Bertukar Suami

Bertukar Suami
Belum Berubah


__ADS_3

Deggg!


Hati Kayra berdenyut nyeri saat mendengar pernyataan ibunya Damar. Ternyata begitu menyedihkan sekali nasib saudarinya itu. Cobaannya tidak datang dari dalam keluarganya. Melainkan dari orang lain yang terus menggunjingnya.


"Semoga saja rencana kita ini benar-benar membuahkan hasil. Aamiin," gumam Kayra dalam hati sambil terus melangkah mengikuti Damar.


(kembali ke percakapan kedua orangtuanya Damar)


"Astaga, kenapa bisa mereka berkata bahwa Kayla itu mandul? Dari mana mereka tahu hal itu?" tanya ayahnya Damar mulai naik darah. Dia tak terima menantu semata wayangnya itu dikatakan mandul.


"Ibu pun tak tahu, Yah! Bahkan, ada di antara mereka yang berkata tubuh Kayla itu kekurusan makanya sulit hamil," terang ibunya Damar terisak-isak.


"Huh, ada-ada saja temanmu itu? Memang bentuk tubuh bisa menjadi tolak ukurnya? Kalau bicara suka asal teman-temanmu itu." Ayahnya Damar menggeleng-gelengkan kepala.


"Kalau begitu mulai minggu ini dan seterusnya lebih baik Ibu tak usah lagi ikut arisan atau perkumpulan apalah itu! Ayah tak ingin keluarga kita jadi kacau balau karena ucapan-ucapan mereka yang jelas ngawur itu," tegas ayahnya Damar kecewa.


"Baik, Yah!" Ibunya Damar memeluk Ayah sambil terus terisak-isak.


Kini mobil yang dikendarai sopirnya Damar sudah melesat cukup jauh dari lokasi kompleks perumahan mereka. Kayra sama sekali tidak berbicara saat di dalam mobil. Sementara, Damar sibuk dengan ponselnya.


Kayra terus menikmati pemandangan luar untuk menghilangkan rasa suntuk selama perjalanan belum sampai. Mata Kayra langsung melebar sempurna saat melihat seorang pria yang begitu mirip dengan suaminya David.


Terlihat David sedang sibuk memperbaiki mobil mogok di pinggir jalan. Kayra terus mengamati aksi suaminya itu. Namun, hatinya langsung terkikis saat melihat perlakuan mesra seorang wanita cantik mengusap lembut dahi suaminya menggunakan tisu. Tanpa disadari setitik air langsung lolos dari matanya.


"Ternyata, kamu belum berubah total, Mas," batin Kayra sesak. Dia segera menghapus jejak air matanya agar Damar tidak mengetahuinya.


Damar yang baru saja selesai berkomunikasi dengan sekertarisnya segera menengok ke arah Kayra. Sejak tadi istrinya itu hanya diam saja. Jadi, dia ingin memberi hiburan pada istrinya agar tak bosan.


"Apa sih yang dipandangi kok serius banget dari tadi?" tanya Damar tersenyum.


"Nggak ada cuma lihat pemandangan saja. Habis Mas dari tadi sibuk mulu sama tuh benda pipih," balas Kayra tersenyum.


"Hehe. Itu si Rafi memberitahu bahwa jadwal meeting sedikit dimajukan. Jadi, Mas harus sudah sampai di lokasi sebelum waktu yang dijanjikan kemarin," jelas Damar terkekeh.


"Oh. Berarti, nanti Mas tidak ke kantor dulu dong?" tanya Kayra penasaran.


"Tidak. Mas, langsung ke Cafe. Oh ya, Mas baru ingat sesuatu ... coba deh lihat ini!" Damar menunjukkan gambar yang tertera di layar ponselnya.


Kayra segera melihatnya. Jujur dia begitu kagum melihat gambar tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana menurutmu? Pakaian ini cocokkan untuk kita berdua?" tanya Damar tersenyum.


Kayra terdiam. Dia bingung harus menjawab apa. Dia mana tahu kalau saudarinya itu menyukainya atau tidak.


"Hey, kok malah melamun sih?" Damar mengecup sekilas pipi Kayra.


"Ayo katakan pada Mas ... pakaian ini cocok tidak untuk kita?" tanya Damar meminta persetujuan.


"Memangnya, mau buat apa Mas membeli pakaian itu?" tanya Kayra penasaran.


"Ups, Mas lupa mengabari kamu soal undangan klien tempo hari." Damar menepuk jidatnya pelan.


Kayra tersenyum geli melihat aksi Damar.


"Memang acara apa, Mas?" tanya Kayra masih tersenyum.


"Itu acara ulang tahun pernikahan. Jadi, bagaimana menurutmu soal pakaiannya?" tanya Damar tersenyum.


"Pakaiannya bagus banget kok. Pasti cocok kalau Mas yang pakai," jelas Kayra tersenyum.


"Lalu, bagaimana dengan istriku ini?" Damar merangkul gemas Kayra.


"Nggak tahu," jawab Kayra tersenyum polos. Dia sengaja menggoda Damar.


"Hem, sepertinya, aku harus memberi sedikit pelajaran untuk istriku ini." Damar melepaskan rangkulannya. Dia langsung menggelitiki Kayra.


"Eh, jangan begini dong! Geli loh, Mas!" ucap Kayra terpingkal-pingkal.


"Suruh siapa kamu ngeledeki, Mas! Hayo!" Damar semakin menggelitiki Kayra.


"Iya maaf! Please, berhenti!" pinta Kayra terpingkal-pingkal.


"Hem, sebentar lagi! Durasinya masih kurang untuk membayar ledekkanmu!" Damar masih terus menggelitiki Kayra sambil tersenyum geli.


"Please! Kalau Mas terus menggelitiki aku takutnya nanti aku ngompol," ancam Kayra terpingkal-pingkal.


"Biarkan saja! Toh, ngompolnya di mobil sendiri," jawab Damar santai.


"Hisk, memang benar mobil ini milik Mas! Tapikan ada Pak Sopir di sini! Memangnya, Mas tega mempermalukan aku lagi seperti tempo hari," jelas Kayra terpingkal-pingkal. Bahkan, matanya sampai berair.

__ADS_1


"Ups, tentu tidak!" Damar langsung menghentikan aksinya. Dia meraih tubuh istrinya itu ke pelukan.


"Maafin Mas karena bercandanya sudah kelewatan?" Damar mengusap lembut punggung Kayra.


"Hehe, iya nggak apa-apa." Kayra tersenyum hangat. Pelukan Damar membuat hatinya menghangat. Bahkan, terasa nyaman. Kali ini Damar memeluknya bukan karena hasrat. Melainkan, karena rasa bersalah.


Kini mobil mereka sudah sampai di pekarangan rumah sakit. Damar segera melepaskan pelukannya. Jemarinya mengusap lembut jejak-jejak air mata Kayra.


"Nanti, pulangnya Mas jemput lagi. Jadi, kamu tak perlu naik taksi, oke!" Damar tersenyum manis.


"Iya, Mas." Kayra tersenyum sambil menganggukkan kepala.


Damar langsung mengecup kening Kayra cukup lama. Kayra diam dan memejamkan matanya. Dia cukup menikmatinya, tidak seperti biasanya.


"Ya Tuhan, jangan biarkan hati ini memiliki rasa lebih terhadap kakak iparku sendiri," batin Kayra was-was.


Damar segera melepaskan bibirnya yang menempel di kening Kayra.


"I love you forever," ucap Damar tersenyum hangat.


Kayra mengangguk saja sambil tersenyum. Tidak mungkin dia membalas ucapan sakral Damar. Dia takut hal itu akan membuatnya menaruh perasaan lebih pada kakak iparnya.


"Kok, nggak dijawab sih? Biasanya kamu selalu menjawabnya?" tanya Damar terkekeh gemas.


"Hehe, cinta itu tak perlu diungkapkan secara terus-menerus. Biarkan saja hati yang berbicara," ucap Kayra beralasan. Dia tersenyum geli. Lalu, segera membuka pintu mobil dan langsung turun.


Sementara Damar langsung tercengang meresapi ucapan Kayra.


"Bye!" ucap Kayra tersenyum manis.


"Bye!" balas Damar tersenyum.


Kayra segera menutup pintunya. Mobil pun kembali melaju meninggalkan rumah sakit. Damar terus menatap ke arah istrinya yang sedang melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Dia begitu tersentuh dengan ucapan istrinya.


Kini Kayra sudah berada di dalam ruangan anaknya. Dia langsung menciumi wajah putrinya yang dilapisi perban. Sehari saja dia berpisah dengan putrinya. Perasaan gelisah cukup menyiksa batinnya.


"Cepat sembuh ya, Sayang! Bunda sangat merindukan canda tawamu," ucap Kayra tersenyum sedih. Buliran air kembali merembes dari matanya. Dia segera melepaskan ciumannya.


Melihat sang adik sudah selesai menumpahkan rasa rindu pada anaknya, Kayla segera membuka pembicaraan. Dia butuh penjelasan soal kisah perjalanan rumah tangga sang adik yang sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2