Black Shadow

Black Shadow
Gelang Gravitasi


__ADS_3

Gin bangun pagi-pagi sekali, lebih tepatnya dibangun oleh Putri. Diguyur dengan air, kedinginan setengah mati. Dia menggigil. Sementara Putri, dia terbahak melihat Gin seperti itu. Penderitaan Gin merupakan kesenangan bagi Putri.


 


Gin sempat mencak-mencak, dipikir yang menyiramnya adalah Yan. Lupa sedang berada di istana. Gin diperlakukan seperti bunga yang harus disiram di pagi hari, agar tetap segar.


 


Dia ingin marah besar, tapi mengingat kekejaman Putri. Saat mereka awal bertemu, Gin mengurungkan niat. Dia lebih baik memendam rasa kesal, dibanding harus menjadi sasaran latihan Putri yang tidak berperikemanusiaan itu.


 


“Kau bersiaplah, kita akan menemui guruku. Ganti pakaianmu. Sejak pertama kali kita bertemu, kau belum pernah berganti pakaian. Saya sudah menyiapkan pakaian di dalam lemari, kau bisa memakainya. Kutunggu di luar. Jangan lama!” Gin mengangguk mantap.


 


Sebenarnya, dia tidak rela harus mengganti pakaiannya. Akan tetapi, dia menurut saja. Bisa panjang urusannya, kalau dia membangkang ucapan Putri. Tidak mudah memang, harus berurusan dengan Putri itu. Suka semaunya, egois dan tidak berperikemanusiaan.


 


Gin keluar dengan pakaian serba abu-abu, ketat. Pakaian yang cocok untuk bertarung, elastis, nyaman, bahan yang lembut dan bebas bergerak dengan mudah.


 


“Ikuti saya, kita akan bertemu beberapa orang. Salah satunya adalah guruku.” Putri tersenyum lebar pada Gin. Suasana hati Putri sedang baik.


 


Berjalan riang ke depan, sesekali menoleh ke belakang. Menarik tangan Gin, agar berjalan lebih cepat. “Cepatlah, lambat sekali. Dasar pemalas, hari masih pagi.”


 


Gin tersenyum paksa, dia tidak berniat untuk berjalan lebih cepat. Kepalanya terasa berat. Akan tetapi, begitu mendapat sorotan tajam dari Putri. Gin langsung semangat. Berlari kecil menarik Putri. Padahal, dia tidak tahu ke mana akan pergi.


 


“Kau salah jalan, Gin. Harus belok ke sini.” Putri membenarkan arah, dia yang memimpin jalan sekarang. Dengan perasaan dongkol, secepat itu perubahan hatinya. Benar-benar perempuan asli.


 


Gin hanya mengekor di belakang, sembari melihat setiap ukiran yang terdapat dinding istana. Dia juga melihat, sekaligus mengingat setiap sudut yang dilewati. Tiba-tiba berbalik dengan cepat, dia merasa ada yang aneh. Berhenti sejenak.


 


Putri tidak mendengar langkah kaki di belakang, menoleh. Dia menghembuskan nafas kasar melihat Gin yang sedang termenung di belakang sana. “Kau sedang melihat apa, Gin? Sejak dulu istana ini selalu begini, tidak ada yang berubah. Tidak yang menarik, selain perabotan mewah. Orang-orangnya, seperti robot yang menuruti formalitas Kerajaan.”


 


Gin mengangkat bahu, tidak mengerti dengan ucapan Putri. Dia meneruskan jalan, Putri ikut melangkah. Keduanya jalan beriringan, hanya saja Gin beberapa kali salah belok. Beberapa kali ditegur oleh Putri.


 


Mereka tiba di depan pintu, mengetuknya. Membukanya secara perlahan. “Paman Lei...”


 


Putri menyapa seorang pria paruh baya yang sedang tiduran di sebuah kursi dengan kaki di atas meja. Tempat tersebut adalah ruang senjata Kerajaan. Di jaga oleh Lei, dia berasal dari Kerajaan Timur. Tapi, dia lima belas tahun berada di Kerajaan Selatan.


 


Gin reflek melompat mundur, memasang kuda-kuda siaga. Putri yang melihat hal tersebut dibuat heran oleh tingkah Gin. “Kau sedang melakukan apa, Gin?”


 


Gin juga tidak mengerti, tapi instingnya mengatakan untuk melakukan hal tersebut. Dia hanya mengangkat bahu untuk menjawab pertanyaan Putri.


 

__ADS_1


“Hal apa yang membuatmu kemari, Tuan Putri? Lama tidak melihatmu berkunjung.” Lei tersenyum lembut pada Putri.


 


“Ah itu, Paman. Apa Paman masih memiliki benda itu?” Putri melangkah, sembari melihat-lihat koleksi ruangan tersebut. Mengambil sepasang pisau kecil, menelisik. Menaruhnya kembali.


 


Lei mengangguk mantap, dia berjalan ke pojok ruangan. Berhenti di depan lemari besar, terdapat banyak laci kecil di sana. Membuka laci yang terlihat sangat tua. Terdapat sebuah gelang di sana.


 


Putri tersenyum melihat hal tersebut. “Kau ambil gelang tersebut, mungkin cocok untukmu.”


 


Gin mendekat, meraih gelang tersebut mengenakannya. Terdapat nomor di sana, memutar gelang tersebut ke angka tiga. Tiba-tiba tubuh Gin terasa berat sekali, seperti sedang tertindih sesuatu yang sangat berat.


 


“Itu wajar. Jika kau merasa berat, saat menyetel level satu untuk pertama kali. Ayahku pernah memakainya, dia pernah bercerita tentang gelang itu padaku.” Putri mendongak, matanya terbelalak begitu melihat angka tiga yang terdapat di gelang tersebut. Menutup mulutnya tidak percaya, bahkan mengucek matanya. Melihatnya kembali.


 


“Gelang bernama gelang gravitasi...” Lei menjelaskan nama, sejarah pemakai, kegunaan, serta manfaat gelang tersebut.


 


“Paman Lei, coba lihat gelang itu. Mungkin mataku sedang salah.” Putri memotong penjelasan yang sedamg dipaparkan oleh Lei. Dia mendekat ke arah Gin. Melihat angka pada gelang tersebut. Respon Lei melebihi Putri, dia sampai berteriak.


 


“I... ini tidak mungkin. Alatnya pasti salah. Hei, selama ini, orang yang memakai gelang itu hanya sampai pada level dua. Menyerah. Tidak mau lanjut lagi. Memang batas maksimal level pada gelang tersebut adalah level sepuluh, tapi ini...” Lei masih saja tidak percaya dengan yang dilihatnya. Dia meyakini, bahwa gelang tersebut sudah rusak. Karena dia pernah mendengar dari penjaga sebelumnya, jika yang memakai gelang tersebut hanya sampai pada level dua.


 


 


Lei tanpa sadar mengusir Putri, tapi Putri tidak merasa keberatan sama sekali. Dia telah menyelesaikan urusannya dengan Lei. Jadi, dia segera keluar ruangan tersebut.


 


Gin diam-diam menaikkan menjadi level empat. Meski agak kesulitan bergerak, tapi merasa ini latihan yang cocok untuknya.


 


Putri sudah jauh di depan sana, menggerutu, mengatai Gin lamban. Padahal, dia tahu sendiri Gin sedang memakai gelang gravitasi.


 


Gin susah payah untuk mencapai tempat Putri berada. “Dengan kondisimu saat ini, sepertinya kau belum siap bertemu guruku, Gin. Lagipula, dia belum lama ini sadar dari koma. Jadi, kita tunda dulu. Kau harus membiasakan diri, terlebih dahulu.”


 


“Saya ingin bertemu dengan gurumu sekarang, Iblis Kecil. Apapun yang terjadi, saya tidak akan menunda waktu hanya untuk alasan konyol.” Gin tidak mau menuruti perkataan Putri kali ini. Dia sudah terlanjur basah sampai di sini.


 


“Dasar kepala batu.” Putri menghembuskan nafas halus, tidak sadar dengan diri sendiri. Boleh jadi, dia lebih parah dari Gin.


 


Mereka berjalan santai, Putri mengikuti kecepatan Gin. Sejauh Gin sudah terlihat sangat kewalahan, sementara Putri terlihat biasa saja. Itu karena gelang gravitasi yang berada di level empat.


 


Keringat membasuh, tidak peduli dengan hal remeh seperti itu. Dia tetap tersenyum, sementara Putri sudah habis kesabaran. “Kalau begini caranya, kapan kita tiba di tempat tujuan? Jalanmu saja sangat lambat.”

__ADS_1


 


Gin untuk kesekian kali malas mendengarkan keluhan yang keluar dari mulut Putri. Dia berjalan lesuh, tidak berniat meladeni Putri. “Bikin capek saja meladeninya.”


 


Sekian lama berjalan, akhirnya tiba di tempat tujuan. Mereka tiba di belakang istana, halaman yang luas. Gin menatap kosong halaman luas tersebut. Di ujung halaman tersebut terdapat tembok besar yang mengelilingi istana.


 


Di halaman luas tersebut terdapat bebatuan kecil yang lumayan banyak, berbentuk persegi panjang. Mungkin untuk tempat latihan, atau sebagai pijat refleksi kaki.


 


Juga terdapat banyak bebatuan besar, tidak tersusun rapi. Terdapat besi-besi kecil berserakan di mana-mana, ember kosong, lebih aneh lagi ada sumur di halaman belakang ini.


 


Beberapa saat kemudian muncul seorang perempuan yang begitu cantik dengan wajah oval, alis runcing, berhidung kecil, dan berkulit putih, jangan lupakan rambut yang dikuncir ke belakang. Namun tak nampak sedikitpun senyum pada raut wajahnya, serta sorotan mata tajam.


 


Gin tidak berkedip sedikitpun saat menatapnya, tapi dia mengenal orang tersebut. Tidak kenal betul, hanya sekedar pernah lihat saja. Juga tahu, kalau dia merupakan komandan pasukan Kerajaan, menurut yang di dengarnya. Tidak lebih.


 


Lebih tepatnya, Gin pernah melihat perempuan tersebut dengan kedua temannya, muncul untuk melawan Cebures. Mereka bertiga mengeroyok monster tersebut.


 


Begitu perempuan itu mendekat, Putri agak bertingkah aneh. Tidak seperti biasanya. Gin menjadi curiga, dia tiba-tiba mendapatkan firasat buruk.


 


“Kau... Siapa namamu?” Perempuan tersebut adalah Bulan. Salah satu dari tiga komandan pasukan Kerajaan yang saat itu mengeroyok Cebures.


 


“Gin.” Dia menjawab pendek. Bulan mengangguk mantap, sedikit tersenyum.


 


“Baiklah, langsung saja. Kau ambil batu besar di sana dan angkat. Kau harus berlari mengelilingi halaman ini sebanyak lima puluh kali. Tidak ada protes!” Gin memekik, pucat dengan perkataan Bulan.


 


“Tapi... saya datang ke sini, hanya untuk menemani, Iblis Kecil. Tidak lebih.” Gin beralasan.


 


“Karena kau banyak alasan, ditambah lima puluh kali putaran. Total seratus putaran dengan mengangkat batu besar tersebut. Kau sudah berada di sini, itu artinya kau datang berlatih. Saya tidak menerima alasan, terlebih protes.” Gin menelan ludahnya sendiri, dia ingin menurunkan level pada gelang tersebut. Tidak bisa.


 


Dia jadi menyesal menaikkan levelnya tadi. Gin tidak mengeluh. Lebih baik melaksanakan perintah Bulan dari pada harus melakukan sesuatu yang jauh lebih merepotkan.


 


Dia mendekati salah satu batu yang terlihat kecil diantara batu lainnya. Mengangkatnya dengan sekuat tenaga, tapi jangankan terangkat bergerak saja tidak.


 


Putri yang melihat hal tersebut dibuat terbahak olehnya. Dia tidak bisa menahan tawanya, meski sedikit. Bahkan di depan gurunya sekalipun.


 


Bulan menatap tajam pada Putri. Dengan maksud menyuruhnya diam, tidak perlu menertawakan orang lain. Lagipula, Gin belum sepenuhnya gagal. Baru sekali mencoba.

__ADS_1


__ADS_2