Bertukar Suami

Bertukar Suami
Nah Kan


__ADS_3

Di luar kamar kondisi ruangan sudah sepi. Kemungkinan orang rumah sudah pada beristirahat. Kayra mengusap perutnya sambil terus melangkah mencari Damar. Dia mencoba mencarinya ke ruang kerja namun kosong.


Dia mencoba mencarinya lagi ke luar rumah karena di dalam dia tidak berhasil menemukan Damar. Begitu berada di luar, dia celingukan. Tidak sengaja dia melihat seseorang tengah duduk di bangku yang sekelilingnya terdapat taman bunga.


"Astaga, ternyata dia di sana!" Kayra segera menghampirinya.


Terlihat Damar sedang meremas rambutnya. Pasti dia defresi berat. Akibat kehamilan istrinya yang lemah. Dia harus menahan hasratnya setiap malam.


Melihat kondisi Damar tersebut, hati Kayra merasa teriris. Dia paham kalau Damar pasti sangat tersiksa menjalani malamnya setiap hari.


"Mas, ngapain di sini!" sapa Kayra mencoba tetap tersenyum.


Damar dibuat terkejut dengan kehadiran Kayra. Wajah kesalnya dia sembunyikan agar istrinya tidak tahu.


"Nggak ada, aku cuma ingin menikmati udara dingin saja. Kamu kenapa tidak tidur duluan?" tanya Damar gantian.


"Mana mungkin aku bisa tidur sendirian," jelas Kayra tersipu malu.


"Hem, baiklah! Ayo aku temani!" Damar segera bangkit dari bangku.


"Eh, duduk saja!" cegah Kayra. Dia masih ragu kalau Damar tidak akan menagih yang tadi.


Damar langsung paham dengan tujuan istrinya.


"Baiklah!" Damar kembali duduk di bangku.


Kayra ikut duduk di samping Damar. Dia bersikap sedikit manja dengan meletakkan pucuk kepalanya di bahu Damar.


"Mas, coba deh lihat bintang itu! Warnanya paling terang di antara yang lainnya!" tunjuk Kayra.


"Hem, yang mana?" bohong Damar seolah tak melihatnya.


"Hem, yang itu loh!" Kayra mengangkat tangan Damar. Lalu, menudingkan telunjuk Damar ke arah bintang yang dia maksud.


"Oh, yang itu toh." Damar tersenyum.


"Mas, tahu nggak kenapa bintang itu lebih terang dari yang lain?" tanya Kayra tersenyum.


"Mungkin, karena dia ingin terlihat menarik dari yang lain," jelas Damar terkekeh.

__ADS_1


"Oh begitu. Kalau dengan bintang yang itu kenapa dia menyendiri tak berkumpul bersama yang lain?" tanya Kayra menudingkan telunjuk Damar ke arah bintang yang dia maksud.


"Kalau yang itu sepertinya karena dia lebih merasa tenang jika sendirian. Dalam artian lain, dia kurang suka keramaian seperti kamu." Mereka saling tatap.


"His, kok malah nyamain sama aku. Aku bukannya tidak suka keramaian. Aku hanya malu saja," jelas Kayra tersenyum manis.


"Baiklah! Kalau menurutmu kenapa dua bintang itu selalu bersama?" tanya Damar gantian menuding jari Kayra ke bintang yang dia maksud.


"Kalau menurutku karena dia ingin selalu terlihat romantis," jelas Kayra tersipu malu.


"Baiklah, kalau begitu aku juga ingin selalu berdekatan dengan kamu." Damar segera melingkarkan tangannya dari samping tubuh Kayra.


"Begitukah?" goda Kayra manja.


"Iya. Bahkan, aku ingin lebih dari itu." Damar mengeratkan rangkulannya hingga posisi Kayra berubah sedikit menghadapnya.


Tanpa banyak bicara Damar segera melancarkan aksi yang sempat tertunda tadi di saksikan gemerlap indahnya bintang-bintang.


***


Paginya, Kayra tak memiliki tenaga sama sekali. Tubuhnya begitu lemas untuk digerakkan. Dia masih terbaring di atas kasur berbalut selimut. Sementara Damar sudah beranjak ke kamar mandi sejak beberapa menit yang lalu.


"Hem, inilah yang dinamakan senjata makan, Tuan. Aku yang menolaknya, eh aku pula yang mabuk sendiri," gumam Kayra tersenyum miris.


Di saat itu pula, Damar keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk berwarna putih. Dia mendekati ranjang terlebih dahulu untuk mengecek kondisi istrinya.


"Hem, maafkan aku! Gara-gara aku tak mampu menahannya ... kamu jadi menderita begini. Aku janji untuk esok dan selanjutnya aku tidak akan mengulanginya hingga anak kita lahir." Damar mengusap lembut pipi Kayra yang terlihat pucat.


Kayra mengangguk.


"Nanti, sehabis Mas memakai baju. Mas, antar kamu periksa ya? Mas, takut kondisimu semakin down ketika Mas tidak ada?" tanya Damar sedih.


"Nggak usah, Mas. Aku ingin tidur saja di rumah," tolak Kayra. Dia bosan menghirup aroma obat-obatan di rumah sakit.


"Hem, tapi, Mas cemas sekali sama kondisimu! Wajahmu begitu pucat," jelas Damar sedih.


"Mungkin, nanti akan hilang kalau tubuhku sudah bertenaga kembali. Oh ya, apa Mas mau membelikan aku bubur kacang hijau yang sering lewat depan rumah? Sepertinya, setelah makan itu, aku bakalan kuat lagi deh," ucap Kayra menyunggingkan bibirnya ke atas.


"Aduh, kalau Mas yang nunggu nanti malah telat ke kantornya. Bagaimana kalau Mas suruh Mang Ujang saja?" tanya Damar.

__ADS_1


"Nggak mau, pokoknya harus Mas yang belikan. Lagi pula, dia biasa lewat sebelum Mas berangkat ke kantor," terang Kayra meyakinkan.


"Baiklah. Mas, ganti pakaian dulu! Habis itu Mas mangkal di depan nungguin tukang bubur langganan istriku lewat." Damar mengecup kening Kayra lalu segera beralih mencari pakaian dinasnya di lemari.


Kini Damar sudah mangkal di depan gerbang menunggui tukang bubur kacang hijau lewat. Bolak-balik dia menengok ke arah jarum jam di pergelangan tangannya karena takut terlambat datang ke kantor.


Pak Satpam diam-diam membatin aksi Damar. Ada rasa lucu dan tega.


"Aduh, begitulah nasib calon ayah jika diminta tolong istrinya yang lagi ngidam." Pak Satpam menghela napas kasar.


Tak lama kemudian, yang ditunggu-tunggu akhirnya datang.


Kring! Kring!


"Burjo! Burjo! Bubur kacang ijo!" teriak penjual sambil mengendarai motornya.


Damar langsung melambaikan tangannya tanda dia ingin membeli.


Penjualnya tersenyum ramah. Lalu, segera menghentikan laju motornya tepat di dekat Damar berdiri.


"Pak, saya pesan dua bungkus sesuai biasanya istri saya beli," ucap Damar tersenyum.


"Aduh, sepertinya, istri anda belum pernah pesan. Seingat saya baru kali ini saya juga mangkal di depan rumah anda. Biasanya saya cuma lewat saja," jelas penjualnya jujur.


Damar langung dibuat terkejut. Lagi-lagi keinginan sang istri membuatnya bingung bukan kepayang.


"Aduh, aku tadi lupa tanya soal rasa yang diinginkan istri saya." Damar cemas. Tangannya menggaruk-garuk rambutnya yang klimis.


"Memangnya, istri anda sedang hamil?" tanya penjual untuk memastikan pesanan yang harus disajikannya.


"Iya, benar." Damar tersenyum.


"Em, bagaimana kalau saya buatkan tiga rasa yang berbeda saja. Ada manis, sedikit manis, dan sangat manis saja," saran penjualnya menengahi.


"Em, boleh banget, Pak. Kalau begitukan nanti biar istri saya yang tinggal memilihnya mau yang gimana rasanya," jelas Damar tersenyum.


"Betul!" Penjual itu mengacungkan jempol. Kemudian, mulai meracik buburnya ke dalam pelastik.


"Huh, lain waktu sebaiknya aku tanya dulu maunya yang gimana agar tidak kesalahan," gumam Damar meringis. Dia terus menyimak aksi penjualnya.

__ADS_1


__ADS_2