
Pria tua tersebut mengarahkan tapaknya ke Yan. Tapak pria tua sedikit lagi mengenai Yan, ada sebuah tangan yang menggenggam pergelangan tangan pria tua.
“Apa kau berniat untuk menghancurkan salah satu restoran yang kubangun, Tua Bangka?” mendengar kalimat yang diucapan tersebut pria tua segera menatap orang yang yang berani menahan serangannya.
Pria tua tahu betul, siapa si pemilik suara tersebut karena mereka merupakan musuh bebuyutan walau tak begitu nampak.
Si pria tua memendam dendam yang amat mendalam kepada pemilik restoran, karena satu dan lain hal.
Pria tua menggertakkan giginya menatap sang pemilik restoran. “Kau!!!”
“Kalau kau ingin menghancurkan restoran ini, saya tentunya tidak masalah, tapi apa yang akan dilakukan oleh raja yah?”
“Ketika beliau mengetahui bahwa salah satu guru besar akademi kerajaan, membiarkan pangeran ketiga berbuat onar di restoranku ini.” Dengan senyum tipisnya pemilik restoran menghampiri tubuh Yan dan membawanya meninggalkan pria tua.
Di salah satu ruangan restoran terdapat seorang pria berambut biru ketua-tuaan, memiliki mata yang begitu sejuk serta tubuh tegap, walau umurnya sudah tidak terbilang muda lagi.
Dengan keringat yang mengucur deras, pria tersebut mengalirkan energinya ke tubuh seorang pemuda yang sedang terbaring kaku di atas tempat tidur. Pemuda tersebut begitu pucat fasih bagai sudah tak memiliki setetes darahpun dalam tubuhnya. Setelah berjam-jam mengalirkan energinya, keadaan pemuda tersebut belum juga berangsur baik.
Hal ini, tentunya menimbulkan kekhawatiran pada pria bermata sejuk tersebut. Dengan hembusan nafas yang halus, dia menghentikan energi yang dialirkan pada Yan serta menatapnya iba. “Sepertinya anak ini tidak akan selamat."
Pada saat pria bermata sejuk berbalik untuk meninggalkan Yan yang sedang terkapar tak berdaya pada ruangan tersebut. Secara tiba-tiba energi pria bermata sejuk tersebut bergerak secara tak beraturan di dalam tubuhnya dan tak bisa dikendalikan sedikitpun.
Kejadian ini membuatnya kaget bukan kepalang. Karena sepanjang hidupnya, dia baru mengalami kejadian seperti ini. Apalagi sekarang, energinya seakan terkuras habis, seperti ember yang penuh dengan air, tetapi airnya terkuras habis karena ember tersebut tiba-tiba bocor.
__ADS_1
Hal yang lebih mengagetkannya lagi adalah penyebab dari kejadian tersebut berasal dari energi dingin yang tiba-tiba mengelilingi Yan. “Anak ini!!!”
Kejadian tersebut berakhir, setelah tiga puluh menit berlalu. Dan untungnya pada kejadian tersebut tak sampai menghabiskan seluruh energi pria bermata sejuk tersebut, jika energinya benar-benar habis tak bersisa, bisa saja dia tak bisa lagi menatap indahnya dunia menipu.
Pada saat pria bermata sejuk tersebut menatap ke arah Yan. Keadaan pemuda tersebut sudah kulai berangsur membaik.
Beberapa menit berselang. Akhirnya, Yan sadar dan memuntahkan darah yang begitu banyak. ”Kau memiliki bakat yang luar biasa, nak.”
Ketika Yan, baru saja mendapatkan seluruh kesadarannya dan ingin menjawab pria bermata sejuk, tetapi dia bahkan belum bisa menggerakkan jermarinya dengan leluasa. Apalagi untuk membuka mulutnya untuk berbasa-basi.
Seakan mengetahui apa yang akan dilakukan Yan, pria bermata sejuk berkata, “Sudahlah, nak. Istrahatlah dulu, setelah kamu pulih. Kamu bisa berbicara sepuas hatimu.”
Setelah itu pria bermata sejuk meninggalkan Yan sendiri dalam ruangan tersebut, beberapa menit kemudian, dia kembali dengan senampan sup herbal yang dapat membantu pemulihan Yan. “Kamu masih begitu muda, tapi memiliki keberanian yang melebihi pendekar manapun di kerajaan ini, nak.”
Ingin rasanya Yan membalas perkataan pria bermata sejuk dengan umpatan. Namun dia sama sekali tak dapat mengeluarkan suara sama sekali. Jangan dia ingin mengeluarkan suara menggerakkan jemarinya saja belum bisa.
“Kalau boleh tahu siapa namamu? Oh ya, kamu bahkan belum bisa bersuara.” Suara pria bermata sejuk bermata sejuk yang begitu lembut membuat rasa sakit di sekujur tubuh Yan, seakan berkurang sedikit demi sedikit.
Pria bermata sejuk dengan sabar menyuapi, Yan dengan sup herbal yang selalu keluar dari sela-sela mulutnya. Setelah selesai Pria bermata teduh meninggalkan Yan, sendirian dalam ruangan tersebut. Agar Yan dapat beristrahat dengan tenang.
Lima hari kemudian Yan sudah mulai membaik, dia sudah bisa menggerakkan seluruh tubuhnya walau belum secara leluasa, dia juga sudah bisa membuka mulutnya dan berbicara dengan lancar.
Yan berjalan keluar dari ruangan yang telah di tempatinya selama lima hari. Pagi itu Yan menyusuri seluruh area lantai paling atas restoran yang di jadikan sebagai tempat tinggal sementara pemilik restoran, bila sedang berkunjung.
__ADS_1
Yan juga sesekali melihat-lihat pemandangan kota Yure. Mentari yang baru saja muncul dari arah timur benar-benar menambah keelokan kota tersebut.
Kota yang setahun lalu, yang sempat di singgahinya selama beberapa bulan, begitu tampak berbeda sekarang, bangunannya pula sudah banyak berbeda misalnya saja toko pakaian di seberang jalan sana, yang tepat berada di depan restoran tersebut belum ada sama sekali.
Restoran tempat Yan melihat pemandangan kota ini pula, dahulu masih berupa fondasi saja. Langit yang masih sama seperti tahun lalu, hanya saja barisan mega beriringan membuat formasi yang berbeda-beda setiap menitnya.
Puas menatap pemandangan sekitar. Akhirnya, Yan memutuskan untuk kembali ke dalam ruangan yang telah dia tempati selama lima hari terakhir. Tepat saat Yan memasuki ruangan, dia dikagetkan oleh seorang pria berambut biru dan memiliki mata yang lembut serta tak muda lagi.
Yah, benar pria bermata sejuk tersebut kurang lebih seumuran dengan guru dari akademi kerajaan yang menyerang Yan lima hari yang lalu.
“Rupanya, kamu telah pulih total yah.” Pria bermata sejuk nampak kaget melihat proses pemulihan, Yan. Pria bermata sejuk tersebut belum tahu saja, kalau proses pemulihan tubuh Yan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Gin.
“I...iy...iya, terima kasih atas, pertolongan petuah selama ini.”
“Tak perlu dipikirkan.” Yan hanya membalas pria bermata sejuk dengan senyum konyolnya.
“Oh ya, bakatmu benar-benar menakjubkan sangat sayang, apabila tak dipoles dengan baik.” Memang benarkata si pria bermata sejuk dan hal tersebut bukanlah suatu omong kosong belaka.
Karena bakat yang dimiliki Yan sangat sulit ditemukan selama beberapa ratus tahun terakhir, bahkan bakat yang dimiliki Yan adalah satu-satu yang pernah ditemui pria bermata sejuk selama hidupnya.
“Maksud petuah?” balas dengan kepolosannya.
“Hm langsung saja, apakah kamu mau menjadi muridku?”
__ADS_1
pria bermata sejuk langsung pada intinya, karena pada dasarnya dia tak suka berbasa-basi.
“Apa kamu mau menjadi muridku?” ucap pria bermata sejuk.