
Ibunya Nayla diam saja. Dia sengaja ingin memberi sedikit pelajaran pada putri semata wayangnya itu agar bisa bersikap lebih dewasa. Bahkan, dia sama sekali tidak bergerak saat dipeluk Nayla.
"Ibu kok diam saja? Apa Ibu nggak mau maafin Nayla?" ulangi Nayla Tersedu-sedu.
"Ibu akan memaafkan kamu jika kamu berubah," jawab ibunya Nayla menatap ke arah pintu ruangan sang suami.
"Baik, Nayla akan berubah. Nayla janji!" ucap Nayla masih tersedu-sedu.
"Ibu nggak butuh janji, Nay. Yang Ibu butuhkan bukti." Ibunya Nayla cemberut.
"Baik. Nay, akan buktikan sama Ayah dan Ibu," jelas Nayla mengeratkan pelukannya pada sang ibu.
Kreittt!
Suara pintu ruangan tempat ayahnya Nayla diperiksa terbuka. Nayla beserta ibunya segera melihatnya. Tak lama kemudian munculah seorang pria mengenakan jas berwarna putih menghampiri mereka.
Ekspresi wajahnya terlihat sendu, seperti sedang mengalami masalah teknis. Tentu saja hal itu membuat mimik wajah Nayla dan ibunya menjadi semakin panik.
"Bagaimana Dok kondisi ayah saya?" tanya Nayla cemas dan takut.
Dokternya menghela napas terlebih dulu sebelum menjawab pertanyaan dari Nayla. Terlihat jelas keraguan di hatinya. Sepertinya dia membawa kabar yang kurang mengenakan hati.
"Dok, ayo cepat jawab!" Nayla memegang kedua lengan sang dokter. Memaksanya untuk menjawab pertanyaan dia.
"Maaf, saya selaku Dokter yang menangani ayah anda sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, sayangnya Tuhan berkehendak lain," jelas dokternya sendu.
Ibunya Nayla menganga menyimak penjelasan sang dokter. Air mata yang sempat mengering kembali runtuh. Dadanya terasa sesak. Hatinya nyeri.
"Nggak, itu nggak mungkin! Ayahku masih hidupkan, Dok? Dokter pasti becandakan?" tanya Nayla menangis. Dia belum percaya dengan penjelasan dokter.
"Tidak. Saya tidak becanda sama sekali. Ayah anda memang terkena serangan jantung. Jadi, saya harap Anda dan ibu anda melapangkan dada menerima cobaan dari Tuhan ini. Doakan saja beliau supaya tenang di alam sana," nasihati dokternya sedih.
Nayla membisu. Kepalanya menggeleng tidak percaya. Debit air di matanya semakin banyak. Hal itu membuat aliran air di pipinya begitu deras.
__ADS_1
Bukkkk!
Tubuh ibunya Nayla menghantam lantai. Tanpa diduga-duga ibunya Nayla pingsan.
"Astaga!" teriak dokternya terkejut.
Nayla langsung menengok ke arah ibunya. Matanya melebar sempurna melihat ibunya sudah tergeletak di lantai.
"Ibu!" Nayla langsung berjongkok ingin membantu ibunya.
"Suster!" teriak dokternya segera berjongkok juga.
Dua orang suster segera mendekat.
"Ayo bantu saya mengangkat tubuh ibu ini!" perintah dokternya panik.
"Baik, Dok!" Dua orang suster segera membantu dokter.
Kini mereka berbondong-bondong membawa tubuh ibunya Nayla ke dalam ruangan lain. Nayla benar-benar terpukul malam ini. Hidupnya hancur lebur. Karena kebodohannya, dia harus menanggung malu dan kehilangan ayah tercinta.
"Sus, saya titip ibu saya dulu! Saya harus menghubungi suami saya," pinta Nayla mengiba.
"Iya Mbak, silakan!" Nayla segera berlari tergesa-gesa. Rasa keram di perutnya dia abaikan begitu saja.
Begitu sampai di kamar rawatnya, dia segera mengambil tasnya. Lalu, buru-buru mengambil ponsel. Jari lentiknya mulai menyentuh layar ponsel. Lalu, memilih kontak nomor David dan bergegas menghubunginya.
Baru saja panggilannya masuk, David langsung merijeknya. Nayla tak pantang menyerah. Dia kembali menghubungi David. Namun, hasilnya tetap sama. David merijeknya kembali.
"Oh Tuhan, kenapa dia sama sekali tak mengerti posisiku saat ini yang sedang berduka?" gumam Nayla defresi. Tubuhnya luruh ke lantai. Tangisnya terdengar memilukan hati.
"Up, lebih baik aku hubungi saja Andre. Pasti dia mau membujuk David," gumam Nayla bersemangat.
Dia segera menghubungi nomor Andre dan menjelaskan musibah yang sedang menimpanya. Otomatis Andre bergegas datang ke rumah David untuk mengajak dia ke rumah sakit. Ternyata pas di rumah David, hanya ada Kayla saja.
__ADS_1
Kini Andre dan Kayla berdiri di teras rumah sambil mengobrol.
"Kamu ada keperluan apa mencari David? Apa Nayla yang mengutus kamu kemari?" tanya Kayla curiga. Melihat gelagat cemas Andre, membuat dia paham.
"Benar dia yang mengutusku kemari. Namun, masalahnya sedang darurat sekarang," jelas Andre gelisah.
Kayla langsung tersenyum getir. Dia paham kalau hubungan Nayla dan David sedang tidak baik juga. Dia yakin sekali kalau David pasti marah besar pada Nayla karena sudah memprovokasi kelanggenan rumah tangga adiknya dengan David.
"Darurat?" tanya Kayla sok terkejut.
"Iya. Ayahnya Nayla meninggal dan ibunya pingsan di rumah sakit," jelas Andre kalut.
"Astaga!" Saat ini Kayla asli terkejut. Dia terperangah. Tangannya menutup rapat mulut sejenak. Setelah itu dia berbicara lagi untuk mengorek informasi lebih detail soal kronologi yang mendasarinya.
"Memangnya, ayahnya Nayla sakit apa? Kok, tiba-tiba meninggal? Bukannya, tadi dia sedang baik-baik saja?" tanya Kayla penasaran. Jujur, dia cukup perihatin merasakan sedihnya jadi Nayla ketika baru ditinggal mati sang ayah.
"Tadi, katanya dia bertengkar sama David. Lalu, David menalaknya. Sepertinya, hal itu yang membuat ayahnya shock dan terkena serangan jantung mendadak," jelas Andre sedih. Dia tidak menyangka juga kalau ayahnya Nayla pergi secepat ini.
"Oh. Andai saja Nayla wanita yang baik ... pastilah hal ini tidak akan pernah terjadi," ceplos Kayla datar.
"Maksud kamu apa, Kay? Aku tidak paham? Tolong jelaskan!" pinta Andre penasaran.
"Asal kamu tahu, tadi dia datang kemari lalu membuat keributan. Dia bahkan berani mengatai aku pelakor. Padahal di sini siapa yang pelakor itu? Aku atau dia?" jelas Kayla kesal.
"Eh, kok bisa gitu?" Rasa sedih Andre berubah jadi terkejut.
"Entahlah, kamu tanya saja sama dia." Kayla menghapus air mata yang baru saja lolos.
"Aduh, ada-ada saja tingkah Nayla itu." Andre mulai pusing memikirkan sikap buruk Nayla.
"Asal kamu tahu, gara-gara Nayla begitu padaku. Aku jadi kesal dan marah pada David. Setiap dia merayuku, yang ada aku bukan senang. Aku malah kesal dan mengingat betapa kejinya hubungan dia dan Nayla itu," jelas Kayla terisak-isak.
"Astaga, jadi kalian bertiga sedang saling bertengkar gara-gara ulah Nayla?" tanya Andre tambah pusing memikirkannya. Dia benar-benar tidak mengerti dengan perubahan sikap sahabatnya itu.
__ADS_1
"Iya benar. Andai saja dia tak mencari gara-gara sama aku. Mungkin, aku akan bersabar dan mencoba menerima kehadiran dia walaupun itu sangat sulit," jelas Kayla kesal. Darahnya kembali mendidih mengingat betapa buruknya sikap Nayla itu pada adiknya.
"Ya sudah. Kamu yang sabar, ya? Nanti, kalau suasana hati Nayla sudah tertata lagi. Aku akan menasihatinya! Kalau begini ceritanya, akan banyak orang yang jadi korban karena ulah buruknya." Andre memberanikan diri mengusap aliran air yang terus merembes dari mata Kayla.