
Setelah merasa cukup berbicara sambil membenamkan wajahnya di dada Kayla, Kayra segera mengangkat wajahnya. Lalu, berpindah menciumi kedua pipi dan kening kakaknya. Puas dengan itu, dia mengangkat wajahnya menjauhi tubuh Kayla.
"Kak, aku mohon pamit kembali ke klinik. Oh ya, nanti kalau aku sudah sembuh ... aku akan mampir mengunjungi makam Kakak, Ayah, dan Ibu." Kayra meraih tangan kakaknya lalu mengecupnya sejenak.
"Terima kasih, sudah mengizinkan aku memeluk dan berbicara dengan kakakku?" Para perawat langsung tersenyum sambil menganggukkan kepala.
"Sekarang kalian boleh melanjutkan lagi tugas kalian. Aku mohon undur diri," pamit Kayra tersenyum disertai linangan air mata.
"Baik." Mereka mengangguk sambil tersenyum.
Pelan-pelan sambil dibantu perawat, Kayra kembali duduk di kursi rodanya. Sang perawat yang bertugas mendampinginya langsung mendorong keluar kursi roda.
Begitu sampai di luar, David langsung menyambutnya.
"Om, Tante, tolong makamkan Mbak Kayla di dekat makam mendiang kedua orangtuaku, ya? Itu wasiat kami dahulu ketika sudah kami tiada. Maka, kami akan dimakamkan berdampingan dengan kedua orangtua kami," ucap Kayra mencoba tetap tersenyum di hadapan kedua orang Damar.
"Iya, kami memang sudah merencanakan hal itu kok. Jadi, kamu tak perlu khawatir. Oh ya, tadi kami mendapatkan informasi dari rumah sakit bahwa bayimu membutuhkan asi ekslusif untuk menunjang daya tahan tubuhnya. Kami harap kamu bersedia kembali ke rumah sakit semula karena perawat Al sudah mengurusnya," jelas ibunya Damar tetap bersikap baik terhadap Kayra. Walaupun dia habis mendengar fakta soal keburukan Kayra. Namun, entah kenapa hatinya tidak tega menyakiti Kayra seperti yang dilakukan anaknya.
Kayra menatap ke arah David meminta persetujuan. Dan David mengangguk setuju.
"Syukurlah, Ibu senang mendengarnya. Kamu jangan kebanyakan pikiran. Pola tidur dan makannya dijaga biar cepat sembuh. Besok, Ibu akan berkunjung ke rumah sakit buat menengok cucu ibu," ucap ibunya Damar tersenyum hangat.
"Iya, Bu." Kayra tersenyum.
"Ya sudah. Kami mohon undur diri buat kembali ke rumah sakit sekarang," pamit David tetap ramah di depan kedua orangtuanya Damar.
"Iya, hati-hati!" David mengangguk.
__ADS_1
Mereka bertiga segera pergi meninggalkan Damar dan anggota keluarganya. Kayra langsung menatap ke arah David sambil tersenyum hangat. Tangannya menyentuh jemari David yang memegang kursi roda.
"Mas, terima kasih banyak karena sudah mau menjadi pelindungku," ucap Kayra tersenyum hangat.
"Hem, masa cuma jadi pelindung sih? Apa tugas suami itu cuma jadi pelindung saja?" goda David cemberut.
Perawat yang bersama mereka langsung tersenyum geli mengetahui bakal ada adegan romantis di antara dua insan itu.
"Sebenarnya, masih banyak, sih? Cumakan untuk saat ini hanya itu yang tampak," jelas Kayra tersenyum tipis.
"Oh, baiklah. Nanti, akan aku tampakkan tugas suami yang lainnya," jawab David tersenyum.
"Oke, kutunggu, Mas." Kayra tersenyum hangat.
"Siap, istriku tercinta." David tersenyum manis.
"Selamat sore semuanya! Maaf jika kedatangan kami mengagetkan kalian! Kami kemari ingin menyelidiki kasus tabrak lari yang dialami Kayla Andini Putri," sapa salah satu polisinya ramah.
"Iya, kami mengerti kok, Pak. Oh ya, ngomong-ngomong kok Bapak bisa tahu soal kecelakaan tabrak lari yang dialami menantu kami? Padahal setahu kami lokasi kejadian sangat sepi sehingga tidak ada saksi mata di tempat. Kami pun belum sempat melaporkan kasus ini ke pihak polisi agar menyelidikinya?" tanya ayahnya Damar penasaran.
"Kami mendapatkan informasinya dari seorang petugas rumah sakit yang bernama Aliando Harahap. Dia meminta kami untuk menyelidiki kasus tabrak lari ini secepatnya agar tersangka segera bertanggung jawab atas perbuatannya. Kami juga sudah mengerahkan beberapa rekan kami untuk mengecek TKP," jelas salah seorang polisi.
"Terima kasih banyak atas ketersediaannya menangani kasus tabrak lari yang dialami mantu kami ini. Semoga para aparat kepolisian segera menemukan siapa pelakunya," ucap ayahnya Damar tersenyum senang.
"Sama-sama. Oh ya, kami mohon izin pada pihak keluarga untuk meng-autopsi jenazah korban terlebih dahulu untuk mempermudah penyelidikan," mohon izin salah satu dari polisi.
"Baik, kami mengizinkannya. Apapun yang Bapak lakukan kami mendukung dengan baik agar kasus ini segera terpecahkan." Kedua orangtuanya Damar mengangguk setuju.
__ADS_1
"Baiklah, kami mohon izin untuk berunding dengan pihak rumah sakitnya sekarang juga," pamit salah seorang petugas polisi.
"Iya, Pak." Kedua orangtuanya Damar langsung tersenyum.
Damar sama sekali tidak merespon percakapan polisi dan kedua orangtuanya. Dia diam saja di tempatnya. Melamuni apa yang sedang menimpa dirinya. Apa yang terjadi padanya nyaris membuat dia gila dan hilang kendali.
Tadi saja ketika Al dihubungi pihak rumah sakit soal kabar terbaru anaknya, dia hanya diam saja. Tidak ada reaksi cemas atau gelisah sama sekali saat mengetahui bahwa anaknya sedang membutuhkan asupan asi. Kejadian yang menimpanya ini membuat nalurinya seakan mati. Hanya terdapat rasa kesal, marah, dan benci di hatinya.
Setelah pihak rumah sakit selesai meng-autopsi jenazah Kayla. Pihak keluarga Damar segera membawa pulang jenazah Kayla ke rumah mereka. Banyak sekali para tetangga yang melayat termasuk rekan bisnis Damar juga.
Para tetangga dan rekan bisnis Damar menaruh rasa curiga soal jenazah Kayla yang tidak boleh ditengok. Peti Kayla tertutup rapat sekali. Jadi, mereka hanya duduk sambil mengirimkan doa untuk Kayla saja. Lalu, berbondong-bondong mengantarkan jenazah Kayla ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Keesokan harinya tepat pukul sepuluh pagi, kedua orangtuanya Damar sudah bersiap-siap hendak menengok cucunya. Mereka berinisiatif untuk mengajak Damar juga. Mereka berharap dengan melihat wajah anaknya, sikap dingin Damar akan terkikis. Dan kekacauan di hatinya bisa terobati.
Kini ibunya Damar sudah berada di dalam kamar Damar. Terlihat Damar sedang berdiri sambil melihat pemandangan di luar lewat jendela kamarnya.
"Mar, yuk kita ke rumah sakit menengok anakmu," ajak ibunya Damar tersenyum.
"Pergilah sendiri tak perlu mengajak aku segala," jawab Damar dingin.
"Loh, kok gitu, sih? Apa kamu tidak merasa rindu padanya? Kamu juga apa tidak ingin tahu kondisi terbaru anak kamu?" tanya ibunya Damar mulai kesal.
"Tidak sama sekali! Dia bukan anakku!" tegas Damar menatap malas ibunya.
"Astaga, kenapa bisa kamu berkata seperti itu, Nak?" Ibunya Damar melebarkan matanya terkejut.
"Jika memang kamu meragukannya? Lebih baik, kamu tes DNA-nya saja. Jangan asal menuduh begitu. Jangan sampai karena perbuatan Kayla, kamu membenci darah dagingmu sendiri. Kasihan dia yang tidak berdosa itu," nasihati ibunya Damar menitikkan air mata. Mendengar perkataan Damar membuat hatinya teriris.
__ADS_1