
Nicholas pun menerimanya dan langsung membuka kantong plastik setelah dibuka Nicholas melihat ada es krim didalamnya.
"wah...!" kata Nicholas. "ada es krimnya...!" Nicholas langsung mengambil es krim bagiannya
"mana bagian ku?" tanya Nathan tidak sabar dan langsung menarik kantong plastiknya.
"makasih ya kakak tampan" ucap Nathan dan Nicholas kompak.
Nathan dan Nicholas langsung membuka es krimnya lalu memakannya dengan melahap sampai belepotan di pipi dan bajunya hingga terlihat lucu dan menggemaskan.
"Nathan...!, Nicho...!" terdengar suara wanita memanggil Nathan dan Nicholas, tak lama kemudian.
"mama... !" panggil Nathan dan Nicholas kompak.
seorang wanita yang di panggil mama oleh Nathan dan Nicholas datang menghampiri mereka.
"mama cariin kalian lho dari tadi...!" kata wanita itu. "ternyata kalian disini"
"iya ma...!" Nathan dan Nicholas pun langsung menggandeng tangan wanita itu.
"kakak cantik" kata Nicholas. "kenalin ini mama kami...!" memperkenalkan mamanya.
"ma" panggil Nathan. "itu kak Ana teman baru kami" kata Nathan memperkenalkan teman barunya. "tadi kami main bola bareng"
"hai..." wanita itu langsung meresponnya. "saya mamanya Nathan dan Nicholas" pungkasnya. "nama saya mona." dia mengulurkan tangannya, Ana pun meresponnya dengan mengulurkan tangannya dan mereka berdua berjabat tangan
"saya Ana..." jawab Ana. "dan ini suami saya, Firman. mereka berdua melepaskan tangannya
Firman menganggukkan kepala dan tersenyum.
"Terimakasih sudah menemani anak-anak saya bermain" kata Mona maaf sudah menyusahkan kalian."
"ah, tidak..." kata Ana tersenyum. "kami justru senang bermain dengan mereka" pungkasnya. "mereka sangat pintar dan menggemaskan."
"sekali lagi terimakasih..." kata Mona maaf sekarang kami harus pulang dulu" pungkasnya. "sudah siang, mereka harus istirahat."
"baiklah...!" jawab Ana. "silahkan...!"
"ayo pulang" ajak mona
mereka pun meninggalkan Ana dan Firman.
"dada kakak...!" kata Nathan dan Nicholas serempak melambaikan tangannya
"dada...! "balas Ana melambaikan tangannya juga.
__ADS_1
"mereka sangat lucu ya mas." kata Ana
"iya..." jawab Firman. "bagaimana kalau kita buat sediri yang lebih lucu dari mereka?" Firman mengatakannya dengan tersenyum
"apa?" mata Ana spontan membelalak. "apa sih mas...!" Ana tersipu malu. "kamu ni ada-ada aja."
"apa kamu tidak mau...?" tanya Firman
"apa sih mas...!" jawab Ana dengan wajah memerah. "ayo kita juga harus pulang" katanya mengalihkan pembicaraan. "aku juga harus menyiapkan makan siang di rumah kan...!" Ana memegang kursi roda suaminya lalu mendorongnya pulang
di perjalanan pulang.
"kita ke sana dulu ya mas" kata Ana. "aku mau beli koran."
"kamu mau beli koran" kata Firman. "buat apa?"
"aku mau cari lowongan pekerjaan" jawab Ana. "aku pengen bekerja" jelasnya. "aku gak mau nasib kita seperti ini terus mas"
"biar aku saja yang mencari kerja Ana" kata Firman sembari memegang tangan Ana
"kamu tidak mengizinkan aku bekerja mas?" tanya Ana.
"bukan...!" jawab Firman. "bukan begitu...!" mencoba meyakinkan. "bukan aku tidak mengizinkan kamu bekerja...!" kata Firman. "tapi yang seharusnya bekerja itu aku bukan kamu" jelasnya. "kamu sudah cukup capek dengan kesibukan di rumah, aku tidak mau kamu tambah kecapekan."
"tidak apa mas...!" kata Ana. "kamu cukup dukung aku untuk bekerja."
"terimakasih ya mas...!" kata Ana tersenyum. "aku kira kamu bakal kurung aku di rumah seperti yang Rudi lakukan dulu padaku."
"tidak lah...!" kata Firman. "aku tidak mungkin setega itu pada istriku sendiri."
mereka berdua berhenti tepat di depan lapak penjual koran. Ana membeli beberapa koran. Setelah membeli koran mereka langsung pulang. Sesampainya di rumah Ana langsung ke dapur menyiapkan makanan untuk makan siang firman pun membantunya supaya cepat selesai. setelah itu mereka pun langsung makan siang dan kembali ke kamar untuk beristirahat.
hari menjelang malam, matahari hampir tenggelam di sebelah barat. setelah memasak dan membereskan dapur Ana segera mandi.
"hari ini sangat melelahkan" gumam Ana sembari membuka pakaiannya. "tapi menyenangkan" gumamnya lagi. "huh...!" Ana menghela nafas saat masuk kedalam bathtub yang berisi air. "nyaman sekali saat berendam didalam air" gumam Ana "sabunnya juga wangi" gumamnya lagi. "shamponya, hemmm... !" Ana menghirup bau shampo yang di kenakan pada rambutnya. "wangi sekali"
sementara Firman menunggu Ana di dalam kamar sambil membaca koran.
"kenapa Ana lama sekali mandinya!" gumam Firman sembari menoleh pada pintu kamar mandi. "sebenarnya apa yang sedang dia lakukan!" gumamnya lagi. "tok tok tok... An... tok tok tok." Firman mengetuk pintu kamar mandi.
tak lama kemudian Ana membuka pintunya dan keluar dari kamar mandi menggunakan handuk.
"Ada apa mas?" jawab Ana
"kenapa kamu lama sekali mandinya?" tanya Firman. "aku sudah sangat lapar" kata Firman. "cepatlah pakai pakaian mu" pungkasnya. "aku akan menunggumu di meja dapur"
__ADS_1
dengan cepat Ana memakai pakaiannya, kemudian menyusul Firman yang sudah menunggu di dapur untuk makan.
mereka pun menikmati hidangan yang sudah disiapkan
"bagaimana enak tidak?" tanya Ana
"tentu saja enak" jawab Firman. "jika istriku yang masak pasti enak."
"malam ini aku mau mencari lowongan kerja di koran yang telah ku beli tadi." kata Ana
"aku juga akan mencari lowongan kerja dari koran-koran itu" jawab Firman. "kita akan cari kerja Sama-sama" Firman tersenyum.
"baiklah" kata Ana. "kalau begitu kita harus semangat!" serunya sembari menunjukan kepalan tangannya "hahahaha" Ana tertawa.
"kalau begitu, makanlah yang banyak!" kata Firman sembari mengambil nasi dan beberapa potong daging juga sayur kemudian di letakkan ke piring Ana. "supaya bertenaga dan makin bersemangat.
"ini terlalu banyak" kata Ana. "perutku tidak akan muat menampung makanan sebanyak ini...!"
"sudah, jangan banyak protes" kata Firman. "akhir-akhir ini badanmu terlihat kurus, seperti akan terbang saat tertiup angin" Firman trrsenyum mengejek. "cepat makan".
tak lama kemudian merekapun selesai makan, Ana kekenyangan hingga susah berdiri dia bersandar di kursi untuk melonggarkan perutnya yang buncit.
"baiklah, biar aku yang mencuci piring dan membereskan mejanya" Kata Firman
"a... iya..." jawab Ana mengambil kesempatan. aku tidak bisa membereskannya karna kekenyangan" kata Ana sembari melirik suaminya. "ini semua salahmu aku jadi susah bergerak!"
Firman tersenyum melihat Ana lalu membereskan semuanya. setelah itu mereka kembali ke kamar. Ana segera mengambil koran-koran yang sudah di belinya tadi. Firman dan Ana sibuk membuka lembaran koran satu persatu mencari dengan teliti lowongan pekerjaan mana yang akan mereka lamar dan melingkari setiap lowongan kerja yang akan mereka datangi, mereka juga sudah mempersiapkan surat lamaran kerjanya.
"apa sudah selesai?" tanya Firman
"sepertinya sudah cukup" jawab Ana
"ini sudah larut malam" kata Firman. "sebaiknya kita istirahat, besok harus bangun bagi"
"iya" jawab Ana.
jam 4.30 Ana dan Firman sudah bangun. Ana bangun pagi karna harus mengerjakan pekerjaan rumah dan juga memasak, Firman tidak tega jika istrinya mengerjakan pekerjaan rumah sendiri jadi dia bangun pagi untuk membantu pekerjaan Ana yang kemungkinan bisa dia bantu.
jam 6.30 Ana sudah menyajikan makanan dimeja makan dan sudah selesai dengan pekerjaannya. Ana pun langsung bergegas mandi dengan cepat dan ganti pakaian untuk siap mencari pekerjaan begitu juga dengan Firman tak kalah semangatnya dengan Ana dia juga sudah siap dengan pakaian yang rapi. sebelum berangkat mencari pekerjaan mereka ke dapur untuk sarapan.
"pagi...!" sapa Sofi datang menghampiri mereka saat menikmati sarapan. "hei dua orang yang tak berguna!, kenapa hari ini kalian berpakaian rapi sekali?" tanya Sofi. "kalian mau kemana?" Sofi merasa aneh sekaligus penasaran
"pagi juga ma!" jawab Firman. "hari ini kami mau pergi cari kerja"
"hahahaha..." Sofi mentertawakan. "kamu ini mimpi ya...?" ejeknya. "perusahaan mana yang mau menerima orang cacat seperti kamu".
__ADS_1
"aku yakin pasti ada perusahaan yang mau terima aku" kata Firman.