Black Shadow

Black Shadow
Akhir dari Pertempuran


__ADS_3

Tubuh Barbara terjatuh dari udara, jubah yang dikenakannya hangus terbakar. Perut hingga dadanya terkena luka bakar.


 


Dampak dari ledakan bola api milik Barbara, cukup merusak hutan. Pepohonan yang sebelumnya memenuhi sekitar, kini menjadi abu. Raja marah besar melihat hal tersebut, dia selamat. Meski harus terkena sedikit luka bakar pada lengan kanannya.


 


Tameng miliknya hancur, Raja bergerak cepat membuat tameng lagi. Akan tetapi, tangan kanannya sedikit terkena api biru, hingga bahu. Jika saja, Raja tidak mengorbankan tangan kanannya, kemungkinan akan kehilangan nyawa.


 


Raja teringat dengan Barbara, bergerak ke arah Barbara yang sedang terbaring lemah. Niat hati ingin menghabisi hidup Barbara, Raja bersiap mengerahkan pukulan yang sangat mematikan. Mengumpulkan sisa energi yang ada.


 


Persis saat Raja akan mengerahkan pukulan terakhirnya. Seorang perempuan membawa tubuh Barbara dengan cepat, bergerak menjauh dari Raja.


 


Hal tersebut membuat Raja mengatupkan rahang. Bergerak cepat, tidak memedulikan rasa sakit di tangannya. Aksi kejar-kejaran terjadi.


 


Gin yang masih dikendalikan oleh energinya sendiri, melihat Raja. Dia bergerak menyerangnya. Karena hal tersebut, Raja tersontak kaget. Dia masih sempat menghindar, menyadari kehadiran Gin.


 


Raja harus merelakan kepergian Barbara yang dibawa oleh Fionix, dia tidak bisa berbuat banyak. Harus berurusan dengan Gin terlebih dahulu. Dilanda kebingungan yang pelik, dia dipaksa harus bertahan hidup menghadapi Gin.


 


Energi Raja sudah terkuras banyak, terlebih dia harus menggunakan banyak energi untuk menciptakan tameng sebelumnya. Raja benar-benar menghadapi situasi yang sangat sulit.


 


“Ini tidak akan mudah.” Raja mengusap peluh di wajah. Sedang memutar otak. Meringis, tangannya terasa perih, lupa dengan luka bakar di tangan kanannya.


 


Raja menghembuskan nafas halus. “Tidak ada jalan lain, selain bertarung untuk mempertahankan nyawa. Setidaknya, sampai bocah ini kehabisan energi.”


 


Raja menghindari serangan Gin, bergerak ke sana-kemari untuk membuatnya bingung. Raja menggunakan seluruh kecepatannya, meski kecepatannya telah berkurang banyak. Akan tetapi, Raja masih bisa bergerak cukup cepat.


 


Mudah saja bagi Gin untuk mengimbangi kecepatan tersebut, bahkan dia bisa lebih cepat. Gin mengerahkan pukulan yang sangat keras, dihindari dengan sulit oleh Raja. Tidak mudah.


 


Raja benar-benar kewalahan menghindari serangan Gin yang datang. Dia cukup kesakitan, saat harus terpaksa menahan pukulan Gin dengan menggunakan tangan yang terdapat luka bakar.


 


Raja menggunakan sisa energinya seefektif mungkin, tidak ingin mati konyol di tangan bocah di hadapannya. Dia sedikit mirip dengan Barbara tentang hal ini. Raja bergerak lincah, menghindari serangan yang datang.


 


Melihat celah yang ada, dia melepaskan pukulan keras. Hal tersebut tidak menimbulkan berarti apa-apa bagi Gin, tersenyum sinis. Tatapannya seperti ingin memangsa Raja hidup-hidup.


 


Hal tersebut membuat Raja jerih, sadar dengan posisinya saat ini. Dia tidak memiliki energi yang cukup untuk memberikan luka pada Gin. Hanya bisa bertahan selama mungkin, hingga Gin lelah sendiri. Terlebih dia sudah mengeluarkan energi yang begitu banyak. Masih ada peluang hidup baginya. Meski tipis, tidak ada salahnya mengambil resiko tersebut. Lari juga tidak bisa, kalah cepat dari Gin.

__ADS_1


 


Raja memiringkan kepalanya, angin keras menerpa wajahnya. Efek dari pukulan Gin, Raja mengerahkan pukulan pada perut Gin. Hanya saja, Gin lebih dulu menghindari serangan tersebut. Cepat sekali gerakannya. Raja sampai dibuat menelan ludah.


 


Tiba-tiba Gin muncul di hadapan Raja, mengerahkan pukulan yang begitu keras. Raja terpental jauh, muntah darah. “Gila! Kekuatan terpendam anak ini, benar-benar di luar nalar. Apa dia manusia?”


 


Raja batuk darah lagi, memegang perut yang terkena pukulan Gin. “Tidak heran Barbara hampir kehilangan nyawa di tangan bocah ini!”


 


Raja menghembuskan nafas halus, mencoba untuk tenang. Tidak ingin fokusnya terganggu, hilang fokus sedikit. Bisa-bisa nyawanya yang menjadi taruhannya. Diam-diam Raja berjanji dalam hati, jika selamat dari bocah ini. Dia tidak akan membuatnya tersinggung sedikitpun.


 


Raja bersiap, memasang kuda-kuda terbaiknya untuk menyambut kedatangan Gin. Muncul di hadapannya, bergerak lagi dengan cepat. Muncul di belakang Raja, mengerahkan pukulan yang kuat. Raja menyilangkan kedua tangan.


 


Raja berteriak keras, retakan tulang di tangannya bertambah. Dia termundur sepuluh langkah, mengeluarkan darah dari mulut. Raja berkeringat dingin, memegang tangan yang kesakitan.


 


Peluang hidupnya semakin tipis saja, dia bahkan berpikir tidak akan selamat dari bocah yang sedang dikendalikan oleh energinya ini. Raja sudah sulit untuk menggerakkan tangannya yang sedang kesakitan, hanya bisa menggunakan satu tangan saja. Raja semakin terpojok.


 


Raja memanggil pedangnya, sebagai pertanahab terakhir. Dia tidak punya pilihan, hanya inilah cara yang ada dalam pikirannya untuk bertahan hidup. Tidak mudah memang.


 


 


Hilang sudah wibawanya, sebagai seorang Raja. Penggangan tangannya semakin erat pada pedang, “Seumur-umur baru kali ini, saya harus menerima rasa malu sebesar ini. Untungnya, tidak ada seorang ‘pun di sekitar sini. Jika tidak? Saya tidak punya muka untuk menduduki takhta Raja lagi.


 


Raja terbelalak, tiba-tiba terkena pukulan keras pada wajahnya. Dia terhempas jauh, karena hal tersebut. Belum juga mendarat, Gin muncul di dekatnya. Mengerahkan serangan, Raja menangkisnya dengan pedang miliknya. Sempat menggunakan sedikit energinya, serangan Gin kali ini dirasa terlalu kuat.


 


Raja menyeimbangkan tubuh, meski harus sedikit terpental tiga langkah. Bahkan harus menancapkan pedangnya pada tanah, agar tidak terpental lebih jauh.


 


Raja terlihat kelelahan, masih harus dipaksa bergerak lagi oleh Gin yang datang menyerang. “Bocah ini, apa dia tidak merasa lelah? Sejak tadi bertarung tanpa henti.”


 


Raja menghindar, menjauh dari Gin. Menjaga jarak aman, meski begitu Gin tetap mengejar. Terpaksa Raja harus beradu serangan dengan Gin, dia mengerahkan energi yang tersisa. Tidak ada pilihan lain.


 


Benturan energi keduanya menciptakan benturan yang luar biasa. Raja mempertaruhkan semuanya pada sisa energinya, bergerak cepat. Saling balas serangan melawan Gin.


 


Sayangnya, Gin jauh lebih menguasai pertarungan tersebut. Beberapa pukulannya berhasil mengenai Raja. Hal tersebut membuatnya bergerser tiga langkah, bergerak lagi menyerang Gin.


 


Di tengah-tengah pertarungan keduanya, Gin mengeluarkan energi yang cukup besar. Raja sampai termundur dibuatnya, Gin menyerang Raja lebih brutal. Serangan energi secara beruntun pada Raja, hal tersebut membuat Raja menerima patah tulang yang cukup banyak.

__ADS_1


 


Merasa tubuhnya remuk oleh Gin, Raja mengatupkan rahang. “Ini benar-benar akhir dari perjalanan hidupku. Sungguh naas, saya akan tercatat dalam sejarah, sebagai Raja terkonyol yang pernah ada. Mati di tangan seorang bocah. Hahaha.”


 


Raja tersenyum, menatap Gin yang bergerak cepat dengan energi yang luar biasa besar di tangan kananya. Tidak main-main, sepertinya serangan tersebut merupakan serangan terakhir yang ditunjukkan untuk Raja.


 


Pedang yang sedang di genggam oleh Raja terjatuh ke atas tanah. Sepertinya, benar-benar pasrah. Ketika pukulan Gin akan mengenai Raja, tubuh Gin bergejolak. Energi yang sangat besar dalam tubuhnya, melonjak ke atas.


 


Beberapa prajurit yang sedang menjaga di luar tempat pengungsian melihat hal tersebut, tersontak kaget. Mata mereka terbelalak melihat energi kegelapan yang begitu dasyat di langit-langit hutan Ibukota. Sementara itu, Kilin yang baru saja selesai memulihkan tubuh, meski belum pulih total. Dia masih perlu beristirahat seminggu, agar pulih total. Berniat untuk melihat keadaan sekitar kaget bukan main.


 


“Ini... Energi sebesar ini, berada tidak terlalu jauh dari tempat ini. Sebaiknya, saya pergi melihatnya.” Kilin bergerak cepat menuju tempat munculnya energi kegelapan tersebut.


 


Di sisi lain, tempat Gin dan Raja berada. Energi yang dilepaskan oleh Gin, semakin menipis. Hingga akhirnya, menghilang begitu saja. Gin terjatuh pingsan, tidak sadarkan diri.


 


Raja yang sempat mengambil jarak dari Gin, melihat hal tersebut melompat bahagia. Dia tidak seperti seorang Raja saja. Tiba-tiba sadar akan tingkah konyolnya, dia bersiul sambil melihat keadaan sekitar. Untungnya, tidak ada orang di sekitarnya.


 


Tidak lama berselang Kilin muncul dengan topeng peraknya, “Sebenarnya, apa sudah terjadi di hutan ini, Raja? Saya melihat perubahan hutan yang begitu mengerikan, terdapat lubang yang luas di dekat sini. Tidak terlalu dalam. Sebelumnya, saya melihat pepohonan yang terbakar, namun membeku. Benar-benar aneh. Mengapa Raja sampai terluka seperti ini? Lihatlah, bahkan terdapat luka bakar pada tangan Raja? Jubah Raja juga tidak bersisa. Sebenarnya, apa yang sudah terjadi?


 


“Ah iya, pohon itu. Saya akan menamainya ‘Hutan Pohon Es-api.’ Cocok bukan? Singkirkan semua pertanyaanmu itu, Kilin. Satu saranku padamu, berlatihlah lebih giat dari sebelumnya. Jika tidak? Saya khawatir, kau akan tertinggal nantinya.” Kilin menatap Raja dengan wajah penuh penasaran.


 


Raja menghembuskan nafas, “Terkadang ada beberapa hal yang tidak perlu kau ketahui, Kilin. Terkadang, akan lebih baik pada hal tertentu, kita tidak perlu mengetahuinya. Hal ini demi kebaikan diri sendiri. Kau tidak perlu khawatir denganku, saya baik-baik saja. Hanya luka kecil ini.”


Kilin tertegun, Raja bahkan secara tidak sengaja menatapnya dengan penuh intimidasi. Hal tersebut membuatnya, keringat dingin. Dia melihat hal yang berbeda pada diri Raja. Hal yang baru dilihatnya hari ini.


 


“Sebaiknya, kau pergi sekarang, Kilin. Ada yang mendekat kemari. Dari energinya, sepertinya dia salah satu tetua Kerajaan Selatan.” Raja memberikan saran pada Kilin. Dengan cepat, Kilin menjauh pergi dari tempat tersebut. Mengawasi dari jauh.


 


Raja berdiri tegap, Tetua tersebut muncul di belakang Raja. Mengambil posisi setengah lutut, “ Sebenarnya, apa yang sudah terjadi pada Raja? Mengapa kondisi, Raja begitu buruk? Penuh luka di sekujur tubuh, terlebih tangan dengan luka bakar?”


 


Raja sudah menduga hal tersebut akan dilontarkan, dia menghembuskan nafas halus. Dia tidak akan bertanya tentang Tetua tersebut berada dipihaknya, atau Barbara. Jika Tetua tersebut berada dipihak Barbara, dia akan langsung menyerang Raja. Begitu tiba di tempat tersebut. Terlebih kondisi Raja yang begitu buruk, bahkan sangat buruk. Tidak perlu tabib ahli. Orang seperti Kilin ‘pun tahu, jika Raja tidak sedang baik-baik saja.


 


“Saya tidak ingin membahasnya, hal terpenting saat ini. Kau harus membawa bocah itu ke tempat Si Tua Obat, saat ini berada. Perlakukan bocah ini dengan baik. Jika tidak? Nyawamu, sebagai taruhannya!” Raja dengan penuh penekanan. Dia sudah seperti orang yang berbeda saat ini.


 


“Baik, Raja. Titah, Anda akan segera kulakukan dengan baik.” Tetua tersebut berdiri, membopong tubuh Gin. Bergerak cepat. Dalam waktu singkat menghilang begitu saja.


 


Raja terduduk, muntah darah yang begitu banyak. Kilin muncul di hadapannya. Memberi tanda, agar Kilin pergi dari tempat itu segera. Bahkan Raja sampai melepas sedikit energinya. Hal tersebut membuat Kilin benar-benar pergi dari tempat tersebut. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Dia melihat Raja yang saat ini, seperti melihat orang yang berbeda.

__ADS_1


__ADS_2