
Anggota khusus yang sempat memerhatikan pergerakan Drak dan Rog sebelumnya, kini berteriak lantang. “Para prajurit yang baru saja datang merupakan anak buah Barbara. Prajurit yang dikomandoi di bawah Barbara, jadi kalian tidak perlu ragu untuk menghabisi mereka.”
Para prajurit yang mendengar hal tersebut, balik menyerang. Mereka yang tadinya hanya bisa menahan diri, menangkis serangan prajurit yang baru datang. Kini menyerangnya tanpa ampun, membunuh para penghianat tersebut.
Rog mengayunkan kepaknya dengan cepat, merobek perut musuh hingga kelihatan ususnya. Darah segar mengalir ke tanah. Tidak sampai di situ, Rog menghantamkan bagian tumpul kapak miliknya pada kepala musuh.
Keduanya terus bertarung untuk menghabisi musuh, sekaligus mempertahankan hidup. Para prajurit terus melawan musuh dengan baik, pertempuran tersebut berjalan sengit.
Drak menunduk untuk menghindari serangan musuh, Rog muncul sembari mengayunkan kapaknya. Tepat mengenai dada lawan, tidak hanya sampai di situ saja. Dia bergerak cepat, meliuk-liukkan tubuhnya. Menebas musuh dengan baik.
Drak menghembuskan nafas kasar, melompat sembari mengayunkan bola berdurinya pada musuh. Namun dapat dihindari, gerakannya sangat cekatan. Dia menyabetkan senjata miliknya ke kiri dan kanan. Menangkis serangan yang datang. Teng! Teng! Teng! Teng!
Rog maju untuk menyerang musuh, dia menumbangkan semua musuh yang baru saja menyerang Drak menggunakan senjata.
Keduanya bergerak ke sana-kemari dengan sangat baik, membuat banyak musuh terbaring tidak sadarkan diri. Terkapar begitu saja di atas tanah, meski harus beberapa diantara mereka harus muntah darah. Tubuh mereka menerima luka besar, setelah terkena serangan Drak. Begitu juga terkena serangan Rog.
Bahu Drak terkena sayatan pedang, dia menggelinding. Meringis. Memegang bahunya, menatap musuh yang telah melukainya. Sementara Rog sedang bertarung dengan musuh. Bergerak ke sana-kemari menyerang musuh, juga melindungi prajurit yang hampir tertebas.
Mereka bertarung dengan puas, tidak ada yang dapat menghentikan keduanya. Musuh benar-benar keteteran, meski mereka menang jumlah. Satu-persatu anggota mereka tumbang ke tanah, tak bernyawa. Paling ringan terluka berat.
Keduanya menggila! Tidak tertahankan, begitu juga dengan para prajurit. Semangat mereka terbakar, melihat posisi yang sudah di atas angin. Musuh tidak dapat berbuat banyak sama sekali. Terbantai, tidak berkutik. Bahkan mulai muncul keraguan dalam diri mereka, satu-dua merasa ketakutan.
Kesenangan mereka tidak berselang lama, tiba-tiba muncul sekelompok orang dari Klan Api. Mereka dipimpin oleh seorang anak perempuan yang masih kecil mengenakan baju yang berbeda dari anggota Klan yang lain, jangan lihat dari tubuhnya yang kecil. Dia sudah berumur empat puluh lebih. Salah satu tetua di Klan Api.
__ADS_1
Semua orang yang sedang bertarung berhenti, melihat kedatangan sekelompok orang tersebut. Semua musuh yang berada di sekitar membukukkan tubuh, bermaksud untuk memberi hormat pada perempuan tersebut.
“Hehe, maaf mengganggu kesenangan kalian, tapi harus kutegaskan. Kalian ingin menyerah, sekaligus mendukung pemimpin Klan kami menjadi Raja? Atau mati secara mengenaskan di tempat ini!” Perempuan tersebut memberi ancaman, ultimatum kepada para prajurit Kerajaan.
Drak dan Rog yang mendengar hal tersebut menggeram kuat, mengatupkan rahang. Mereka berdua adalah tipe yang tidak suka diancam. Sekali lagi, mereka memiliki kecocokan satu sama lain.
Drak menghembuskan nafas kasar, memegang pundak Rog. “Sebaiknya, kita mundur untuk sementara waktu. Beri tanda pada para prajurit itu untuk mundur. Kita tidak bisa terus bertahan, seperti ini. Jika kita memaksa untuk melawan, kita tidak mempunyai kesempatan menang sama sekali. Hanya mengantarkan nyawa.”
Rog berpikir sebentar, mengangguk mantap. “Semuanya mundur, kita tidak akan menang dalam pertempuran ini, setidaknya belum bisa menang. Undur waktu sebaik mungkin, agar bantuan berikutnya datang menyelamatkan kita.”
Bukan Rog mengatakannya, suara itu datang dari salah satu anggota khusus. Mantan pengawal Anwai. Dia berpikir jernih, persis dengan Drak. Pengalaman yang telah dilaluinya selama ini membuatnya untuk memutuskan mundur, meski mereka sedang berada di atas angin.
Pertempuran kembali pecah, tapi kali ini Drak dan yang lain fokus untuk menyelamatkan diri. Lari dari kepungan musuh. Mereka membelah kepungan, tapi terus ada yang datang melapisi.
Punggung Rog terkena sabetan, dia melengkungkan tubuh ke depan. Matanya memerah, karena rasa sakit. Menjerit tertahan. Dia berbarik sambil mengayunkan kapak miliknya. Serangannya hanya menggores wajah musuh, Rog kehilangan kendali atas dirinya. Dka mengatupkan rahang, menyerang prajurit Barbara yang telah melukainya.
Rog tidak peduli dengan musuh yang begitu banyak mengerumuninya. Hilang sudah sifat usilnya, hilang sudah sifat konyolnya saat sedang bertarung. Dia sudah seperti orang yang berbeda, saat sedang bertarung serius. Memang, selama pertempuran hidup-mati ini. Dia serius dalam bertarung.
Drak yang melihat Rog, seperti itu. Dia membela kerumunan dengan bola berduri miliknya, mementalkan musuh dengan sekali ayun. Bercak darah ke mana-mana. Jatuh ke tanah. Memenuhi sekitar, bau busuk ‘pun sudah diabaikan oleh orang-orang tersebut. Mulai terbiasa. Mereka lebih fokus untuk mempertahankan nyawa.
Drak terus mengayunkan senjata miliknya, mengikis jarak. Berniat untuk menyelamatkan Rog, tidak peduli dengan musuh yang banyak. Toh, hanya beberapa sabetan luka yang diterimanya.
__ADS_1
Mereka lagi-lagi melakukan kerja sama yang sangat baik. Disaat Rog menyerang, maka Drak akan melindungi dari belakang. Begitu sebaliknya.
Mereka bertarung saling bersisian, saling melengkapi satu sama lain. Sesekali bergerak secara simultan, tak ada yang bisa menghentikan keduanya. Coba saja, musuh menghentikan mereka. Pasti dibuat terkapar, meringsis kesakitan, atau terkena tebasan kapak. Mendapat luka robek.
Keduanya terus bergerak menghancurkan kepungan musuh, pertempuran tersebut lebih mirip ke penganiayaan daripada pertarungan. Drak mengayunkan bola berdurinya, menangkap pedang lawan dengan rantai penghubung bola berduri. Menariknya, memukul wajah musuh dengan keras. Hal tersebut membuatnya terpental jauh.
Drak bertarung dengan gesit, gerakannya sangat cepat. Bergeser ke kiri dan kanan, melayangkan bola berduri. Darah musuh berceceran di tanah. Melompat sembari mengayunkan bola berduri miliknya. Cukup satu gerakan, maka musuh akan terhempas.
Rog menebas lawan, menangkis serangan yang datang dari samping kanan. Sedikit kerepotan, Drak bergerak seenaknya kali ini. Tidak peduli, Rog sedang dalam kesulitan. Rog melakukan tendangan memutar, menggeram serangannya hanya mengenai udara kosong.
Rog bergerak gesit membelah kerumunan, kapaknya terus terayun untuk melumpuhkan musuh. Berusaha untuk menyusul Drak. Rog tersontak kaget, hampir saja terkena sabetan pedang. Jika saja, dia tidak tepat waktu menghindar. Tidak mudah memang.
Drak tahu betul, Rog sedang mencoba menyusulnya. Dia jahil pada teman barunya tersebut, bergerak ke sana-kemari. Menghindarinya dengan sengaja. Jika, Rog ke kiri, maka dia ke kanan. Jika ke kanan, maka dia akan ke kiri.
Berkat kejahilannya, tanpa sadar telah membuat tepar banyak musuh. Kebanyakan dari mereka sedang mengerang kesakitan, meringis.
“Kau sengaja, ya? Bergerak ke sana-kemari untuk menghindariku. Kau tahu, saya sampai menerima banyak luka sayatan, karena ulahmu. Meringis kesakitan, terkena pukulan di sana-sini.” Rog mencak-mencak, tidak terima dengan perlakuan Drak padanya.
Mereka terlalu sibuk berbicara satu sama lain. Tidak sadar, jika musuh masih lumayan banyak. Satu-satunya penyebab mereka tidak diserang, adalah karena para prajurit menahan musuh. Mereka menghadapi musuh yang mengincar keduanya.
Pertempuran tersebut memakan banyak korban jiwa, pihak musuh berjatuhan ke tanah. Tak bernyawa. Begitu pula pada pihak Drak dan yang lain.
__ADS_1
Lengan Drak teriris, darah mengalir ke pergelangan tangannya. Terkena cambuk yang begitu cepat. Terbalalak, serangan kedua datang begitu cepat. Dia terhempas begitu jauh, karenanya. Tidak lama Rog juga ikut terhempas. Batuk darah dia.