
Kini para dokter sedang menjalankan operasi sesar pada Kayra. Tepat di samping ruang operasi terdapat Damar sedang sedang berbaring juga. Di tangannya tersalur selang infus yang mengalirkan pasokan darah untuk Kayra.
Tadi setelah menjalani beberapa pemeriksaan oleh suster. Ternyata sang ayah tidak dapat mendonorkan darah karena tekanan darahnya tinggi. Hal itu terjadi karena faktor usia sang ayah yang tidak muda lagi.
"Ya Tuhan, kumohon selamatkan anak dan istriku. Aku berjanji akan menjaga dan menyayangi mereka lebih baik lagi. Akan kutumpahkan seluruh jiwa raga ini untuk mereka." Damar menitikkan air mata pilu.
Di luar ruangan Kayla masih saja tidak tenang karena cemas dan takut. David pun merasakan hal yang sama. Entah mengapa dadanya juga terasa bergetar. Ingatan soal istrinya saat melahirkan dahulu kembali terngiang.
Dia tidak bisa membayangkan kalau dulu istrinya melahirkan dengan cara disesar juga. Pastilah istrinya itu akan lebih menderita lagi. Perlakuannya dahulu sama sekali tidak ada baik-baiknya sama sekali.
Dia langsung memejamkan matanya karena merasakan dadanya bergetar hebat dan terasa sangat nyeri. Dia mengingat jelas betapa kejinya dia saat mendorong kuat tubuh sang istri hingga membentur benda keras. Akibatnya tubuh sang istri memar kebiruan.
"Maafkan aku, Kayra," gumam David sangat menyesal.
Kayla langsung menengok ke arah David. Dia terheran-heran saat melihat aksi David. Tergambar jelas bahwa saat ini David sedang defresi memikirkan adiknya.
"Astaga, nalurinya begitu kuat pada Kayra. Di saat Kayra masih dalam masa mengkhawatirkan seperti ini, dia bisa ikut terbawa suasana. Ternyata dia benar-benar sudah berubah mencintai adikku dengan tulus," batin Kayla menitikkan air mata. Bibirnya melengkung tipis karena merasa senang mengetahui David yang sebenarnya.
"Hanya saja gara-gara si ulet keket itu, dia terjerumus kembali ke dalam lembah berapi yang membuat pro kontra terulang lagi. Untung saja di saat dia sedang bermasalah begini ... Kayra sedang tidak berada di sampingnya," gumam Kayla di dalam hati. Bibinya langsung mengkerut ketika mengingat Nayla.
Beberapa menit kemudian ....
Operasi sesar Kayra sudah berhasil. Bibir para dokter melengkung ke atas ketika melihat bayi mungil nan gembul itu. Bayi Kayra dan Damar benar berjenis kelamin laki-laki.
"Puji Tuhan, bayinya begitu mungil dan imut-imut. Ayo cepat masukan masukkan dia ke tabung inkubator," perintah dokternya gemas.
"Baik." Susternya segera meraih tubuh bayi berjenis kelamin laki-laki itu sambil tersenyum bahagia.
Tiiiitttt!
__ADS_1
Namun, seketika mereka kembali panik karena komputer mengeluarkan suara ciri khas sebagai tanda bahwa kondisi pasien menurun derastis.
"Astaga ayo cepat kita segera menanganinya kembali," ucap dokternya sangat panik.
Damar yang masih berada di ruangan samping langsung melebarkan matanya saat mendengar kegaduhan di ruang operasi sang istri. Dia begitu takut dan cemas. Ingin sekali dia bangkit untuk menengok sang istri. Namun, dia tak bisa karena dia masih harus mengalirkan darahnya ke tubuh sang istri.
"Oh Tuhan, aku mohon lindungilah istri dan anakku," ucap Damar menengadahkan tangannya. Air mata terus lolos dari matanya.
Para dokter segera bertindak menangani Kayra. Namun, kondisinya semakin menurun saja. Detak jantungnya semakin melemah dan perlahan-lahan berhenti hingga menggambarkan satu garis lurus di layar komputer.
Hal itu membuat para dokter lesu dan menyerah. Mereka segera menarik kain putih untuk menutupi tubuh Kayra. Salah seorang dokter segera menghampiri Damar untuk menghentikan transfusi darah.
"Maaf Pak, transfusi darahnya sudah selesai. Mari kita copot selangnya," ucap seorang suster mencoba tetap tersenyum.
"Oh, berarti operasi istriku telah selesai? Bagaimana dengan keadaan anak kami? Dia berjenis kelamin apa? Lalu, bagaimana keadaan istriku? Dia baik-baik sajakan?" sederetan pertanyaan keluar dari bibir Damar.
"Terima kasih Tuhan atas karunia-Mu ini," ucap Damar tersenyum bahagia.
"Namun, untuk kondisi ibunya ...." Susternya menghentikan penjelasannya karena begitu ragu dan sedih.
Perasaan Damar langsung tak enak.
"Kondisi istri saya kenapa, Sus?" tanya Damar gelisah.
"Maaf, istri bapak tidak bisa kami selamatkan," jelas susternya sedih dan merasa kecewa.
"Apa?" teriak Damar melebarkan matanya.
Dia mencoba bangkit dari posisi berbaringnya. Namun, karena kondisinya yang masih lemah dia kembali terjatuh di kasur.
__ADS_1
"Saya tidak percaya sama Suster. Pasti Suster sedang mengujiku, kan?" tanya Damar tidak terima. Air mata kembali lolos membasahi pipinya.
"Tidak, saya tidak berbohong. Maaf karena kami sudah gagal menyelamatkan istri bapak." Susternya menunduk sedih.
"Tidak, itu tidak mungkin terjadi! Saya yakin kalau istri saya masih hidup! Dia hanya beristirahat sejenak saja karena lelah," racau Damar defresi. Tangannya menjambak rambut kuat.
"Bapak harus sabar dan ikhlas agar istri bapak pulang dengan tenang," nasihati susternya sedih. Dia paham sekali perasaan Damar seperti apa.
"Suster bisa diam tidak!" bentak Damar geram. Matanya melotot dan merah.
Susternya langsung begidik ngeri. Dia segera meninggalkan Damar.
"Kan, sudah saya bilang kalau istri saya masih hidup. Dia hanya beristirahat sejenak saja karena terlalu kesakitan dan lelah! Awas saja jika Suster masih berani berkata yang tidak-tidak soal istriku!" racau Damar terus menatap punggung susternya.
Di ruangan lain bayi laki-laki mungil yang awalnya diam dan tenang seketika menangis histeris. Para suster dibuat kelabakan akan hal itu. Mereka terus berusaha membuat bayi itu tenang kembali.
"Aku harus menengok istriku! Bisa-bisanya suster itu berkata yang tidak-tidak?" Damar segera bangkit kembali dari posisi baringnya. Dia ingin memastikan kondisi sang istri. Namun, lagi-lagi tubuhnya jatuh karena tak kuat.
"Ayo Damar, kamu pasti kuat? Ingatlah saat ini istrimu sedang butuh pelukan kamu untuk menghangatkan tubuhnya yang begitu sakit dan lelah," gumam Damar terus menguatkan tubuhnya agar bisa bangkit.
Setelah berhasil bangkit, dia langsung memegangi kepalanya yang terasa pusing. Berulang kali dia menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa pusing.
Ketika merasa cukup kuat, dia segera turun dari ranjang. Tangannya yang satu terus memegangi kepalanya yang pusing. Dan yang satunya berpegangan pada pinggiran ranjang sambil pelan-pelan melangkah.
"Dasar suster itu, sudah kukatakan bahwa istriku masih tidur karena lelah dan kesakitan! Masih saja dia menutup rapat seluruh tubuh istriku dengan kain!" Damar segera menyingkap kain putih yang menutupi seluruh tubuh sang istri.
Hatinya teriris saat menyaksikan betapa pucatnya wajah sang istri. Dia segera menggenggam tangan sang istri yang sudah dilipat di atas perut. Dia segera menempelkan bibirnya ke kening sang istri sambil terisak-isak.
"Sayang, cepat bangunlah! Anak kita sedang menangis karena kehausan! Ayo cepat bangun! Kasihan dia," racau Damar seolah mengetahui bahwa anaknya sedang menangis histeris di ruangan lain.
__ADS_1