
"Sabar Kay! Melawan orang seperti dia harus pakai taktik jitu. Jangan andalkan otot karena itu hanya percuma saja. Apa lagi dia tipe muka tembok," lirih Kayla sambil mengelus dadanya yang panas agar mendingin.
Di luar Nayla masih saja kesetanan menggedor-gedor pintu. Dia sama sekali melupakan statusnya yg hanya istri muda.
"Astaga, istri muda tak tahu diri itu. Bisa-bisanya sedang hamil tapi tenaga kayak samson. Aku harus minta bantuan sama siapa untuk mengusirnya? Kalau menyuruh David yang ada nanti malah ada drama tidak mengasikkan. Em ...." Batin Kayla mencoba berpikir jernih.
Plakkk!
Lagi-lagi Kaysa memukul wajah Kayla karena gemas. Sejak tadi ibunya itu bersikap tak masuk akal baginya.
"Ah, sakit, Nak!" ucap Kayla lirih. Tangannya kembali mengusap wajahnya yang panas.
Kaysa malah langsung tertawa. Otomatis Kayla menutup mulut Kaysa agar tidak didengar Nayla. Aksi Kayla membuat Kaysa langsung mencebikkan bibirnya.
"Sut, jangan berisik sekarang ada hantu wewe gombel di luar," takuti Kayla agar anaknya tidak menangis.
Kaysa langsung menyembunyikan wajahnya ke dada Kayla karena takut.
Hal itu membuat Kayla tersenyum lega. Dia segera menggeser tubuhnya mendekati meja untuk mengambil ponselnya yang masih dicarger.
Dia mulai mencari nomor tetangga terdekat yang dia akrab untuk meminta bantuan. Setelah melancarkan rencana liciknya, Kayla langsung mengembangkan senyuman.
"Huh, sebentar lagi muka tembokmu itu akan terdapat noda-noda akibat ulahmu sendiri," batin Kayla tersenyum manggut-manggut.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan pelan dari arah pintu belakang. Bergegas Kayra kabur ke dapur untuk membuka pintunya. Setelah pintu terbuka, teman akrabnya itu langsung masuk ke dalam. Kayla segera menutup pintunya kembali.
"Eh, bagaimana dengan orang-orangnya sudah siapkah?" tanya Kayla lirih.
"Beres, semuanya sudah komplit! Bahkan, senjatanya juga komplit dan beragam," jelas temannya tersenyum geli.
"Good!" Kayla mengacungkan jempol.
"Ayo kita mulai sekarang," ajak temannya bersemangat.
Kayla mengangguk.
Temannya itu segera mendekati rak piring untuk mengambil baskom. Lalu, diisinya dengan air. Setelah itu, dia segera melangkah ke ruang tamu untuk membukakan pintu.
"Hoy, keluar kamu pelakor!" teriak Nayla terus menggedor pintunya geram. Dia tidak peduli lagi dengan rasa perih di tangannya.
__ADS_1
Ceklek!
Pintu dibuka temannya Kayla lebar. Tanpa banyak bicara dia segera menyiram Nayla dengan air.
Byurrr!
"Ah!" Tubuh Nayla basah kuyub.
"Kamu siapa, hah! Berani-beraninya menggedor pintu rumah orang seperti mau perang?" omel teman Kayla seseram mungkin.
"Ups, maaf! Bukannya ini rumah David?" tanya Nayla malu.
"Memang benar ini rumah David, tapi itu dulu! Sekarang sudah dia jual karena istrinya minggat gara-gara ada pelakor," jelas temannya Kayla dengan tatapan tajam.
Nayla semakin begidik ngeri. Nyalinya menciut karena sudah salah target.
"Hey, tadi aku sempat mendengar kamu menyebutku pelakor! Maksudmu apa, hah! Jangan bilang kalau kamu mengira aku ini Kayra?" sudutkan teman Kayla marah.
"Iya, maaf karena sudah salah! Aku pikir David tidak jadi menjual rumah ini! Makanya aku kesal dengan Kayra," jelas Nayla tak berani menatap wajah temannya Kayla tersebut.
"Hoo ... berarti kamu toh pelakor yang sudah membuat rumah tangga David dan Kayra berantakan. Baiklah! Aku sebagai sesama wanita tidak akan tinggal diam! Sekarang kamu harus menerima akibatnya," jelas temannya Kayla tersenyum licik.
Bukannya menjawab pertanyaan Nayla, temannya Kayla itu malah berteriak seolah memanggil-manggil para tetangga terdekat. Padahal yang dipanggil itu tetangga agak jauh yang sudah siap siaga menunggu di dekat gang.
Kebetulan tetangga David pada sibuk mengajar di sekolahan. Jadi, kalau pagi rumah mereka sepi tak berpenghuni.
"Tolong! Tolong!" teriaknya kuat-kuat.
"Eh, kamu mau apa?" tanya Nayla semakin gemetar.
"Tolong! Tolong! Ada pelakor!" teriaknya lagi.
Tanpa bertanya lagi Nayla segera undur diri hendak kabur. Namun, belum sempat keluar dari teras rumah. Dia dibuat terkejut karena sudah dihadang oleh ibu-ibu tawuran. Mereka memegang alat tempur masing-masing, dari panci, teplon, sepatula, dan gayung.
"Oh, ini toh wajah pelakornya?" Mereka tersenyum mengejek.
Nayla malu sekali. Dia tak berani menatap rombongan ibu-ibu itu.
"Huh, sayang sekali, ya? Cantiknya dimanfaatkan untuk merusak rumah tangga orang," ejek salah satu dari rombongan ibu-ibu.
"Iya. Oh ya, waktu itu aku pernah memergoki dia berboncengan dengan David. Asal kalian tahu pakaian yang dikenakannya itu tak lebih dari seorang ******," jelas salah satu di antara ibu-ibu.
__ADS_1
Kayla di dalam menahan tawa. Akhirnya, dia bisa membalas rasa sakit adiknya. Walaupun sebenarnya belum setimpal.
"Hey, tolong jaga mulut kalian! Memang aku kesannya merebut David. Akan tetapi, sebenarnya yang merebut itu bukan aku. Melainkan, Kayra." Tegas Nayla memberanikan diri.
"Halah, nggak usah dengarkan ucapan pelakor! Lebih baik, kita kasih pelajaran saja dia. Biar lidahnya itu bisa direm," ajak salah seorang dari rombongan ibu-ibu.
"Sip, ayo serang!" sorak mereka kompak.
"Eh!" Mata Nayla melebar sempurna.
Orang-orang langsung menyerang dia dengan alat yang mereka bawa.
"Auw! Auw!" teriak Nayla kesakitan. Dia tak bisa melawan sama sekali karena jelas kalah jumlah.
Temannya Kayla segera mengacungkan jempol. Kayla tersenyum puas. Sementara, Kaysa malah tertidur karena ketakutan dengan wewe gombel.
Karena takut terjadi apa-apa dengan kehamilan Nayla. Kayla segera memberi aba-aba kepada temannya agar segera menghentikan aksi mereka.
"Sudah! Sudah! Dia itu sedang hamil, kasihan sama bayinya!" teriak temannya Kayla tersenyum.
"Huh, dasar pelakor!" sorak mereka geram.
"Sudah sana pergi dari sini!" tegas mereka geram.
"Baik!" Nayla dengan keadaan kacaunya pelan-pelan melangkah pergi.
Dengan tangan bergetar dia mencoba menghubungi sopir pribadi untuk menjemputnya. Tadi, dia sengaja kabur dari rumah dengan naik taksi karena ambisinya. Padahal kedua orangtuanya sudah mewanti-wanti dia agar tidak berbuat onar.
Rombongan ibu-ibu itu langsung tersenyum puas. Hati mereka merasa lega karena bisa membuat jera seorang pelakor. Mereka terus menyimak punggung Nayla yang mulai menjauh. Karena merasa sudah aman, temannya Kayla segera mengumumkan sesuatu pada rombongan ibu-ibu tersebut.
"Berhubung kita sudah berhasil memberi pelajaran sama dia. Jadi, sebaiknya, kita rayakan kemenangan ini. Itu nyonya Kayra katanya mau teraktir kita makan-makan," sorak temannya Kayla bersemangat.
"Hore!" sorak mereka senang.
"Yuk, masuk dulu!" ajak temannya Kayla tersenyum puas.
Mereka segera masuk ke dalam rumah secara bergilir. Lalu, duduk di kursi yang tersedia di ruang tamu. Sementara Kayla segera meletakkan tubuh Kaysa di ranjang kamar.
Bergegas dia menuju lemari pakaian untuk mengambil uang untuk mentraktir teman-teman yang sebenarnya adalah teman adiknya karena sudah bersedia membantunya.
"Tak apalah keluar uang sedikit ... yang terpenting aku bisa membalas perbuatannya pada adikku," gumam Kayla tersenyum menang.
__ADS_1