
Dalam waktu singkat, kabar tentang perang saudara di Kerajaan Selatan tersebar ke seluruh dunia. Masyarakat dari berbagai lapisan heboh bercerita, seakan-akan mereka berada di tempat kejadian.
Tidak ada yang menyangka perang saudara akan terjadi di Kerajaan Selatan, sungguh di luar perkiraan semua orang.
Raja yang mengetahui kabar kekacauan di Ibukota sudah tersebar ke penjuru dunia, segera memerintahkan seluruh prajuritnya untuk mengumpulkan kekuatan besar. Dia memiliki kekhawatiran tentang hal ini.
Raja sudah lama kembali ke istana, memerintah di atas singgasananya. Sementara Si Tua Obat tetap berada di tempat pengungsian, hanya tersisa dia seorang yang sedang merawat Gin.
Putri sesekali menengok keadaan Gin. Dia tidak datang sendiri, terdapat pasukan khusus bersamanya. Putri terkadang marah-marah pada Gin yang belum sadar juga.
Namun sekuat apapun putri marah, Gin tetap berbaring di atas tempat tidurnya. Hanya hembusan nafas yang terdengar. Putri sampai lelah sendiri, melihat kondisi Gin yang terus seperti itu. Sementara itu, Si Tua Obat hanya bisa menghela nafas. Melihat putri dari pintu, berdiri di sana. Setiap Putri datang berkunjung. Dia langsung tahu, jika putri akan menjenguk Gin. Dia sampai hafal dengan setiap ucapan putri pada Gin, selalu sama persis. Mencak-mencak, marah-marah, hingga akhirnya bersedih.
Si Tua Obat tahu, jika Putri merasa kesepian lagi. Tanpa teman. Biasanya, Ginlah yang menjadi satu-satunya teman bagi putri. Akan tetapi, Gin yang diharapkan belum sadar juga. Masih terbaring di atas tempat tidur dengan mata tertutup.
Putri tidak pernah bosan datang, setidaknya dua kali satu minggu. Tidak pernah kurang dari jumlah itu. Para anggota pasukan khusus sampai terheran dengan hal tersebut.
Hari berkabung telah lama berlalu, Raja tidak bisa menghadiri pemakaman masal yang diakibatkan oleh penghianatan Barbara. Raja saat itu, masih harus beristirahat total untuk memulihkan diri.
Raddas hampir saja, dihukum sepihak. Hanya karena perbuatan ayahnya sendiri. Jika tidak ada pembelaan dari Drak dan Rog, dia sudah pasti mendekam dalam penjara.
Hari ini ketiganya di panggil menghadap Raja Selatan. Hal tersebut membuat Drak, Rog dan Raddas bahagia, sekaligus kebingungan.
Bahagianya jarang-jarang seusia mereka dipanggil untuk menghadap Raja. Bingungnya mereka tidak tahu disuruh menghadap untuk kepentingan apa?
__ADS_1
Ketiganya sedang berjalan menuju ruang singgasana Raja. “Sebaiknya, kalian bersikap hati-hati di depan Raja. Meski dikenal baik, murah hati dan adil. Akhir-akhir ini, Raja memiki temperamen yang cukup unik. Dia seakan-akan berubah, selepas perang saudara yang terjadi.
Drak dan Rog yang mendengar hal tersebut sedikit takut, campur gugup. Baru pertama kali, mereka menghadap langsung pada Raja Selatan.
Mereka tiba di hadapan pintu yang begitu besar, terdapat dua prajurit lengkap dengan zirah yang menjaga pintu tersebut. Begitu melihat ketiganya, para prajurit membuka pintu raksasa tersebut.
Saat ketiganya memasuki ruangan tersebut, banyak pasang mata yang menatap mereka. Rupanya para petinggi istana lama dan baru sedang berkumpul di ruangan tersebut.
Raddas, Rog dan Drak seperti pahlawan besar, melangkah di atas karpet merah, banyak pasang mata menatap. “Hei, Raddas. Mengapa mereka memperhatikan kita?”
“Kau diamlah, Rog. Kita sedang berada di depan singgsana Raja. Ambil posisi setengah lutut. Cepatlah!” Raddas berbisik pada Rog. Memberi sedikit penekanan pada ucapannya.
Rog dan Drak mengikuti ucapan Raddas. Ketiganya mengambil posisi setengah lutut. Raja menampakkan sedikit senyum saat melihat ketiganya, lebih lama menatap Raddas. Hal tersebut membuat Raddas menelan ludahnya sendiri.
Rog ikut berdiri, tapi ditahan oleh Raddas. “Tetap pada posisimu, Rog.”
Raja memberi tanda, agar para petinggi Kerajaan duduk di tempatnya, “Baiklah, ada dua hal yang akan kusampaikan pada kalian semua yang berada di ruangan ini.”
Raja menyapu seisi ruangan dengan matanya, “Pertama, menurut kabar dari mata-mata luar Kerajaan. Kilin gagal dalam misinya, serta kehilangan nyawa. Bahkan jasadnya tidak ditemukan sama sekali. Hal ini merupakan duka lanjutan bagi Kerajaan Selatan, sekaligus pukulan telak. Karena harus kehilangan salah satu bakat terbaik yang pernah ada.”
Seluruh petinggi dalam ruangan tersebut berseru kaget, mereka tidak percaya kabar itu. Jika orang lain yang mengatakannya, tapi saat ini Raja yang memberi kabar tentang kematian Kilin.
Raddas mengepalkan tangannya, dia tidak percaya ini. “Bagaimana bisa orang berbakat sepertinya, bisa gagal dalam misi? Terlebih harus kehilangan nyawa.”
__ADS_1
Raja melepaskan sedikit energinya, semua orang dalam ruangan tersebut menelan ludah. Menatap Raja. Terdapat raut kesedihan di sana. Hening sejenak.
“Kedua, kalian bersama pangeran ketiga harus mewakili Kerajaan Selatan dalam turnamen antar Kerajaan yang berlangsung di Timur.” Raja Selatan bersuara tegas.
“Raddas, Drak dan Rog saling menatap. Mereka tidak menyangka dipanggil menghadap Raja untuk mendengar pemberitahuan ini. Rog ingin lompat, saking bahagianya. Namun teringat masih ada Raja di depan sana.”
“Hal yang perlu kalian ingat! Saat ini dunia sedang bergejolak, dua dari empat Kerajaan sedang berada pada masa krisis. Saya menduga turnamen antar Kerajaan yang kalian ikuti tidak berjalan lancar, sepertinya akan ada beberapa pihak yang memanfaatkan turnamen tersebut untuk memicu perang besar. Mungkin hanya kekhawatiranku saja. Tapi, sebaiknya kalian berhati-hati.” Raja dengan wajah datar, sekaligus serius.
Lagi-lagi ketiganya saling menatap, kali ini bukan karena perasaan bahagia. Namun lebih ke perasaan tegang, terpacu dengan pertempuran yang mereka bayangkan masing-masing. Meskipun, ada sedikit rasa takut di dalam hati mereka. Hei, mereka bertiga secara tidak langsung menjadi pengawal pribadi pangeran ketiga. Keselamatan pangeran adalah tanggungjawab mereka.
Melihat wajah tegang Raddas, Drak dan Rog. Raja memahami situasi mereka. “Kalian tidak perlu khawatir, saya akan mengutus salah satu komandan pasukan untuk menemani perjalanan kalian.” Senyum ketiganya seketika mengembang. Tidak ada wajah tegang lagi, hilang tidak berbekas.
Tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka, nampak Bulan masuk dengan santai. Akan tetapi, nafasnya sedikit tidak beraturan, dia habis berlari dengan kecepatan penuh. Terlambat memenuhi panggilan Raja. “Kau selalu terlambat, Bulan.”
“Maafkan saya, Raja. Ada sedikit hal yang membuatku terlambat.” Bulan melakukan posisi setengah lutut. Tatapan matanya tegas ke arah Raja.
“Baiklah, kalian sudah boleh meninggalkan ruangan ini. Kuharap kalian latihan dengan giat, waktu turnamen antar Kerajaan tidak lama lagi. Jika tidak ada kemunduran jadwal.” Raja berbalik, kembali ke singgasanahnya.
Hari-hari terus berlalu, makan bulan. Namun Gin belum kunjung sadar juga, Si Tua Obat sampai resah seorang diri. Berjalan ke sana-kemari, sedikit cemas dengan Gin yang belum ada perubahan. Dia terus pulang-balik di dalam ruangan Gin dirawat. “Anak ini! Mau sampai kapan berbaring di tempat ini?”
Dia berjalan ke arah Gin, merasakan sedikit lonjakan energi dari anak itu. Si Tua Obat menatap lamat-lamat Gin yang sedang terbaring di atas tempat tidur. Cukup serius Si Tua Obat menatapnya.
Mata Gin terbuka lebar secara tiba-tiba, “Yan!”
__ADS_1
Gejolak energi yang sedikit kuat, membuat Si Tua Obat terhempas ke belakang. Dia mengumpat keras pada Gin, menyumpah serapahi Gin.