Black Shadow

Black Shadow
Kota Goa


__ADS_3

Gin dan Yan memasuki gerbang sebuah kota. Pada papan nama kota tersebut nampak terbaca dengan jelas, “Kota Goa.”


Setelah memasuki kota, Gin dan Yan tak mendapati perumahan. Hal membuat Gin kebingungan, Yan yang melihat wajah Gin linglung. Dia berkata sambil tersenyum sinis, “Jawaban pertanyaan yang ada di benakmu ada di depan.”


Gin mengernyitkan dahi, menatap Yan. “Nanti juga kamu mengerti maksudku.”


Berjalan satu kilometer ke depan Gin dan Yan memasuki sebuah hutan lebat. Sekali, dua kali mereka harus menyibak dedaunan yang telah menghalangi jalan mereka. Enam puluh menit berjalan, mereka keluar, di hadapan mereka terbentang padang rumput yang luas nan hijau. Di antara padang rumput tersebut terdapat bebatuan yang berbentuk seperti goa minimalis.


Pemandangan yang sungguh memukau, lihatlah sebuah gunung yang menjulang tinggi di depan sana, kabut asap mengelilingj bawah gunung. Dan hei, lihatlah bahkan puncak gunung tersebut tak dapat terlihat. Tertutupi awan yang sangat tebal. “Kau tahu Gin. Tempat ini adalah impian besar Widora. Dia ingin sekali datang ke tempat ini. Tapi, sampai saat ini dia belum pernah sampai ke sini.”


“Tidak heran tempat ini menjadi impian Widora. Pemandangan tempat ini, sungguh menakjubkan.” Gin menatap sekitar dengan wajah antusias. Dia tidak pernah mengira dunia begitu luas, dunia luar yang selama ini dia bayangnkan seakan tidak ada apa-apanya. Jika dibandingkan dengan pemandangan yang tersaji di hadapannya.


Seutas senyum penuh ketulusan mengiasi wajah kedua pemuda ini. Lihatlah rambut putih yang bergoyang, tertiup angin. “Kota ini dipenuhi oleh Tabib terhebat se-Kerajaan Selatan. Walau begitu Widora jauh lebih hebat dari pada para tabib di sini. Hanya saja peralatan serta obat-obat di sini sangat lengkap dan memadai.”


Mendengar perkataan Yan, Gin berseru. “Benarkah yang kau katakan, Yan?”


Yan menatap sebal pada Gin, dia merasa Gin tak percaya sedikit pun dengan kata-katanya. “Ikuti saya.” Yan berjalan melewati Gin yang sedang terkesima oleh pemandangan sekitar.


“Woi Gin, apakah kau tidak ingin memasuki kota Goa?” Yan menghardik Gin. Dia sangat membenci orang yang terlalu lamban, “Ehh, bukankah kita sudah memasuki kota sejak tadi?”

__ADS_1


Mendengar jawaban Gin, Yan menepuk jidat dan mencak-mencak tidak jelas. Gin dan Yan memasuki sebuah goa yang lumayan besar. Dibandingkan dengan goa lainnya, goa yang dimasuki oleh mereka berdua adalah salah satu toko obat terbesar di dalam kota ini.


Yan berjalan di depan Gin. Yan berjalan menuju seseorang sedang bersandar di dinding goa. Yan sedang mengobrol dengan seseorang yang berjubah hitam, pakaiannya serba hitam. “Toko ini adalah toko obat terjelek di dunia. Saya tidak pernah mau membeli barang di sini.” Yan mengatakan kata-kata tersebut sangat pelan, bahkan bisa dibilang sedang berbisik.


Pria berjubah hitam tersenyum mendengar ucapan Yan. Dia segera memasukan tangannya di balik baju merogoh sesuatu. Gin bingung, dan bergumam dalam hati. “Mengapa Yan mengatakan hal jelek tentang toko ini. Padahal sebelumnya, dia sangat memuji-muji kota ini. Dan lagi toko ini begitu besar, tapi sepi pengunjung.”


Gin tak asal bicara, mengenai toko yang mereka masuki tersebut begitu sepi. Lihatlah jika dihitung hanya empat orang konsumen toko ini ditambah dia, Yan dan pria berjubah hitam. Totalnya tujuh orang.


Setelah mengambil sesuatu dari dalam jubahnya, pria tersebut menyerahkan sebuah lencana berbentuk segilima. Setelah menerima lencana tersebut Yan melemparkan lima koin emas kepada pria berjubah hitam.


Yan meninggalkan pria berjubah hitam. Yan memasuki goa lebih dalam yang diikuti oleh Gin. Mereka berhenti di depan sebuah pintu besar. Di samping pintu itu tertulis, “Dilarang masuk.” Yan sekilas tersenyum, lalu mendorong kedua pintu.


Yan mencocokan lencana tersebut, tiba-tiba saja dinding di hadapan mereka bergetar. Tak lama kemudian dinding tersebut terbelah, membuka jalan untuk mereka. “Sepertinya pintu rahasia.” Pikir Gin.


Yan mengambil kembali lencana tersebut dan memasuki ruangan. Setelah mereka berdua masuk otomatis ruangan tersebut tertutup. Lantai yang terbuat dari keramik, berbeda dari sebelum memasuki ruangan. Lantainya masih dari tanah, dindingnya juga dari batu. Berbeda dengan dinding dalam ruangan ini yang terbuat dari perak yang dileburkan.


Pada bagian dinding terdapat ukiran-ukiran yang tidak mereka mengerti sama sekali, tapi masa bodoh dengan hal tersebut. Gin sibuk memikirkan hal apa yang akan menyambutnya di dalam, sementara Yan sibuk dengan pikirannya sendiri tentang Widora.


Tiga langkah di depan Gin dan Yan, sebelah kanan terdapat sebuah bilik berwarna gelap ke seluruhan hanya terlihat sedikit lubang kecil. Yan berjalan ke bilik tersebut dan memasukan lencana tadi ke lubang kecil dalam bilik.

__ADS_1


Yan berjalan beberapa langkah, tapi merasa Gin tidak mengikutinya. Yan menengok ke belakang. “Hei, apakah kau ingin melamun di situ terus?” Gin hanya bisa tersenyum kikuk. Dia tidak pernah menyangka, selain pasar gelap ternyata ada juga tempat seperti ini di dunia.


Pada saat Gin mensejajari Yan. Yan berkata, “Kau tahu, Gin. Mengapa depan toko begitu sepi?” Gin mengernyikan dahinya. “sebab itu hanyalah sebuah kamuflase. Dan toko yang sebenarnya ada di depan kita.”


Dari kejauhan terdengar suara hiruk-pikuk keramaian. Gin dan Yan tiba di depan ruangan super besar. Interior ruangan terbuat dari batu. Kurang lebih penampakannya seperti goa pada umumnya hanya saja, goa ini begitu besar dan dipenuhi oleh banyak orang, juga dinding yang terbuat dari perak yang dileburkan, serta lantai keramik.


Terlihat banyak rak-rak obat berjejeran dengan setiap laci yang bertuliskan nama obat serta tanaman obat yang sangat langka. Mata Gin berbinar menatap sekeliling, dia menunjuk-nunjuk ke depan. “Yan, ayo kita ke sana.”


“Dan kau tahu, Gin? Semua orang di sini adalah kumpulan petarung yang tersebar di dunia persilatan. Mereka singgah hanya untuk datang mencari persediaan obat atau datang untuk berobat.”


“Para tabib ini, tidak. Bahkan seluruh penduduk kota Goa adalah sekumpulan orang yang jujur. Mereka akan mengobati setiap pasiennya secara tulus, meskipun itu adalah penjahat terkejam di dunia. Lihatlah senyum ramah mereka.” Gin tak bergeming, tak menghiraukan penjelasan Yan. Dia malah sibuk memperhatikan sekitar.


Gin berlari ke sana-ke mari bagaikan anak kecil memasuki dunia permen. Dia berkeliling sesuka hati tanpa memperdulikan Yan yang sedang berteriak memanggilnya. Yan meremas rambutnya, berlari menghampiri Gin.


Yan mengeluarkan energinya, sebuah akar kecil merambat melewati pengunjung toko tanpa diketahui oleh seorang pun. Pada saat akar tersebut dapat menyusul Gin, akar tersebut langsung melilit tubuhnya. “Bukankah ini jurus Yan. Mengapa dia malah mengikatku seperti ini?”


“Hoi, Yan. Lepaskan saya. Lepaskan saya, sekarang. Saya ingin melihat-lihat sekeliling, barang-barang di sini sungguh unik-unik.” Teriak Gin sambil memberontak ke sana-ke mari. Akan tetapi, semakin Gin bertingkah akar tersebut semakin kuat melilitnya.


Gin merasa tubuhnya akan hancur. Jika terus terlilit seperti ini. “Woi, Yan. Apa kau ingin membunuhku, hah?” Tiba-tiba terjadi sebuah ledakan dari sudut ruangan. Beberapa tubuh pengunjung hangus terbakar. Beberapa pengunjung lagi terpental begitu jauh hingga muntah darah.

__ADS_1


__ADS_2