Bertukar Suami

Bertukar Suami
Damar vs David


__ADS_3

Kini langkah mereka sudah hampir sampai di kamar jenazah. Dari kejauhan Kayra tak sengaja melihat Damar masih duduk sambil tertunduk di kursi dekat ruangan jenazah. Tangannya memegang kepala. Terlihat jelas kalau Damar tengah defresi berat. Kedua orangtua Damar serta Mbok Nem ikut duduk di mendampinginya.


Melihat pemandangan tersebut, dada Kayra terasa sesak dan nyeri. Dia kembali teringat kebersamaan mereka beberapa bulan yang lalu sebelum rahasia dia dan Kayla terbongkar.


"Kira-kira dia membenciku tidak, ya?" batin Kayra menahan sesak di dadanya. Tanpa disadari setitik buliran bening kembali membasahi pipi yang masih pucat itu.


"Nak Kayra!" sapa ibunya Damar segera bangkit saat mengetahui kehadiran David dan Kayra.


Mendengar hal itu, Damar mendongak sejenak.


Kayra langsung menyunggingkan bibirnya sedih menatap Damar. Dia berharap Damar tidak membencinya dan mau memaafkannya. Namun, ternyata yang dia dapatkan tatapan sengit dari Damar.


Damar kembali menunduk lagi setelah memberitahu pada Kayra bahwa dia sangat membencinya. Menurutnya, jika Kayra tidak menyetujui permintaan konyol istrinya pasti semua kabar duka ini tidak akan pernah terjadi.


Perasaan cintanya pada sang istri tidak akan pernah ternodai oleh kebohongan. Bahkan, baginya Kayra itu wanita murahan. Demi uang dia rela membagi tubuhnya tanpa sebuah ikatan pernikahan dan sudah tega mengkhianati suaminya.


"Oh Tuhan, dari tatapannya saja bisa dipastikan bahwa dia sangat membenciku. Apakah bibir ini sanggup mengutarakan permintaan maaf padanya," batin Kayra dilema. Air mata semakin deras membasahi pipinya.


Kedua orangtuanya Damar segera mendekati Kayra. Hal itu membuat Kayra langsung merasa malu dan sedih. Mengingat kebohongannya hatinya dipenuhi rasa penyesalan yang teramat dalam.


"Ayah, Ibu, semuanya, maafin aku? Aku akui kalau aku sudah berdosa besar beberapa bulan ini pada kalian semua. Sungguh aku tak tega pada curhatan Mbak Kayla makanya aku setuju membantunya. Katanya dia takut kalau kalian akan kecewa padanya karena mandul. Lalu, Mas Damar akan berpoligami jika tahu dia tak bisa mengandung." Kayra terisak-isak.


Telinga Damar langsung terasa panas mendengar permintaan maaf yang sangat enteng dari Kayra. Dia juga langsung membalikan pertanyaan sengitnya untuk meluapkan unek-unek di hatinya.


"Hey, bukankah kamu melakukan semua itu karena uang? Jika bukan karena uang pasti kamu tak akan sudi berkhianat dari suamimu?" sudutkan Damar tersenyum getir. Dia enggan menatap Kayra sama sekali.


Deg!


Nyut!

__ADS_1


Hati Kayra langsung teriris-iris rasanya dikatai Damar seperti itu. Walaupun memang benar sih kalau dia itu ingin membalas budi soal uang pinjaman untuk membiayai anaknya saat dirawat di rumah sakit.


Kedua orangtua Damar dan Mbok Nem ikut terkejut mendengarnya. Mereka semakin bingung dengan kerunyaman masalah yang sedang menerpa mereka.


Mendengar Damar kembali menghina istrinya. David langsung angkat bicara membela istrinya. Sungguh dia marah besar dan tidak terima jika istrinya itu disalahkan karena masalah mereka.


"Hey, tolong kamu jaga bicaramu itu! Sudah kubilang kalau istriku hanya korban ketidaksempurnaan rumah tangga kalian! Jadi, berpikir jernilah sebelum kau menghina istriku yang jelas tidak bersalah!" Telunjuk David mengarah ke Damar. Dia menatap Damar sengit. Jelas dadanya berkobar-kobar.


"Kamu yakin kalau istrimu itu hanya korban? Setahuku kalau korban itu tidak dibayar loh! Sementara istrimu dibayar lima puluh juta," ejek Damar tersenyum getir.


David langsung melebarkan matanya mendengar jumlah nominal yang tidak setara itu.


Kedua orangtuanya Damar dan Mbok Nem langsung memegang dada dan melihat ke arah Damar. Mereka tidak menyangka kalau Kayla benar-benar membayar Kayra. Awalnya, mereka kira kalau Damar hanya asal mengomong saja karena tengah kacau pikirannya.


"Kamu serius, Nak?" tanya ayahnya Damar belum yakin.


Kedua orangtuanya Damar berpindah menatap Kayra kecewa.


"Benarkah itu, Kayra?" tanya mereka bersamaan.


Kayra hanya bisa menangis dan memejamkan matanya meresapi hinaan dari Damar. Dia juga terkejut mendengar nominal yang disebutkan Damar. Seingatnya, dia hanya meminjam sekitar 30 juta saja untuk melunasi kekurangan biaya rumah sakit anaknya kala itu.


"Hey, kau!" David semakin naik darah. "Bisa sekali kau memfitnah istriku! Apa yang kau tuduhkan itu tidak benar. Kami hanya memin__" Pembelaan David segera dihentikan Kayra. Dia tidak ingin arwah Kayla tidak tenang karena mereka terus memperdebatkan masalah Kayla.


"Sudahlah, Mas!" Kayra memegang lengan David menahannya karena David hendak maju menghampiri Damar.


"Sebaiknya, Mas antarkan aku melihat jenazah Mbak Kayla saja. Habis itu kita kembali ke rumah klinik lagi. Kasihan Mbak Kayla kalau harus terus-terusan diperdebatkan begini," rengek Kayra terisak-isak.


Melihat linangan air mata sang istri, hati David bimbang. Di satu sisi dia marah dengan Damar. Ingin sekali dia menghajar Damar. Namun, di sisi lain, dia tidak tega melihat istrinya menangis pilu. Semakin dia meladeni Damar, pastilah istrinya akan semakin terluka mendengarkan ucapan Damar yang tidak bermanusiawi itu.

__ADS_1


"Baik, mari kita ke dalam," ajak David berusaha menahan emosinya. Dadanya kembang kempis. Tanpa berpamitan dengan kedua orangtua Damar, mereka segera melangkah melewatinya.


Damar tidak memedulikan sama sekali aksi mereka. Dia diam di tempatnya.


Begitu sampai di depan pintu, David menghentikan langkahnya.


"Tolong kamu temani istriku masuk," pinta David menatap sang perawat.


"Baik, Pak." Perawatnya mengangguk patuh. Lalu, mendorong kursi roda Kayra dengan satu tangan karena satu tangannya digunakan untuk memegang wadah cairan infus.


"Permisi! Izinkan aku melihat jasad saudariku sebentar saja," sapa Kayra saat melihat para perawat sedang sibuk mengurusi jenazah Kayla.


Mereka sontak menengok ke arah Kayra bersamaan. Melihat kemiripan antara jasad korban dan wanita yang baru datang membuat mereka sedikit terkejut. Mereka tidak menyangka kalau Kayla memiliki kembaran.


"Baik, silahkan." Mereka tersenyum.


Perawatnya segera mendorong kursi roda mendekati ranjang tempat Kayla berbaring. Para perawat segera menggeser tubuh mereka untuk memberikan ruang pada Kayra.


Kayra tak kuasa ketika melihat jelas kondisi tubuh kakaknya yang biru-biru dan dipenuhi luka. Wajahnya sangat pucat sekali. Hal itu menandakan bahwa memang sudah tidak ada kehidupan lagi di raga kakaknya.


"Mbak Kayla," sapa Kayra hendak bangkit dari kursi roda. Dia ingin memeluk tubuh kakaknya untuk yang terakhir kalinya.


Melihat hal itu, salah satu dari perawat yang mengurusi jenazah Kayla segera membantu Kayra.


"Mbak, maafin Kayra yang tidak bisa menjaga Mbak dengan baik," ucap Kayra tersedu-sedu. Dia menempelkan wajahnya ke dada Kayla. Tetesan air merembes ke sela-sela kain kafan yang digunakan untuk menutupi bagian dada Kayla.


Para perawat ikut sedih melihat betapa kehilangannya Kayra. Bahkan, ada yang sampai ikut menitikkan air mata.


"Mbak, yang tenang ya di alam sana. Jangan lupa sampaikan salam rindu Kayra pada Ayah dan Ibu. Kayra janji tidak akan pernah lupa mengirimkan doa untuk kalian semua. Kayra yakin bahwa Tuhan sudah menyediakan tempat terindah buat kalian semua," sambung Kayra tersedu-sedu.

__ADS_1


__ADS_2