Black Shadow

Black Shadow
Kekacauan


__ADS_3

Wajah Yan pucat, tubuhnya sendiri gemetar. Menatap jerih pada seorang anak di hadapannya, sekaligus lawan yang telah dikalahkannya. Bukan, orang ini tidak sama dengan sebelumnya. Lebih tepatnya, dia sedang dikendalikan. Mungkin dari tadi, hanya saja orang yang mengendalikannya baru menampakkan diri.


 


Jelas Yan ketakutan. Orang di hadapannya bukan lagi peserta sebelumnya, bukan orang yang sama. “Kau tenang saja, ini bukan benar-benar diriku. Saya hanya mengambil kesadaran bocah ini, setidaknya untuk saat ini tidak muncul. Hanya untuk berbicara padamu, sekaligus merayakan kemenanganmu. Tapi, tidak lama lagi, saya akan ke tempat itu. Hahaha. Kau jangan sampai mati!”


 


Suara itu menghilang, akar yang mengekang peserta yang merupakan lawan Yan hancur berkeping-keping. Energi lawan Yan semakin besar, mungkin orang itu yang memberikannya. “Masih ada kesempatan untuk kabur, sebelum orang itu tiba di tempat ini.”


 


Yan merasa masih memiliki harapan, dia mengeluarkan energi es miliknya. Dia tidak bisa menahan diri lagi, secepat mungkin harus lari dari tempat tersebut. Sementara itu, di atas tribun sana sedang terjadi kekacauan.


 


Para penonton berlarian, menyelamatkan diri. Sementara orang-orang dari Klan Api sedang berburu. Mereka sedang memburu para penonton, membantai tanpa pandang bulu.


 


Para petinggi istana saling bertarung. Ada yang masih berpihak kepada Raja, ada yang membelot menjadi penghianat.


 


Kondisi yang ada di arena turnamen benar-benar kacau, tidak ada yang menyangka akan kejadian tersebut. Sementara itu, di sisi lain. Gin sedang latihan keras di halaman belakang istana. Bulan dan Putri Mutia sedang menyantap kue, tidak lupa ditemani oleh teh Kerajaan. Meski, tidak selezat teh dari kedai di depan gerbang.


 


“Oh ya, Guru. Kenapa Guru lebih cepat sadar dibandingkan kedua komandan pasukan lainnya.” Putri bertanya, namun hanya dibalas dengan bahu yang dinaikkan.


 


Raja menggerakkan lehernya ke kiri dan ke kanan, debu mengepul mengelilinginya. Dia masih berada di lantai tempatnya mendarat, lubang yang tercipta karena pendaratannya. Cukup dalam.


 


Raja mendongak mengatupkan rahang. Menatap ke bagian tribun VIP, dia sudah menduga sebelumnya. Jika orang itu adalah penghianatnya, tapi tidak pernah terlintas di pikirannya. Jika orang tersebut akan mengkudeta Kerajaan secepat ini.


 


Raja mengeluarkan energinya, tanah berguncang. Bebatuan arena naik ke atas, beterbangan di sekitarnya. Para penonton yang mencoba untuk lari, kesulitan karena getaran tersebut.


 


Yan yang masih dalam posisi berdiri, tubuh yang masih sedikit gemetar. Dengan energi es di tangan kanan, serta energi tumbuhan di tangan kiri. Bersiap untuk menyerang lawannya.


 


Dia memasang kuda-kuda, bersiap untuk segala kemungkinan. Ini semakin sulit, dia tahu itu. Terlebih lawannya sudah mendapat asupan energi yang sangat besar, Yan menelan ludahnya sendiri. Menghembuskan nafas halus.


 


Yan bergerak maju, namun sebelum tiba di tempat lawannya berdiri. Lawannya sudah menghilang dari hadapannya. Hal tersebut membuatnya berhenti, menyapu sekitar.


 

__ADS_1


Yan tidak menemukan orang yang dicari. Tiba-tiba Yan terhempas. Terkena sebuah pukulan, dia cepat membuat akar yang lembut untuk menahan tubuhnya. Tapi, belum juga tubuhnya mengenai akar tersebut, dia terhempas lagi. Terkena pukulan yang keras.


 


Yan mengadu, menahan sakit. Dia sekuat tenaga menyeimbangkan tubuhnya, tidak mau mati konyol di tempat tersebut. Berdiri tegap, membasuh keringat.


 


Yan bergerak cepat, lebih cepat dari sebelumnya. Mengerahkan pukulan yang dilapisi energi es miliknya, dia tersenyum saat lawannya menangkis serangannya.


 


Tangan lawannya membeku, tidak bisa digerakkan. Yan mengerahkan akar yang melilit lawannya, membuat tubuh lawannya terbanting ke kiri dan kanan. Lantai arena pecah, karenanya.


 


Di atas tribun pertarungan semakin, sengit. Lantai tribun mulai hancur, tidak berbentuk. Begitu juga dengan dindingnya.


 


Muncul sekelompok musuh yang memakai jubah hitam, membantai para penonton. Mereka satu komplotan dengan Klan Api.


 


Es yang membekukan tangan lawan Yan. Tidak lama. Hancur begitu saja, begitu juga dengan akar yang melilitnya. Begitu mudah lepas dari jeratan yang dibuat oleh Yan.


 


Yan muncul di hadapan lawannya, mengarahkan tapak yang dilapisi oleh energi es. Akan tetapi, lawannya bergeser ke samping, mengerahkan pukulan yang sangat keras.


 


 


Yan mundur tiga langkah ke belakang, mencari titik lemah lawan. Dia tidak bisa menunda waktu lebih lama lagi, tidak mau berurusan dengan orang itu.


 


Menunduk, menukik, bergeser ke samping. Yan menghindari serangan yang datang. Menganalisa dengan baik, dia mengerahkan pukulan pada perut lawan. Hal tersebut membuatnya terpental jauh, menciptakan akar dari energinya.


 


Akar yang diciptakan Yan, menghantam lawannya. Hal tersebut membuat lawannya terhempas kembali. Melihat itu, dia bersiap menyambut lawannya, mengerahkan pukulan keras. Tepat mengenai dagu lawan, membuatnya terhempas ke atas.


 


Tidak ada ampun untuknya, begitu tubuh lawan jatuh ke lantai turnamen. Yan menghampirinya, menghantamkan pukulan yang dilapisi oleh energi es miliknya. Alhasil, karena hal tersebut, tercipta lubang kecil. Tepat di bawah tubuh lawannya.


 


Sebagian lubang kecil tersebut membeku. Yan berjalan, ingin keluar arena. Dia harus bergegas, tapi lawannya bangkit kembali. Kali ini dengan energi yang lebih besar, Yan berbalik.


 


Tepat saat berbalik, dia menerima pukulan bertubi-tubi. Tidak bisa menangkisnya, dia berteriak tertahan. Terhempas begitu jauh. Begitu dia berdiri, Yan disambut dengan pisau kecil di hadapannya.

__ADS_1


 


Hal tersebut membuatnya membulatkan mata, menunduk cepat. Dia berlari ke arah lawannya, menghantamkan serangan tapak yang dilapisi oleh energi es. Namun dapat dihindari dengan mudah, tidak sampai di situ. Dia mengerahkan tendangan memutar, ditangkis.


 


Yan bergeser ke samping mengerahkan sebuah pukulan keras. Keduanya saling membalas, Yan terhempas jauh. Tiba-tiba udara sekitar menjadi dingin, dia mengerahkan energi yang cukup besar.


 


Dia bergerak cepat, memukul lawannya. Namun dengan cepat, lawannya menghindar. Mengerahkan sebuah tendangan keras, hal tersebut membuat Yan tengkurap di atas lantai arena. Tendangan lawannya begitu kuat.


 


Yan terseret, dilempar ke udara. Begitu tubuhnya terjatuh ke bawah, tepat di depan lawannya. Yan terhempas memegangi perut, akibat pukulan keras dari lawan.


 


Yan menyeimbangkan tubuhnya, berdiri tegak. Lawannya muncul di hadapannya dengan pisau kecil di tangan. Yan mengerahkan sebuah pukulan, namun disambut dengan sabetan pisau kecil.


 


Tangan lawan Yan begitu cepat, terdapat banyak sayatan di lengannya. Begitu juga di dadanya. Yan berseru tertahan, menangkap tangan lawannya. Tidak melepasnya, dia mengerahkan pada dada lawan.


 


Pukulan Yan membuat lawannya perlahan membeku. Tidak bergerak sedikitpun, namun tidak bertahan lama. Dengan mudahnya, lawan Yan menghancurkan es yang mengekangnya.


 


Yan beberapa kali merasakan arena turnamen bergetar kencang, terdapat energi besar dirasakannya. Dia tidak sempat menoleh, sedang fokus pada pertarungannya sendiri.


 


Lawan Yan mengeratkan pegangan pada pisau kecilnya, bergerak maju. Dia menyerang Yan, secara beruntun. Dia mengincar mata Yan, namun dengan cepat dihindari. Hanya meninggalkan goresan di pipi Yan.


 


Yan menghapus darah di pipinya, menghembuskan nafas halus. Dia mengerahkan tendangan memutar pada lawannya, belum mengenai lawan. Dia mendapatkan firasat buruk, karena hal tersebut dengan cepat menarik kakinya sendiri.


 


Benar saja, lawannya sudah berada di belakangnya. Sedikit lagi menyembelih leher Yan, untungnya masih sempat menghindar. Dia sedikit menjauh, bernafas lega. Bersyukur masih selamat.


 


Energi pekat dari lawannya semakin membesar, Yan menelan ludah sendiri. “Hei, sampai sejauh mana energinya akan terus bertambah? Jika seperti ini terus, jangankan untuk lari sebelum orang itu datang. Untuk melawan orang ini saja, saya harus memikirkan cara untuk bertahan hidup.”


 


Menghembuskan nafas, dia mengerahkan kemampuannya. Memegang lantai arena, seketika arena membeku. Yan tiba-tiba terhempas, ke sana-kemari. Tidak dibiarkan untuk bernafas. Jangankan menghindar, untuk menangkis serangan lawannya saja. Dia harus berpikir dua kali, pukulan lawannya begitu kuat. Hanya dengan menangkisnya saja, sudah membuat tangan Yan gemetar.


 


Tiba-tiba es yang diciptakan Yan mencair, lawan Yan yang sedang menyudutkannya terhempas. Terkena pukulan seseorang, Raddas tiba-tiba muncul. Dia sudah berlumuran darah.

__ADS_1


__ADS_2