Black Shadow

Black Shadow
Biang


__ADS_3

Pertandingan babak enam belas besar berlanjut cepat. Terlebih saat giliran Raddas. Enak sekali, dia. Tidak perlu bertarung, karena lawannya lebih memilih untuk menyerah. Tidak mau berurusan dengannya.


 


Akhirnya nomor delapan disebut. Itu artinya giliran Yan untuk naik ke atas arena, dia sudah menebak lawannya kali ini. Karena hanya orang itu yang belum naik ke atas arena.


 


Yan mengepalkan tangan, lawannya adalah orang yang membuat Gin terdiskualifikasi. Dia memeriksa senjatanya, busur panah. Ada di tempat, Yan akan serius kali ini, karena orang berada di hadapannya adalah yang menghentikan Gin lanjut ke babak selanjutnya.


 


Begitu wasit memulai pertarungan mereka. Keduanya menghilang, bergerak saling menyerang. Yan mengerahkan serangan tapak pada lawannya. Hal tersebut membuat lawannya termundur lima langkah, tersenyum. Sengaja menerima serangan Yan.


 


Hal tersebut diketahui oleh Yan, tapi dia tidak terlalu memerdulikannya. Bukan hal yang terlalu penting baginya, dia bergerak lagi. Lawannya mengeluarkan pisau kecil, menyerang Yan. Pisau kecil tersebut bergerak cepat, Yan sampai dibuat terkaget.


 


Yan menciptakan akar yang begitu besar untuk menjadi tamengnya, begitu pisau kecil tertancap pada akar yang diciptakannya. Dia bergerak maju, menciptakan akar dari energinya. Akar tersebut mengikat lawannya, namun tidak butuh waktu lama. Lawannya mampu menghancurkan akar yang menjerat dirinya.


 


Tidak sampai di situ, Yan menciptakan akar yang lebih kokoh untuk menjerat lawannya. Hanya saja, lawannya bergerak lebih cepat menghindari akar tersebut. Juga sesekali menebasnya.


 


Yan muncul di hadapan lawannya, mengerahkan serangan tapak. Lawannya terhempas cukup jauh, terbatuk. Hal tersebut tidak membuatnya puas, Yan bergerak maju mengerahkan serangan bertubi. Jual-beli pukulan terjadi diantara mereka, tidak ada yang mau mengalah.


 


Para penonton yang melihat hal tersebut berseru tertahan, mereka mulai mengidolakan Yan. Sejak terakhir bertarung, dia sudah memiliki banyak penggemar.


 


Yan menghindar, mengerahkan tapak. Namun lawannya menahannya dengan tinju yang sangat kuat, Yan termundur tiga langkah ke belakang. Dia bergerak maju, mengerahkan tendangan memutar. Hal tersebut membuat lawannya jungkir-balik. Terhempas.


 


Yan menunduk cepat begitu lawannya berada di hadapannya, dia terpekik. “Cepat sekali!”


 


Untungnya, Yan masih sempat menangkis pukulan lawan. Hal tersebut membuatnya bergeser sedikit dari tempatnya.


 


“Kau tidak perlu bingung, seperti itu.” Lawan Yan tersenyum meledek padanya, Yan tetap tenang. Mencoba untuk fokus.


 


Dia mengerahkan energinya, akar mulai muncul ke atas arena. Lawannya tidak tinggal diam, dia juga mengeluarkan energinya. Arena turnamen bergerak, menghantam akar yang diciptakan oleh Yan.


 


Yan bergerak menghantamkan sebuah serangan tapak, ditangkis dengan mudah. Dia menendang kaki lawannya, gagal lawannya melompat menendang kepalanya.


 


Hal tersebut membuat Yan terguling, tidak jauh. Tapi, cukup untuk membuatnya muak. Sementara itu, akar yang diciptakannya, sedang beradu dengan arena turnamen yang bergerak. Akibat energi yang diciptakan oleh lawannya.


 


Yan menyerang lawannya dengan rentetan akar yang sangat tajam. Sementara lawannya kepayahan menghindari serangan tersebut. Sesekali, menahan serangan akar tersebut dengan menggunakan arena turnamen yang dikendalikannya.

__ADS_1


 


Yan tidak berpangku tangan begitu saja, dia bergerak maju. Menyerang lawannya, mengerahkan serangan tapak. Tidak hanya sekali, tapi beruntun.


 


Keduanya saling jual-beli serangan, diantara keduanya akar dan arena turnamen saling bertabrakan. Saling mengadu. Yan meliukkan tubuh, tapi tetap tersayat pisau kecil pada lengannya.


 


Lawan Yan sedikit merasa repot, karena harus menghindari akar yang kadang tiba-tibanya menyerangnya. Sekaligus, harus menghadapi Yan yang tidak henti-hentinya menyerang.


 


Yan menghindari hunusan pisau kecil yang datang, perutnya hampir kena. Untungnya, dia menahan nafas, sembari berusaha menghindari serangan lawan.


 


Yan melakukan tendangan memutar, namun dapat dihindari oleh lawannya. Dia menyerang dengan jurus tapak, tepat mengenai punggung lawan. Hal tersebut membuat lawannya terhempas jauh.


 


Akan tetapi, lengan Yan sempat teriris oleh lawannya. Darah mengucur begitu saja, jatuh ke arah lantai arena. “Kau benar-benar hebat. Tidak kusangka akan serepot ini menghadapi orang sepertimu.”


 


Yan tersenyum, “Oh ya, saya baru tahu tentang itu. Oh ya, kau mengalah saja. Masih ada tahun depan untukmu, beri saja kesempatan ini untukku.”


 


“Enak saja, saya juga ingin mengikuti di turnamen antar Kerajaan. Mewakili Kerajaan Selatan. Tidak hanya kau yang punya ambisi, saya juga. Peserta lain juga punya ambisi yang sama.” Lawan Yan mengeluarkan semua yang ada dipikirannya.


 


Yan menghembuskan nafas halus, menyerang lawan dengan cepat. Dia meliukkan tubuh, begitu lawan menebasnya. Dia mengerahkan serangan tapak yang mengenai dada lawan. Tidak mudah memang.


 


 


Di atas tribun, satu-persatu penonton kehilangan nyawa. Mereka terlalu serius menyaksikan pertarungan yang terjadi di atas arena.


 


Orang-orang ini, sangat rapi dalam melakukan operasi pembunuhan berantai. Bahkan sejauh ini, tidak ada yang menyadari. Jika sudah banyak nyawa yang melayang.


 


Yan di atas arena, kalabakan menghindari serangan yang datang. Untungnya, dia berhasil mengikat kaki lawannya, hingga membuatnya terjatuh. Meski hanya sementara, tapi cukup untuk memberinya waktu.


 


Yan mundur tiga langkah, bersiap. Memasang kuda-kuda terkuatnya. Dia langsung bergeser. Begitu lawan muncul, menebasnya. Tidak perlu gerakan yang banyak, cukup sedikit bergeser. Dia sudah mampu menghindari serangan lawan.


 


Yan melapisi tapaknya dengan energi yang cukup tebal, menghantamkan serangan tapak tersebut. Tepat pada perut lawan. Hal tersebut membuat lawannya terhempas jauh, muntah darah, dan terbatuk.


 


Terbaring di atas arena. Lawan Yan, tidak bergerak sedikitpun. Pada saat wasit akan menyatakan kemenangan Yan, lawan Yan bangkit.


 


Lagi-lagi mata pekat tersebut, muncul. Energi pekat mengeliling tubuh lawannya Yan. Hal tersebut membuatnya dibanjiri oleh energi yang sangat pekat.

__ADS_1


 


Yan tidak gentar melihat hal tersebut., “Jika Gin saja, bisa mengatasi orang ini, terlebih diriku.”


 


Yan mengeluarkan energi yang besar, tapi sirna begitu saja. Karena keterkejutannya, lawannya sudah berada di hadapannya. Mengerahkan sebuah pukulan yang sangat kuat.


 


Hal tersebut membuat Yan terhempas jauh, tubuhnya belum menyentuh tanah. Akan tetapi, sudah terhempas lagi. Terkena sabetan arena yang bergerak, dia bahkan mengeluarkan darah dari mulutnya.


 


Yan mencoba untuk berdiri, dia mengeluarkan busurnya. Seketika, busur yang terlipat, kini terbuka. Membesar.


 


Yan menarik tali busur, mengerahkan energi tumbuhannya. Akar tajam muncul, menjadi anak panah. Siap melesat mengenai lawannya.


 


Lawan di hadapannya melempar pisau kecil, sementara Yan melepaskan anak panah yang terbuat dari energinya sendiri. Tidak hanya itu, dia juga bergerak maju. Melepaskan anak panah lainnya, terbuat dari energinya.


 


Yan melompat ke samping, berseru tertahan. Dia tidak menyangka pisau kecil tersebut bisa berbelok. Dia menghindar lari ke sana-kemari. Sementara lawannya, mudah saja menangkap anak panahnya. Menghindari dua anak panah lainnya.


 


Yan dibuat kerepotan oleh satu pisau kecil. Dia bergerak cepat, melompat ke belakang. Cepat sekali tangannya, menarik anak panah. Energi yang dikerahkannya lumayan besar. Dia dengan cepat melepaskan anak panah tersebut.


 


Anak panah yang dilepaskannya membela udara, Yan melompat mundur. Cukup jauh, dia tidak mau terkena efek dari tabrakan anak panah dan pisau kecil. Kedua benda tersebut bertemu di udara, menciptakan kesiur angin. Cukup kencang.


 


Yan terbelalak, begitu melihat lawannya sudah berada di depannya lagi. Bersiap mengerahkan pukulan keras, sementara di belakangnya terdapat lantai arena yang bergerak untuk menghantamnya. Arena yang berbentuk cambuk.


 


Disaat yang sangat tepat, persis serangan lawannya mengenainya. Juga lantai turnamen nyaris membuatnya terpental, Yan meliukkan tubuhnya. Bergerak ke arah samping, berhenti tepat di belakang lawan.


 


Hal tersebut membuat lawannya tidak bergerak, lawannya terpental terkena lantai arena. Senjata makan tuan. Yan terpental bersama lawannya, karena menahan gerakan lawannya tadi.


 


Yan menyeimbangkan tubuh, menciptakan akar yang kuat dari energinya. Menahan lawannya, agar tidak dapat bergerak. Menjadikannya sasaran tembak. Dia dengan cepat memegang busur panahnya. Mengerahkan anak panah yang terbuat dari energinya, bukan sebuah akar. Akan tetapi, sebuah energi transparan. Dia melepaskannya. Anak panah dari energinya yang berbentuk transparan tersebut, melesat mengenai dada lawannya.


 


Seketika gelombang kejut tercipta, begitu energi Yan mengenai lawannya. Mata pekat tersebut hilang, lawannya tidak sadarkan diri.


 


Para penonton bersorak untuk kemenangan Yan. Bersamaan dengan teriakan salah satu penonton yang menyadari telah banyak darah yang berceceran di sekitarnya, menjerit ngeri. Seketika teriakannya lenyap, bersama nyawanya.


 


Raja tiba-tiba terhempas ke atas arena, terkena pukulan seseorang di tribun VIP. Lantai arena yang menjadi tempat Raja mendarat, hancur. Keadaan tribun benar-benar kacau.


 

__ADS_1


Lawan Yan, sadar kembali. Kali ini dengan energi yang sangat pekat. Mata yang pekat, sedikit merah di sana. Tawa serak memenuhi arena, Yan ingat tawa itu. Dia sangat mengingatnya, kakinya dibuat gemetar oleh tawa tersebut. Dia terduduk. Mundur dengan tangan yang bergerak, ke belakang. “Akhirnya, kita bertemu kembali, bocah. Meski, kita tidak bertemu secara langsung. Tapi, cukup untuk menakutimu dengan mengendalikan bocah ini!”


__ADS_2