
Bulan bergerak melewati barisan prajurit, petarung dan murid senior berbagai perguruan. Cepat sekali gerakannya sampai tidak ada yang menyadari, bahwa ada seseorang yang sedang menerobos diantara mereka.
Bulan mengeluarkan dua buah belati, senjata yang sering digunakan saat pertarungan. Saat tiba di depan Cebures, Bulan melompat dan menyabetkan kedua belati ke bola mata Cebures. “Sial gerakan monster itu cepat sekali.”
Kemunculan Bulan yang secara tiba-tiba di hadapan barisan yang mengelilingi Cebures, membuat semua yang berada disitu tersontak kaget. Juga muncul secercah harapan, ada orang kuat yang membantu mereka.
Seluruh orang yang berada disitu bersorak-sorai penuh kegembiraan, lain halnya para prajurit yang mengenali Bulan. Mereka dengan cepat membela kerumunan dan memberi hormat padanya. “Izin bertanya, mengapa hanya komandan yang datang membantu?”
Bulan tak memerdulikan pertanyaan prajurit tersebut, karena fokusnya saat ini hanya tertuju pada Cebures di hadapannya. Monster raksasa itu, melangkah pergi sepertinya sudah kehilaangan selera bertarung.
Setiap langkah Cebures menghasilkan getaran yang cukup kuat, monster tersebut melangkah ke pusat kota dengan menghancurkan banyak bangunan dengan menginjaknya.
Bulan yang merasa terabaikan dengan cepat bergerak ke arah Cebures. Sementara itu, para petarung dan murid dari berbagai perguruan hanya bisa termangu beberapa saat.
“Apa dia benar-benar komandan termuda itu? Tidak kusangka semua gosip yang menyebar luas tentangnya bukan hanya omong kosong belaka, selain dia yang paling berbakat pada generasinya. Dia juga memiliki kecantikan paripurna.”
“Selama hidupku, baru kali ini melihat gadis secantik dan berbakat sepertinya.”
“Paket sempurna, mungkin itu kata yang tepat untuk komandan muda itu.”
Sementara itu, Bulan menghadang langkah Cebures dengan menyayat kakinya. Namun belati yang dimiliki Bulan tak mampu melukai monster tersebut, tindakan Bulan hanya menghentikan Cebures beberapa detik. Kemudian monster tersebut berjalan kembali tak berniat meladeni Bulan.
Hal tersebut membuatnya mengatupkan rahang kesal, dia bergerak lebih cepat mendahului monster tersebut meskipun tanah tempatnya berpijak sesekali bergetar, tapi dia mampu bergerak dengan lincah.
__ADS_1
“Kali ini akan kuhentikan kau! Eh, tunggu dulu. Sejak kapan monster ini terluka parah seperti itu?” Bulan kebingungan melihat luka yang berbentuk silang, serta darah segar berwarna biru masih terlihat di sana. Hal ini menandakan monster tersebut belum lama ini mendapat luka itu.
Akan tetapi, selama dia mengamati pertarungan aliansi prajurit, petarung dan murid dari berbagai perguruan melawan Cebures. Tidak ada satu pun diantara mereka yang mampu menorehkan sedikitpun luka pada Cebures.
“Mengapa saya harus memikirkan asal luka yang dialami monster ini. Yang jelas saya punya kesempata mengalahkannya seorang diri.” Bulan mengaktifkan energi racunnya.
Dia melapisi kedua belati di tangan dengan energinya, dia melenting saat pukulan Cebures hampir mengenainya. Alhasil pukulan Cebures hanya mengenai tanah kosong dan meninmbulkan getaran, Bulan melihat celah yang diberikan monster tersebut tak menyia-nyiakan kesempatan.
Dia melompat dan menyabet luka monster tersebut dengan kedua belati yang dimilikinya, monster tersebut berteriak kencang. Menghantam ke segala arah, toko-toko yang masih berdiri kokoh hancur seketika.
Bulan mendarat dengan semourna. Tapi, bukannya senang serangannya berefek malah meringis melihat Cebures yang makin menjadi.
Sudah hampir setengah kota hancur, karena ulah monster itu. “Kau tidak akan mengalahkan monster sialan itu, hanya dengan serangan kecilmu.” Itam yang tiba-tiba muncul di samping Bulan memberi pendapat.
“Lagipula, menurut informasi yang kudapat, monster itu adalah Cebures, dia adalah monster yang mampu menahan imbang Penguasa Selatan dahulu kala. Jadi, tidak heran monster tersebut sulit ditaklukkan. Yah, meskipun kekuatannya mungkin sudah berkurang drastis.” Kali ini Karibo yang muncul dan memberikan informasi yang baru saja didapatkannya dari salah satu prajurit.
Bulan menghembuskan nafas gusar, dia tidak menyangka akan menghadapi monster masa lalu yang merepotkan. “Lalu, apa rencana kalian?”
“Mudah saja, kalahkan monster itu,” ucap Karibo dan Itam secara bersamaan. Ada nada kesal yang terdengar, jelas saja tadi Karibo sudah memaparkan rencananya yang matang. Tapi, Bulan malah bertanya tentang rencana. Apa dia masih waras?
Bulan hanya mengangkat kedua bahunya dan berlari cepat yang disusul kedua rekannya sesama komandan. Meski Bulan yang paling muda, dia tetap dihargai. Hei, selama kau memiliki kekuatan, maka kau akan dihargai, tapi berbanding terbalik jika kau tidak memiliki kekuatan maka tidak ada yang akan melirikmu sama sekali.
Ketiganya berada dimasing sisi Cebures. Yup, mereka berhasil mengepung monster tersebut. Bulan yang berada di depan, Karibo di sisi kanan, sedangkan Itam di sisi kiri.
__ADS_1
Bulan melompat tinggi, menyerang bagian dada Cebures. Namun dengan santai dihindari, Karibo menyerang bagian kepala, juga dihindari dengan mudah. Itam menciptakan cakram yang sangat tajam dari energinya yang diarahkan untuk membelah tubuh Cebures menjadi dua bagian.
Namun harapannya tentu hanya mimpi belaka, karena monster tersebut dengan mudah dapat menghindari cakram tersebut. Mereka bertiga mengatupkan rahang dan menyadari sesuatu.
“Perasaan monster ini saat melawan orang-orang tadi, gerakannya tidak secepat ini.”
“Kau benar, Bulan. Sepertinya, monster ini dapat menyesuaikan diri dengan lawan yang dihadapinya dan secara tidak langsung dia juga meremehkan lawan-lawannya.” Jelas Itam.
“Jangan bilang, kalau kita juga diremehkan oleh monster ini.” Bulan benar-benar geram saat ini. Apalagi energi racunnya tak berdampak besar bagi Cebures.
Kali ini, Karibo memutuskan untuk buka suara, “saya berani bertaruh monster sialan ini sedang meremehkan kita."
Perkataan Karibo memicu amarah Bulan. Tiba-tiba suhu udara disekitar mereka turun drastis, suasana mencengkam muncul diantara mereka. Bulan mengeluarkan tenaga dalam yang dasyat membuat Karibo dan Itam menelan ludah masing-masing.
“Hei, Itam. Apa kita sudah salah bicara, yah? Atau Bulan sedang datang bulan?” tanya Karibo yang hanya bisa menggaruk tengkuknya.
Sementara itu, Itam tak mengeluarkan suara sedikitpun.
“Takkan kubiarkan kau lolos begitu saja monster sialan. Saya akan mengirimmu ke tempat yang seharusnya.” Bulan berteriak lantang.
Dia melempar kedua belatinya, kemudian dia bergerak cepat dan melayangkan sebuah pukulan keras ke wajah Cebures bersamaan dengan belati yang tepat menancap pada luka silang monster tersebut.
Cebures yang terkena pukulan keras jatuh terlentang yang menimbulkan suara berdentum keras, serta diikuti getaran tanah yang cukup kuat.
__ADS_1
Melihat kejadian yang baru saja terjadi, Itam dan Karibo mengucurkan keringat dingin. Mereka yang berada didua sisi berbeda kini saling menatap. Dari tatapan mereka, mereka seakan saling mengisyaratkan, “sebaiknya jangan mencari masalah dengan Bulan, jika tidak ingin bernasib sama dengan monster itu.”
Keduanya bergidik ngeri melihat tatapan Bulan yang mengarah pada mereka. Cepat-cepat keduanya berpaling dan menatap Cebures yang terbaring di atas tanah.