
"Ups, maafkan aku, ya?" Kayra menyentuh lembut pipi Damar. Matanya berkaca-kaca. Dia cukup menyesali perbuatannya yang hampir saja merenggut nyawanya sendiri.
"Iya, Mas maafin." Damar juga menyentuh lembut pipi Kayra. Dia tersenyum hangat. Menatap Kayra penuh cinta.
Hal itu cukup membuat desiran-desiran halus menghujam hati Kayra. Jantungnya pun ikut berdegup kencang. Dia terhipnotis oleh tatapan penuh cinta Damar. Dia melupakan sejenak status aslinya yang hanya seorang adik ipar.
"Tapi, lain kali jangan pernah bertindak ceroboh lagi, ya? Kalau sampai terulangi Mas tidak akan memaafkan kamu lagi. Bahkan, Mas tidak segan-segan mengikuti jejakmu," ancam Damar tersenyum.
"Iya, aku janji." Kayra tersenyum sambil mengangguk.
Tanpa menunggu lama Damar segera mendekatkan wajah mereka. Karena masih hanyut, Kayra hanya pasrah saja. Damar langsung menyatukan bibir mereka. Kini mereka tengah menikmati momen-momen indah tanpa ada satu orang pun yang mengganggu.
Namun, siapa sangka kenikmatan dunia itu harus terhenti karena ada orang yang masuk secara tiba-tiba tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu.
"Astaga!" teriaknya histeris lalu menutup mulutnya dengan telapak tangan. Dia benar-benar tak percaya bisa melihat hal yang semestinya tidak berlaku lagi pada sang adik dan suaminya itu.
Damar segera menengok ke arah belakang untuk melihat siapa yang sudah mengganggu kesenangannya dengan sang istri tercinta. Setelah mengetahui siapa yang berulah. Bukannya dia merasa malu karena aksi mesranya dilihat orang lain.
Yang ada dia menajamkan matanya menyoroti reaksi terkejut Kayla. Jujur dia semakin kesal dan mulai membenci kehadiran orang yang dia anggap sebagai adik istrinya itu. Menurutnya kehadiran sang adik ipar selalu saja menimbulkan masalah.
Sementara Kayra terus berusaha untuk tetap tenang di saat hatinya begitu gelisah dan takut karena dia sudah melampaui batas setelah tugasnya berakhir. Di bawah selimut tangannya *******-***** ujung baju yang dia kenakan.
"Sayang, Mas keluar dulu. Tadi, kata suster ada yang mau dibicarakan soal kepulangan kamu sama anak kita." Damar kembali menatap lembut Kayra. Bibirnya tersenyum hangat seolah dia tak sedang marah atau kesal.
Kayra langsung mengangguk.
Damar bergegas melangkah meninggalkan Kayra. Di saat langkahnya sampai di dekat istri nyatanya dia langsung menghela napas kasar. Hal itu menandakan bahwa dia tak suka dengan aksi ceroboh yang ditimbulkan sang adik ipar.
__ADS_1
Kayla langsung memejamkan matanya. Dia paham sekali dengan gelagat yang ditampakkan sang suami padanya.
"Mas, sebenarnya aku ini yang istrimu bukan dia," batin Kayla sesak di dadanya. Setitik air lolos dari matanya.
Setelah mendengar pintu ruangan sang adik tertutup kembali. Kayla bergegas melangkah menghampiri Kayra. Tangannya segera menghapus kasar tetesan air di wajahnya. Sungguh dia kecewa, marah dan kesal dengan sikap sang adik.
"Maafkan aku, Mbak. Sungguh bukan aku yang menginginkan hal itu. Mas Damar sendiri yang berbuat. Pastilah Mas Damar terus mengira aku ini Mbak ... selama aku masih bersamanya," jelas Kayra ketakutan.
"Baiklah, kalau begitu tugasmu selesai detik ini juga. Mari kita kembali ke posisi asli kita," ajak Kayla menangis tersedu-sedu. Dia melupakan kondisi sang adik yang jelas masih lemah karena masa pasca operasinya belum lama berlalu.
"Ba-baik, Mbak." Kayra pasrah saja menerima ajakan sang kakak. Dia tak ingin terlihat egois dengan perannya itu. Walaupun kondisinya masih butuh proses pemulihan lebih lanjut.
"Ayo cepat turun dari ranjang!" perintah Kayla yang masih tersulut emosi. Mata hatinya masih tertutup karena rasa cemburunya. Dia sampai melupakan bahwa selang infus masih tertempel di tangan adiknya.
"Ba-baik, Mbak." Kayra kembali patuh dengan perintah sang kakak. Pelan-pelan dia hendak turun dari ranjang. Namun, aksinya terhenti saat melihat selang infus masih tertempel rapih di pergelangan tangannya.
"Kenapa berhenti? Apa kamu ragu melepaskan peranmu?" tanya Kayla marah.
"Bu-bukan begitu, Mbak. Hanya saja bagaimana dengan selang infus yang menempel di pergelangan tanganku? Jika aku mencopotnya nanti bagaimana kita memasangnya di pergelangan tangan, Mbak?" jelas Kayra cemas. Dia takut kemarahan kakaknya ini malah membongkar semuanya.
Kayla diam sejenak meresapi kata-kata sang adik. Dia membenarkan penjelasan tersebut. Namun, dia tidak patah akal olehnya.
"Kamu tunggu sebentar. Aku akan pergi meminta bantuan," tegas Kayla tanpa berpikir panjang. Yang terpenting baginya saat ini bisa mengakhiri akting mereka selama ini.
"Baik." Kayra mengangguk patuh. Dia terus-terusan pasrah saja menerima perlakuan sang kakak.
Kayla bergegas melangkah meninggalkan Kayra. Setibanya di depan pintu, dia mengintip keadaan luar untuk memastikan bahwa keadaan benar-benar aman. Setelah itu dia langsung keluar dari ruangan.
__ADS_1
Di dalam ruangan Kayra terus memanjatkan doa pada Sang Pencipta agar terus memberi dia kekuatan dan kesembuhan yang lebih cepat. Hanya dengan begitu suaminya David tidak akan curiga dengannya.
"Oh Tuhan, terima kasih sudah bersedia menutupi aib aku dan kakakku. Semoga saja aku bisa segera sembuh dan kuat kembali seperti sedia kala agar suamiku tidak curiga denganku." Kedua telapak tangan Kayra menengadah ke atas memohon pada Sang Pencipta. Sebulir air bening luruh dari mata sayupnya.
Di tempat lain, Kayla masih bernegosiasi sama salah seorang perawat pria yang tak lain adalah tetangganya dahulu saat masih tinggal bersama sang ayah. Tampaknya keinginannya tidak berjalan mulus. Pastinya dia mendapatkan kendala akan permintaan konyolnya tersebut.
"Aduh, maaf, Kay. Aku tidak bisa membantu kamu. Apa yang kamu minta itu bisa membahayakan nyawa pasien. Apalagi Kayra baru saja mengalami masa operasi dan sempat koma beberapa hari. Selain itu__" Ucapannya langsung disambar Kayla karena volume suara sang suster semakin meninggi.
"Suutttt, jangan keras-keras kalau bicara," nasihati Kayla menengok kanan kiri karena takut ada yang mendengar ucapan sang suster.
"Ups, maaf." Al langsung mengerti. Dia mengurangi volume suaranya.
"Asal kamu tahu tindakan kita ini sudah jelas melanggar aturan rumah sakit. Kalau aksi kita sampai ketahuan ... maka kita akan mendapatkan sangsi dan hukuman yang berat," terang Al cemas.
"Iya, aku paham Kak Al. Tapi, aku sudah tidak tahan lagi melihat suamiku bersikap mesra terhadap Kayra," terang Kayla dengan nada sedih.
"Eh, maksud kamu apa, Kay?" Al melebarkan matanya.
Kayla masih terdiam. Lidahnya kelu ingin menceritakan semuanya.
"Seingatku bukannya suami kamu itu si pria yang hobinya pakai jaket hitam bergambar elang itu? Mana mungkin juga suami kamu bermesraan sama adikmu? Aneh? Bukannya dia juga sudah punya suami sendiri?" sambung Al sangat bingung. Tangannya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
"Baik, akan aku jelaskan semuanya. Tapi, kumohon jangan ceritakan rahasia aku dan Kayra sama siapapun tanpa terkecuali," pinta Kayla tersedu-sedu.
"Oke, aku janji. Ayo cepat ceritakan," pinta Al sudah tidak sabar. Dia merasa ada sesuatu hal yang sangat rahasia disembunyikan oleh mantan tetangganya itu.
"Tapi, kamu harus benar-benar berjanji untuk tidak menceritakannya pada siapapun tanpa terkecuali," ulangi Kayla karena dia begitu ragu Al mulutnya ember.
__ADS_1
"Astaga, ini orang kok nggak percaya amat sih sama mantan kakak dan mantan tetangga ini. Memang pernah kamu melihat aku digebukin orang karena punya mulut kayak kaleng rombeng. Suka berkoar-koar menyebarkan ghibah ke mana-mana biar gempar nih dunia," cerca Al kesal. Bibirnya monyong lima senti karena kesal dengan sikap Kayla yang masih tidak percaya dengannya.