
Kini David tengah mengganti pakaian atasnya. Dia masih seperti boneka. Hanya diam saja dan menuruti apa yang diperintahkan penata rias. Namun, ketika sang penata rias menyuruh dia mengganti pakaian bawahnya dia langsung menolak.
"Mas, sekarang ganti celananya! Aku akan keluar sejenak," ucap penata riasnya tersenyum.
"Tidak perlu! Aku pakai celana ini saja!" tolak David tersenyum. Akhirnya, dia mau berbicara juga.
"Eh, kok pakai celana itu sih? Pasti celana itu kotor karena seharian kamu pakai bekerja," protes Nayla cemberut.
"Kalau kamu merasa malu dengan kekuranganku! Silahkan saja kamu cari pria lain sesuai bibit bobot kamu," jelas David datar.
"Eh, tidak bisa begitu! Aku kan hamil anak kamu! Kok, kamu menyuruhku menikah dengan pria lain? Apa kamu tak sedikitpun menginginkannya?" tanya Nayla pura-pura memelas.
Deggg!
David terdiam, dadanya sesak. Ulu hatinya terasa nyeri. Tubuhnya lemas. Kata-kata Nayla mengingatkan David pada kisah perjalanan rumah tangganya dengan Kayra. Dia sempat menolak kehamilannya. Bahkan, sempat mengabaikan putri semata wayangnya itu.
"Kenapa kamu diam? Apa kamu ingin aku menggugurkannya saja?" tantang Nayla pura-pura sedih.
David tidak menggubrisnya sama sekali. Dia malah mengganti topik pembicaraan.
"Aku sudah siapkan?" Penata riasnya mengangguk.
"Mari kita laksanakan akad nikahnya sekarang juga! Waktuku terbatas!" ajak David segera keluar dari ruangan ganti.
"Eh, iya!" Nayla langsung mengekori David.
Penata rias langsung menggelengkan kepala. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa pelanggannya ini hamil di luar nikah.
"Huh, pantas saja dia tidak merasa risih atau malu! Dia saja sudah berbadan dua!" penata riasnya menghela napas kasar.
"Kalau dilihat-lihat sih, sepertinya pria itu terpaksa menikahinya? Apa karena cinta wanita itu bertepuk sebelah tangan? Atau jangan-jangan baby yang ada di dalam perutnya itu bukan hasil produksi pria itu," gumam penata rias begidik ngeri.
__ADS_1
Kini David dan Nayla sudah duduk bersandingan di depan Pak Penghulu. Rumah Nayla begitu sepi, hanya ada ibu, ayah, pembantu, keamanan serta penghulu dan dua saksi saja.
Mereka sengaja melakukan akad nikah secara sembunyi-sembunyi dulu untuk mengesahkan hubungan anaknya dan David. Soal pesta urusan belakangan.
Setengah jam berlalu, akad nikah sudah selesai. Ketika para saksi dan penghulu sudah pulang. David segera memohon izin untuk pergi juga. Dia tak mungkin tinggal diam di saat anak dan istrinya belum ketemu.
"Maaf Bapak dan Ibu, aku mohon izin untuk keluar membantu Pak Andre mencari anak dan istriku." Nayla langsung melebarkan matanya. Dia tidak suka dengan sikap peduli David pada anak istrinya. Apalagi ini merupakan malam pertama pernikahannya.
"Sungguh kalian pasti tahu bagaimana rasanya berada di posisiku saat ini," sambung David memelas.
Ekspresi wajah kedua orang tua Nayla ikut menjadi sedih. Mereka bisa merasakan kesedihan yang sedang dialami David saat ini. Mereka sama sekali tidak akan membatasi David jika urusan keluarganya. Mereka juga tidak ada niatan memisahkan atau mencelakai anak dan istri David.
Berbanding jauh dengan yang ada di pikiran Nayla. Dia tak ingin berbagi suami. Walaupun sebenarnya dia hanyalah orang kedua di pernikahan David. Bahkan, diam-diam dia sudah menyusun rencana untuk ke depannya.
"Tentu, kami setuju! Kamu hati-hati di jalan!" Kedua orang tua Nayla menyetujuinya dengan senang hati.
"Terima kasih, Pak, Bu!" David langsung tersenyum senang. Dia benar-benar tidak menyangka kalau kedua mertua barunya sangat bersimpati padanya.
"Eh, tidak bisa begitu! Aku pun sedang membutuhkan suamiku! Janin yang ada di perutku pun butuh perhatian dan kasih sayang ayahnya," tolak Nayla tidak terima.
Kedua orang tua Nayla langsung terkejut. Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa sikap anak mereka masih saja kekanak-kanakan walaupun sudah menikah.
"Tapi, Nay, anak dan istriku lebih membutuhkan aku! Bagaimana jika mereka tidak menemukan tempat tinggal yang layak? Atau mereka saat ini sedang dalam bahaya? Apa kamu tidak ada rasa iba sama sekali pada mereka?" tanya David selembut mungkin. Dia tak mungkin menggunakan intonasi tinggi saat bersama orang tua Nayla.
"Tapi kan, sudah ada Andre yang menolong dia! Sementara aku sendiri di sini! Sungguh dia begitu ingin bersamamu!" Nayla mengelus perutnya yang masih rata. Dia pasang ekspresi wajah sememelas mungkin untuk melancarkan aksinya.
David langsung menghela napas panjang. Ingin sekali David mencela Nayla. Dia paham betul kepergian anak istrinya karena ulahnya.
"Sudah lah, Vid. Kamu pergilah cari anak dan istrimu! Soal anak nakal ini biar Ibu yang urus," sahut Bu Lita tersenyum. Dia langsung merangkul tubuh Nayla.
"Baiklah, Bu. Aku pergi!" David tersenyum semangat. Dia segera berlalu.
__ADS_1
"Ibu!" protes Nayla manja dan kesal.
"Sudah, jangan egois! Ingatlah statusmu! Istri pertamanya lebih berhak atas David!" Bu Lita mengelus bahu anaknya lembut.
"Iya benar. Nanti, kalau anak dan istrinya sudah ketemu ... Ayah yakin sekali kalau dia akan bersikap adil pada kalian," sambung Ayah Rivan menasihati Nayla.
Nayla terdiam. Dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Jika dia tetap mengeyel, bisa-bisa kedua orangtuanya akan marah lagi padanya.
Begitu sampai di pekarangan, David langsung kebingungan. Dia tak tahu harus naik apa. Motor miliknya di bawa Andre.
"Oh Tuhan, aku lupa kalau kendaraanku dibawa Andre!" David menepuk jidatnya kesal.
"Kalau naik taksi, jelas tidak leluasa." David mondar-mandir bingung.
Ternyata aksinya diperhatikan oleh anak buah Pak Rivan. Dia seolah tahu keinginan David tersebut. Dia segera mendekati David.
"Maaf, Tuan, mengganggu! Apakah ada yang bisa aku bantu?" tanya anak buah Rivan.
"Iya. Aku ingin pergi keluar ikut mencari keberadaan istriku! Namun, aku bingung harus naik apa? Motorku kan sedang dibawa Andre," jelas David jujur.
"Oh. Kalau hanya soal itu ... biar aku saja yang mengantarnya. Kan, mobil Pak Andre ada sama kita," jelas anak buahnya tersenyum.
"Baiklah! Terima kasih atas inisiatifnya! Mari kita pergi sekarang sebelum hari petang," ajak David semangat.
Anak buah Rivan tersenyum sambil menganggukkan kepala. Lalu, dia segera berlari cepat menuju mobil Andre. Tak lama mobil tersebut sudah ada di depan David.
Bergegas David masuk ke dalam. Mobil segera melaju meninggalkan pekarangan rumah keluarga Nayla. Di sepanjang perjalanan David tak tenang sama sekali. Pandangannya fokus melihat sekeliling jalan. Berharap bisa berjumpa dengan anak dan istrinya.
"Sebaiknya, Tuan hubungi nomor telepon temanku saja! Ini ponselku! Carilah kontak nomor bernama Franky!" Anak buah Rivan mengulurkan ponsel miliknya ke arah David. Pandangannya terus fokus menatap depan.
"Baiklah! Terima kasih atas sarannya!" David menerima ponsel tersebut.
__ADS_1