Black Shadow

Black Shadow
Tetua Klan yang Merepotkan


__ADS_3

Para penghianat terpental ke mana-mana dengan kondisi tidak bernyawa lagi. Kilin menghabisi mereka. Dia marah besar melihat kondisi Bulan yang begitu mengenaskan, bersimbah darah.


 


Kilin bahkan lupa sedang melindungi Putri, dia menyerang musuh. Membasmi mereka. Bergerak ke sana-kemari membunuh musuh, Kilin seperti orang yang sedang kehilangan akal.


 


Dia menerima beberapa luka di lengan, tapi bukan masalah baginya. Bergerak maju, meski dengan darah yang mengucur.


 


Kilin mengayunkan pedang kecilnya, berusaha menghabisi musuh. Bergerak ke sana-kemari, setelah semua musuhnya tewas. Kilin menghampiri Bulan, dia sudah terkulai lemas dengan darah yang memenuhi tubuhnya.


 


Kilin sedih melihat keadaan Bulan yang begitu tragis, seluruh tubuhnya gemetar menahan amarah yang menjadi. Tidak akan memaafkan orang yang telah membuat Bulan sekarat, seperti itu.


 


Kilin mendengar tepuk tangan, suara langkah terdengar mendekat. Dia mendongak mengatupkan rahang kuat, matanya memerah melihat wajah meledek Tetua Klan Api yang sengaja ditampakkan pada Kilin. Dia ingin memprovokasinya, membuat Kilin naik pintam. Kehilangan ketenangan saat bertarung dengannya nanti. Orang tua yang licik.


 


Benar saja, Kilin terprovokasi oleh Tetua Klan Api, di balik topeng. Dia mendengus keras. Bergerak dengan sangat cepat, mengayunkan pedang kecil. Namun dapat dihindari dengan mudah, memutar pedang kecil untuk menancapkan pada pinggang Tetua Klan Api. Darah memenuhi bilah pedang kecil, Kilin berhasil menancapkan pedang kecilnya.


 


Kilin menjauh dari Tetua Klan Api, setelah mencabut pedang kecilnya. Menatap tajam pada Tetua Klan Api yang menggeram menahan marah.


 


Kilin yang melihat hal tersebut, mendapatkan ide. Dia  berlari untuk menjauhkan Tetua Klan Api dari Putri dan Bulan. Tidak ingin fokusnya terganggu, saat sedang bertarung.


 


Tetua Klan yang sedang marah, mengejar Kilin. Tetua Klan berhasil menyusul Kilin, dia mengerahkan pukulan berapi. Tapi, Kilin sangat sigap. Dia menangkis serangan tersebut menggunakan pedang kecilnya, meski begitu dia tetap terhempas jauh. Menabrak dinding.


 


Kilin memiliki keuntungan diawal pertarungan, Tetua Klan Api telah mendapat banyak luka di sekujur tubuhnya. Akibat melawan Bulan, sebelum ini. Sementara itu, dia hanya memiliki beberapa luka sayatan kecil.


 


Keuntungan itu, tidak serta-merta membuatnya berada di atas angin. Lawannya adalah Tetua Klan Api yang memiliki pengalaman bertarung jauh dibanding Kilin. Pengalaman sangat berharga untuk petarung, seperti mereka. Bahkan, bisa jadi dengan pengalaman yang dimiliki dapat mengalahkan orang yang jauh lebih kuat.


 


Kilin mengambil ancang-ancang, bersiap bertarung habis-habisan. Benar dia menaruh dendam pada Tetua Klan Api, karena telah membuat Bulan terbaring tidak berdaya, seperti itu. Tapi, dia hanya bisa menyimpan itu dalam hati. Dia tidak ingin mati konyol, hanya karena dendam semata.


 


Hal tersebut wajar, karena lawan Kilin saat ini adalah Tetua Klan Api. Lihatlah, hanya dengan energi yang terpancar dari tubuhnya saja, suhu ruang di sekitar menjadi hangat. Seperti sedang berada di permandian air panas.


 

__ADS_1


“Orang ini bisa berguna nantinya, saya tidak boleh membunuhnya. Dia bisa dijadikan pengatur suhu ruang, jika kondisi cuaca yang dingin.” Kilin mencoba menghibur diri. Dia sedikit tegang, takut-takut kalah dari Tetua Klan Api.


 


Kilin bergerak maju, meliukkan tubuhnya untuk menghindari pukulan yang dibaluti bara api. Dia mencoba menebas dari arah belakang Tetua Klan Api, memutar tubuhnya. Namun Tetua Klan Api melompat, menghindari serangan tersebut.


 


Kilin menghembuskan nafas kasar, sementara Tetua Klan Api terbahak, “Kau pikir bisa melukaiku dengan trik yang sama. Hah!?”


 


“Benar, kupikir Tetua Klan orang yang bisa diperbodohi dengan trik, seperti itu. Tapi, ternyata Tetua Klan cukup pintar juga. Otaknya dipakai dengan tepat.” Mendengar perkataan Kilin, membuat Tetua Klan Api membulatkan mata yang nampak memerah.


 


“Aduh, sepertinya saya salah bicara. Takutnya kualat, karena sudah meledek orang tua.” Kilin menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


 


Kilin memiringkan tubuhnya, menghindari pukulan yang datang. Dia menendang Tetua Klan, sebagai balasan. Akan tetapi, Tetua Klan Api cukup tanggap. Dia melompat mundur, meliukkan tubuhnya di udara.


 


Tubuh Kilin terhempas, dia lengah. Tetua Klan yang baru saja menyerangnya adalah ilusi, sementara Tetua Klan yang asli bersembunyi menunggu momen yang tepat untuk memberikan serangan kejutan.


 


Pada saat Kilin masih terhempas, Tetua Klan bergerak menyusulnya. Menghantamkan pukulan bertubi-tubi pada Kilin. Hal tersebut membuat mata Kilin membulat, terhempas menabrak dinding hingga hancur. Reruntuhannya menimpa dirinya, lama tidak ada gerakan dari reruntuhan tersebut. Membuat Tetua Klan menyimpulkan, bahwa Kilin telah tewas.


 


 


Reruntuhan yang menimpa Kilin terpencar di mana-mana, Kilin bergerak cepat. Dia menancapkan pedang kecilnya, tepat pada punggung Tetua Klan. Hal tersebut membuat Tetua Klan terbelalak, dia kurang waspada.


 


Menangkap kepala Kilin, melemparkannya ke sembarang arah. Tetua Klan mencabut pedang yang tertancap pada punggungnya, melemparnya ke sembarang arah. Suara dentang menggema.


 


Kilin mencoba untuk berdiri tegap, menatap tajam ke arah Tetua Klan Api. Dia tersenyum puas, melihat Tetua Klan yang melepaskan energi besar, dikendalikan oleh amarahnya sendiri.


 


Kilin terpekik, Tetua Klan tiba-tiba muncul di hadapannya, menghantamkan pukulan yang diselimuti kobaran api. Kilin terhempas muntah darah. Tidak hanya itu, api berbentuk gagak menghantam Kilin. Ledakan besar terjadi, menggema ke segala penjuru.


 


Bulan yang terduduk, di hadapan Putri mendongak. Kaget dengan suara ledakan yang baru saja terjadi. Pasalnya dari suara yang didengarnya, ledakan tersebut lumayan juga.


 


Bulan berdiri tegap, tidak peduli dengan kondisi tubuhnya. “Sebaiknya, kau tetap berada di tempat ini, jangan ke mana-mana. Di luar sangat berbahaya, berdasaarkan kemampuan yang lemah. Kau tidak akan bisa menghadapi bahaya yang datang.”

__ADS_1


 


Putri ingin membantah, tapi tidak bisa berbuat banyak. Ketika Bulan menatapnya tajam, “Tugas kalian, awasi dia. Jangan biarkan dia ke mana-mana. Ingat ini perintah!”


 


Para prajurit yang berada di situ saling menatap, kemudian membungkukkan badan. Sementara itu, Bulan bergerak cepat untuk meninggalkan tempat tersebut. Mencari asal suara ledakan yang baru saja didengarnya.


 


Kilin terduduk, beberapa kali muntah darah. Untungnya, topeng miliknya masih utuh, juga pakaian miliknya. Pakaian tersebut sangat tahan, “Sepertinya, ini armor.”


 


Kilin mencoba berdiri, di sekitarnya terdapat asap mengepul. Akibat ledakan yang baru saja terjadi. Dia menatap tajam ke depan.


 


Kilin jauh lebih waspada sekarang, sekali lagi dia mendapat serangan seperti tadi. Maka, dapat dipastikan dia tidak mampu bergerak lagi. Serangan yang baru saja diterimanya, begitu besar. Tidak main-main, dia pikir tidak akan selamat tadi.


 


Begitu pandangannya tidak lagi terbatas, nampak Tetua Klan Api sedang berkacak pinggang. Melihat ke arah Kilin, dia menggelengkan kepala, sepertinya kecewa. Harapannya tidak sesuai kenyataan, nampak menghembuskan nafas halus.


 


Tetua Klan bergerak, ingin menyerang Kilin. Namun saat pukulannya akan mengenai Kilin, secara tiba-tiba dia menghindar. Kilin melayangkan tendangan pada belakang leher Tetua Klan Api.


 


Hal tersebut membuat Tetua Klan Api terjerembap ke depan, wajah bergeser dengan lantai istana. Tetua Klan Api bangkit, kesal pada Kilin. Dia bergerak cepat, mengerahkan pukulan bertubi-tubi. Namun dapat ditangkis oleh Kilin menggunakan pedang miliknya.


 


Keduanya saling mengerahkan kemampuan masing-masing, bertarung untuk saling menghabisi. Sementara Kilin harus jatuh bangun dalam menghadapi Tetua Klan, meski sesekali membuat Tetua Klan menerima serangan yang fatal. Akan tetapi, belum cukup untuk menghilangkan nyawanya.


 


Keduanya terus bertarung, saling jual-beli serangan. Menangkis, menghindari serangan yang datang silih-berganti. Pertarungan tersebut, sangat menguras kemampuan Kilin.


 


Kilin terengah-engah. Lelah, dia tidak menyangka kemampuan mereka berdua sangat jauh berbeda, terdapat jurang pembatas diantara yang menjadi jarak kekuatan mereka. Tetua Klan jauh kebih kuat dibanding dirinya, Kilin diam-diam mengakui hal tersebut. Dia menghapus piluh yang membasahi ke wajah.


 


Kilin bergerak cepat, bermaksud untuk menebas leher Tetua Klan, tapi sebelum dia menebas. Tetua Klan sudah menyarangkan pukulan yang begitu kuat, tanpa energi. Dia melakukan pukulan beruntun pada Kilin, ingin menyiksa lebih lama. Pukulan terakhir dialiri dengan energi yang sangat besar, kobaran api melapisi lengannya.


 


Hal tersebut membuat Kilin terhempas jauh, menabrak dinding. Hancur. Begitu kepulan debu menipis, dia bergerak maju ke depan. Akan tetapi, terhenti. Kilin tergagap. Di depan sana, Tetua Klan mengeluarkan energi api yang sangat besar, membentuk sebuah gagak. Serangan yang sama, seperti sebelumnya. Hanya kali ini dalam skala yang jauh lebih besar.


 


Begitu energi tersebut dilepaskan, mengarah pada Kilin. Terjadi ledakan yang sangat besar, membuat getaran di seluruh istana

__ADS_1


__ADS_2