Bertukar Suami

Bertukar Suami
part 31


__ADS_3

Lima bulan kemudian.


Fiona dibingungkan oleh Filio (Firman) tidak bisa menjalankan perusahaan dengan baik dia sering melamun memikirkan Ana, sehingga perusahaan mengalami kerugian besar dan menjadikan kesempatan Jack untuk melengserkan Filio dari jabatan CEO. Tapi Fiona masih bisa menangani semua masalahnya.


Filio (Firman) berkali-kali mencoba menghubungi dan menemui Ana, Tapi selalu di gagalkan oleh Fiona.


Di rumah Fiona


Ruang tengah


"kak, sampai kapan kakak akan seperti ini terus?, perusahaan membutuhkan kakak, dan kondisi perusahaan saat ini sedang kacau." kata Fiona


"jika kamu ingin aku mengurus perusahaan dengan baik, maka biarkan aku bertemu dengan istriku dan mengurusnya." jawab Filio


"Baiklah, kita bisa atur itu!" jawab balik Fiona


"kamu serius Fio?" tanya Filio dengan wajah berbinar-binar


"ya" jawab Fiona


Di rumah Bondan.


umur kandungan Ana kini sudah masuk tujuh bulan. Sedangkan Anita saat itu juga tengah hamil juga umur kandungannya hampir sama dengan Ana.


sejak di ketahui Anita hamil, sikap Sofi berubah seperti dulu terhadap Ana.


Sofi jadi kejam terhadap Ana meski Ana tengah mengandung. Ana setiap harinya harus masak dan bersih-bersih rumah. awalnya Ana menuruti perintah Sofi. tapi Ana tidak bodoh, jadi dia diam-diam mencari ART.


Sebelum Ana mendapatkan ART, dia setiap harinya harus memasak dan bersih-bersih rumah sendiri. meski begitu dia juga tetap bekerja.


malam itu Ana ketiduran di kamar kecapean dan tidak sempat memasak juga lupa membeli makanan untuk makan malam.


Semua orang tengah menunggu di meja makan, tapi tidak ada makanan yang tersaji di meja itu.


"ma, ini Ana kemana sih ma?, kok jam segini belum ada makanan di meja?!" tanya Anita.


"iya ni ma!, aku udah laper banget. kasian juga tu cucu mama yang ada di perut Anita dia pasti udah kelaparan!!" saut Rudi


"mungkin dia capek, mending kita pesan makanan saja dari pada nunggu lama" kata Bondan yang tidak mau ribet karna sudah capek setiap hari mendengar keributan di rumahnya hanya karna masalah kecil dari Ana.


"enak aja dia udah numpang hidup di rumah kita tapi malah lupa dengan tugasnya" kata Sofi


"lagian mama kenapa sih nampung perempuan gak jelas itu di rumah kita?, dia itu bukan keluarga kita!, dulu sih memang menantu mama. tapi sekarang si Firman juga entah kemana tidak ada kabar. ngapain masih menampung orang yang tidak ada hubungannya dengan kita?!". kata Rudi

__ADS_1


"iya ma, betul tu kata mas Rudi. Ana itu bukan lagi menantu mama. jadi usir aja dia ma"


"benar juga sih, lagian dia juga gak mau lagi ngasih uang ke mama. alasannya uangnya mau di gunakan untuk biaya persalinan nanti. Ana tu ya...! perhitungan banget sama mama" kata Sofi.


"udah!, ini jadi makan gak ni? papa udah lapar" kata Bondan mengalihkan pembicaraan.


"kita makan di luar aja yuk pa, udah lama juga kita gak makan di luar" ajak Sofi dengan antusias


"ya udah ayo...!" jawab Bondan


keesokan harinya.


hari itu hari minggu jadi semua orang di rumah karna libur kerja.


Ana pun masih tertidur di kamarnya.


"dok dok dok" terdengar suara orang mengetuk pintu dengan keras.


"Ana...Ana... hei... bangun... dasar pemalas" teriak Sofi


Ana yang tengah tidur sontak langsung bangun dan membuka pintu kamarnya.


"ada apa sih ma... teriak-teriak?" tanya Ana bingung karna baru bangun dari tidurnya


"ya udah, aku ke dapur lalu masak untuk kalian" kata Ana santai.


"gak perlu"


"kok gak perlu, katanya tadi kalian lapar?"


"kami semua sudah sarapan, sekarang kamu bangun dan kemasi barang-barang kamu lalu pergi dari rumah ini" kata Sofi sinis


"memangnya ada apa ma...? aku salah apa?, jika aku keluar dari rumah ini, nanti kalau mas Firman pulang bagaimana. dia pasti bingung nyariin aku"


"Firman tu gak akan mungkin balik ke rumah ini lagi!. sudah berbulan-bulan dia tidak pulang, jadi tidak mungkin Firman akan kembali ke sini nyari kamu. dia tu udah lupa sama kamu, atau mungkin dia udah mati. sudah cepat kemas semua berang-barang mu lalu pergi dari sini." kata Sofi ketus sembari memicingkan bibirnya


Di ruang tengah


Sofi dan yang lainya sedang duduk dan berbincang-bincang.


Ana datang dari arah kamarnya dengan membawa koper berisi pakaian dan beberapa barang di dalam tas.


"tunggu" kata Sofi

__ADS_1


Ana yang sedang berjalan keluar dengan menarik kopernya dan membawa tas langsung berhenti.


"ada apa ma?" tanya Ana sedikit bingung.


"letakkan semua barang-barangmu di sana. kemarilah, duduk sebentar aku mau bicara" Kata Sofi.


Ana meletakkan koper dan tasnya lalu duduk di Sofa bersama Sofi dan yang lainnya.


"kamu sudah tinggal lama di sini, setidaknya kamu harus bayar dulu sebelum kamu keluar dari sini." sofi melanjutkan perkataannya.


"apa? bayar!, aku gak salah dengar?!. aku tinggal di sini juga selama ini melayani kalian, setiap hari aku masak untuk kalian dan juga bersih-bersih rumah. harusnya aku yang di bayar karna sudah bekerja sebagai ART di rumah ini." jawab Ana kesal"


"itu sudah kewajiban kamu, aku tidak mau tau kamu harus bayar."


"kalau memang aku harus bayar, berapa aku harus membayarnya?!"


"Dua puluh juta. ya, kamu harus membayarnya dua puluh juta"


"jika aku menolak,maka ini tidak akan berakhir dengan cepat, sebaiknya aku iyakan dan mencari alasan dulu" batin Ana sembari berfikir.


"baik, tapi aku tidak punya uang kes. jadi aku akan transfer nanti."


"kenapa harus nanti?!, kamu harus transfer sekarang!. kan bisa transfer lewat handphone" kata Anita yang takut jika Ana akan berbohong


"gimana caranya aku mau transfer lewat handphone. handphone ku saja tulalit" kata Ana menahan senyum.


Ana tidak berbohong karna memang handphonenya tulalit.


"kalau begitu bayar dulu dengan uang yang ada sekarang" kata Sofi


Ana merogoh uang yang ada di saku celananya lalu di berikan pada Sofi.


"hanya ini yang ada"


"apa?, cuma 500rb. Hmmmm, baiklah kamu boleh pergi sekarang, jangan lupa transfer uangnya nanti" kata Sofi setelah menerima uang dari Ana.


Ana pun segera keluar dengan membawa barang-barangnya dan pergi dari rumah itu dengan taksi yang sudah di pesannya.


di perjalanan Ana tidak sadar meneteskan air mata. dia mengelus perutnya


"sabar ya sayang...!, sesulit apapun hidup ibu, ibu akan terus menjagamu dan selalu bersamamu meski tanpa ayah mu" Ana mengajak bicara buah hatinya yang masih berada di dalam perutnya.


lalu dia melihat ke luar dari arah jendela kaca taksi di sampingnya.

__ADS_1


"mas Firman, apakah kamu tau! kita sebentar lagi akan punya baby?!. aku kangen sama kamu mas, aku butuh kamu" batin Ana semberi meneteskan air matanya.


__ADS_2