
"Jangan! Aku mohon ampuni aku! Aku janji tidak akan mengulanginya lagi! Aku terpaksa melakukan hal itu karena aku tengah butuh uang!" Andi ketakutan sekali. Tubuhnya meronta-ronta minta dilepaskan. Namun, cengkraman David tidak bisa dia lepaskan dengan mudah.
David tersenyum miris melihat reaksi ketakutan Andi.
"Stop! Lebih baik, kalian panggilkan satpam saja! Kalian tidak perlu ikut campur dalam menanganinya!" tegas David tersenyum sengit menatap Andi.
"Baik!" Mereka menurut.
"Huh, gitu saja kamu takutnya minta ampun! Tidak sebanding dengan perbuatan burukmu itu!" Salah satu dari mereka mendorong kuat kepala Andi karena terlalu kesal mengingat perbuatan buruk Andi.
Andi diam saja. Dia tak berani mengeluarkan ekspresi marah walaupun sudah diinjak-injak harga dirinya.
"Ayo kita panggil Pak Satpam sekarang biar dia segera diserahkan ke pihak hukum," ajak salah seorang dari mereka sudah tidak sabar.
"Yuk," sahut mereka setuju.
Mereka segera pergi dari ruangan Kayla. Di depan ruangan Kayla sudah banyak orang-orang berkumpul termasuk para perawat rumah sakit yang tahu.
"Cepat beritahu aku di mana istriku saat ini berada?" tanya David menatap tajam Andi.
"Aku tidak tahu! Tadi, dia dibawa temanku!" jelas Andi ketakutan.
"Jangan bohong kamu! Apa kamu tidak cemas dengan kepalan tanganku ini? Inginkah kamu tidak memiliki gigi lagi!" David menggertakkan giginya karena tambah emosi.
"Tidak, aku berani sumpah!" tegas Andi gemetar.
"Kau!" David hendak melayangkan pukulan lagi. Namun, kedua orangtuanya Damar dan Mbok Nem segera mencegahnya.
"Jangan, Vid! Dia tidak berbohong! Tadi, kami sempat mendengar percakapan dia sama Kayla!" teriak ayahnya Damar cemas.
"Baik, lalu siapa yang sudah membawa istriku, hah!" bentak David seperti ingin menelan Andi.
"Aku yang membawanya!" sahut Al yang sejak tadi hanya menonton saja di depan pintu.
David dan anggota orang rumah Damar langsung menengok ke arah Al. David langsung mengenalinya.
"Hey, bukankah kamu tetangga istriku yang waktu itu?" tanya David memastikan.
__ADS_1
"Iya benar. Mari ikut denganku jika ingin bertemu dengan Kayra," ajak Al tersenyum.
"Baik. Tolong kalian pegang dia agar tidak kabur!" pinta David menatap orang-orang.
"Siap!" Beberapa orang laki-laki langsung mendekati David.
Sementara di halaman rumah sakit, tampak Kayla terus berlari mengejar Damar.
"Mas, aku bisa jelaskan semua ini!" teriak Kayla sambil menangis.
Damar tidak memedulikan Kayla. Dia terus melangkah cepat menghampiri mobilnya.
"Mas, maafkan aku! Aku terpaksa melakukannya! Aku divonis mandul, Mas!" jelaskan Kayla sambil terus mengejar Damar.
Damar langsung menghentikan langkahnya tepat di dekat pintu mobilnya.
"Kamu mandul?" tanya Damar sendu. Dia tersenyum pahit menerima kenyataan tersebut.
"Iya, Mas. Aku mandul!" Kayla hendak meraih tangan suaminya. Namun, Damar segera menangkisnya.
"Tapi, aku melakukan semua itu karena Bibi Lin yang terus-terusan memojokkan aku, Mas!" Kayla menangis tersedu-sedu.
"Astaga buat apa kamu merasa terpojokan jika memang itu kenyataannya Kayla. Lagi pula, aku tak pernah menuntutmu! Kita juga bisakan mengadopsi anak jika memang sudah seperti itu takdir kita." Damar menggelengkan kepalanya. Matanya terpejam sesaat untuk menetralisir hawa panas di hatinya.
"Maaf, Mas! Aku takut kalau kamu akan menikah lagi setelah mengetahui kekuranganku," jelas Kayla tersedu-sedu.
"Hey, memang pernah aku berkata ingin menikah lagi jika kamu tidak bisa memberiku keturunan?" tanya Damar menahan rasa sesak di dadanya akibat tuduhan Kayla.
Kayla langsung menggelengkan kepala.
"Nah, itu tahu. Tapi, kenapa kamu malah meragukan cinta dan kasih sayangku yang tulus itu? Jangan bilang kalau kamu takut tidak kebagian harta warisan jika tidak bisa memberiku anak?" tanya Damar tersenyum getir.
Deg!
Kayla terdiam sejenak menahan perih di hatinya. Lalu, dia membantah tuduhan Damar tersebut.
"Itu tidak benar, Mas! Kenapa Mas tega menuduh aku seperti itu?" Kayla menatap Damar sendu.
__ADS_1
"Aku hanya ingin kita memiliki keluarga yang lengkap itu saja," sambung Kayla tersedu-sedu.
"Sudahlah, kamu jangan memungkirinya Kayla! Kalau hanya ingin kita memiliki keluarga yang lengkap ... kita bisa mengadopsi anak di luaran sana! Tanpa harus berbuat hal bodoh dan penuh dosa ini!" Tuding Damar marah.
Kayla langsung terdiam meresapi penyesalannya.
"Aku sangat membencimu, Kayla! Ingat mulai detik ini kamu bukan lagi istriku!" Damar segera membuka pintu mobil dan masuk.
"Mas, kumohon jangan ceraikan aku! Buka pintunya Mas! Maafkan aku!" Kayla menggedor-gedor kaca mobil Damar sambil menangis histeris
Damar tidak memedulikannya. Dia malah menyalakan mesin mobilnya.
Mengetahui hal itu, Kayla semakin histeris lagi.
"Mas! Please, Mas! Kumohon!" Kayla terus menggedor-gedor kaca mobil Damar. Dia tak ingin diceraikan.
Damar menginjak pedal gas mobilnya pelan untuk memperingati Kayla agar menjauh dari mobilnya. Namun, Kayla tak menjauh sama sekali. Dia terus memegang handel pintu mobil. Kakinya terus melangkah mengikuti laju mobil.
Mengetahui hal itu Damar semakin kesal. Dia menambah laju kendaraannya sehingga membuat tubuh Kayla terseret. Lalu, terjatuh karena tak kuat mengikuti cepatnya laju mobil. Walaupun sudah kesakitan, Kayla tidak pantang menyerah. Dia bangkit kembali dan segera berlari mengejar mobil Damar.
Orang-orang yang ada di sekitar lokasi hanya bisa menonton saja aksi dua insan yang sedang bertengkar itu.
"Mas, tunggu!" teriak Kayla terus melebarkan langkah kakinya mengejar mobil Damar. Kini posisi mereka sudah berada di jalan raya.
Damar terus mempercepat laju mobilnya meninggalkan Kayla. Dia marah dan sangat membenci Kayla. Rasa cinta dan sayangnya sudah sirna dimakan rasa kecewa berat.
"Aku sangat membenci kamu, Kayla! Jangan pernah kamu mendekati aku lagi!" gumam Damar dengan dada kembang kempis.
Tanpa diduga-duga dari kejauhan tepatnya di belakang Kayla berlari ada mobil pribadi terus menyimak aksinya.
"Hey, bukankah itu Kayra? Ngapain coba dia berlari mengejar mobil itu? Mana pakai seragam pasien rumah sakit segala lagi. Oh ya, itukan bukan mobilnya Mas David? Ini aneh sekali?" terka Nayla penasaran. Dia terus mengikuti Kayla dari kejauhan.
Tiba-tiba dia melihat Kayla terjatuh. Dia sedikit merasa iba pada jerih payah Kayla karena gagal mengejar mobil Damar.
"Yaelah, ngapain juga aku mikirin dia." Nayla menepuk jidatnya pelan.
"Mendingan juga aku menjalankan misiku yang belum terlaksana untuk melenyapkan dia dari muka bumi ini. Kan, itu lebih menguntungkan bagi diriku. Tidak ada lagi istri pertama David. Yang ada cuma Nayla seorang istrinya David," gumam Nayla tersenyum licik. Dia langsung menambah laju kecepatan mobilnya sampai batas maksimum. Dia berniat ingin menabrak tubuh Kayla dari belakang.
__ADS_1