Black Shadow

Black Shadow
Pelelangan


__ADS_3

Seminggu telah berlalu semenjak Yan, berlatih di bawah bimbingan Biru (pria bermata sejuk). Lima hari yang lalu, tepat saat lelang akbar yang diadakan setahun sekali.


Lelang tersebut adalah lelang pertama bagi toko Tempa serba bisa milik Poo yang juga di ikuti toko-toko lainnya yang datang dari berbagai kota.


Lelang tersebut memiliki pemimpin tunggal yang amat disegani oleh dunia persilatan.


Pada saat lelang tersebut, Yan menggunakan kartu VIP yang diberikan Poo kepadanya. Yan sempat terbatuk-batuk, tersedak nafasnya sendiri. Karena fasilitas serta pelayanan yang diberikan sangat berlebihan baginya.


“Anda, boleh membeli apa saja selama pelelangan berlangsung dan tanpa mengeluarkan uang sepersenpun,” kata pelayan lelang.


“Poo, benar-benar baik padaku, hehehe.” Pikir Yan sambil mengembangkan senyum konyolnya.


Akhirnya, Yan membeli beberapa ramuan langka yang bahan-bahannya sulit untuk ditemukan, bahkan konon katanya sang peramu harus mengitari ke empat kerajaan agar dapat menemukan seluruh bahan-bahan yang amat berharga untuk beberapa ramuan tersebut.


Salah satunya adalah ramuan yang dapat menawar semua jenis racun. Dia sengaja membeli ramuan tersebut, belajar dari pengalaman saat kejadian Gin terkena racun para perampok dan monster macan level tujuh yang mematikan, tentu Yan tidak ingin kejadian yang sama membuatnya pusing.


Yan merasa heran pada Gin yang sangat akrab dengan racun seperti sudah menjadi sahabat saja. Tidak heran Yan bisa berpikir seperti itu, sebab belum juga genap dua hari perjalanan mereka, Gin sudah terkena racun sebanyak dua kali.


Oh ya, pembaca perlu tahu kalau sehari sebelum lelang akbar. Yan menyempatkan diri untuk kembali ke rumah Widora untuk melihat kondisi Gin yang belum juga sadar walaupun racun yang ada dalam tubuhnya telah sirna sepenuhnya, sebelum meninggalkan kediaman Widora dia juga menjelaskan semua kejadian yang terjadi selama dia menghilang kepada Widora.


Yan juga membeli beberapa kitab pedang yang sudah usang dan beberapa kitab lainnya. Dia juga membeli tiga barang utama pada lelang tersebut.


Sebenarnya Yan tak begitu tertarik pada ilmu pedang karena dia tidak berbakat pada bidang tersebut, tetapi karena Yan mengingat Gin selalu membawa pedang, namun tak bisa menggunakan pedang akhirnya dia memutuskan untuk membeli kitab tersebut untuk Gin.

__ADS_1


Untuk mendapatkan barang utama dalam pelelangan Yan harus berebut dengan Pangeran ketiga yang telah dihajarnya dua belas hari yang lalu. Pangeran ketiga tersebut telah pulih total. Dia juga datang ke pelelangan didampingi oleh guru besar akademi kerajaan yang hampir membunuh Yan saat kejadian dua belas hari yang lalu.


Guru besar tersebut sempat tersontak kaget hampir mati penasaran karena melihat Yan sudah pulih total, dia benar-benar merasa sedang bermimpi setelah melihat kenyataan bahwa Yan seakan tidak pernah menerima serangan tapaknya yang sangat ditakuti di dunia persilatan.


“Satu Juta koin emas.” Teriak Pangeran ketuga dengan suara yang menahan amarah yang amat mendalam.


Dengan senyum yang sinis Yan berkata, “Satu juta lima ratus koin untuk busur tersebut.” Barang utama pada lelang tersebut adalah sebuah busur yang pernah dimiliki oleh pendekar hebat pada masanya.


Konon katamya busur tersebut dapat mengguncang peradaban pendekar kala masa kejayaan pendekar terhebat saat itu dan dengan busur tersebut juga sang pendekar menjadi tak terkalahkan.


“Kau!!! Rakyat jelata bagaimana bisa mendapatkan koin emas sebanyak itu, bukankah daritadi kamu sudah begitu banyak membeli begitu banyak barang berharga?” bentak Pangeran ketiga karena tak ingin busur tersebut dimiliki oleh Yan yang dimatanya adalah manusia rendahan yang tak bermartabat seperti dirinya.


Pada awalnya pangeran ketiga tak begitu menginginkan busur tersebut, karena dia tak memiliki minat pada bidang panahan.


“Apa rakyat jelata seperti saya tak boleh mempunyai koin emas yang banyak?” ucap Yan dengan wajah meledek. Melihat Yan mengatakan hal tersebut dengan wajah meledak membuat semua irang yang ada pada lelang tersebut menahan tawa.


Karena tak tahan dengan tingkah laku Yan terhadap pangeran ketiga akhirnya guru besar akademi kerajaan. Naik pintam, “Apa kau mencoba merendahkan pangeran ketiga kerajaan ini, hah?” Teriaknya dari ruang VIP yang tepat berada di hadapan dengan tempat Yan.


Yup, ruangan mereka saling berhadapan dan di tengahi oleh panggung lelang dan di depan panggung terdapat peserta biasa yang hanya di sediakan podium saja. Oh ya, ruang VIP ada enam semuanya di tempati orang-orang berkelas. Seluruh ruangan VIP berderet dan mengitari panggung lelang dan setiap ruang VIP terdapat jendela yang telah dilapisi energi transparan.


Energi tersebut berguna untuk melindungi para tamu perserta VIP dari serangan.


Seketika seluruh ruang lelang terasa bagai mencengkam dan tidak ada seorangpun yang berani menertawai pangeran ketiga bahkan untuk bernafaspun mereka kesulitan, karena saking takutnya pada guru besar akademi kerajaan. “Saya tidak pernah merendahkan Pangeran ketiga, saya hanya bertanya padanya, apa rakyat jelata seperti saya tak boleh mempunyai koin emas yang banyak?”

__ADS_1


Kemarahan guru besar akademi kerajaan semakin meledak-ledak akibat jawaban yang dia terima, tetapi sebelum dia bertindak lebih jauh seorang pria sepuh muncul, memasuki ruang VIP milik pangeran dan menepuk pundak guru besar tersebut. Beberapa detik kemudian pria sepuh itu kembali menghilang.


Tiba-tiba saja guru besar akademi kerajaan tersebut berlutut dan memohon maaf pada ruang kosong. Seketika seluruh ruangan yang tadinya mencekam menjadi lenggang. Hal ini membuat bingung seluruh peserta termasuk pangeran ketiga kecuali, Yan yang massih santai tidak perduli dengan apa yang telah terjadi.


“Dua juta koin emas,” tiba-tiba suara pangeran ketiga memecah kesunyian.


“Tiga juta.”


“Empat juta.” Dengan wajah yang merah padam.


“Sepuluh juta koin emas.” Teriak Yan dengan santai.


Karena dipenuhi dengan amarah pangeran ketiga berteriak, “ tiga puluh juta koin emas.” Tanpa menyadari bahwa koin emas yang dibawanya hanya lima belas juta koin emas dan dia telah membeli barang keempat pelelangan seharga lima juta koin emas, sebelum barang ketiga barang utama.


Mendengar angka tersebut Yan memutuskan untuk tidak jadi membeli busur tersebut walaupun busur tersebut pernah dimiliki pendekar hebat sekalipun pada masanya dia rasa. Itu terlalu mahal, yah walaupun dia tak mengeluarkan koin emas seperserpun untuk busir tersebut, karena Kartu VIP yaang dimilikinya.


Yan hanya tidak ingin menjadi orang yang tamak dan rakus akan segala hal karena itu hanya akan membawanya ke dalam jurang yang tak berujung dan mengakibatkan penyesalan yang berkepanjangan.


Karena Yan tidak lagi menambah harga busur tersebut dan seluruh hadirin lelang tak bersuara sama sekali.


Akhirnya pihak lelang dengan senyum yang amat lebar karena dia akan mendapatkan bonus yang amat besar karena dapat menjual busur tersebut yang semula pemilik lelang menargetkan penjualan busur hanya lima belas juta koin saja, sudah mendapatkan bonus yang amat menggiurkan, “Baik saudara-saudari tanpa basa-basi lagi, pihak lelang memutuskan bahwa busur tersebut telah terjual seharga tiga puluh juta koin emas pada pangeran ketiga.”


Begitu mendengar ucapan orang bertanggung jawab atas jalannya kelangsungan pelelangan serta menjadi penengah dalam lelang dan penentu harga, wajah pangeran ketiga menjadi pucat keseluruhan bagaikan mayat hidup tanpa darah setetespun, karena dia baru tersadar bahwa koin emasnya hanya tersisa sepuluh juta saja.

__ADS_1


Sementara jika dia mengajukan utang, tentu dengan jelas pihak lelang tidak akan menyetujuinya walaupun Pangeran ketiga sekalipun yang mengajukan utang tersebut, bahkan raja sekalipun takkan dapat melakukan utang, karena peraturan yang sudah berlaku.


__ADS_2