Bertukar Suami

Bertukar Suami
Semuanya Ikut


__ADS_3

"Baik," jawab Damar dingin.


Mereka berlima segera melangkah menuju kamar rawat Kayla. Tanpa mengetuk atau permisi, Damar langsung membuka pintunya. Hal itu membuat tentu Kayla dan Andi sedikit terkejut.


"Eh, kalian sudah kembali rupanya," sapa Kayla tersenyum manis.


Damar dan yang lainnya segera masuk sambil tersenyum seolah mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi di antara Kayla dan Andi. Mereka sengaja ingin membongkar kedok Kayla secara dingin.


Agar tidak dicurigai, Andi langsung berpura-pura memperbaiki aliran cairan infusnya. Dia langsung memasang senyuman semanis mungkin seolah mereka tak berbuat apa-apa.


"Lain kali, Ibu jangan terlalu sering mengangkat tangan tinggi-tinggi agar darah Ibu tidak naik ke infusnya," pura-pura Andi terus berusaha bersikap tenang.


"Iya, terima kasih. Lain kali aku tidak akan mengulanginya," balas Kayla setenang mungkin.


"Sama-sama. Ya sudah. Aku mohon undur diri untuk melanjutkan tugas ke ruangan lain," pamit Andi terus berusaha bersikap tenang.


"Iya," balas Kayla terus tersenyum.


Andi segera berbalik ingin keluar dari ruangan itu.


"Tunggu, jangan keluar dulu! Aku ingin bertanya sesuatu tentang istriku sama kamu!" Namun, David dengan segera mencegahnya.


Dia tahu benar kalau perawat laki-laki itu yang menyembunyikan tubuh istri aslinya karena bisa dipastikan kondisi Kayra belum baik-baik saja. Nada suara David yang dingin terdengar sangat mengerikan di telinga Andi.


Orang-orang yang ada di dalam langsung menatap ke arah Andi. Mereka seolah menunggu alasan apa yang akan keluar dari mulut si perawat laki-laki itu. Diam-diam juga mereka melirik ke arah Kayla. Terlihat jelas ada guratan kecemasan dan kegelisahan yang muncul dari ekspresi wajahnya.


"Baik, Pak. Memangnya, ada apa dengan istri bapak? Apa cideranya kambuh lagi?" tanya Andi terus berusaha tenang. Walaupun jantungnya deg-degkan.


"Tidak tahu. Aku bahkan belum berhasil menemukannya. Apa kira-kira Anda tahu dia pergi ke mana?" tanya David berusaha menahan diri agar tidak berbuat kekekaran padanya.


"Loh, kok bisa begitu? Padahal tadi istri bapak sudah pamitan ingin segera pulang ke rumah. Apa mungkin terjadi sesuatu hal buruk di jalan?" jelas Andi berpura-pura cemas.


"Anda yakin kalau dia berpamitan pulang ke rumah tadi?" tanya David mulai menyudutkan Andi. Emosinya sudah berada di ubun-ubun. Namun, dia masih terus menahannya.


"I-iya, tadi dia bilang begitu padaku begitu," jelas Andi gugup. Dia mulai merasa pertanyaan David mengandung unsur sensitip yang akan membahayakan dirinya.


"Oh begitu." David manggut-manggut.

__ADS_1


Hal itu membuat Andi sedikit melengkungkan bibirnya ke atas.


"Tapi ...." David melanjutkan perkataannya membuat lengkungan di bibir Andi langsung sirna.


"Tadi, kata satpam yang berjaga di depan gerbang ... mereka belum melihat istriku sama sekali keluar dari rumah sakit. Apa jangan-jangan dia masih disembunyikan di dalam, ya? Kan, luka operasinya masih belum mengering," sindir David tersenyum sinis.


Kayla dan Andi langsung melebarkan matanya. Jantung mereka berdetak tak beraturan karena cemas dan takut.


Kayla *******-***** selimut yang menutupi separuh tubuhnya. Bahkan, bibirnya mulai tergores karena digigit dia sendiri karena terlalu takut dengan keadaan.


"Ma-maksud, Bapak apa? Istri bapakkan hanya terkilir saja. Mana mungkin sampai dioperasi segala?" tanya Andi berpura-pura bingung.


"Hey, kau!" David maju mendekati Andi. Tatapannya tajam menghunus Andi. Amarahnya sudah tidak bisa ditampung lagi.


Sepontan Andi mundur dan semakin ketakutan sekali melihat kemarahan David.


"Mau ke mana kamu?" David terus mendekati Andi, hingga tubuh Andi terpentok dinding.


"Ba-bapak, mau apa?" tanya Andi ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat. Jantungnya terus memompa cepat.


"Tentu, aku ingin memberi pelajaran orang yang sudah berani mempermainkan aku sampai hampir gila." David meraih kerah baju Andi. Lalu, sedikit mengangkatnya.


"Ah! Mas, lukaku terasa nyeri sekali!" teriak Kayla meringis. Dia berharap orang-orang mengkhawatirkannya lalu David melepaskan Andi.


Mereka semua langsung melihat ke arah Kayla. Damar memejamkan matanya sejenak karena merasa malu dengan perbuatan istrinya. Dia teringat betapa dia membenci ulah ceroboh Kayra palsu.


Tanpa berkata-kata dia segera mendekati ranjang.


Di dalam hati Kayla merasa sangat senang karena sang suami masih peduli padanya.


"Wah, ternyata Mas Damar belum mengetahui semuanya. Syukurlah, lega sek__" Gumaman dalam hati Kayla seketika terhenti saat Damar menarik paksa selimut itu dengan kasar.


"Ah, apa yang Mas lakukan? Lukaku semakin nyeri, Mas," ringis Kayla masih berpura-pura.


"Tak perlu berakting terus Kayla!" bentak Damar marah. Terlihat jelas kekecewaan dari sorot mata merah nan sendu itu.


Deggg!

__ADS_1


Jantung Kayla berhenti berdetak sejenak. Lalu, kembali berdetak sangat cepat. Namun, dia tak mau menyerah. Dia kembali berakting lagi.


"Ma-maksud Mas apa? A-aku memang kesakitan Mas, ah!" ringisnya semeyakinkan mungkin agar orang-orang percaya padanya.


"Ah, kau memang sudah tidak waras Kayla! Aku sangat membencimu!" teriak Damar sambil menjambak rambutnya frustrasi.


Dia segera melangkah keluar meninggalkan Kayla.


"Mas!" panggil Kayla cemas. Tangannya segera menarik selang infus untuk mencopotnya. Setelah terlepas dia segera berlari mengejar Damar.


Mereka yang masih di dalam langsung menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan sikap buruk Kayla tersebut. Ternyata mereka sudah salah menduga sikap baik Kayla selama ini.


Setelah Kayla keluar ruangan, David langsung membogem wajah Andi.


Otomatis wajah Andi terasa sakit dan panas. Bahkan, sudut bibirnya sampai mengalirkan darah segar.


Orang-orang di dalam ruangan sengaja berdiam diri tidak melerainya. Menurut mereka hal itu pantas didapatkan si perawat.


"Kamu sembunyikan di mana istriku, hah!" bentak David seperti ingin menelan Andi.


"A-aku tidak tahu! Bukan aku yang menyembunyikan istri bapak," jelas Andi ketakutan. Tubuhnya semakin bergetar hebat.


"Kau!" David hendak melayangkan pukulannya kembali. Namun, ada yang mencegahnya.


"Stop! Jangan berbuat kekerasan seperti itu! Jika memang dia bersalah, lebih baik kita serahkan saja pada yang berwajib!" teriak beberapa orang yang baru datang.


"Huh, bisa kalian berkata seperti itu karena kalian tidak merasakan betapa sakit dan marahnya aku! Asal kalian tahu, dia ini sudah bersekongkol menyembunyikan istriku entah di mana!" David menatap orang-orang kesal.


Hal itu membuat darah mereka ikut mendidih.


"Apalagi sekarang kondisi istriku sedang tidak baik karena habis menjalani operasi. Bahkan, dia sempat hampir kehilangan nyawanya," jelas David sendu.


"Astaga, berani sekali dia bertindak sekejam itu pada orang yang seharusnya dia obati agar sembuh," ucap salah seorang tidak menyangka.


"Aku yakin sekali kalau dia itu sudah dibutakan oleh uang! Mari kita beri pelajaran juga dia, biar tahu rasa! Kalau dia terluka parahkan nanti uang hasil kejahatannya itu bisa untuk dia berobat," ajaknya marah.


"Iya, betul sekali itu!" sahut semuanya setuju.

__ADS_1


"Lets go!" Mereka segera melangkah bersama-sama hendak menghajar Andi.


__ADS_2