
Saat pintu kediaman terbuka lebar, Gin disambut oleh Widora. Melihat Widora telah menantinya, Gin ketakutan sampai-sampai kakinya gemetaran. “Maafkan saya, saya janji tidak akan membicarakan dirimu dari belakang lagi.” Gin menunduk dengan kedua tangan yang saling dirapatkan sebagai bentuk penyesalannya.
Gin memohon pada Widora secara sungguh-sungguh, sebab dia tidak ingin nasib yang menimpa Yan terjadi padanya. Jika saja dalam situasi berbeda, mungkin Widora akan tertawa terbahak-bahak. Akan tetapi situasi saat ini, tidak memungkinkannya melakukan hal tersebut.
“Saya tidak menunggu di depan pintu untuk hal sekonyol itu.”
“Jadi, hal apa yang membuatmu menunggu sampai seperti itu?” ucap Gin penasaran.
“Poster dirimu dan Yan sudah tersebar di seluruh kota Yure. Kalian sedang dicari oleh Tangan kanan Raja selatan. Kepala kalian berdua dihargai satu juta koin emas.” Walaupun pada poster, wajah Yan sedang mengenakan topeng, tetapi untuk jaga-jaga, Yan juga melarikan diri bersama Gin.
“Bagaimana Yan bisa terlibat? Bukannya saya yang melawan Putra Tangan kanan Raja selatan. Lagipula dia juga sedang memakai topeng saat itu”
“Kabar yang kudengar ada penjaga gerbang yang melaporkan dirimu masuk bersama seseorang yang mengenakan topeng ke Pasar gelap. Sudahlah kamu tidak perlu menanyakan hal yang tidak penting seperti itu. Sekarang nyawa kalian yang jauh lebih penting.”
“Oh yah, Yan sekarang berada di mana?”
“Yan sudah menunggumu di dalam ruang rahasia. Kalian berdua harus melewati ruang rahasia agar bisa keluar dari kota ini.”
“Baiklah, segera antar saya ke ruang rahasia tersebut.”
Widorapun menuntun Gin ke ruang rahasia. Widora menyusuri kediamannya, dia kemudian memasuki sebuah kamar disusul oleh Gin. “Kamar siapa ini?”
Wajah Widora langsung memerah, sebab untuk kedua kalinya dia harus mengajak pria memasuki kamarnya. “Sudahlah, ka... kamu ta... tak pe.. rlu ber... tanya hal yang tidak penting seperti itu,” ucap Widora secara gagap.
__ADS_1
Widora menuju sebuah lemari pakaian dan mengambil satu baju. Dinding lemari bergeser hingga membentuk sebuah jalan yang hanya bisa dimasuki oleh seorang saja. Widora menyuruh Gin masuk, karena Yan sejak tadi menunggu dirinya.
Gin memasuki ruangan rahasia, saat dia sudah masuk ke dalam. Tidak jauh dari dirinya Yan sedang bertengger pada dinding menanti dirinya. Tak lama kemudian pintu yang baru saja dilewati Gin tertutup rapat. “Huft, sudah kuduga dia tidak akan ikut bersama dengan kami.”
“Kamu baru saja mengatakan apa Yan?”
“Ti... tidak, bukan apa-apa kok.” Yan gugup dibuatnya, menurut perasaan Yan, dia tadi hanya berbicara dengan nada berbisik. “Sebaiknya, kita cepat melanjutkan perjalanan sekarang.”
Gin dan Yan menyusuri ruangan tersebut dengan langkah yang santai. Mereka sekali, dua kali mengobrol akan hal-hal yang akan terjadi, jika mereka sampai tertangkap. “Gin, apa kau tau yang terjadi pada kita, jika sampai tertangkap oleh Tangan kanan Raja Selatan?”
“Tidak, memangnya apa yang akan terjadi pada kita?”
“Kita akan dibunuh secara mengenaskan!!!”
Setengah jam berlalu, mereka terus berjalan lurus, karena hanya itu jalur yang tersedia pada ruang rahasia tersebut. Lima menit berjalan, akhirnya Gin dapat melihat sedikit cahaya. Diapun mengajak Yan untuk segera mencapai cahaya tersebut.
Tujuan mereka selanjutnya adalah Ibukota Kerajaan Selatan, Jadi mereka menuju ke arah selatan. “Kita ke arah Selatan, karena tujuan kita saat ini adalah Ibukota dan di sana juga terdapat Kerajaan Selatan.”
“Apa kamu salah minum obat, Yan? Bukankah di sana pasti ada Tangan kanan Raja Selatan, kita sama saja mengantar nyawa ke sana.”
“Kamu nol besar, Gin. Justru di sanalah tempat teraman, bagi kita. Bukankah saya sudah mengatakan padamu, jika sang Raja adalah orang yang adil. Tangan kanan Raja selatan tak akan berani mengusik kita selama berada di Ibukota.”
“Oh begitu yah, kalau begitu kita harus menuju Ibukota sekarang juga.” Gin dan Yan melakukan perjalanan mereka menuju Ibukota. Di saat mereka menyusuri hutan, tiba-tiba muncul monster monyet level lima.
__ADS_1
Gin dan Yan tiba-tiba menjadi waspada, walaupun level monster monyet jauh di bawah monster macan, tetapi mereka tidak mau mengambil resiko yang besar. Gin dan Yan tetap waspada mengawasi setiap gerak-gerik monster monyet masih menatap mereka dengan tajam.
Yan tiba-tiba menyerang monster dengan energinya yang membentuk tumbuhan yang menahan gerakan monster. Yan kemudian mengeluarkan jurusnya untuk menyerang monster monyet, energi Yan menciptakan sebuah palu raksasa yang dibentuk dengan akar pohon, karena energi tumbuhan Yan.
Pada saat palu raksasa menghantam monster monyet. Dia menghancurkan akar yang menahan gerakannya. Akhirnya, palu raksasa hanya menghantam tanah kosong hingga hancur. Yan menggertakkan giginya. “Gerakan monster monyet ini, benar-benar cepat.”
Gin melihat hal tersebut, muncul di samping monster monyet yang baru saja bernafas lega. Dia mengarahkan pukulannya pada monster monyet yang membuatnya terhempas cukup jauh. Gin bergerak lagi, akan tetapi monster monyet sudah berada di hadapannya dan menyerang Gin dengan pukulannya. Hal ini membuat Gin tersentak kaget, dia tidak sempat menangkis serangan monster monyet apalagi sampai menghindar.
Gin termundur beberapa langkah saja. “Walaupun gerakannya cepat, tetapi pukulannya begitu lemah.”
Melihat monster monyet lengan Yan menyerangnya dengan pukulan yang dilapisi oleh energi tumbuhannya. Serangan Yan mengenai wajah sang monster monyet dan membuatnya terhempas hingga menabrak dan menumbangkan pepohonan.
Melihat monster monyet masih terhempas, Gin bergerak menyusul tubuh monster monyet yang masih terhempas. Dia berhasil menyusul monster monyet dan menyerangnya dengan sebuah pukulan yang dialiri oleh energi kegelapannya.
Pukulan Gin mengakibatkan monster monyet muntah darah serta terhempas ke arah Yan. Monster monyet terus terhempas hingga tiba di hadapan Yan yang sudah bersiap untuk menyerangnya dengan pukulan yang telah dilapisi energinya.
Pukulan Yan menghempaskan monster monyet yang membuat monster monyet memuntahkan banyak darah. Gin memanfaatkan hal tersebut dan mengejar tubuh monster monyet yang sedang terhempas. Gin muncul di belakang monster monyet, dia menyerangnya dengan pukulang yang di aliri energi kegelapannya.
Monster monyet tersenyum lebar, dia menahan tubuhnya sendiri dengan menghantam kakinya ke tanah. Dia menangkap pukulan Gin dan menyerangnya dengan sebuah pukulan bertubi-tubi. Gin hanya bisa menangkis serangan monster monyet dengan satu tangan, karena tangan yang satunya masih dicengkram kuat oleh monster monyet.
Gin mencoba untuk melepaskan tangannya dari cengkraman monster monyet, namun dia tidak bisa melakukannyan, karena segala macam cara dia sudah lakukan mulai dari menyerangnya setiap Gin mendapat celah yang diciptakan oleh monster monyet sampai mengigit tangannya, monster monyet tetap tak bergeming dari tempatnya.
__ADS_1
Gin telah menerima banyak pukulan yang mengenai wajah dan perutnya. Dia tetap belum bisa melepaskan diri dari monster monyet.
Tanpa Gin dan monster monyet sadari, Yan sedang menciptakan tombak raksasa dari energi tumbuhannya yang cukup menguras tenaga dalamnya. Tombak raksasa ini merupakan jurus terkuat Yan untuk saat ini. Dia juga mampu mengalahkan monster macan level enam dengan jurus ini, sebelum monster macan berevolusi menjadi level tujuh pada saat itu.