Black Shadow

Black Shadow
Metode Sesat


__ADS_3

Raddas mencari mangsa, masih kesal dengan ulah tiga peserta yang mengganggu ketenangannya tadi. Akan tetapi, dia sampai saat ini tidak menemukan mangsa yang tepat. Sejak tadi hanya bertemu dengan para sampah yang mudah saja disingkirkan.


 


Sejauh ini, dia sudah mengalahkan banyak peserta. Karena frustasi, dia berteriak, “Apakah tidak ada lawan yang lebih kuat?”


 


Menunggu beberapa saat, tiba-tiba tubuh Raddas condong ke belakang. Dia terkena pukulan yang sangat kuat, sampai membuatnya memuntahkan darah. Matanya membulat, serangan itu begitu kuat baginya.


 


“Ini! Bagaimana mungkin kau memiliki kekuatan sekuat ini?” Raddas tidak percaya dengan penglihatannya, seseorang yang sangat dikenalinya sedang berdiri di hadapannya dengan senyum picik. Matanya yang merah legam, kekuatan yang dipancarkannya tidak biasa.


 


“Apa kau kira, hanya dirimu yang bisa menjadi kuat, hah!?”


 


“Saya tahu, kamu memiliki kebolehan. Akan tetapi, tidak sekuat ini. Tidak mungkin ‘kan seseorang bisa bertambah kuat, hanya dalam beberapa minggu. Padahal saat terakhir kita berlatih tanding, kau tidak sekuat ini.” Raddas belum juga percaya Lip bisa menjadi kuat hanya dalam waktu yang singkat.


 


Raddas yang memegangi perutnya, masih menatap Lip tidak percaya. Tubuhnya terhempas terkena pukulan yang cukup kuat ke belakang, Raddas yang masih terhempas menyeimbangkan tubuhnya dan berpijak di atas arena.


 


Sedikit saja terlambat, dia pasti sudah keluar arena. Raddas menggeram, “Jika seperti ini terus, saya bisa kalah dari Lip.”


 


Raddas mengeluarkan energi api, sehingga kedua tangannya terselimuti kobaran api. Dia bergerak cepat menyerang Lip, tapi dapat dihindari dengan mudah. Raddas menendang dagunya, namun Lip membukukkan tubuh ke belakang untuk menghindarinya.


 


Hal tersebut membuat Raddas kurang hati-hati, dia membiarkan celah terbuka lebar bagi Lip. Tubuhnya menjadi bulan-bulanan Lip, Lip dengan segala serangan yang bisa disarangkan. Raddas yang menjadi bulan-bulanan, hanya bisa menahan emosi.


 


Dia menghembuskan nafas kasar, setelah lolos dari Lip. “Apa ada yang memberinya energi, sehingga dalam waktu singkat dia bisa sekuat ini? Tapi, bukankah metode ini sangat terlarang dalam Kerajaan Selatan, karena bahaya yang ditimbulkannya dapat mengancam nyawa.” Batin Raddas. Dia tidak sadar pernah mendapat suntikan energi yang begitu besar dari Barbara. Saat melawan Gin dulu.


 


Dia tahu sedikit tentang metode tersebut, Barbara pernah menyinggung hal tersebut pada suatu kesempatan, saat melatihnya. Raddas tidak menyangka akan melihat secara langsung orang yang menggunakan metode tersebut. “Tunggu dulu, bukankah metode ini dilakukan oleh dua orang? Pasti yang satu lagi adalah otak dari bertambahnya kekuatan tidak masuk akal tersebut, tentu saja dialami oleh Lip."

__ADS_1


 


Raddas merasakan gerakan di sebelah kirinya, dia bergerak cepat untuk menangkis serangan. Serangan tersebut tidak terlalu kuat, hanya membuatnya terseret lima langkah dalam keadaan tegap.


 


“Apa hanya seperti ini kemampuanmu?” Raddas mencoba memancing emosi lawan, agar fokusnya terganggu. Sementara itu, Lip hanya mendengus dan menyerangnya. Raddas yang biasanya mendominasi pertarungan, tapi kali ini begitu pasif.


 


Dia hanya menahan gempuran yang datang padanya, dia juga menghindari serangan yang datang dengan sebaik mungkin. Saat ini, dia sedang mencari celah yang tepat baginya, karena lawan yang dihadapinya saat ini tidak bisa dianggap remeh.


 


Apalagi dia ingin bertarung melawan Gin. Jadi, dia tidak ingin mengerahkan seluruh kemampuannya, meski terbilang kejam dan suka seenaknya memandang remeh orang lain. Tapi, ketika dia sudah dikalahkan oleh seseorang, ketika akan berhadapan lagi dengannya. Dia akan penuh perhitungan.


 


Gin yang sedang fokus pada pertarungan Raddas melawan Lip, merasa aneh dengan Lip. Aura yang dia pancarkan, meski tipis. Akan tetapi, dapat dia rasakan. Hal tersebut mengingatkannya pada kejadian beberapa waktu lalu, dia juga merasa Raddas sedang mengirit kekuatan yang dikeluarkannya.


 


Dia mengetahui Raddas tidak selemah itu, untuk menjadi sam-sak hidup Lip. “Yan, apa kau melihat pertarungan Si Rambut Merah itu?” Yan hanya mengangguk sebagai jawaban.


 


 


“Dia tidak sebodoh dirimu, Gin. Dia tahu kau berada di atas sini, menonton pertandingannya. Kau telah mengalahkannya dengan telak. Tentu, dia akan menyembunyikan perkembangannya sampai saat ini di hadapanmu.” Yan menjelaskan.


 


“O,” Gin hanya mengangguk, seakan mengerti maksud Yan. Dia menjawab singkat, hal tersebut membuat Yan naik darah.


 


Di sudut arena, Raddas dan Lip saling menyarangkan pukulan masing-masing. Mereka terus bertarung, tanpa lelah. Dengan nafas yang terengah-engah, “Kau... tidak salah lagi, kau pasti melakukan metode itu, bukan!?”


 


Lip yang mengetahui maksud Raddas mendengus, dia bergerak begitu cepat seakan menghilang dari hadapan Raddas. Nyatanya, Raddas saja yang tidak mampu mengikuti kecepatan Lip, karena fokus yang teralihkan.


 


Raddas terselungkup ke depan, dia merasa terhina. Dia tidak peduli lagi dengan segala resiko, bahwa Gin akan mengetahui perkembangannya selama latihan. Dia sudah cukup terhina dengan ditahan imbang oleh Lip, sekarang? Bahkan dia harus mencium lantai arena.

__ADS_1


 


Dengan mengeraskan rahang, Raddas mengeluarkan energi api yang cukup besar. Api yang keluar berbentuk memanjang seperti tali dan berputar-putar mengelilinginya, tatapannya yang tajam membuat Lip termundur ke belakang, tanpa sadar.


 


Sadar, dia sedang berjalan mundur, Lip mengeluarkan energinya. Dia bermaksud mengadu kekuatan dengan Raddas. Tidak ingin kalah.


 


Api yang berbentuk panjang tersebut, tiba-tiba mengarah pada Lip. Namun sebelum api tersebut mengenainya, dia sudah membuat tameng dari energinya. Lip menggertakkan gigi, menyerang Raddas dengan energi yang sangat besar.


 


Tidak mau kalah, Raddas menciptakan bola api dan mengarahkannya kepada Lip. Energi keduanya bertabrakan, hingga menciptakan gejolak energi yang mementalkan para peserta yang berada di dekat mereka. Karena hal tersebut beberapa orang peserta keluar dari arena.


 


Raddas kembali melancarkan bola api, tapi ukurannya kali ini lebih kecil. Pada saat bola api tersebut masih berada di udara menuju Lip, dia berlari dengan cepat seakan sedang berlomba dengan bola api yang diciptakan sendiri.


 


Raddas menyerang Lip dengan pukulan, tanpa energi. Melihat Lip dapat menghidari serangannya, Raddas tersenyum, “Kukira kau memakai otakmu dengan baik. Ternyata, kau menyia-nyiakan otak kerdilmu itu.”


 


Dia mengerahkan sebuah tendangan yang sangat keras, namun dapat ditangkis dengan menyilangkan tangan. Dengan cepat, Raddas melompat ke samping, sembari melancarkan bola api. Bum! Rentetan bola api menghujani Lip, bahkan ledakan besar terjadi, karenanya.


 


Hal tersebut membuat peserta lain terpaksa menghentikan pertarungan mereka, hanya untuk menahan tekanan kuat yang dapat mementalkan mereka keluar arena.


 


“Wah, Si Rambut Merah itu, memakai otaknya dengan baik dan tepat.” Gin sedang memuji Raddas yang jelas-jelas lebih cerdas darinya.


 


“Benar, tidak seperti dirimu yang hanya bisa membuat kekacauan dengan otak kotormu itu.” Yan berkata tanpa melirik Gin sedikitpun, Gin yang mendengar hal tersebut mengangkat bahu, bersikap masa bodoh.


 


Seluruh penonton terpekik, melihat kejadian tersebut. Dalam hati diam-diam mereka bersyukur, karena datang menonton turnamen ini. Tidak hanya mendengar kabar dari mulut ke mulut. Hal tersebut, tentu sudah dibumbui dengan tambahan yang dilebih-lebihkan.


 

__ADS_1


Pada saat asap yang menutupi arena menghilang dari pandangan, wasit berteriak. “Sepertinya battle royal group A akan segera berakhir, sisa peserta yang bertahan sampai saat ini adalah sepuluh orang.” Perkataan tersebut menyulut teriakan penonton yang menyoraki para peserta.


__ADS_2