Bertukar Suami

Bertukar Suami
Tidak Malu


__ADS_3

"Astaga, bukankah itu mobil milik Andre? Mau apa coba dia datang kemari?" gumam David bertanya-tanya.


Tak lama keluar lah Andre dibarengi seorang lelaki paruh baya dan dua orang laki-laki yang tidak dikenalnya. Mereka melangkah cepat menghampiri David. Tatapan mereka begitu tajam. Membuat David semakin tak karuan rasanya.


"Dasar pria tak tahu diri! Sudah memiliki anak dan istri masih saja banyak tingkah!" ucap Andre geram. Dia tak terima jika orang-orang yang dia kenal disakiti David dengan mudahnya.


Buggg!


Satu bogem mentah mendarat di pipi David. Dia meringis saja, tidak melawan sama sekali. Dia mengakui kesalahannya itu. Tidak puas dengan satu pukulan. Andre kembali melayangkan satu pukulan lagi ke wajah David. Namun, dengan sigap pria paruh baya itu melerainya.


"Stop, Dre! Sebaiknya, kita bicarakan baik-baik saja masalah ini padanya! Percuma saja kamu memukulinya! Hal itu tidak akan menghapus aib yang ditanamkannya ke Nayla," tegur Pramana. Dia merupakan ayah dari Nayla. Dia tahu benar kalau kejadian ini bukan murni kesalahan David.


"Baiklah, Om!" Andre langsung mengurungkan keinginannya tersebut. Namun, tatapan tajam masih dia sorotkan ke David.


"Ayo sekarang kamu ikut kami! Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu! Sebelum aib anakku menyebar luas ke mana-mana" ajak Pramana selembut mungkin.


"Maaf, untuk saat ini aku belum bisa! Anak dan istriku sedang kabur dari rumah! Aku harus menemukannya terlebih dahulu! Aku takut terjadi hal buruk terhadap mereka! Selain itu, aku harus meminta persetujuan darinya. Bagaimanapun dia itu harus tahu pernikahanku dengan Nayla," tolak David.


"Tidak bisa! Pokoknya kamu harus ikut kami dulu! Soal istrimu itu biar nanti dua anak buahku ini yang mencarinya! Aku tak mungkin mengulur waktu lebih lama lagi! Semakin cepat kamu menikahi anakku ... semakin cepat pula aib itu tertutupi," tegas Pramana.


"Tapi __" ucapan David langsung dipotong oleh Andre.


"Astaga, masih punya muka kamu mengutarakan hal itu pada istrimu! Kamu memang lelaki tak punya malu," ejek Andre tersenyum merendahkan David.


"Asal kamu tahu aku melakukan hal itu bukan murni karena keinginanku! Aku terjebak oleh kondisi Nayla! Dia mabuk berat dan terpengaruh obat perangsang malam itu! Padahal aku datang hanya sekadar untuk mengantarkan dia pulang ke rumah. Namun, sesampainya di rumah Nayla mengunciku di dalam kamarnya. Malam itu dia benar-benar menggila," jelas David menyesal.


"Halah itu pasti hanya alasanmu saja! Mana mungkin Nayla sampai berbuat hal macam itu," tolak Andre tidak percaya.


"Aku bisa menunjukkan buktinya padamu! Ini pesan yang dikirim seseorang padaku malam itu soal kondisi Nayla!" David segera mencari pesan tersebut di ponselnya. Lalu, memberikannya pada Andre.

__ADS_1


Andre langsung terkejut membacanya.


"Apakah saat itu Om sama Tante tidak ada di rumah?" tanya Andre meyakinkan diri.


"Iya. Malam itu, Om sama Tante sedang pergi ke Bandung untuk menghadiri acara pernikahan anaknya bik Sumi. Jadi, di rumah hanya ada Nayla dan Pak Satpam," jelas Pramana malu.


"Oh Tuhan, kenapa bisa hal itu terjadi seperti terencana?" tanya Andre tak percaya.


"Entahlah, mungkin malam itu adalah teguran untuk Nayla. Sebenarnya, David sudah berjasa besar karena telah menyelamatkan Nayla malam itu. Andai saja malam itu tidak ada David, mungkin Nayla sudah menjadi bulan-bulanan pria hidung belang," jelas Pramana sangat malu.


Andre semakin menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. Ternyata dia sudah salah besar menuduh David yang tidak-tidak.


"Maafkan aku!" David mengangguk.


"Oh ya, soal istrimu itu aku janji akan membantumu mencarinya." Andre mengelus pundak David lembut. Dia menyesali tindakan gegabahnya itu.


"Iya. Terima kasih." David tersenyum getir.


"Kalau menurutku, dia tak mungkin ke rumah kembarannya! Soalnya, kembarannya itu sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Kandungannya lemah, jadi dia tidak bisa mendengar kabar buruk sedikit saja yang membuatnya setres," jelas David yakin.


"Baiklah, biar nanti aku coba cari info di daerah sini. Semoga saja ada salah satu tetanggamu yang melihat atau mengetahui kepergiannya," ucap Andre tersenyum.


"Iya, terima kasih. Semoga saja istriku mau memaafkan aku." David menatap Andre penuh harap.


"Sama-sama."


"Sebaiknya, kamu tetap di sini membantu Andre." Tunjuk Pramana pada salah satu anak buahnya.


"Siap, Pak!" Dia mengangguk patuh.

__ADS_1


"Ya sudah. Kami pulang sekarang! Semoga usahamu membuahkan hasil! Om, yakin orang baik macam kamu pasti akan selalu berhasil dalam menyelesaikan misinya." Pramana menyentuh bahu Andre sambil tersenyum.


"Terima kasih atas pujian berlebihanmu itu, Om!" Andre terkekeh geli.


"Oke!"


David beserta Pak Pramana dan satu anak buahnya segera pergi dari sana. Sementara, Andre segera nangkring di atas motor David. Dia sudah tidak sabar ingin melakukan pencariannya.


Di dalam mobil, David terus gelisah memikirkan keberadaan anak istrinya. Dia sama sekali tidak memikirkan soal anak yang ada di dalam rahim Nayla. Yang terpikir dalam otaknya hanya Kayra, Kayra dan Kayra.


"Oh Tuhan, kumohon lindungi lah anak dan istriku di manapun mereka berada. Segera lah pertemukan mereka dengan Andre. Semoga saja Kayra mau mengerti dan memaafkan aku," batin David sedih. Bahkan, butiran air mulai menetes dari matanya.


Kini mobil yang ditumpanginya sudah sampai di pekarangan rumah Pak Pramana. Mereka segera turun dari mobil. Kedatangan mereka disambut manis Nayla.


David sedikit terkejut saat melihat penampilan Nayla sudah dirias dan mengenakan kebaya berwarna putih.


"Ayo Mas David masuk ke dalam! Aku sudah menyiapkan pakaian untukmu! Malam ini kita akan langsung melaksanakan akad nikah. Di dalam sudah ada Pak Penghulu yang menunggu." Nayla menggandeng lengan David.


David persis seperti boneka. Dia diam saja mengikuti ajakan Nayla. Dia sama sekali tidak merasa bahagia walaupun cita-citanya dulu terwujud sekarang. Dia sedikit malu saat melihat ada segelintir orang tengah mengobrol di ruang tamu.


Kemungkinan mereka adalah para saksi dan penghulu yang akan menyaksikan ritual pernikahannya yang ke dua.


Sesampainya, di dalam suatu ruangan. David langsung disambut ramah seorang penata rias. Tanpa merasa malu, Nayla ikut masuk juga untuk menyimak calon suaminya itu berganti pakaian.


"Ayo cepat gantikan pakaian calon suamiku!" perintah Nayla semangat.


"Baik, Mbak. Em, sebaiknya, Mbak tunggu di luar saja biar prosesnya lebih cepat," saran penata riasnya tersenyum.


"Tidak mau! Aku mau di sini saja!" tolak Nayla santai. Dia sama sekali tidak merasa malu.

__ADS_1


"Em, baiklah!" Penata rias itu langsung merasa aneh dengan sikap pelanggannya ini. Baru kali ini dia bertemu dengan wanita model Nayla yang tidak merasa malu sama sekali melihat pasangan yang belum halal berganti pakaian.


__ADS_2