
"Auk ah, gelep!" Kayra cemberut. Dia langsung membalikkan tubuhnya menghadap ke arah jendela. Dia sudah malas berdebat lagi dengan kakak iparnya.
"Hisk, gitu saja merajuk?" Damar mendekap tubuh Kayra. Dagunya menempel di bahu Kayra.
Pak Sopir langsung menyalakan mesin mobilnya. Dia segera melajukan mobilnya karena tak ingin ikut campur lagi. Dia takut kalau prilakunya yang berlebihan akan membuat dua majikannya ini bertengkar.
Sementara, Kayra hanya diam saja. Dia sudah malas berdebat dengan kakak iparnya. Dia seolah tak peduli lagi dengan bualan kakak iparnya.
"Hem, jangan suka merajuk dong? Aku tak tahan jika melihatmu merajuk seperti ini," rengek Damar mengeratkan pelukannya. Bahkan tangannya mulai bergerak liar.
Kayra langsung menghela napas kasar.
"Istigfar Mas! Apa kamu tak malu dengan Pak Sopir! Mohon dikondisikan!" tegur Kayra lirih. Dia takut kalau Pak Sopir sampai mendengar dan mengetahui perbuatan kakak iparnya yang memalukan ini.
"Ups, iya cintaku sekonyong-konyong koder!" Damar segera menghentikan aksi tangannya. Namun, dia masih mendekap Kayra.
"Mas!" tegur Kayra lirih.
"Iya-iya!" Damar segera melepaskan dekapannya. Dia takut kalau istrinya ini akan semakin kesal dengannya.
"Oh ya, kita mampir dulu ke butik sebentar! Soalnya, nanti malam acaranya!" Damar berusaha membalikkan posisi tubuh Kayra agar menghadap ke arahnya.
"Benarkah?" tanya Kayra tersenyum manis.
Dia membalikkan tubuhnya menuruti Damar. Rasanya dia sudah tidak sabar menghadiri acara nanti malam. Ini merupakan kali pertama dia menghadiri acara pesta mewah.
"Iya, makanya jangan merajuk mulu! Kalau kamu merajuk mulu takutnya nanti wajahmu jadi makin keriput! Kalau wajahmu makin keriput yang ada nanti teman-temanmu pada minder," goda Damar terkekeh.
"Hisk, apaan sih!" Kayra mencebikkan bibirnya. Dia kembali membuang muka.
"Aku serius loh!" goda Damar terkekeh.
"Mas!" teriak Kayra gemas. Dia langsung memukul dada Damar gemas.
__ADS_1
Bug! Bug! Bug!
"Auw! Jangan kuat-kuat, Sayang! Ini membuatku semakin bergairah!" goda Damar lirih dengan nada genit.
"Ih, apaan sih, Mas!" Wajah Kayra bersemu merah. Tangannya masih terus memukul dada bidang Damar. Jujur hatinya merasa sangat terhibur sekali saat bersama Damar.
"Haha, serius loh ini! Jika kamu terus memukul Mas begini! Siap-siap saja nanti saat di rumah!" peringati Damar dengan mata genitnya.
Kayra langsung menghentikan aksinya. Matanya melebar sempurna. Hatinya langsung merasa gelisah dan cemas.
Cup!
Damar mengecup bibir Kayra sekilas. Dia begitu gemas melihat reaksi istrinya tersebut.
Mata Kayra semakin melebar. Pipinya terasa panas. Kecupan Damar pada bibirnya membuat dadanya kembali bergemuruh.
"Aku ini heran banget sama perilaku kamu dua hari ini? Setiap aku membahas hubungan yang intim ... pasti kamu berperilaku seolah masih baru melakukannya?" tanya Damar mencubit hidung Kayra gemas.
Kayra diam seribu bahasa. Dia kembali merasa resah dan bingung harus menjawab apa. Setiap pertanyaan yang keluar dari bibir kakak iparnya selalu menjerumus pada kedoknya.
Deg!
Jantung Kayra berhenti berdetak sejenak. Lalu, kembali berdetak sangat cepat. Perasaan cemas, gelisah dan takut semakin menghujam hatinya.
"Ups, aku harus segera mengelaknya! Kalau sampai ketahuan kedokku ... bisa-bisa tamatlah riwayat kami ...." Kayra meneguk ludahnya.
"... bahkan bukan hanya itu saja! Mau ditaruh di mana coba mukaku ini jika sampai ketahuan," batin Kayra takut.
Candaan Damar tersebut malah membuatnya melihat sesuatu yang aneh tampak dari wajah istrinya. Kini dia langsung menaruh rasa curiga pada wanita yang berada di dekatnya ini.
"Hisk, Mas ini apaan sih! Mana mungkin aku dan Kayra bertukar posisi! Kalau bicara itu jangan suka ngawur!" tegas Kayra memasang wajah cemberut. Dia segera mendorong pelan dada Damar. Dia berusaha semaksimal mungkin agar Damar tidak mencurigainya lagi.
"Hehe, maaf! Abis sikap kamu itu memang berbeda belakangan ini!" Damar terkekeh. Dia meraih tubuh Kayra agar memeluknya.
__ADS_1
"Sebenarnya, aku takut kalau sampai usahaku ini tetap tidak membuahkan hasil. Pasti Ibu sama Ayah akan semakin sedih. Belum lagi bibinya mas Damar itu ... pasti dia akan semakin memojokkan aku," kilah Kayra agar Damar percaya dengan perbedaan sikapnya ini.
"Sudah, tidak usah takut dan gelisah! Pasrahkan saja pada Yang Maha Kuasa. Mas, yakin kalau kesabaran kita ini akan membuahkan hasil yang baik ...." Damar membelai rambut panjang Kayra penuh kasih sayang.
"... dan soal Bibi, kamu tidak usah khawatir atau takut. Mas janji tidak akan menuruti keinginannya itu." Damar mengecup pucuk kepala Kayra.
Malamnya ba'da magrib, Kayra dan Damar segera mengunjungi salon langganan mereka. Jujur Kayra begitu gugup saat dirias. Ini merupakan kali pertamanya dia melakukan ritual rias-merias.
Malam ini banyak hal baru yang dia jalani. Dari menghadiri acara pesta mewah, merasakan bahagianya dirias bak bidadari. Jujur ini merupakan sebuah khayalan di saat dia masih kecil dulu. Dan ternyata Allah mewujudkannya lewat sebuah kehidupan yang rumit.
Begitu selesai di-make up, Kayra langsung melihat ke arah cermin. Sungguh dia begitu terpana dengan penampakan dirinya sendiri. Dia terdiam cukup lama menyimak betapa cantik dirinya saat dirias begini.
"Masya Allah, aku terlihat begitu cantik dan memukau jika dirias seperti ini! Terima kasih Ya Allah karena sudah memberi kesempatan hamba untuk merasakannya," puji syukur Kayra dalam hati.
Sang penata rias merasa ada yang aneh dengan sikap pelanggannya kali ini. Dia merasa bahwa sikap Kayra cukup menggelikan sekali. Kayra terlihat seolah baru pertama kali melakukan make over.
"Ada yang aneh dengan sikap mbak ini ... tidak biasanya dia memantau riasannya selama itu. Biasanya dia cukup melihat sekilas saja sudah cukup," batin penata rias tersenyum geli.
Mengingat masih banyak pelanggan yang mengantri, sang penata rias segera mengajak Kayra untuk ganti kostum.
"Mari kita ke ruangan ganti sekarang," ajak penata riasnya ramah.
Kayra mengangguk sambil tersenyum.
Mereka berdua segera melangkah masuk ke ruangan ganti. Sang penata rias segera membuka paper bag yang dibawa Kayra tadi. Lalu, segera membantu Kayra mengganti pakaiannya.
"Wah, ternyata sudah lama tidak berjumpa ... tubuh mbak sedikit berisi sekarang!" puji penata riasnya kagum.
"Ah, masa sih, Mbak?" tanya Kayra tersipu malu.
"Iya serius! Jujur Mbak sekarang terlihat begitu seksi! Apa Mbak melakukan olah raga dan mengkonsumsi produk tertentu sehingga bisa memiliki bentuk tubuh yang waw begini?" tanya penata riasnya penasaran.
"Ah, Mbak ini ada-ada saja! Mana pernah aku ...." Kayra menghentikan ucapannya karena takut salah bicara. Hal itu pasti akan membuatnya terjebak lagi.
__ADS_1
"Loh, kok berhenti sih? Ayolah Mbak jelaskan padaku! Siapa tahu bisa jadi referensi baru buat para pelangganku," rengek penata riasnya dengan wajah memohon.