
Gin memperhatikan tubuh Yan yang tak berkutik sama sekali. Dia melihat bunga tulip yang berada di tengah-tengah Yan dan musuhnya. “Sepertinya Yan sedang menggunakan teknik ilusi, karena diakan memiliki energi tumbuhan, sementara di sini bukan tempat yang cocok bagi bunga tulip untuk berkembangbiak.
Gin mencoba untuk menjaga tubuh Yan yang sedang melakukan pertarungan di dalam dunia ilusi. Tidak jauh dari tempat Gin berdiri, terlihat beberapa orang kawanan organisasi Rakon yang menghampirinya.
Gin bersiap untuk bertarung melawan mereka semua. Gin sedikit menjauh dari tubuh Yan agar tak terkena imbas pertarungan, dia dikeliling oleh lima orang sekaligus. Gin bergerak dengan cepat dan menyerang lawannya sebelum, hal yang merepotkan terjadi.
Gin menyerang lawan dengan sebuah pukulan, namun dapat ditangkis yang membuat lawannya terpental beberapa langkah. Gin tidak mau menyerah, dia bergerak dengan cepat lagi untuk menyerang musuhnya.
Gin terus menyerang orang yang sama hingga membuatnya tak sadarkan diri. Dia beralih ke empat orang yang tersisa. Gin menumbang satu-persatu lawannya hingga tak bersisa.
Di sisi lain, Yan yang sedang menghadapi lawan yang seimbang dengannya di dalam ruang ilusi. Lawan Yan sedang dilanda oleh kebingungan, sebab sebelumnya dia sedang berada di halaman klan Gajah perkasa. Namun sekarang berada di tempat antaberanta seperti ini.
Lawan Yan dikelilingi oleh pepohonan lebat serta bunga tulip yang bisa berjalan menampakkan gigi yang bergeruji. Pohon serta bunga tersebut menyerang lawan Yan yang sedang dilanda kebingungan. Lawan Yan terhempas jauh setelah salah satu pohon menghantamnya dengan dahan yang dimilikinya.
Lawan Yan sedang berdiri kembali serta menyerang pohon-pohon tersebut hingga hancur, namun kemudian pohon tersebut kembali utuh. Lawan Yan terus-terusan menyerang pohon-pohon dan bunga tulip yang ada hingga hancur. Namun lagi-lagi pohon-pohon serta bunga tersebut kembali utuh dan terus bertambah kuat.
Hal ini membuat lawan Yan geram, dia menyerang salah satu pohon, namun saat dia sampai sasarannya, dia sudah terpental, karena mendapat pukulan dari pohon yang lainnya. Pada saat lawan Yan berusaha bangkit, salah satu bunga tulip memakan lawan Yan. Tubuh lawan masuk ke dalam mulut bunga tulip.
__ADS_1
Selang beberapa menit tiba-tiba saja, bunga tulip yang memakan lawan Yan tercerai-berai dan tak dapat bersatu kembali. Sementara lawan Yan dipenuhi oleh energi perak, dia lalu menyerang semua pepohonan serta bunga tulip yang ada hingga hancur.
“Rupanya, kau hebat juga.” Yan tiba-tiba muncul di hadapan lawannya. Dia mengerahkan pukulannya pada lawannya hingga membuatnya memuntahkan air liurnya sendiri hingga terpental sangat jauh. “Akan tetapi, kau masih berada jauh dibawahku.”
Yan melapisi pukulannya dengan energinya saat lawannya sudah berada di hadapannya, lawan Yan sudah siap untuk melakukan serangan padanya, namun dengan cekatan Yan menghindari lawannya dengan mudah.
Yan muncul di samping lawannya dan melesatkan sebuah pukulan, namun lawan Yan begerak dengan gesit saat menghindari serangannya. Yan terus-terusan menyerang lawannya dengan pukulan hingga dia tak sadar telah menciptakan celah yang cukup besar bagi lawannya.
Lawan Yan, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dia mundur beberapa meter dari Yan untuk mengeluarkan salah-satu jurusnya, sebuah cakram yang sangat tajam yang terbuat dari energi perak muncul di atas lawan Yan.
Lawan Yan mengerahkan cakram tersebut ke arah Yan. Cakram tersebut melesat dengan sangat cepat, namun Yan mampu menghindari cakram tersebut. Cakram tersebut seakan memiliki jiwa sendiri terus bergerak menyerang Yan, seakan tak ingin melepaskan Yan
Yan tiba-tiba mengubah haluan, karena memiliki firasat buruk. Jika dia melanjutkan rencananya, Yan menambah kecepatan demi menghindari cakram yang terus mengejarnya. Cakram yang terus mengejar Yan sekarang telah tertinggal jauh di belakang, lagi-lagi Yan menambah ke kecepatan dan menyerang lawannya dengan menggunakan jurunya.
Tiba-tiba saja, akar muncul dari dalam tanah mengikat seluruh tubuh lawan Yan dengan sanggat erat hingga membuatnya tak dapat bergerak. Yan dengan sigap mengaliri kepalan tangannya dengan energi yang begitu padat.
Yan menyerang lawannya dengan pukulan yang mematikan. Hal ini membuat lawannya kalang-kabut ingin segera lepas dari jeratan jurus Yan. Tepat saat pukulan Yan akan mengenai musuhnya, dia sudah lolos dari jeratan jurus Yan.
__ADS_1
Lawan Yan benar-benar murka, dia melepaskan seluruh tenaga dalamnya hingga menciptakan energi yang maha dasyat mengaliri seluruh tubuhnya. Melihat hal tersebut membuat Yan agak merinding. Lawan Yan mengampirinya dengan gerakan yang tak bisa dilihatnya.
Yan tiba-tiba terpental jauh, pukulan musuhnya membuatnya muntah darah. Yan tak menyadari cakram musuhnya sedang mengarah padanya dan membuat tubuh Yan terbagi menjadi dua dan jatuh ke tanah.
Lawan tertawa terbahak-bahak melihat jasad Yan yang telah terbagi menjadi dua bagian. Akan tetapi, hal tersebut tidak bertahan lama, sebab tiba-tiba saja. Tawa Yan memenuhi telinga lawannya dan tubuhnya yang telah terbagi menjadi dua bagian telah menjadi pohon.
“Bagaimana mungkin?” Tubuh lawan Yan menjadi pucat seputih gumpalan awan di langit yang biru. Kaki lawan Yan juga menjadi gemetaran. Dia tidak menyangka. Jika, Yan akan sekuat ini. “Keluarlah jika, memiliki nyali jangan jadi seperti pengecut yang hanya bisa bersembunyi.”
Yan menampakkan tubuh aslinya. Dia tanpa basa-basi langsung menyerang lawannya dengan energinya yang telah membentuk akar pohon yang tajam mengelilingi tangan Yan yang digunakannya sebagai senjata.
Yan meninggalkan bekas sayatan garis miring yang cukup besar pada dada lawannya. Dada lawan Yan memuncratkan darah yang begitu banyak. Lawan Yan, untuk sementara menutup darahnya agar tak keluar dengan tenaga dalamnya.
Lawan Yan, menggertakkan gigi sambil menatap tajam. Lawan Yan melapisi dadanya dengan perak yang diciptakan dari energinya. Dia juga menciptakan tiga buah bola kecil yang begeruji yang sangat tajam mengelilingi dirinya.
Dua bola kecil menyerang Yan, sementara yang satu lagi mengelilingi dirinya. Yan menangkis serangan bola kecil dengan akar tajam yang melapisi tangannya. Saat bola kecil tersebut bersentuhan dengan tangan Yan.
Bola kecil tersebut meledak dan menimbulkan suara yang membahana, untung saja mereka sedang berada di ruang ilusi. Jika tidak, mungkin ledakan tadi bisa memakan banyak korban. Kepulan asap memenuhi ruang ilusi, setelah beberapa lama saat asap tersebut menghilang, Yan terlihat sedang memuntahkan banyak darah serta bermandikan darah.
__ADS_1
Jika dia tadi tidak cepat membuat perlindungan untuk menutup dirinya dengan tanaman yang diciptakan dari energinya sebagai tameng, mungkin Yan hanya tinggal kenangan saja. Bersamaan dengan itu ruang ilusi yang diciptakan Yan sirna. Mereka kembali ke dunia nyata.