
“Orang ini tidak main-main dengan perkataannya, sebaiknya menyelesaikan ini lebih serius atau tidak ada peluang sama sekali.” Yan mengucurkan keringat dingin, tak sedikit pun terlintas dalam benaknya, jika orang yang sedang menjadi lawan Gin menyembunyikan kekuatan yang begitu dasyat.
Gin kesulitan bernafas, tubuhnya berada tidak jauh dari orang Kerajaan Barat. Matanya tak luput dari tubuh orang tersebut. Lidah tercekat, keringat dingin mengucur, “Bagaimana mungkin tubuhnya bisa membesar?”
Kalian tidak salah membaca, Gin juga tidak asal bicara. Tubuh orang tersebut membesar, tinggi badan yang normal kini berubah menjadi tiga meter lebih, mendekati empat meter, tubuhnya dipenuhi otot, seluruh tubuh terlapisi oleh timah, hanya leher dan kepala yang tidak.
Yan memutuskan untuk membantu Gin, jika tidak! Mereka bisa berpindah alam. “Berdua saja, kecil kemungkinan untuk menang. Apalagi membiarkan si Konyol bertindak sendiri,” batin Yan.
Berbeda dengan Yan, meski sempat gentar. Gin sangat bersemangat, “lagi-lagi melawan orang yang kuat. Ini pasti seru!”
Gin merenggangkan seluruh otot tubuhnya, bersiap dengan semua kondisi ke depannya.
Yan yang berada di samping Gin, berdecak kesal. Dia tidak pernah mengerti dengan isi kepala Gin, setiap kali ada lawan kuat seperti ini. Dia selalu bersemangat, “Dia pikir nyawa bisa dibeli apa?” batin Yan.
Yan melirik ke arah Gin, kosong. “Ke mana Gin?” Mulutnya terbuka lebar__ bagaimana tidak. Melihat Gin yang dengan semangatnya bergerak menyerang orang yang kini bisa disebut sebagai monster. Sekilas nampak secarik senyum dari bibir Gin.
Gin berlari mendekati tubuh lawannya, satu pukulan berhasil dihindari. Pukulan tersebut tidak main-main, lantai di belakang Gin hancur lebur terkena serangan tersebut.
Yan yang melihat itu, hanya bisa menelan ludah.
Gin melenting, mengarahkan pukulan yang sudah dilapisi energi kegelapan, cukup tebal kali ini. Tidak ada kesempatan bagi mereka. Jika, dia menahan kekuatannya. Pertarungan sebelumnya sudah menjadi pelajaran yang sangat berarti baginya. Sudah cukup sekali, hampir kehilangan nyawa akibat terlambat melepaskan seluruh kekuatan yang ada.
Meski sempat mengeluarkan seluruh kemampuannya, tetap saja. Itu kesalahan fatal bagi Gin, di lubuk hati terdalam__ dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
__ADS_1
Pukulan Gin bersarang di dada lawan. Letupan keras terdengar, akibatnya. Pukulan keras itu, bagai angin lalu bagi lawan mereka. Hei, pukulan sekeras itu, hanya membuatnya mundur selangkah saja__ bagaimana bisa?
Tapi, itulah kebenaran yang tak bisa dipungkiri. Yan hanya bisa termangu, sadar menonton seperti itu, hanya akan membuang waktu. Dia mengeluarkan energi yang besar, akar yang sangat besar muncul diantara kedua kaki orang dari Kerajaan Barat. Akar besar itu melilit tubuhnya, sebuah tombak terbuat dari energi tumbuhan, nampak di sampingnya.
Tombak tersebut berbeda dari yang sebelumnya, berbeda pada saat sedang melawan monster macan. Kali ini, tombak itu lebih besar, tajam dan fleksibel. Ada serpihan es pada ujungnya. Tombak tersebut meluncur ke arah manusia setinggi tiga meter lebih di hadapannya.
“Gin menunduk!” Mendengar itu, Gin reflek tiarap. Tombak tersebut mengenai dada, tepat pada bekas pukulan Gin sebelumnya. Orang dari Kerajaan Barat terhempas cukup jauh terkena serangan tersebut.
Ruangan yang tertata rapi, tenang dan luas. Kini hancur lebur, tidak terlihat lagi rak-rak rapi. Apalagi para tabib yang sedang mengobati pasiennya, mereka semua kabur tunggang-langgang sambil memikul pasiennya masing-masing.
Dinding yang terbuat dari perak, retak begitu saja, pada saat tubuh orang tersebut menabraknya. Keadaan ruangan tersebut benar-benar kacau. Tubuhnya mulai membeku, akibat terkena serangan tombak. Dinding perak terkena imbas, ikut membeku.
Senyum Gin dan Yan merekah lebar. Tapi, hanya sementara saja, lawan mereka dengan mudah menghancurkan es yang membungkusnya. Bahkan kini dengan kekuatan yang lebih dasyat. Gin memutuskan untuk menggunakan pedangnya, gerakannya cepat sekali.
Gin mengayunkan pedangnya, tapi mudah saja dihindari. Tak menyerah sampai di situ, pedang digenggamannya diayunkan ke sana- ke mari. Namun udara kosong yang tertebas, “orang ini, meski badannya bertambah besar, tapi kecepatannya tidak berkurang sama sekali. Bahkan bertambah, kuat sekali dia,” batin Gin sembari mengambil jarak.
Yan menempelkan telapak tangan ke lantai, menyalirkan energi esnya. Seluruh lantai membeku, akibatnya, suhu sekitar seketika berubah, dingin sekali. Gin sampai mengigil, tidak tahan dengan suhu sekitar.
Cara yang Yan gunakan cukup efektif, serangan Gin sesekali mengenai lawan. Dia juga melepaskan tombak esnya. Mudah saja menghantam lawan, terhempas jauh dan membeku, walau hanya sesaat. Tanpa henti serangan silih berganti, tak membuahkan hasil. Lawan mereka baik-baik saja.
Walau gerakannya sempat melambat, karena udara sekitar dan licin lantai, tapi lama-kelamaan orang tersebut mulai terbiasa begitu pula dengan Gin.
Tanpa Gin sadari, serangan pedangnya menggores dibeberapa bagian tubuh lawannya. Yan juga tak menyadari hal itu, susah sekali timah itu dihancurkan.
__ADS_1
Gin seakan tak mengenal kata menyerah, melakukan serangan cepat. Tiba-tiba muncul di depan lawan, melenting mengayunkan pedang tepat ke leher lawan, berharap dapat membunuhnya. Tapi, Gin keliru, bahkan sangat keliru. Orang tersebut tahu betul kelemahannya, jadi dia menjaga titik paling fatal dari serangan musuh.
Alhasil Gin terkena sebuah pukulan telak, membuatnya terhempas jatuh ke lantai, bum! Lantai ruangan berlubang lumayan besar. Kepulan debu mengepul.
Yan khawatir setengah mati, tapi tidak ada waktu yang cukup untuk sekedar khawatir. Lawan yang mereka hadapi tidak bisa dianggap remeh. Dia mengeluarkan busur, menariknya tanpa anak panah. Ya, tanpa anak panah, lebih jelasnya anak panah yang dipakai olehnya tidak biasa , terbuat dari energi es yang besar.
Seketika muncul anak panah diantara sela jarinya, membidik tepat pada jantung lawan.
Gin melesat cepat dari kepulan debu yang belum sepenuhnya menghilang, cepat sekali. Menyerang lawan dengan tujuan mengalihkan fokusnya. Tidak, bahkan dia mengerahkan seluruh yang dimilikinya. Bahkan sampai mengeluarkan jurus tarian pedang bayangan.
Gerakan Gin begitu cepat, seperti sedang yoga saja, tapi dengan versi cepat. Menebas ke segala arah, tapi sebenarnya sangat terarah. Dia menyerang ke depan, belakang, samping, melenting ke atas. Kini timah yang melindungi tubuh lawan mereka tercabik-cabik, bahkan retak dan hancur lebur sesaat Gin menyelesaikan gerakannya.
Gin mengambil jarak dari lawannya yang sedang memuncratkan darah segar dari mulutnya, cukup banyak yang keluar. Yan sempat hilang fokus, sesaat melihat jurus yang diperagakan Gin. Akan tetapi, cepat saja fokusnya kembali.
Yan melepaskan anak panah tepat mengarah ke jantung lawan, anak panah yang dilepaskan melesat cepat. Tepat menembus jantung sasaran, sedikit demi sedikit es membekukan tubuhnya. Menjalar dari anak panah, hingga membekukan seluruh tubuh dan hancur berkeping-keping.
Gin dan Yan bernafas lega, tapi melihat tempat pertarungan mereka yang tadinya, ramai oleh hiruk-pikuk dan semua barang tertata rapi, serta rak-rak yang ada. Kini hancur tak bersisa, bahkan ruangan tersebut sudah tak berbentuk. “Berapa kiranya kerugian yang harus kami ganti? Baru juga jadi orang kaya beberapa bulan, dalam sekejap melarat lagi.”
Orang Kota Goa memang semua tabib dan memiliki karakter yang baik nan dermawan. Tapi, hei, bisnis tetap bisnis. Apapun itu harus di bayar bukan? Semua hal di dunia ini membutuhkan uang dan para tabib ini tidak mau merugi. Apalagi bahan-bahan obat yang langka, susah dicari. Mahal sekali harganya.
Jangan lupakan lantai, dinding dan rak-rak yang tersusun rapi. Semua itu membutuhkan biaya dan tenaga ekstra untuk memulihkannya seperti semula. Miskin mendadaklah mereka, tidak terima pun. Ya, harus terima. Hei, mereka membutuhkan para tabib ini. Eh, lebih tepatnya hanya Yan yang memiliki kepentingan pada mereka.
Dia ingin membeli beberapa bahan langka pada para tabib, biasa untuk sang pujaan hati Widora. Yan hanya bisa mengelengkan kepala, sesekali memijat kening. Dia tidak menyangka, semua ini akan terjadi.
__ADS_1