
"Huh, awas saja!" Ibu melepaskan jewerannya.
Ayah langsung mengusap-usap telinganya yang masih terasa panas. Kayra dan Damar terus menahan tawa mereka agar tidak lepas. Menatap Ayah gemas karena begitu lucu.
"Pasti aku akan merindukan kebersamaan ini esok hari ketika aku telah selesai mengemban tugasku," batin Kayra tersenyum sedih. Belum-belum dia sudah merasa cemas kehilangan momen-momen seperti ini.
Damar memalingkan pandangannya ke arah Kayra. Dia langsung merasa heran melihat raut wajah Kayra seperti memendam sesuatu.
"Hey, kamu kenapa kok kayak sedih gitu?" tanya Damar penasaran. Damar menyentuh hidung Kayra.
"Eh, siapa yang sedih! Aku nggak sedih kok! Aku malah merasa bahagia bisa terus didampingi orang-orang yang menyayangiku seperti ini," kilah Kayra kembali tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu! Ingat selama kami masih bernapas ... tentulah kami akan terus ada untukmu!" Damar tersenyum hangat.
"Terima kasih, Mas!" Kayra tersenyum. Dia menatap Damar.
"Oh ya, sekarang istirahatlah! Ini sudah larut malam!" Damar mengusap lembut pucuk kepala Kayra.
Kayra tersenyum sambil mengangguk.
"Untuk Ayah sama Ibu sebaiknya pulang saja ke rumah! Biarkan aku sama Pak Sopir saja yang menjaga Kayla malam ini," sambung Damar menatap ke arah kedua orangtuanya.
"Oke." Ibu setuju dengan saran Damar.
"Kay, Ibu sama Ayah pamit pulang ya! Besok pagi kami kemari lagi! Ingat nggak usah banyak pikiran! Tadi kan dokter sudah berkata bahwa kandunganmu akan baik-baik saja." Ibu mendekati ranjang Kayra. Lalu, menyentuh tangannya lembut.
"Iya, Bu." Kayra tersenyum hangat.
"Ya sudah. Kami pulang sekarang!" Ibu melepaskan sentuhannya.
Kayra mengangguk sambil tersenyum.
Ayah dan Ibu langsung keluar diikuti Damar di belakangnya.
"Pak, hati-hati bawa mobilnya! Jangan ngebut-ngebut!" peringati Damar menatap sopirnya dari depan pintu.
"Siap, Den!" Pak Sopir tersenyum dan mengangguk patuh.
Setelah memberi pesan pada Pak Sopir, Damar bergegas masuk dan menutup pintunya. Dia kembali mendekati ranjang Kayra.
"Hem, kenapa belum tidur?" Damar tersenyum gemas menatap Kayra.
"Hehe, mataku belum mengantuk!" Kayra cengengesan.
__ADS_1
"Hem, kau ini!" Damar menyentil hidung Kayra gemas.
"Mas!" panggil Kayra tersenyum malu.
"Apa, Sayang?" tanya Damar tersenyum. Tangannya mengusap lembut kening Kayra.
"Aku lapar," jawab Kayra tersipu malu.
"Astaga, ternyata suamimu ini memang kurang peka ya! Istrinya kelaparan saja tidak tahu! Bagaimana mungkin istriku ini bisa tidur dengan kondisi perut keroncongan," ucap Damar tersenyum kikuk.
"Cepat, Mas!" Kayra segera menyingkirkan tangan Damar dari keningnya. Dia sudah tidak sabar ingin menyantap makanan. Sebenarnya, sudah sejak tadi dia menahannya karena malu dengan dokter, suster dan kedua orangtuanya Damar.
"Iya, Sayang! Memangnya kamu mau makan apa malam-malam begini? Mobilnya kan masih dibawa pulang Pak Sopir," jelas Damar tersenyum.
"Aku ingin makan nasi goreng yang biasanya mangkal di depan rumah sakit. Kan, tempo hari Mas belikan aku," jelas Kayra tersenyum.
"Baiklah! Mas, pergi sekarang!" Damar mengecup kening Kayra sekilas sebelum beranjak pergi.
"Oh ya, pokoknya sepuluh menit Mas sudah harus kembali!" peringati Kayra tersenyum.
"Hufff, sepuluh menit!" Damar tampak berpikir sejenak.
"Bagaimana kalau masih ramai yang beli nanti?" tanya Damar minta keringanan.
Damar menghela napas panjang. Dia mencoba bersabar menanggapi perilaku aneh istrinya ini.
"Baiklah, Mas usahakan!" Damar tersenyum. Lalu, bergegas pergi. Dia takut telat.
Kini Damar sudah sampai di tempat gerobak nasi goreng mangkal. Dia langsung menggaruk kepalanya karena pusing. Ternyata pirasatnya tadi benar. Malam ini pembeli pada antri menunggu dibuatkan nasi goreng.
"Aduh, apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin aku kembali dalam waktu sepuluh menit kalau ramai begini," gumam Damar bingung. Kegelisahan tampak jelas di wajahnya.
Beberapa orang di antaranya melihat aksi Damar tersebut. Mereka langsung merasa ada sesuatu hal yang membuat Damar tertekan atau defresi. Salah satu dari mereka mendekati Damar karena kasihan.
"Sepertinya, Mas sedang dalam masalah? Ceritakan saja! Siapa tahu aku bisa membantu?" tanya orang tersebut iba. Bibirnya tersenyum tipis.
"Em, sebenarnya bukan masalah besar sih! Hanya saja ini masalah sangat rumit," balas Damar tersenyum malu.
"Ceritakan saja! Tak usah sungkan tau malu padaku!" pinta orang tersebut ramah.
"Iya, terima kasih atas perhatiannya." Damar tersenyum senang.
"Sebenarnya, istriku sedang ngidam! Jadi, apapun yang dia minta harus terpenuhi sesuai targetnya," jelas Damar tersenyum malu.
__ADS_1
"Oh, maksud Mas itu istrinya minta belikan nasi goreng tapi nggak boleh lama-lama?" tanya orang tersebut mencoba menebak keinginan Damar.
"Iya benar sekali!" Damar tersenyum malu.
"Baik! Mas, tunggu di sini saja! Biar aku yang pesan dan bilang sama penjualnya," ucap orang tersebut bersemangat.
"Eh, tapi bagaimana dengan yang lainnya? Mereka kan sudah menunggu sejak tadi?" tanya Damar tak enak hati.
"Hem, itu masalah gampang! Mereka semua adalah temanku! Kebetulan malam ini aku ada rejeki ... jadi mereka minta teraktir dibelikan nasi goreng Pak Ismail ini! Makanya, malam ini kesannya ramai sekali," jelas orang tersebut santai.
"Oh, begitukah? Terima kasih banyak atas bantuannya! Aku doakan rejeki Mas semakin berlimpah." Damar tersenyum senang. Dia benar-benar tidak menyangka kalau keramaian ini tidak menyulitkannya.
"Sama-sama. Ya sudah, aku ke penjualnya dulu!" pamit orang tersebut bersemangat.
"Iya." Damar mengangguk sambil terus tersenyum.
Baru saja pria itu pergi sebentar, kini dia sudah kembali lagi sambil menenteng satu keresek berisi bungkusan nasi goreng.
"Ini Mas!" Dia menyerahkan keresek tersebut pada Damar.
"Astaga, cepat sekali? Terima kasih banyak!" Damar menerimanya sambil tersenyum senang.
"Sama-sama." Pria itu tersenyum senang bisa membantu kesulitan Damar.
"Oh ya, ini uangnya!" Damar mengulurkan uang ke pria tersebut.
"Tidak perlu bayar! Kan, malam ini aku senang ada rejeki lebih!" tolak pria tersebut mendorong tangan Damar pelan.
"Eh, tidak boleh begitu! Ayo terima saja uang ini! Sudah ditolong saja membuat hatiku senang." Damar meletakkan uang tersebut ke telapak tangan pria itu.
"Tidak perlu, Mas! Serius, aku ikhlas!" Pria tersebut ingin mengembalikan uang pada Damar.
"Aku pun lebih ikhlas! Ya sudah. Aku harus segera kembali ke kamar istriku! Selamat malam," ucap Damar tersenyum. Dia segera meninggalkan pria itu.
"Alhamdulillah, dapat rejeki lagi," gumam pria itu tersenyum senang.
Di dalam kamar rawatnya, Kayra kembali menatap langit-langit kamar sambil menunggu kakak iparnya balik. Rasanya dia sudah tidak sabar menikmati nasi gorengnya.
Ceklek!
Pintu kamar rawatnya dibuka seseorang. Dia segera menengok siapa yang membuka pintu. Matanya langsung melebar sempurna saat mengetahui siapa yang datang.
"Eh, kok cepat sekali datangnya? Apa pembelinya sepi?" tanya Kayra tersenyum senang.
__ADS_1
"Bukan sepi! Malam ini malah sangat ramai pembeli! Untung saja, ada pembeli yang berbaik hati menolongku! Hampir saja aku melakukan kesalahan jika telat kembali kemari," jelas Damar tersenyum gemas.