
Raja terbaring tidak sadarkan diri di atas tanah. Luka bakar memenuhi tubuhnya, dia Raja betulan. Bukan ilusi. Raja terhempas dari udara dalam keadaan mengenaskan.
Barbara hanya mendapat beberapa luka dari ledakan tersebut. Dia baik-baik saja, sangat berbanding terbalik dengan Raja.
Dia menciptakan bola api kecil dari energinya, terdapat lima belas bola api. Mengerahkannya ke arah Raja. Tawanya menggema ke seluruh penjuru hutan. Namun tiba-tiba muncul dua remaja yang tidak diundang, menangkis serangan Barbara untuk Raja.
“Jujur saja, saya sudah sangat lelah. Tapi menurut Yan, kami harus melindungi Raja dan membunuh penghianat sepertimu!” Gin menunjuk Barbara, sembari menenteng pedang di punggungnya. Sementara Yan hanya bisa menghela nafas halus.
“Kau tidak perlu bergaya tengil, seperti itu Gin. Bisa-bisa kau malu sendiri, jika sampai kalah melawan orang itu. Kau tahu, dia itu sangat kuat. Lihatlah, Raja sampai terkapar tidak berdaya, setelah melawannya. Sebelumnya, kau sudah merasakan sendiri kekuatannya, bukan?” Yan mengingatkan Gin. Dia tidak ingin mereka kalah dengan rasa malu.
“Kau terlalu banyak bicara, Yan. Tutup mulut kotormu itu.” Gin tidak terima dengan perkataan Yan. Dia merasa dongkol dinasehati, seperti itu.
“Hei, bukankah kau yang mulai semua omong kosong ini?” Yan membuang muka, jengkel dengan Gin yang seenaknya saja.
Barbara yang sedang berada di udara merasa kesal, dia tidak terima diabaikan oleh kedua bocah yang baru lahir kemarin sore. Dia bergerak cepat, menghajar Gin dan Yan. Keduanya terhempas menabrak pepohonan, menumbangkannya. Tidak hanya sampai di situ, dia menyusul keduanya. Menghajarnya secara habis-habisan.
Yan mengumpat dalam hati, menyalahkan Gin atas semua yang menimpa mereka. Dia merasa dongkol padanya, “Dia selalu mengacaukan segalanya, bertindak seenaknya saja.”
Mereka menjadi sasaran amuk Barbara, dijadikan sam-sak hidup. Terkena pukulan bertubi-tubi. Keduanya terhempas di sebuah pohon besar, Yan menghapus dara di mulutnya. “Semua ini karena ulahmu, Gin. Coba kau tidak banyak bicara tadi.”
“Heh, kenapa kau jadi menyalahkanku?” Gin tidak terima disalahkan oleh Yan. Menurutnya Yan juga salah dalam hal ini, tidak hanya dirinya. Keduanya berdebat, mengabaikan Barbara sekali lagi.
Barbara yang lagi-lagi diabaikan merasa kesal, dia bergerak cepat. Muncul diantara keduanya, Gin tersenyum lebar. Dia menebas Barbara dengan cepat, sementara Yan melepaskan pukulan yang dilapisi oleh energi tumbuhannya.
Barbara terbahak, dia tidak menyangka akan masuk ke dalam jebakan keduanya. Tubuhnya tersayat, dia sengaja membiarkan Gin menebasnya. Dia juga tidak melapisi tubuhnya dengan energi, agar terlindungi dari tebasan Gin
.
Darah mengenai jubah Gin, Barbara terhempas terkena pukulan Yan. Tubuhnya berputar-putar, bukannya marah. Barbara semakin terbahak. Dia menganggap pertarungan tersebut adalah sebuah permainan tidak lebih, meski dia masih menyimpan dendam pada Gin.
Akan tetapi, menurutnya masalah dendam mudah saja diselesaikannya. Terlebih, dia semakin kuat saat ini. Dia tidak perlu langsung membunuh kedua remaja tersebut. Hanya ingin sedikit bermain terlebih dahulu, tragis memang disaat menganggap diri sendiri kuat. Akan tetapi, di hadapan orang lain kekuatan yang dimiliki sangat lemah.
__ADS_1
Itulah yang menggambarkan kondisi Gin dan Yan saat ini, mereka terlalu memaksakan diri untuk menghadapi Barbara. Padahal mereka bisa saja, dibunuh dengan mudah oleh Barbara.
Gin mengeratkan pegangan pada pedangnya, sementara Yan memekik menahan emosi. Dia tahu Barbara sedang mempermainkan mereka.
Yan menciptakan akar dari energi tumbuhan yang melilit tubuh Barbara. Dia ingin membatasi ruang gerak Barbara, hanya saja semua itu sia-sia. Barbara dengan mudah membakar akar tersebut, tanpa perlu usaha yang berarti.
Gin bergerak maju, menyerang Barbara. Dia menebas Barbara, namun dapat dihindari. Terus menebasnya tanpa henti, hal tersebut membuat Barbara semakin terbahak. Dia menghindari semua serangan Gin. Mulai bosan menghindar, dia memukul Gin menggunakan energinya.
Hal tersebut membuat Gin terhempas, menabrak Yan sedang mencari kelemahan Barbara. Keduanya terbaring di tanah dengan Gin yang berada di atas Yan. “Sepertinya, saya mendarat di tempat yang empuk.”
Yan mengadu kesakitan, “Gin cepat berdiri, badanmu terlalu berat.”
“Pantas saja empuk, ternyata Yan ada di belakangku.” Gin menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, dia menatap tajam pada Barbara.
Barbara memandang remeh Gin dan Yan. Dia tidak menaruh waspada kepada keduanya, menganggap mereka hanya dua remaja yang mencoba sok jago membela Kerajaan Selatan. Padahal mempertahankan nyawa ‘pun sulit.
Tidak sempat menghindar, Barbara terhempas cukup jauh. Memuntahkan sedikit darah. Geram pada Yan, dia bergerak cepat. Muncul di depan Yan, mengerahkan bola api yang sangat kecil.
Yan terhempas terkena bola api yang begitu mungil tersebut. Gin tidak sempat mengkhawatirkan kondisi Yan, dia sedang menghadapi hal yang sama.
Barbara muncul di sampingnya, setelah menghempaskan Yan. Dia sedang beradu serangan dengan Barbara. Gin berulang kali mengayunkan pedang, berulang kali juga dapat ditangkis dan dihindari.
Gin menukik untuk menghindari libasan pukulan yang sangat kuat dari Barbara. Tidak hanya tinggal diam, dia mengayunkan pedangnya pada kaki Barbara. Namun mudah saja, bagi Barbara untuk menghindari serangan tersebut. Dia melompat kecil.
Gin melakukan serangan beruntun, seperti itu. Dia mengincar kaki Barbara, namun musuh yang terlalu cepat. Hal tersebut membuat serangan Gin mengenai udara kosong.
Mendongak ke atas, Gin melompat mengayunkan pedangnya. Namun serangannya dapat ditangkis dengan muda. Barbara melepaskan bola api. Hal tersebut membuat Gin terpental jauh.
__ADS_1
Yan muncul mengerahkan pukulan keras pada Barbara, dia tidak terpental. Kakinya sudah terjerat akar yang begitu besar. Meremas kakinya. Hal tersebut membuatnya meringis kesakitan.
Yan mengeluarkan busurnya, menarik anak panah yang terbuat dari energi es miliknya. Sebelum itu, tubuh Barbara dibuat terpontang-panting oleh akar yang dibuatnya. Dari dalam tanah muncul dua akar lagi, menahan kedua tangan Barbara. Menjaga ruang geraknya.
Yan membidik dengan cepat. Melepaskan anak panah tersebut. Barbara terbelalak, tanah yang dilewati anak panah tersebut berubah menjadi es. Membeku.
Dengan cepat, Barbara melepaskan energi api birunya. Membakar akar dengan cepat. Dia berhasil lolos dari maut. “Anak ini tidak boleh diremehkan, dia memiliki kemampuan.”
Gin muncul tiba-tiba, tidak memberi waktu jeda untuk Barbara. Dia mengayunkan pedangnya, menebas lawan dengan secara acak.
Hal tersebut membuat Barbara tersenyum semringah, dia bisa beristirahat dengan baik. Sembari menghindari serangan Gin. Rencananya berjalan lancar, rasa lelahnya berangsur-angsur menghilang.
Yan bersisian dengan Gin dalam menyerang Barbara. Mereka menyerang dengan sekuat tenaga, tapi mereka harus menerima kenyataan. Jika bukan lawan Barbara, dia terlalu kuat untuk Gin dan Yan.
Gin berkelit dengan cepat, menghindari serangan balik yang dilancarkan oleh Barbara. Yan tersenyum melesatkan pukulan yang telah dilapisi oleh energi tumbuhan miliknya.
Barbara yang belum siap, dia terhempas oleh serangan Yan. “Boleh juga kau, Bocah. Hanya saja, kau masih terlalu lemah. Kau bertarung dengan otakmu, tidak seperti temanmu bodoh itu. Hanya maju bertarung, tanpa adanya persiapan sama sekali.”
“Kau tak punya hak untuk berbicara, Penghianat!” Yan meneriaki Barbara, dia bergerak maju untuk menyerang Barbara. Seluruh wilayah sekitar membeku, Gin ikut maju.
Yan mengerahkan serangan beruntun, namun dapat dihindari oleh Barbara. Melihat celah yang begitu lebar, Barbara mengerahkan pukulan yang dilapisi oleh energi api biru. Hal tersebut membuat Yan terpental, menabrak Gin yang sedang bergerak maju.
Keduanya terpental cukup jauh. Gin geram, dia mengeluarkan energi yang cukup besar. Yan yang merasakan hal aneh, berdiri dengan cepat. Menoleh ke arah sumber energi yang dirasakannya, dia membulatkan matanya. Tidak merasa nyaman terhadap energi yang meluap-luap dari tubuh Gin.
Barbara melepaskan banyak bola api yang menuju keduanya. Cepat sekali, gerakan Gin menangkis semua bola api yang menghampirinya. Gerakannya cukup cekatan. Sementara itu, Yan menghindari semua bola api tersebut.
Barbara muncul di depan Gin mengerahkan pukulan yang keras. Hal tersebut membuat Gin terpental menabrak pohon. Muncul lagi di depan Yan, hal tersebut membuat Yan terpental jauh.
__ADS_1
Barbara melesatkan banyak bola api kecil ke arah keduanya, menggunakan kedua tangannya. Sebuah rentetan ledakan saling beriringan. Dia mengeluarkan bola api yang lebih besar lagi. Tidak hanya satu, tapi dua buah. Masing-masing untuk Gin dan Yan. Ledakan yang lebih besar muncul, menghiasi hutan dekat Ibukota.