamarmu jadi basah semua," ucap David ragu.
Kayla menghela napas kasar.
"Baiklah! Tunggu sebentar! Biar aku ambilkan handuk dulu!" Kayla segera masuk ke dalam.
"Nih!" Kayla mengulurkan handuk pada David.
__ADS_1
"Terima kasih banyak," balas David tersenyum senang.
Dia segera mengelap wajah dan tangannya yang basah.
"Oh ya, sekalian bajumu dibuka saja!" perintah Kayla malas.
David mengangguk. Sungguh hatinya menghangat. Walaupun istrinya terdengar ketus dan malas berbicara dengannya.
David segera membuka bajunya.
"Kemarikan!" tegas Kayla malas. Dia terpaksa berbuat baik pada David malam ini agar David tidak sakit.
"Iya!" David menyerahkan bajunya yang basah kuyub.
"Em, bagaimana dengan pakaian bagian bawahnya? Apa aku buka sekalian saja?" tanya David.
Kayla langsung tertegun. Pikirannya melayang ke mana-mana.
"Huh, bisa-bisanya dia ingin membuka pakaian bawahnya di luar! Apa dia tidak memiliki rasa malu sama sekali?" tanya Kayla dalam hati. Dia melirik sinis David.
"Pantas saja dia mudah sekali berbuat asusila pada wanita lain. Urat malunya sudah putus begitu," sambung Kayla dalam hati.
"Kay, kok kamu diam saja? Jika aku salah lagi ... mohon dimaafkan?" tanya David cemas.
"Sana masuk ke dalam! Kamu ganti pakaian bawahnya di dalam kamar mandi saja!" tegas Kayla jutek.
"Baik!" David tersenyum hangat. Sebenarnya dia hanya mengetes saja tadi. Dia ingin tahu isi hati istrinya.
Mereka segera masuk ke dalam.
"Itu kamar mandinya?" tanya David basa-basi.
"Bukan!" ketus Kayla tambah kesal dengan sikap David yang sok cari perhatian itu.
"Lalu, di mana kamar mandinya?" tanya David pura-pura bodoh. Padahal dia tahu kalau itu kamar mandinya.
"Itu di rumah istri mudamu! Sudah sana pulang saja ke rumahnya!" usir Kayla tak tahan lagi. Emosinya sudah sampai di ubun-ubun.
David langsung melebarkan matanya. Ternyata usahanya pendekatannya malah memperkeruh suasana. Bukannya Kayla membaik yang ada Kayla semakin marah dan tidak menyukainya.
.
__ADS_1