
"baiklah, sekarang kamu tanda tangani surat cerai kita" kata Rudi menyodorkan surat cerai yang sudah disiapkan pada Ana.
"bagaimana dengan surat cerai kita Anita, apa sudah kamu siapkan?" tanya Firman.
"tenang saja mas surat cerai kita ada disini" jawab Anita. "silahkan tanda tangan, karna setelah ini...aku akan menikah dengan Rudi" Anita tersenyum bahagia
"rupanya kalian sudah mempersiapkan semuanya." kata firman sambil menandatangani surat cerai itu.
"tentu saja...!" jawab Sofi. "Anita dan Rudi Sama-sama bekerja dan menghasilkan uang, mereka lebih cocok untuk bersama" jelasnya. "sedangkan kalian lebih cocok bersama karna Sama-sama tidak berguna." pungkasnya
"ya, kalian itu pasangan yang sangat serasi" kata Anita. "bagaimana...?, aku sangat baik bukan...!" Anita tersenyum sinis.
setelah 3 bulan mereka bercerai akhirnya mereka menikah. pernikahan mereka hanya diadakan secara sederhana tidak ada pesta pernikahan yang megah.
malam setelah acara pernikahan, hujan lebat. Anita dan Rudi terlihat sangat bahagia menghabiskan malam didalam kamar pengantin yang sudah dirias dengan indah.
sedangkan Ana dan Firman didalam kamar pengantin yang sama sekali tidak ada riasan, meski begitu Ana tetap merasa lega, karna sudah berpisah dengan Rudi.
"seandainya malam ini tidak hujan akan aku bawa kamu keluar dari sini dan akan ku carikan tempat tinggal yang layak untuk kita hidup bersama." kata Firman sambil memegang tangan Ana yang sedang berdiri menghadap ke luar jendela.
"hmmm... " Ana menghela nafas. "tidak apa mas, kan masih ada hari esok" jawab Ana
"maafkan aku Ana, kamu harus menikahi laki-laki lumpuh sepertiku yang tak berguna ini" kata firman
"jangan bicara begitu mas" kata Ana. "kamu itu laki-laki baik dan bertanggung jawab, kamu bisa menghargai wanita, aku bahagia punya kamu sekarang jadi aku tidak sendiri lagi." Ana menatap Firman tersenyum lembut.
"ya" Firman membalas senyuman. "sekarang sudah malam, sebaiknya kita istirahat dulu" kata Firman besok pagi kita tinggalkan rumah ini."
"ya mas" jawab Ana
paginya, sementara Ana masak dan membersihkan rumah. Firman menyusun pakaian mereka untuk dibawa pergi dari rumah itu.
setelah menyajikan makanan di meja makan Ana menuju kamar mengecek Firman.
"apakah sudah selesai menyusun pakaiannya mas?" tanya Ana.
"sudah" jawab Firman. "aku juga sudah selesai mandi" Firman tersenyum. "kamu mandilah dulu aku akan menunggumu disini" perintahnya.
"baiklah, aku mandi dulu". kata Ana
sssrrrr.... sssrrr... tak lama kemudian Ana keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk pendek.
__ADS_1
"hmmm" Firman mencium bau harum dari tubuh Ana. "harum sekali" Kata Firman sembari mendekati Ana. "wanita ini benar-benar ya." batin Firman sembari meneguk salivanya.
"Ada apa mas" tanya Ana polos.
"tidak ada" jawab Firman. "aku hanya...!" perkataan Firman terpotong oleh Ana yang baru sadar kalau suaminya memandanginya hingga membuatnya malu hingga pipinya memerah
"Ah ya, aku akan ganti baju" kata Ana mengalihkan perhatiannya. bisakah mas Firman keluar sebentar" pinta Ana dengan suara lirih
"kenapa aku harus keluar?" tanya Firman. "aku sudah jadi suamimu kan!" kata Firman senyum ledek
"iya, tapi aku tidak terbiasa ganti pakaian dilihatin seperti ini." jawab Ana malu-malu
"cepat lah pakai bajumu!" kata Firman. "apa kamu sengaja ingin menggodaku...?" Firman membelalakkan matanya sambil menahan senyum
"ah... bukan...!, bukan begitu...!" jawab Ana. "tapi...! ah...! kenapa kamu menyebalkan sekali sih?." kata Ana jengkel. Ana terpaksa ganti baju dengan menahan malu di depan suaminya
Firman pun tersenyum geli melihat tingkah istrinya itu.
"aku sudah selesai" kata Ana. "ayo kita sarapan dulu" ajak Ana. "aku sudah siapkan sarapan untuk kita berdua."
merekapun berjalan menuju meja dapur, karna memang sarapan yang di siapkan Ana ada di dapur.
"ini bukan romantis mas...!" jawab Ana. "tapi ini adalah kewajiban ku sebagai seorang istri" kata Ana jengkel dengan suaminya yang dari tadi sengaja menggoda dia.
"iya... iya...!" Firman tersenyum. "sini duduk di sebelahku." kata Firman.
Ana langsung mengambil piring lalu mengambil nasi juga lauknya untuk suaminya kemudian duduk di sebelah Firman.
"duduk lah biar aku suapi" kata Firman. "kamu pasti lelah...!"
"aku bisa makan sendiri mas" jawab Ana
"sudah jangan malu" kata Firman. "biar aku yang suapi."
"baik lah kalau begitu" jawab Ana malu
"bagaimana, enak tidak?" tanya Firman.
"tentu saja enak" jawab Ana. "ini kan aku yang masak, jelas enak lah" pungkasnya dengan senyum percaya diri
"wah...!, istriku ternyata pintar memuji diri sendiri ya!" goda Firman
__ADS_1
Ana pun tersipu malu
setelah selesai makan Ana dan Firman mengambil barang-barang yang sudah mereka siapkan untuk dibawa pergi.
Ana dan Firman berjalan keluar melawati ruang makan. sementara yang lainnya sedang sarapan dimeja makan. sofi yang melihat mereka berdua keluar dengan membawa barang bawaan langsung berdiri.
"mau kemana kalian?" tanya Sofi
Bondan, Anita dan Rudi pun langsung menatap Sofi dan menoleh ke arah Ana dan Firman
"kami akan keluar dari rumah ini" jawab Firman
"siapa yang mengizinkan kalian pergi dari sini?" tanya Sofi
"aku mau pergi, kenapa harus izin?" jawab Ana. "itu hak kami mau tinggal atau pergi" Ana memicingkan bibirnya
"hei, Firman." bentak sofi. "kau itu anak yang tidak berbakti ya" kata sofi. "setelah aku mengurus mu dari kecil hingga sekarang kamu seenaknya saja mau pergi dari rumah ini." Sofi menyeringai.
"mana baktimu terhadap ibu" kata Rudi. "meskipun mama bukan ibu kandungmu tapi dia sudah membesarkan mu hingga sekarang" jelasnya. "apa kamu tidak punya rasa terima kasih?"
"sudah lah...!" Ana menghentikan perkataan mereka. "ini hanya akal-akalan kalian supaya aku tidak bisa keluar dari sini kan?." kata Ana ketus
"ha ha ha ha..." Rudi tertawa kecut. "ternyata kau sangat pintar Ana." kata Rudi.
Ana tersenyum sinis. "Terima kasih atas pujiannya" kata Ana. "aku dari dulu memang sudah pintar, tapi kepintaran ku tidak bisa tersalurkan karna perbuatan mu dasar brengsek." batin Ana jengkel
"kalian jangan keterlaluan" kata Firman dengan nada tinggi. "Ana tidak salah apa-apa dan tidak punya hutang apapun dengan kalian. tegasnya. "biarkan dia pergi." kata Firman
"silahkan Ana pergi" jawab Sofi. "tapi kau tetap tinggal disini" kata Sofi dengan santai. "kau harus membalas budi pada ku dan keluargaku Firman.
"pergi lah Ana" kata Firman lirih. "biarkan aku disini, aku tidak apa".menatap wajah Ana, Firman tau Ana tidak akan mau meninggalkannya.
" tidak, aku tidak bisa" jawab Ana. "dimana pun suamiku tinggal aku akan tinggal." pungkasnya.
"dengar Ana" Firman memegang wajah Ana dengan kedua tangannya dan menatapnya. "ini hanyalah siasat mereka supaya kamu tidak keluar dari rumah ini, maka jangan pedulikan aku, pergilah aku tidak mau kau semakin tersiksa disini" kata Firman dengan tatapan mata meyakinkan ana.
"tidak mas" jawab Ana. "aku hanya punya kamu, jika aku pergi dari rumah ini artinya aku tidak punya siapa-siapa lagi" jelasnya. "jadi biarkan aku tetap bersamamu" Ana menatap tajam wajah Firman. "tolong jangan usir aku mas." salah satu tangan ana memegang tangan Firman yang tengah menempel di wajah Ana.
"plok plok plok...!" Rudi bertepuk tangan sendiri. "memang kalian pasangan yang benar-benar serasi" katanya. "aku jadi iri dengan kalian, benar-benar tidak berguna." kata Rudi jengkel melihat kemesraan mereka berdua.
"aku tidak peduli dengan drama kalian berdua" kata Sofi. "sekarang bawa kembali barang-barang kalian ke kamar." tegasnya.
__ADS_1