
Keringat-keringat sebesar biji jagung terus mengucur dari tubuhnya.
"Lebih baik, kita ke rumah sakit saja! Aku yakin sekali kalau tubuhmu sangat lemas," ajak Damar kasihan.
Kayra menggelengkan kepala. Dia terus tersiksa dengan rasa mualnya.
"Tapi, mualmu ini sudah melewati batas! Sampai-sampai yang keluar dari mulutmu lendir! Aku takut terjadi sesuatu dengan kamu," jelas Damar khawatir.
Akhirnya Kayra mengangguk. Rasanya dia sudah tidak kuat lagi.
Damar langsung memapah tubuh Kayra pelan-pelan. Namun, baru sampai di depan pintu tubuh Kayra tumbang. Dengan sigap Damar menahannya.
"Astaga!" Dia langsung membopong tubuh Kayra.
Dengan langkah cepat dia menyusuri area toilet. Setibanya di tempat mereka makan, Kayla dan David melebarkan matanya.
"Eh, itu kenapa Mbak Kayla kok dibopong segala? Apa dia pingsan?" tanya Kayla segera menggendong Kaysa.
"Sepertinya, iya. Ya sudah. Cepat kamu hampiri mereka! Aku mau membayar ini dulu," tegas David panik.
"Baik!" Kayla segera mengejar Damar. Jujur dia takut sekali kalau sampai terjadi hal buruk dengan kandungan adiknya.
"Oh Tuhan, kumohon lindungi lah adik dan calon buah hatiku," gumam Kayla terus berlari.
Kini Damar sudah sampai di parkiran. Sungguh dia begitu kesulitan saat hendak membuka pintu.
"Biarkan aku saja yang membukanya!" tawar Kayla yang sudah berada di dekat Damar.
Damar mengangguk.
"Oh ya, kamu juga sekalian masuk ke dalam!" perintah Damar.
"Iya!" Kayla segera masuk ke dalam mobil.
Kemudian dengan hati-hati Damar memasukkan tubuh Kayra ke dalam mobil dan disambut baik oleh Kayla. Meskipun dia sedikit kesulitan karena bersamaan sambil memangku Kaysa.
__ADS_1
Tak lama muncullah David berlari tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Damar segera berlari memutari mobil dan masuk ke dalam kursi kemudi. Sementara David ikut masuk juga ke dalam mobil.
Dengan tergesa-gesa Damar menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia sangat khawatir dengan keadaannya istrinya. Apalagi dia tahu bahwa kondisi kehamilan istrinya sangat lemah.
Kini mereka sudah sampai di depan klinik terdekat. Damar segera turun dan berlari menuju pintu mobil di mana Kayra terbaring. Sementara David segera berlari ke dalam kelinik untuk meminta bantuan.
"Suster, tolong bantu kami! Di depan ada pasien yang pingsan!" ucap David panik.
"Baik, mari kita ke sana sekarang!" seru dua orang suster.
"Iya!" Mereka segera berlari mengambil brankar. Lalu, mendorongnya keluar.
Damar langsung meletakkan tubuh Kayra di atas brankar ketika para suster sudah tiba di dekatnya. Tergopoh-gopoh mereka berlari sambil mendorong brankar.
Semenjak kejadian itu, Kayra bolak-balik di rawat di rumah sakit. Bahkan, sampai dirawat lama karena harus mendapatkan penanganan serius dari pihak medis.
***
Tepat pukul delapan pagi, Kayla baru saja selesai memandikan Kaysa. Sementara, David sudah berangkat bekerja sejak pukul tujuh pagi tadi.
Pintu rumah Kayra diketuk seseorang, dia segera menyelesaikan tugasnya mengurus Kaysa terlebih dahulu. Lalu, segera menggendong Kaysa. Buru-buru dia melangkah menuju pintu ruang tamu. Kemudian, segera membukanya.
Keningnya mengkerut saat melihat seorang wanita cantik tersenyum di ambang pintu. Jujur hatinya langsung merasa tak nyaman. Pirasat buruk langsung menghinggapi hatinya.
"Pagi!" sapa wanita cantik itu tersenyum manis.
"Ya, pagi!" balas Kayla tersenyum tipis.
"Maaf, kalau kedatangan aku kemari mengganggu aktivitas Anda? Aku kemari hanya ingin mengirimkan amplop ini." Wanita itu mengulurkan amplop berwarna putih pada Kayla. Dia terlihat begitu tenang. Bibirnya terus melengkung ke atas.
"Oh." Kayla menerima amplop tersebut dengan baik. Walaupun sebenarnya hatinya was-was. Sekilas matanya melihat ada lambang berlogo kesehatan.
"Kalau begitu, aku permisi!" pamit wanita itu masih tersenyum manis.
"Terima kasih, sudah bersedia mengantarkan surat ini," balas Kayla tersenyum.
__ADS_1
Wanita itu hanya mengangguk lalu bergegas pergi. Baru saja wanita itu naik ke atas mobil. Kayla segera membuka kertas tersebut. Matanya melebar sempurna membaca isi surat tersebut.
Tangannya mengepal kuat. Ingin rasanya dia robek-robek surat tersebut. Namun, hal itu tidak dia lakukan. Hal itu akan menjadi bukti kuat saat di meja hijau nanti.
"Sialan kamu, David! Tidak puaskah kamu menyakiti adikku!" Pancaran kebencian terlihat jelas dari mimik mukanya.
Tanpa menunggu lama, dia segera masuk kembali ke dalam rumah. Dia harus segera mendatangi pengacaranya untuk membantu Kayra. Dengan begitu proses perceraian akan lebih lancar.
"Huh, untung saja uang simpananku masih utuh! Belum lagi uang tambahan dari David untuk membayar cicilan hutangnya pada Mas Damar. Aku tak perlu bingung lagi mencari uang untuk mengurus perceraian Kayra." Kayla segera mengambil tas kecil tersebut. Tak lupa meraih kartu atm miliknya.
Dia sengaja membuat buku rekening sendiri khusus untuk dia selama menjalani penyamaran. Jadi, dia menyimpan uang tersebut di sana. Dengan begitu David atau Damar tidak akan ada yang tahu soal itu.
"Lihatlah, kau David! Apa yang kamu tuah pada adikku ... tidak akan pernah aku maafkan. Walaupun sekaligus kamu berlutut atau berdarah-darah," gumam Kayla sengit. Dia dan Kaysa segera pergi dari rumah.
Malamnya, David pulang terlambat. Hal itu membuat Kayla tambah yakin akan kebusukan adik iparnya tersebut. Dia mencoba untuk terlihat biasa saja. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa pada rumah tangga adiknya.
"Eh, Mas kok terlambat pulangnya? Apa kerjaan numpuk banget ya? Itu wajah Mas terlihat kacau sekali?" tanya Kayla dengan nada menyindir.
"Ups, benar sekali! Tadi, di bengkel selain pelanggan ramai. Ada beberapa pelanggan yang komplain," jelas David penuh kebohongan.
Padahal tadi pas jam istirahat, Nayla datang ke bengkel untuk mengajak makan siang bersama. Awalnya David menolak mentah-mentah ajakan Nayla karena tak ingin mengulangi kesalahannya lagi.
Setelah kejadian na'as malam itu dia tidak ingin lagi bertemu atau sekadar bertegur sapa dengan mantan kekasihnya itu.
Dia takut kalau hal itu akan menjadi masalah besar dan berimbas buruk pada rumah tangganya. Baginya sudah cukup melukai hati istri tercintanya, Kayra.
"Maaf, aku tidak bisa!" tolak David tanpa menatap Nayla sedikitpun.
"Ayolah David, ada sesuatu hal penting yang ingin aku utarakan padamu! Jadi, kumohon ikutlah denganku!" Nayla memegang tangan David memohon. Matanya berkaca-kaca.
"Tidak bisa, Nayla! Pekerjaanku begitu padat! Kalau kamu ingin mengutarakan sesuatu sekarang saja!" tegas David malas.
"Tidak mungkin aku menyampaikannya di sini! Ini aib, David! Kamu masih ingatkan dengan kejadian malam itu ... di saat aku tengah mabuk berat," jelas Nayla dengan nada cukup tinggi. Dia sengaja melakukan hal itu agar David mau ikut dengannya.
Degggg!
__ADS_1
Paru-paru David langsung terasa sesak. Hatinya pedih mengingat kejadian malam itu. Dia sudah berkhianat pada Kayra. Semua janji manisnya dia langgar sendiri. Tepatnya tingkah dia ini lebih mirip seperti seekor keledai yang suka jatuh pada lobang yang sama.