
"Baik." Kayra kembali patuh.
Kayla segera membantu sang adik mengganti pakaian bagian bawah pelan-pelan.
"Nah, sekarang sudah selesai. Tolong kamu pasangkan infus itu dulu ke tanganku sebelum kau bawa tubuh adikku," perintah Kayla.
"Siap, Bu." Kayla segera mendekati sang perawat.
Perawat itu segera memasang selang infus ke pergelangan tangan Kayla. Setelah selesai, dia segera membopong tubuh Kayra yang dipenuhi keringat. Wajahnya terlihat semakin pucat karena asupan nutrisi dari infus dihentikan.
Sementara, Kayla segera naik ke atas ranjang menggantikan posisi Kayra. Tak lupa, dia memoles wajahnya dengan bedak juga agar terlihat pucat seperti adiknya itu.
"Kalian boleh pergi sekarang sebelum suamiku datang," perintah Kayla enteng.
"Siap, Bu." Perawat itu segera membawa tubuh Kayra keluar dari ruangan. Dia berencana memindahkan Kayra ke ruangan lain sejenak.
Begitu sampai di depan pintu, perawat itu terkejut sekali saat melihat kedatangan Damar. Mereka berpas-pasan tepat di depan pintu. Wajahnya langsung pucat karena begitu takut aksinya ketahuan.
Kayla pun ikut terkejut saat melihat kedatangan sang suami. Dia segera melempar pakaian rawat milik Kayra tadi ke bawah ranjang agar Damar tidak melihatnya.
Sementara Kayra dia sudah sejak tadi menyembunyikan wajahnya di dada si perawat karena tak tahan merasakan nyeri di bagian bekas operasinya. Hal itu membuat Damar tidak bisa melihat jelas wajah Kayra yang sangat pucat dan berkeringat.
"Kenapa dengan dia?" tanya Damar jutek.
Kayla di dalam terus wanti-wanti dan menguping pembicaraan mereka. Dia juga ketar-ketir karena takut aksi mereka diketahui oleh Damar. Dalam hatinya terus memanjatkan doa agar Tuhan berpihak pada mereka.
"Em, ibu ini tadi ...." Si perawat berpikir sejenak mencari alasan yang tepat agar Damar tidak curiga.
" ... ibu ini tadi jatuh di kamar mandi, Pak." Damar mengkerutkan keningnya melihat perawat yang sangat gugup. Dia merasa aneh sekali dengan sikap si perawat.
"Jadi, kakinya terkilir parah dan tidak bisa berjalan. Ini aku mau obati dia," sambung si perawatnya masih gugup.
"Oh, ya sudah cepat kerjakan sebelum terlambat," beritahu Damar jutek. Dia sama sekali tidak merasa iba atau tersentuh melihat adik iparnya kesakitan. Hal itu dikarenakan dia tidak suka dengan sikap ceroboh adik ipar yang terus merugikan dia.
__ADS_1
"Baik, Pak!" si perawat segera melangkah dan Damar segera minggir agar tidak menghalangi langkah perawat.
"Dasar wanita ceroboh! Entah kapan kamu tidak membuat masalah," gumam Damar kesal. Dia menatap sejenak punggung si perawat lalu bergegas masuk ke dalam ruangan sang istri.
Kayla langsung tersenyum manis menyambut kedatangan sang suami yang sangat dirindukannya.
"Mas," sapa Kayla senang karena bisa kembali ke posisi aslinya.
Melihat sorot mata kerinduan yang dalam pada sang istri membuat Damar merasa aneh. Namun, dia tidak memedulikan hal itu. Yang ada dia malah ingin menjahili istrinya.
"Iya kenapa, Sayang? Sepertinya, kamu baru aku tinggal sejenak sudah rindu berat?" tanya Damar segera mendekati Kayla sambil tersenyum genit.
"Benar sekali. Aku memang sangat merindukan kamu. Mana mungkin aku bisa tahan jika berpisah sama kamu lama-lama," jelas Kayla tersenyum. Dia tidak menutupi isi hatinya.
Damar tertegun mendengar gombalan sang istri. Baru kali ini dia mendengar sang istri menggombal lagi sejak dia hamil. Selama hamil sang istri tidak pernah menggombalinya. Yang ada dia malah malu-malu kucing dengannya.
"Kamu ini pintar sekali menggombal. Padahal selama hamil gombalanmu tidak pernah aku dengar. Kamu itu malah malu-malu kucing," goda Damar mencubit lembut pipi sang istri gemas.
"Hayo kenapa malah diam?" tanya Damar mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah sang istri.
"Entahlah selama hamil aku sama sekali tak hobi bergurau. Aku lebih suka berdiam diri. Pokoknya rasanya tak nyaman gitu. Mungkin, baby di dalam perutku juga seperti itu karakternya ketika sudah besar kelak. Dia pendiam," bohong Kayla tersenyum. Posisi seperti ini membuat dia tak sabar menyambar bibir sang suami.
"Oh begitu, pantas saja kamu banyak berubah saat mengandung." Damar percaya saja sama penjelasan Kayla tersebut. Dia sama sekali tidak merasa janggal atau curiga. Dia segera memajukan bibirnya mengecup lembut pucuk kepala Kayla.
Padahal Kayla sempat berpikir kalau Damar akan menyambar bibirnya seperti saat tadi dengan Kayra. Dia langsung memejamkan matanya karena begitu senang dan rindu dengan momentum tersebut. Namun, ternyata dugaannya meleset jauh. Tentu saja dia merasa sangat kecewa sekali. Bibirnya langsung mengkerucut.
Damar kembali tertegun saat mencium aroma lain pada rambut sang istri. Biasanya selama hamilkan sang istri suka memakai shampo dengan aroma calm. Namun, kali ini kenapa tiba-tiba rambutnya sangat wangi sekali.
"Hey, kenapa rambutmu berubah aroma? Yang sekarang sangat harum sekali. Berbeda dengan yang tadi dan biasanya?" tanya Damar penasaran.
Glek!
Kayla langsung meneguk ludahnya sendiri mendapatkan pertanyaan yang lebih rumit lagi dari sang suami.
__ADS_1
"Em ...." Kayla kembali berpikir.
Damar menaikkan satu alisnya karena sikap sang istri sangat aneh sekali.
"Em, tadi aku meminta bantuan pada Kayra untuk mengolesi vitamin rambut yang dia miliki. Entah kenapa rambutku terasa lepek karena sudah beberapa hari tak keramas," bohong Kayla meringis.
"Oh begitu. Kamu yang sabar ya? Kata dokter tadi, kamu belum bisa pulang karena kondisimu belum benar-benar pulih karena habis mengalami koma. Dokter takut kondisimu akan drop kembali." Damar mengelus pucuk kepala Kayla sedikit gemas.
"Iya, nggak apa-apa, Mas." Kayla tersenyum manis.
"Ya sudah. Ayo cepat istirahat kembali agar kondisimu lekas pulih. Oh ya, Mas mau minta izin keluar sebentar. Itu tadi tiba-tiba Anton menghubungi Mas. Katanya ada orang yang ingin mengajak kerja sama," ucap Damar kembali mengelus pucuk kepala Kayla sambil tersenyum.
"Iya, hati-hati, Mas." Kayla tersenyum. Lalu, segera membaringkan tubuhnya.
"Ups, hati-hati! Ingat luka bekas operasimu belum pulih!" Damar langsung membantu sang istri berbaring.
"Eh, iya Mas. Aku hampir lupa," jawab Kayla cengengesan.
"Hem, kau ini." Damar tersenyum gemas. Lalu, hendak pergi meninggalkan Kayla. Dia sama sekali tidak berhasrat mengecup Kayla.
"Eh, Mas, kok main pergi saja, sih?" tegur Kayla cemberut. Dia kesal karena sang suami tidak memberi kecupan sebelum pergi meninggalkannya.
"Hem, Mas harus cepat-cepat pergi karena orangnya sudah menunggu di Cafe dekat sini," jelas Damar tersenyum.
"Ini." Kayla menunjuk bibirnya yang manyun.
"Astaga, kau ini manja sekali." Damar segera mengecup bibir Kayla sekilas.
"Sudah ya. Mas, harus segera pergi," ucap Damar tersenyum. Dia segera pergi meninggalkan Kayla.
Kayla langsung kecewa mengetahui suaminya sudah berubah.
"Huh, kenapa Mas Damar berbeda sekarang? Dia seperti tak berselera sama aku?" gumam Kayla lesu. Dia mengkerucutkan bibirnya.
__ADS_1