
"Astaga, bikin malu saja debaran jantung ini. Semoga saja Kayra tidak mendengarnya," batin Andre malu. Dia terus melangkah mendekati kursi yang ada di dekat lokasi toilet.
Ternyata doa Andre tidak terkabul. Kayra mendengar jelas degupan jantung Andre yang dag-dig-dug itu. Awalnya Kayra sempat bingung dari mana suara itu berasal. Namun, lama-lama dia sadar bahwa suara itu adalah detak jantung Andre.
"Astaga, ada apa dengan pria ini? Kenapa detak jantungnya begitu nyaring? Apa dia punya riwayat sakit jantung, sehingga detakkannya terdengar jelas oleh orang lain," batin Kayra menerka-nerka.
Kini mereka sudah sampai di dekat kursinya. Pelan-pelan Andre menurunkan Kayra dari bopongannya ke kursi. Dia langsung berjongkok di dekat kaki Kayra.
"Maaf!" Andre meminta maaf sebelum menyentuh kaki Kayra yang sakit.
Kayra mengangguk sambil tersenyum tipis. Sungguh dia tidak pernah menyangka bisa berjumpa dengan pria setampan dan sebaik Andre ini.
"Apakah ini yang sakit?" tanya Andre menyentuh salah satu kaki Kayra.
"Iya benar itu yang sakit," jawab Kayra tersenyum.
Andre pelan-pelan membuka sepatu high hell yang dikenakan Kayra tersebut. Kayra terus memperhatikan aksi Andre. Bibirnya terus melengkung ke atas karena terkesima.
"Kamu tahan ya!" peringati Andre sebelum memulai aksinya.
"Iya." Kayra mengangguk.
Awalnya Andre memijat dulu pergelangan kaki Kayra dengan lembut. Jujur Kayra menikmatinya. Pijatan tersebut tidak menyakiti kakinya sama sekali.
Tak lama terdengar suara derap langkah seseorang semakin mendekat. Namun, mereka berdua tak ada yang peduli. Padahal yang baru datang itu wajahnya merah padam. Tangannya terkepal kuat karena amarahnya sudah di puncak ubun-ubun.
"Hey, jauhkan tanganmu dari kaki istriku!" teriaknya ketika sudah hampir sampai.
Kayra dan Andre langsung menengok ke arah sumber suara. Mata Kayra langsung melebar sempurna. Sementara, Andre terlihat biasa saja. Dia malah kembali melanjutkan aksinya lagi.
Damar sedikit terkejut melihat pria tadi sore bersama istrinya lagi. Amarahnya langsung menurun drastis. Dia merasa ada yang janggal dengan istri dan pria tersebut.
"Mas!" sapa Kayra ketika Damar sudah berada di dekat mereka.
"Sebenarnya, apa yang sudah terjadi?" tanya Damar penasaran.
"Em, tadi__" ucapan Kayra langsung dipotong Andre.
"Ini pasti sakit!" peringati Andre.
"I-iya!" Kayra mengangguk.
__ADS_1
Andre segera menarik pergelangan kaki Kayra, hingga mengeluarkan suara 'krepek'. Tentu saja otomatis Kayra berteriak.
"Aaaa!" teriak Kayra terkejut.
Damar semakin panik dibuatnya. "Hey, apa yang kamu lakukan pada istriku?" tanya Damar bingung. Namun, tidak ada yang meresponnya. Dia salah tingkah sendiri.
"Bagaimana kakimu? Apakah masih terasa sakit? Coba sekarang kamu berdiri!" perintah Andre segera bangkit dari posisi jongkoknya.
"Iya!" Kayra langsung berdiri. Ternyata usaha penyembuhan ala mbah dukun Andre berhasil.
"Masih sakit?" ulangi Andre.
"Syukurlah, sudah tidak sakit lagi! Terima kasih banyak," ucap Kayra tersenyum manis.
"Sama-sama," balas Andre tersenyum manis.
Damar seperti orang hilang di sana. Tidak ada yang menjawab pertanyaannya.
"Oh ya, soal kejadian ini ... aku mohon maaf karena sudah berani menyentuh istrimu! Tadi, dia mengalami kecelakaan menumbur buldoser jadinya terpental. Dan kakinya terkilir," jelas Andre tersenyum geli.
"Hah, buldoser? Mana mungkin di sini ada buldoser?" tanya Damar semakin bingung.
"Lalu maksudmu dia berbohong?" tanya Damar benar-benar bingung.
"Hey, aku tidak berbohong! Memang benarkan wanita jumbo tadi berkata bahwa dirinya itu sebesar buldoser," sahut Andre terkekeh geli.
"Astaga, jadi kamu tadi menabrak seorang wanita bertubuh besar?" tanya Damar menatap Kayra serius.
Kayra mengangguk.
"Astaga, kenapa bisa hal itu terjadi? Jelas-jelas tubuh wanita itu jumbo ... jangan bilang kalau karena kamu lalai alias ceroboh lagi?" tanya Damar meyakinkan.
Kayra langsung nyengir kuda. Tangannya menggaruk-garuk kepala karena begitu malu.
"Astaga!" Damar menepuk jidatnya sambil tersenyum geli.
"Ya sudah. Aku ke depan dulu karena semuanya sudah jelas," pamit Andre terkekeh puas.
"Iya. Terima kasih banyak karena bersedia menolong istriku," ucap Damar tersenyum.
Andre hanya mengangguk saja sambil tersenyum manis. Dia segera melangkah meninggalkan Kayra dan Damar.
__ADS_1
Sementara Damar segera mendekati istrinya sambil terus tersenyum geli.
"Sayang, aku kok jadi penasaran sama gaya kamu pas menabrak buldoser itu?" tanya Damar menyentuh dagu istrinya gemas.
"Ih, apaan sih Mas! Nggak penting!" sewot Kayra memberanikan diri mencubit perut Damar. Dia yakin sekali kalau Damar pasti akan menggodanya lagi seperti tadi sore.
"Ah, jangan kuat-kuat, Sayang! Jangan salahkan jika aku tergoda di sini," ledek Damar sedikit meringis.
"Mas!" sewot Kayra kesal.
"Haha! Iya-iya!" Damar langsung memeluk erat istrinya gemas.
"Ayo kita kembali ke depan," ajak Damar masih terkekeh.
Kayra mengangguk setuju. Mereka segera melangkah bergandengan.
***
Sebulan kemudian, rencana Kayra dan Kayla berjalan mulus. Mereka berdua berperan layaknya aktris profesional. Damar dan David sama sekali belum ada yang memergoki kebohongan mereka.
Sementara, Kaysa sudah sembuh total dari sakitnya. Kayla dengan telaten merawat keponakannya itu layaknya anak sendiri. Kalau soal David, dia pintar-pintar mengelola waktunya sebaik mungkin agar bisa lolos dari serangan David. Obat tidur selalu saja jadi andalan utamanya.
Bahkan, dia memberanikan diri membuka pakaian atasan David di saat tertidur lelap. Hal itu dia lakukan agar seolah-olah David dan dia pernah melakukan malam panas. Padahal, tidak sama sekali.
Pagi ini jam dinding sudah menunjukkan pukul enam pagi. Akan tetapi, Kayra masih saja bersembunyi di balik selimut tebalnya. Damar yang sudah bangun sejak tadi masih setia menunggui istrinya. Tangannya terus mengusap lembut pucuk kepala istrinya sambil tersenyum hangat.
"Sayang, bangun yuk! Mas, mau siap-siap ke kantor nih!" Damar berusaha membangunkan Kayra dengan lembut.
"Uh, sebentar lagi, Mas!" sahut Kayra masih memejamkan matanya. Matanya sulit sekali dibuka.
"Hem, ayolah! Ini sudah siang! Coba kamu tengok jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul tujuh pagi," jelas Damar agar istrinya itu bangun.
"Hah, yang bener, Mas?" Kayra terpaksa membuka matanya karena terkejut.
"Iya, coba saja tengok sendiri! Mas, harus segera mandi sekarang," jelas Damar tersenyum geli. Dia segera turun dari kasur.
Dengan malasnya, Kayra menengok ke arah jam di dinding. Matanya terbuka lebar. Ternyata Damar tidak berbohong. Dia segera bangkit dari posisinya. Lalu, bergerak cepat mendekati lemari pakaian. Dia harus segera menyiapkan pakaian Damar.
Namun, belum sempat sampai tujuan. Dia memegangi perutnya yang terasa keram. Seketika dia berjongkok di lantai karena perutnya begitu sakit.
"Auww! Ih! Kenapa ini sakit sekali," gumam Kayra meringis kesakitan. Bahkan, keringat dingin sampai bercucuran dari tubuhnya. Rasanya dia tak kuat lagi menahannya. Pandangannya pun mulai berkunang-kunang. Tak lama kemudian dia ambruk begitu saja tanpa ada yang tahu.
__ADS_1