
Mentari muncul dari ufuk timur dengan gagahnya yang tak pernah berhianat dan terus menyinari daratan.
Dengan air mata yang bercucuran Yan berkata, “Maafkan saya Gin. Saya tidak bisa membawa penawar ini untukmu karena kecerobohnku sendiri.”
“Arkhhhhh.” Yan semakin menjadi karena kesalahan yang diperbuatnya.
Yan mengingat kembali kenangan yang dilaluinya dengan Gin selama beberapa hari ini. Seluruh kenangan terputar kembali di dalam otaknya.
Dengan mengepalkan tangan Yan mencoba untuk menyatukan gelang yang telah menjadi serpihan ke bentuknya semula dengan energinya.
Yan mengerahkan seluruh yang dia punya untuk menyatukan serpihan gelang tersebut. Akar muncul dari permukaan beberapa serpihan gelang.
Saat seluruh serpihan gelang akan menyatuh, tiba-tiba seperti ada magnet yang memisahkan serpihan gelang tersebut.
Setelah berusaha keras, dia gagal pada percobaan pertamanya. Kegagalan pertama Yan tidak membuatnya patah semangat, dia terus mencoba sampai akhirnya hampir seluruh tenaganya terkuras.
“Dasar bocah!!!” tiba-tiba Yan mendengar suara yang tidak dia ketahui berasal dari mana.
Tiba-tiba Yan merasakan aliran energi asing mengalir di seluruh tubuhnya, dia juga merasakan tangannya tiba-tiba begitu dingin.
Tangan Yan bergerak sendiri seakan sedang di kendalikan dan tangannya terarah pada serpihan-serpihan gelang.
Energi dingin keluar dari tangan Yan menuju serpihan gelang, kejadian tersebut membuat Yan mebelalakkan matanya.
“Sejak kapan saya memiliki energi es.” Yan benar-benar kebingungan karena sebelum ini dia hanya memiliki satu energi saja yaitu energi tumbuhan.
Energi yang dikeluarkan Yan secara perlahan menyatukan serpihan gelang menjadi utuh seperti semula.
Setelah gelang kembali seperti sedia kala, tiba-tiba gelang tersebut membeku dan berfungsi kembali sebagai portal yang akan mengantar Yan kembali ke kota Yure.
Melihat gelang tersebut bisa berfungsi kembali. Mata Yan hampir keluar dari tempatnya, lantaran kagetnya.
Tak mau menunggu lebih lama Yan melangkah memasuki portal. Samar-samar Yan dapat melihat Widora yang sedang menunggunya di depan portal yang telah kembali sedia kala, setelah hancur berkeping-keping menjadi beberapa bagian.
Widora menanti Yan dengan isak tangis yang memilukan, tangisan Widora sangat beralasan karena dia melihat sendiri, portal yang menjadi jalan pulang Yan hancur begitu saja.
Setelah menanti beberapa saat tiba-tiba muncul sebuah portal yang tidak jauh dari Widora.
Munculnya portal tersebut membuat Widora menghentikan isak tangis sejenak dan dia sangat berharap bahwa Yan akan muncul dari dalam portal serta pulang dengan selamat.
Tak berselang lama, Widora melihat Yan keluar dari portal. Widora dengan tangis menghampiri Yan. Tentu tangis yang dikeluarkan Widora kali ini adalah tangisan bahagia.
Widora menempatkan kepalanya pada dada Yan dan memukul-mukul pria yang baru saja keluar dari portal tersebut. Widora menangis sejadi-jadinya saat Yan memeluk hangat dirinya. “Kamu jahat Yan. Jahat sekali membuat tabib secantik saya menunggu dengan khawatir.”
__ADS_1
Entah mengapa jantung Yan seakan ingin meloncat keluar saat dirinya sadar sedang memeluk sahabatnya sendiri.
“Perasaan macam apa ini yang tiba-tiba muncul di hatiku?” batin Yan. Dengan senyuman yang menenangkan Yan melepaskan pelukannya pada Widora.
Yan menghapus air mata gadis tersebut dengan tangan gemetaran dan berkata, “Air matamu terlalu berharga untuk menangisi hal-hal kecil seperti ini, Widora.”
“Apa hal kecil katamu? Apa nyawa itu sesuatu yang remeh seperti yang katakan?” ucap Widora melayangkan tinjunya pada perut Yan
Setelah puas Widora memanyunkan bibir sambil melipat kedua tangan di dadanya dan berlalu pergi.
Yan yang tidak siap menerima pukulan Widora, hanya mampu menahan rasa sakit sambil memegangi perutnya.
Merasa rasa sakit pada perutnya reda Yan dengan gugup menghampiri Widora sambil menggaruk-garuk pelipisnya dengan ujung jari telunjuknya dan berkata, “Widora, ini rumput lasion untuk penawar racun Gin.”
Dengan tatapan sinis Widora mengambil rumput lasion dari Yan, tidak lebih tepatnya menyambar rumput lasion yang berada di tangan Yan.
Melihat hati Widora sedang kacau balau Yan keluar mencari angin segar, sebelum dia meninggalkan rumah Widora. Gadis tersebut menyerahkan kulit monster macan level tujuh padanya.
“Bawalah kulit monster macan ke toko tempa serba bisa, kulit monster macan level tujuh dapat dibuat menjadi jubah pelindung.”
“Serangan biasa takkan mampu menembus jubah tersebut bahkan akan lebih tahan dari saat masih berupa kulit.”
“Setahuku di kota ini, tak ada satupun toko tempa.” Dengan bingung Yan bertanya pada gadis di hadapannya.
“Toko tempa serba bisa didirikan oleh Poo,” ucap Widora sambil menghembuskan nafas kasar.
“Kamu benar, sebelum meninggal ayahku memberikannya modal untuk membuat sebuah toko tempa, dan yang membuatku kaget adalah dalam waktu beberapa bulan saja.
“Tokonya sudah menjadi yang terbaik, di kerajaan selatan ini.”
Mendapat tanggapan baik dari Widora membuat Yan tersenyum manis karena itu artinya sahabatnya itu sudah tidak marah lagi padanya.
Merasa Widora tak lagi marah padanya, Yan mengurungkan niatnya untuk berjalan-jalan.
Saat Yan masuk kembali ke rumah Widora, dia dicegat oleh gadis tersebut. “Kenapa kamu kembali ke belakangmu?”
“Saya ingin melihatmu mengobati Gin,” ucap Yan dengan senyum konyolnya.
Mendengar jawaban Yan membuat Widora tersenyum manis dan berkata, “Tidak, kamu tidak boleh melihat proses pengobatan Gin.”
“Tapi,” dengan senyum konyolnya Yan ingin membujuk gadis tersebut, agar dia dapat melihat proses pengobatan Gin.
Tetapi Yan urung dan secepatnya meninggalkan rumah Widora, setelah melihat gadis tersebut telah mengepalkan tangannya dan bersiap mendaratkan lagi pukulannya pada perut Yan.
__ADS_1
***
“Dasar Widora, mentang-mentang Gin lebih tampan dariku, mengusirku agar dia dapat berduaan saja dengan Gin.”
“Biasanya dia memperbolehkanku untuk melihatnya saat sedang mengobati pasiennya.” Dumel Yan sepanjang jalan.
Dengan kulit monster macan yang terikat di pinggangnya, Yan berjalan menyusuri pusat kota mencari toko tempa serba bisa.
Yan dengan mudah menemukan toko tempa serba bisa, karena toko tersebut sangat terkenal di kota Yure bahkan di seluruh kerajaan Selatan.
Saat Yan berada di depan toko yang bertuliskan Toko Tempa Serba Bisa, dia hanya bisa menelan ludah karena toko tersebut sangat mewah, dan berlantai tiga.
Dinding yang kokoh dengan ukiran emas yang berbentuk naga pada tiang-tiang penyangga toko.
“Apakah pemilik toko ini ada di tempat?” tanya Yan pada pelayan toko.
“Ya, pemimpin toko ada di ruangannya, ada yang bisa saya bantu, Tuan.” Dengan senyum hangat pada Yan.
Toko tempa serba bisa juga menjual peralatan pendekar yang sangat muktahir, pada lantai pertama hanya terdapat peralatan bantu tingkat rendah sampai menengah yang mempunyai harga terjangkau.
Lantai dua terdapat peralatan yang menegah sampai atas seperti pedang naga langit, tombak penguasa daratan dan banyak lagi.
Pada lantai tiga terdapat peralatan yang jarang dijumpai di dunia peralatan karena pemilik toko sendiri yang membuatnya dan harganyapun membuat setiap pengunjung hanya bisa menggigit jari.
Pada lantai tiga juga terdapat meja yang disediakan untuk para pengunjung.
Untuk bisa naik lantai tiga saja memerlukan sekurang-kurang dua juta koin emas. Di lantai tiga pula terdappat ruangan pemilik toko.
“Oh, apa boleh kamu mengantar saya di ruangan pemilik toko.”
“Apakah anda memiliki janji pada pemilik toko?”
“Tidak, tapi kamu bisa mengatakan padanya Yan ingin bertemu dengannya.” Dengan sok berwibawah Yan menyuruh pelayan toko untuk memberitahu pemilik toko.
“Tapi,” dengan ragu pelayan toko mengatakan bahwa tidak bisa menemui pemilik toko seenak jidatnya.
“Kalau begitu, antar saya ke ruangan pemilik toko ini.”
“Apakah anda memiliki minimal dua juta koin emas.” Pertanyaan pelayan membuat Yan sakit kepala dan mengacak-ngacak rambutnya karenanya.
“Poo, sialan keluar kamu, jangan membuatku pusing dengan segala peraturan aneh yang kau buat.” Dengan menggunakan tenaga dalam Yan meneriaki Poo.
“Itu percuma, Tuan. Ruangan pemilik toko terdapat sistem pertahanan yang sangat kokoh dan suara anda tidak akan menembus pertahanan tersebut.”
__ADS_1
“Itu dia.” Tiba-tiba Poo muncul menuruni tangga dengan tergesah-gesah.
Pelayan tersebut hanya bisa membuka mulut lebar-lebar melihat bosnya yang biasanya sulit untuk ditemui, tetapi sekarang bahkan bosnya yang datang sendiri. Dan orang di hadapannya juga mampu menembus pertahanan kokoh di ruangan bosnya.