Bertukar Suami

Bertukar Suami
Tangisan Kaysa


__ADS_3

"Tadi, Non Kayla mengeyel ingin membuat roti sendiri. Katanya sih, dia ingin sekali. Jadi, aku tak bisa menolaknya. Padahal tadi aku ikut membantunya juga," jelas Mbok Nem.


"Oh. Selain itu, apa Ibu melihat dia melakukan kegiatan yang lain?" tanya Bu Dokter lagi memastikan. Sepertinya, kalau hanya alasan awal tidak terlalu berat.


"Tidak ada sih. Cuma pas aku baru kembali dari bersih-bersih ... aku sudah melihat ada Non Kayla di dapur. Dia terlihat kebingungan begitu," jelas Mbok Nem apa adanya.


"Oh, bisa jadi sebelum Ibu kembali ke dapur ... dia sudah terlebih dahulu sibuk mempersiapkan apa yang dibutuhkannya untuk membuat roti. Namun, dia tak bisa menemukannya. Maka dari itu dia kebingungan sekali. Dia jadi stres memikirkannya," jelas Bu Dokter menerka-nerka yang sebenarnya.


"Iya, kemungkinan besar seperti itu yang terjadi." Mbok Nem mengangguk.


"Baiklah, setelah itu kesehariannya Bu Kayla melakukan apa?" tanya Bu Dokter memperjelas lagi.


"Tidak ada. Paling Non Kayla hanya sekadar baringan saja sambil bermain ponsel. Itu yang aku ketahui sih," jawab Mbok Nem.


"Oh. Kalau begitu, kemungkinan besar dia melakukan kegiatan tadi bukan hanya sekadar untuk mengabulkan keinginannya. Akan tetapi, dia juga ingin mengisi waktu luangnya untuk menghilangkan kebosanan. Jadi, bisa disimpulkan bahwa pasien itu butuh refreshing." Mereka fokus menyimak arahan dari dokter.


"Buat Pak Damar, kalau sedang ada waktu luang." Bu Dokter menatap ke arah Pak Damar.


"Tentu bisa dong mengajak istrinya refreshing, seperti pergi ke tempat wisata terdekat, makan-makan di luar, atau shopping ke Mol. Hal-hal seperti itu sudah cukup memberikan hiburan untuknya. Dengan syarat jangan sampai dia kelelahan," jelas Bu Dokter tersenyum.


Mereka semuanya mengangguk mengerti. Akhirnya mereka menyadari bahwa keposesipan mereka bisa membuat Kayra bosan.


"Ya sudah. Saya mohon undur diri dulu. Kalau kalian ingin menengok pasien, saya persilahkan!" Mereka mengangguk. Bu Dokter segera berlalu dari hadapan mereka.


"Ayo kita masuk ke dalam menengok Kayla," ajak ibunya Damar tersenyum.


"Iya, Bu!" Mereka mengangguk.


Kini mereka sudah berada di dalam ruangan Kayra. Terlihat wajah Kayra begitu pucat. Pasti selain karena dampak rasa sakit tadi. Dia juga merasa takut, malu, dan cemas. Terutama pada Mbok Nem yang sudah mati-matian menasihatinya tadi.


Namun, ambisinya sangat besar sehingga dia mengabaikan semuanya. Padahal juga dia tadi sempat merasakan tanda-tanda ketidaknyamanan di tubuhnya. Seperti, pinggangnya yang nyeri.


"Maafin aku ya semuanya! Gara-gara aku kalian semua jadi kesulitan," ucap Kayra sedih dan menyesal.


Damar mempercepat langkahnya mendekati sang istri. Dia ingin segara memberi kenyamana pada istrinya agar tidak stres. Begitu sudah di dekatnya, Damar langsung mengusap pucuk kepala istrinya.


"Sudah, tidak usah diingat lagi. Ini semua terjadi bukan real kamu yang salah kok. Ini semua terjadi karena kami terlalu posesif dan mengekangmu. Bahkan, kami terlalu sibuk dan ketakutan sehingga tak pernah berpikir untuk mengajakmu refershing. Padahal jelas-jelas semua orang pasti akan bosan jika kerjaannya cuma baringan mulu," jelas Damar tersenyum.

__ADS_1


Kayra langsung tersenyum kikuk.


"Mas, janji sepulang dari sini, kita sesekali refreshing deh biar kamu nggak penat lagi," sambung Damar tersenyum.


"Mas, serius?" tanya Kayra bersemangat.


"Iya, istriku!" Damar tersenyum gemas.


"Oh ya, bagaimana hasil rotinya tadi? Jadi atau bantat?" goda Damar tersenyum.


"Jadi dong. Siapa dulu yang buat?" tanya Kayra terkekeh.


"Non Kayla," sahut Mbok Nem terkekeh.


Semua yang ada di sana langsung tertawa renyah. Tidak ada rasa khawatir lagi.


"Oh ya, Mbok mau mohon izin pamit pulang duluan? Tadi, rotinya kan masih di meja belum disimpan. Takutnya nanti dimakan empus kalau dibiarkan tetap di sana. Lagi pula kan belum dikasih toping. Pasti sekarang rotinya sudah dingin," pamit Mbok Nem meminta persetujuan.


"Iya, Mbok. Oh ya, jangan lupa nanti setelah istriku diperbolehkan pulang ke rumah. Tolong rotinya disajikan di ruang keluarga. Biar kami bisa mencicipinya," balas Damar tersenyum.


"Oh ya, buat Pak Satpam dan Mang Ujang boleh ikut pulang juga! Kasihan rumah kita nggak ada yang jaga," perintah ibunya Damar tersenyum.


"Iya, Bu!" Mereka mengangguk setuju.


"Ya sudah. Kami bertiga mohon undur diri sekarang. Buat Non Kayla cepat sehat kembali agar bisa segera mencicipi rotinya tadi," ucap Mbok Nem tersenyum.


"Iya, Mbok!" Kayra tersenyum.


Sorenya, Kayra sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Mereka semua berkumpul di ruang keluarga termasuk Pak Satpam dan Mang Ujang. Hari ini mereka akan bersama-sama mencicipi roti hasil buatan Kayra dan Mbok Nem tadi.


Mbok Nem segera memotongnya dan membagikan pada mereka semua. Kayra menyuapi roti hasil buatannya ke Damar. Tentulah Damar menerimanya dengan senang hati.


"Bagaimana rasanya, Mas?" tanya Kayra penasaran.


"Sepertinya, ada yang kurang sih," goda Damar berpura-pura menebak kekurangannya.


Mereka yang ada di sana hanya tersenyum geli saja menyimak aksi dua sejoli itu. Tak lupa juga terus memasukkan potongan roti ke mulut mereka.

__ADS_1


"Kurang apa, Mas?" tanya Kayra penasaran. Dia ingin tahu letak kekurangannya.


"Kurang cinta dan kasih sayang," jelas Damar terkekeh.


"Ih, apaan sih! Belum-belum sudah gombal saja," sewot Kayra tersenyum kikuk.


"Hey, wajar saja aku berkata seperti itu. Kamu pasti tahu betapa tersiksanya aku sebulan ini," bisik Damar genit ke telinga Kayra.


Jantung Kayra langsung ser-seran. Suasana mistis mulai menghinggapi jiwanya. Dia terdiam seribu bahasa.


"Nanti, kalau kandunganmu sudah cukup kuat. Bisa aku pastikan kita tidak akan tidur semalaman," imbuh Damar tersenyum genit.


Mereka yang berada di sana ikut mesam-mesem menyimak aksi dua sejoli itu. Walaupun mereka tidak tahu apa yang sedang dibahas dua sejoli itu.


"Ih, apaan sih!" Kayra langsung menepuk dada Damar gemas. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus.


"Hey, jangan dipukul gemas begitu dong! Mas, jadi semakin gak tahan ini," godaan Damar semakin menjadi-jadi.


"Mas!" teriak Kayra mulai kesal.


Hal itu membuat yang lain langsung tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Hehe." Damar cengengesan.


****


Di tempat lain, Kayla terlihat begitu gelisah sekali. Dia tidak bisa tidur karena David belum juga kunjung pulang. Padahal sekarang sudah pukul sebelas malam. Dia takut kalau sampai ketiduran nanti David memanfaatkan kondisi tersebut untuk meminta haknya sungguhan.


"Ini tumben sekali si David kok belum pulang? Mana mungkin dia lembur sampai selarut ini? Kira-kira dia ngapain ya di luar sana?" gumam Kayla gelisah.


Dia terus mondar-mandir di depan pintu ruang tamu.


"Aku harus kuat menahan mata ini agar tidak terlelap dulu sebelum dia pulang," sambung Kayla masih terus mondar-mandir.


"Huwa!" Tiba-tiba terdengar tangis Kaysa begitu nyaring. Sepertinya, Kaysa bermimpi buruk.


"Eh, itu Kaysa kenapa lagi?" Kayla segera berlari ke kamar untuk menengoknya.

__ADS_1


__ADS_2