Bertukar Suami

Bertukar Suami
Alasan


__ADS_3

Kini mobil yang menjemput Nayla sudah datang. Pak Sopir melebarkan matanya ketika mendapati kondisi Nayla yang kacau balau. Tubuhnya basa dan tidak berupa lagi. Nayla seperti habis mendapatkan kejutan dari para teman-teman di saat hari ulang tahunnya.


"Astaga, Non habis perang di mana?" tanya Pak Sopir meringis. Dia ingin tertawa namun takut dipecat.


"Sudah, jangan banyak tanya!" Nayla bergegas masuk ke dalam mobil.


Pak Sopir segera menutupnya.


"Aduh, ada-ada saja kelakuannya." Pak Sopir berlari cepat memutari mobil. Lalu, masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil, diam-diam Pak Sopir mengamati kondisi Nayla. Ternyata di bagian pipi, kening, dan sudut bibirnya terdapat luka. Lidahnya hampir saja bergerak ingin bertanya soal apa yang menimpa majikannya itu. Namun, Nayla keburu berbicara duluan.


"Ingat Pak, kalau Ibu dan Ayah bertanya soal lukaku ini ... bilang saja kalau aku habis dikeroyok ibu-ibu tidak dikenali di depan mol. Soal alasannya bilang saja kalau mereka salah orang," pinta Nayla dengan tatapan dingin.


"Baik, Non!" Pak Sopir mengangguk patuh.


"Kira-kira hal apa yang menyebabkan Non Nayla jadi babak belur begitu? Apa dia habis bertengkar dengan istri tuanya mas David? Tapi, masa iya sih ... istrinya mas David segarang itu?" gumam Pak Sopir dalam hati. Dia menerka-nerka soal Nayla.


***


Sorenya tepat pukul lima sore, David mengunjungi rumah Nayla. Namun, dia malah dikejutkan dengan kabar bahwa Nayla dibawa ke rumah sakit. Otomatis dia beralih memacu kendaraannya ke rumah sakit yang disebutkan pembantu Nayla.


Sesampainya di rumah sakit David kembali dikejutkan dengan penampakan Nayla.


"Astaga, apa yang sebenarnya terjadi padamu?" tanya David menganga.


"Hem, tadi pas di depan mol tiba-tiba ada kerumunan ibu-ibu yang menyerangku," bohong Nayla karena tak ingin dicurigai David. Jujur selain malu berat. Dia juga takut David akan marah besar kalau mengetahui aksinya.


"Hah, alasan apa mereka bisa berbuat itu padamu?" tanya David penasaran.


"Tadi, mereka salah target. Mereka mengira aku orang yang sudah merebut suami salah satu dari mereka." David langsung menahan tawa mendengarnya. Bibirnya sedikit melengkung.


"Kok, bisa seperti itu? Apa jangan-jangan kamu pernah punya masa lalu menjadi simpanan om-om gara-gara aku tinggal menikah," tanya David sok memasang wajah serius. Padahal dia ingin tertawa mendengar kesialan Nayla tersebut.


Nayla terdiam sejenak. Lalu, dia segera menangkis tuduhan David.


"Hisss, kalau bicara itu jangan mengada-ngada. Mana sudi aku dijadikan simpanan om-om. Seharusnya, kamu sudah tahu alasan para wanita sudi menjadi simpanan om-om," jelas Nayla kesal. Dia tidak terima dihina oleh David.

__ADS_1


"Sori, aku kan hanya memastikan saja. Aku merasa ada yang janggal saja sama alasanmu itu," jelas David terus menahan senyum dan tawa agar tidak keluar.


"Terserah, kamu mau percaya atau tidak," ucap Nayla sendu.


"Oh ya, kenapa kamu dua hari tidak mengunjungi aku sama sekali?" tanya Nayla cemburu.


"Oh, soal itu karena aku harus menghadiri acara di rumah keluarga adik iparku. Jadi, kamu jangan berburuk sangka," jelas David mulai malas.


Nayla diam saja.


"Oh ya, aku mau berbicara sama kamu soal hubungan pernikahan kita," ucap David.


"Maksud kamu?" Nayla menatap David penuh tanya.


"Aku dan kamu kan menikah karena sebuah kecelakaan. Pernikahan ini juga hanya untuk mempertanggungjawabkan kejadian malam itu. Jadi, aku tak bisa menjalani hubungan kita layaknya suami istri pada semestinya," jelas David santai seperti tak ada beban sama sekali. Bebannya hanya terletak pada Kayra istrinya.


Sementara Nayla langsung melebarkan matanya tidak percaya.


"Mana bisa seperti itu? Pernikahan aku dan kamu sama saja layaknya pernikahan kamu dan Kayra. Jadi, kamu harus tetap memperlakukan aku sama seperti Kayra," tolak Nayla tidak terima.


"Tidak bisa begitu, Nay. Kamu tidak boleh egois," jelas David mulai kesal.


"Memang sah, tapi aku dan kamu hanya nikah sirih untuk mempertanggungjawabkan kehamilanmu itu. Berbeda dengan pernikahan aku dan Kayra. Kami sah di mata agama dan negara. Lagi pula aku sangat mencintai istriku. Aku tak ingin kehilangan dia," jelas David menahan amarah menghadapi Nayla.


"Baiklah, aku terima jika kamu tak mencintaiku lagi. Akan tetapi, apakah kamu sama sekali tak memiliki rasa sayang atau cinta pada darah dagingmu ini." Nayla mengelus perutnya yang masih rata.


Deggg!


Hati David langsung nyeri. Dia teringat pada masa-masa di saat dia belum menyayangi Kaysa. Tanpa disadarinya sebulir air merembes dari matanya.


"Maafkan Ayah ... Kaysa," batin David teriris.


"Kenapa kamu hanya diam saja? Apa kamu teringat dengan masa-masa pahitmu dulu? Asal kamu tahu ... aku paham sekali kisah perjalanan rumah tanggamu itu. Jadi, apa kamu akan melakukan hal yang sama terhadap calon anakmu yang ada di rahimku?" tanya Nayla sesenggukan.


David masih terdiam. Dia dibuat dilema dengan pernyataan Nayla soal rasa sayangnya pada calon anak barunya itu.


"Jangan bilang kalau kamu akan menyesalinya juga, David?" sambung Nayla sedikit menyunggingkan bibirnya. Dia paham sekali bahwa David mulai lemah.

__ADS_1


"Baiklah, aku tidak akan mengulangi kesalahan lagi. Aku akan menyayanginya. Namun, hanya sebatas menyayangi calon anakku saja," jelas David memejamkan matanya.


"Oke, tak masalah. Namun, aku meminta sama kamu untuk memberi perhatian sedikit buat dia yang ada di rahimku," pinta Nayla tersenyum tipis.


"Baik," balas David datar.


"Malam ini, kamu harus temani aku bermalam di sini. Sungguh, aku sangat membutuhkan kamu," pinta Nayla tersenyum.


"Em, soal itu. Aku akan meminta izin dulu pada istriku," jelas David datar.


"Hey, kenapa harus begitu? Bukankah kamu berjanji akan menyayanginya? Bagaimana kalau nanti Kayra tidak setuju?" protes Nayla mulai kesal.


"Huh, kamu terlalu berburuk sangka pada istriku. Asal kamu tahu ... aku kemari karena dia yang menyuruhku. Dia bilang aku tak boleh bersikap tidak adil pada salah satu di antara kalian berdua," terang David tidak terima.


Nayla langsung terdiam. Dia kembali merasa malu karena asal saja menilai Kayra.


"Ya sudah. Aku mau pulang dulu! Nanti, aku kabari lagi soal permintaanmu," pamit David bergegas pergi. Dia tidak menunggu lagi Nayla mengizinkan atau tidak.


"Astaga, pantas saja Kayra bisa merebut hati David. Hatinya saja selemah itu," batin Nayla menghela napas.


Langkah David berhenti sejenak saat berpas-pasan dengan kedua orang tua Nayla di koridor rumah sakit.


"Loh, kok buru-buru sekali, Vid? Padahal ini baru saja Ibu belikan camilan," ucap ibunya Nayla ramah.


"Iya, kenapa kamu terburu-buru sekali? Sebenarnya Ayah ingin berbicara penting sama kamu," imbuh ayahnya Nayla ramah.


"Kalau soal itu gampang, Yah. Nanti, aku kembali lagi kok. Aku harus pulang dulu ke rumah. Takutnya nanti istriku cemas karena aku tak kunjung pulang," jelas David tersenyum.


"Hem, jangan bilang kalau kamu lupa berpamitan dulu sama istrimu mau menengok Nayla?" tanya ibunya Nayla tersenyum tipis.


"Iya benar. Tadi, karena terburu-buru aku sampai lupa," alasan David tersenyum.


"Hem, lain waktu jangan sampai begitu," tegur ibunya Nayla tersenyum.


"Iya, Bu!" David tersenyum.


"Ya sudah, pulanglah dulu minta izin!" nasihati ibunya Nayla tersenyum.

__ADS_1


"Baik, Bu!" David tersenyum lalu bergegas ingin pergi.


"Eh, tunggu sebentar, Vid!" cegah ibunya Nayla.


__ADS_2