
Kayla langsung merasa sedih sekali diabaikan oleh sang suami. Dia mulai lupa dengan ide dan perannya sendiri. Mana mungkin Damar meladeni aksi aneh dia. Kan setahu Damar dia adalah adik iparnya. Dia tak mungkin mau mengambil resiko berat jika sampai menimbulkan kesalahan teknis di hati mereka berdua.
Tentu saja hal itu akan menimbulkan perang besar di antara adik ipar dan istrinya. Belum lagi dia harus berhadapan dengan David suaminya yang jelas pasti akan marah besar.
"Kan, kalau dikerjakan bersama-sama akan lebih cepat kelar kerjaannya," sambung Damar tersenyum.
"Iya benar juga. Kalau begitu mari kita lets go sekarang," sahut David bersemangat sekali.
Buru-buru David melangkah duluan. Kemudian, diikuti Damar dan Pak Sopir tepat di belakangnya. Sementara, ayahnya Damar segera pindah ke dalam menyusul istri dan mantunya. Kayla melangkah lesu diurutan paling belakang.
Damar langsung memberikan isyarat ke arah Kayra sambil tersenyum geli begitu sudah masuk ke dalam rumah kembali. Tatapan penuh cinta tergambar jelas di mata Damar. Dia berpamitan ingin ikut serta membagikan kotak nasi ke tetangga David.
Kayra menganggukkan kepala sambil tersenyum menatap aksi Damar. Dia malah tak memedulikan suaminya sendiri. Melihat David malah membuat moodnya memburuk. Entah itu karena bawaan bayi atau karena pirasatnya.
Dada Kayla kembali dibuat sesak dan panas menyaksikan pola tingkah sang suami. Hampir saja dia melangkah maju ingin sekali menarik tubuh Damar. Lalu, menjewer telinganya sekuat mungkin untuk meluapkan kecemburuannya. Untung saja sekilas ingatan soal perannya terngiang kembali di kepala. Jadi, dia langsung mengurungkan niatnya itu.
"Oh Tuhan, kumohon kuatkan aku. Jangan sampai rasa cemburuku menghancurkan semuanya," batin Kayla menarik napas perlahan-lahan. Lalu, menghembuskannya lagi untuk menenangkan gejolak di hatinya.
Kini tiga orang pria itu sudah berada di dapur semua. Mereka sama-sama memegang empat kantung plastik di kedua tangannya.
"Ini bagi-baginya sampai mana saja? Apa cuma sampai warung Pak Rojak saja?" tanya David memastikan agar mereka tidak salah.
"Em, ini tadi aku buat tiga puluh. Kira-kira sampai mana, Mas?" tanya Kayla bingung sendiri. Dia kan tidak pernah keluar rumah jauh-jauh. Tidak seperti Kayra yang bermain jauh-jauh untuk menjajakan dagangannya saat David belum taubat.
"Aduh, kamu ini aneh sekali? Padahal kamu yang lebih sering berinteraksi sama tetangga kok malah tanya Mas nih," goda David tersenyum mengejek.
__ADS_1
"Hehe, kan aku sudah lama nggak jualan jadi lupa deh," alasan Kayla cengar-cengir menahan malu. Padahal dirinya memang tidak tahu.
"Hem, begitukah?" goda David tersenyum genit.
"Iya, ih! Ayo cepat sana bagikan!" Kayla dibikin gemas oleh David.
"Siap, istriku tercinta dan ter ...." David berniat menggoda Kayla lagi. Namun, dengan cepat Kayla mendorong pelan tubuh David menuju pintu yang menjurus ke ruang tamu agar David tidak kebanyakan becanda.
"Eit, iya-iya, Mas jalan sekarang." David terkekeh geli.
Damar, Mbok Nem, dan Pak Sopir hanya tersenyum geli saja menyimak keromantisan rumah tangga David dan istrinya.
Kayla segera menghentikan aksinya. Lalu, membalikkan tubuhnya. Bibirnya tersenyum manis saat berpas-pasan menatap Damar yang berada tepat di belakangnya.
Damar segera melangkah melewati tubuh Kayla diikuti Pak Satpam yang berada tepat di belakangnya. Lagi-lagi Kayla merasa sedih dan selalu melupakan perannya. Dia masih berdiam diri di tempat merenungi nasibnya.
Mbok Nem, tidak sengaja mengamati reaksi sedih Kayla tersebut. Dia kembali berburuk sangka terhadap Kayla.
"Itu kenapa si Non Kayra sama Den Damar kok kayak perang dingin gitu? Apa Non Kayra diam-diam menyukai Den Damar? Namun, Den Damar berusaha untuk tidak meresponnya? Aduh kok ada-ada saja, sih?" batin Mbok Nem menatap Kayla curiga.
Sementara yang ditatap masih keasikan melamun. Hatinya tengah dilanda gundah gulana akibat kesalahannya sendiri.
"Jika benar mana boleh Non Kayra bersikap seperti itu? Den Damarkan suami mbaknya sendiri? Masa iya mau digebet? Lagi pula, Mas David juga sudah tampan dan baik! Mana orangnya humoris lagi," batin Mbok Nem mulai merasa kecewa sama sikap Kayla yang menurutnya salah. Mbok Nem menghela napas kasar. Dia kembali melanjutkan kerjaannya yang belum kelar.
Belum juga ada beberapa menit, David sudah kembali lagi ke dapur. Soalnya, nasi kotak yang dia bawa diminta Damar sama Pak Sopir ketika di halaman rumah. Damar sengaja melakukan hal itu agar bisa menghindari sikap aneh adik kembaran.
__ADS_1
"Tara!" David menyentuh kedua bahu Kayla dengan tangannya.
"Astaga!" Kayla langsung terkejut. Tangannya otomatis menjauhkan tangan David yang bertengger di bahunya. Terlihat jelas kalau Kayla begitu risih dengan sikap mesra David.
Hal itu pun tak luput dari pantauan Mbok Nem. Dia begitu penasaran dengan sikap aneh adik kembaran majikannya. Kecurigaan mulai timbul di hatinya karena menurut pirasatnya ada yang tidak beres dengan semua ini.
"Eh, kok, sudah kembali lagi? Cepat amat antarnya? Itu bagaimana dengan Pak Sopir dan Mas Damar? Apa mereka tak malu jika tak ditemani sama Mas?" tanya Kayla mencemaskan Damar. Napasnya terdengar memburu mungkin karena efek kaget.
"Haha, tentu tidak! Malah bagian kerjaanku diambil sama dia dan Pak Sopir! Katanya aku disuruh memboyong semua kotak nasinya ke ruang tamu saja biar mereka tak perlu repot ke dapur segala! Dengan begitu pula kerjaan akan cepat selesai," jelas David terkekeh.
Hal itu langsung membuat wajah Kayla tambah sedih. Kekecewaan tergambar jelas di wajahnya.
"Oh Tuhan, belum-belum Mas Damar sudah menjaga jarak seperti ini? Apa mungkin jika suatu hari rahasia ini terbongkar ... aku akan benar-benar tersingkirkan dari hatinya," batin Kayla sedih. Dia terus melupakan posisi perannya sendiri.
"Lalu, apa Mas Damar paham batas tempat yang dituju? Bagaimana kalau Mas Damar nanti sampai salah memberi alias kelabasan?" tanya Kayla begitu cemas pada suaminya.
Melihat kesedihan dan kecemasan Kayla yang berlebihan membuat jiwa penasaran Mbok Nem semakin meronta-ronta.
"Itu sikap apaan? Kenapa Non Kayra begitu mencemaskan Den Damar? Padahal kalau dipikir inikan bukan antar makanan ke pelanggan ... inikan hanya sekadar sodaqoh jadi buat apa dia secemas itu? Aku yakin kalau dia benar-benar ada main di belakang mbaknya. Huh, bisa-bisanya dia egois seperti itu," batin Mbok Nem semakin tidak menyukai adik kembaran majikannya.
Sementara David semakin dibuat gemas dengan sikap istrinya. Dia seolah tak mencurigai sikap cemas berlebihan yang timbul dari istrinya untuk Damar. Yang ada dia malah tambah meledeki istrinya.
"Hey, kamu kenapa begitu cemas begitu dengan Mas Damar? Jangan bilang kalau kamu takut dia ... hayo?" tanya David menuding jarinya ke wajah Kayla sambil tersenyum gemas.
Kayla terperangah dengan pertanyaan David. Padahal David tak berniat mengatai perasaannya pada Damar. David hanya sekadar ingin meledekinya saja.
__ADS_1