
Boo terengah-engah menatap Si Kaki Ajaib yang berdiri dengan tegap. Padahal baru saja menerima pukulan bertubi-tubi darinya, mata awas yang tidak sedikitpun bergeser.
Kewaspadaan tidak sedikitpun hilang, menatap tajam pada Si Kaki Ajaib. Boo menyerang Si Kaki Ajaib dengan sebuah pukulan yang membuatnya terhempas ke belakang. Dia menggertakkan rahang kuat, kesal. Serangannya, tak mampu menumbangkan Si Kaki Ajaib.
Si Kaki Ajaib mendengus, menyerang dengan tendangan berputar. Boo yang melihatnya memasang kuda-kuda, berniat untuk menangkis serangan Si Kaki Ajaib dengan menyilangkan tangan. Dia melihat celah, terbuka lebar.
Dia melayangkan sebuah tendangan kuat, tapi dapat ditangkis. Bahkan, Si Kaki Ajaib dapat menangkap tendangan tersebut. Hal itu membuat Boo menganga, tidak menyangka celah yang terbuka hanyalah jebakan.
Si Kaki Ajaib melempar Boo ke udara dan menendang perutnya. Hal tersebut membuatnya terlempar. Boo mengeraskan rahang, dia geram. Tidak menyangka, bahwa dapat dipermainkan seperti ini.
Boo yang masih berada di udara, menyeimbangkan tubuh. Dan mendarat dengan mulus di atas arena turnamen, “Orang ini! Dia hanya berasal dari perguruan kecil, tapi mengapa bisa mempermainkanku seperti bocah kecil?”
Boo bergerak cepat, menyerang dengan emosi yang meluap-luap. Tangannya diselimuti oleh energi yang cukup besar, Boo seperti orang gila yang menyerang ke sembarang arah. Sementara itu, Si Kaki Ajaib hanya menghindar dengan santai.
Boo semakin kesal, melihat wajah datar Si Kaki Ajaib. Dia bergerak dengan kecepatan penuh, menyerang titik vital Si Kaki Ajaib. Tapi Si Kaki Ajaib menangkis serangannya dan berkata, “sudahlah tak perlu berusaha sekuat itu. Asal kau tahu saja, sejak awal kau bukan lawan yang sepadan untukku.”
Tentu hal tersebut menyulut emosi Boo. Dia menarik tangannya, melayangkan sebuah tendangan. Si Kaki Ajaib juga melakukan hal yang sama. Pertemuan serangan keduanya menimbulkan suara retakan, krak. Suara yang berasal dari kaki Boo.
Mata Boo membulat, merasakan sakit yang luar biasa. Tapi seakan tidak peduli, dia kembali menyerang Si Kaki Ajaib dengan pukulan yang lebih keras dari sebelumnya. Serangan tersebut mengenai tulang rusuk Si Kaki Ajaib yang membuatnya muntah darah.
Ada tiga ruas tulang patah. Melihat itu, tentu membuat Boo senang dan merasa sedang berada di atas angin. “Hm, cuman itu kemampuanmu. Padahal sebelumnya, kau sudah menyombongkan diri, seakan saya bukan lawan yang cocok untukmu. Ternyata semua itu hanya bualan kosong.” Boo meludah ke arah Si Kaki Ajaib.
Boo tak ingin membuang-buang waktu, dia tidak sabaran menunggu Si Kaki Ajaib yang sedang kewalahan dengan rasa sakit yang dirasakannya. Akhirnya Boo bergerak, melompat dan menghantam Si Kaki ajaib dengan menautkan kedua telapak tangan.
__ADS_1
Pukulan Boo, tepat mengenai punggung Si Kaki Ajaib. Hal tersebut membuat Si Kaki Ajaib Terbelalak dan tengkurap di atas lantai arena, dia memuntahkan darah yang lebih banyak. Mencoba bangkit dengan sisa tenaga yang dimilikinya.
Boo tersenyum dan berdiri di dekat Si Kaki Ajaib. Dia menginjak Si Kaki Ajaib yang membuatnya kembali tengkurap. Boo menginjak-injak kepala Si Kaki Ajaib.
Gin yang menonton hal tersebut, menggertakkan gigi. Dia ingin turun ke arena dan segera memakan Boo hidup-hidup, dia geram dengan perlakuan Boo terhadap Si Kaki Ajaib. Tapi dia di tahan oleh Yan, “Lepaskan, Yan. Saya ingin ******* orang itu hidup-hidup.”
“Tidak... Saya tidak akan membiarkanmu berbuat seenaknya kali ini.” Yan dengan sekuat tenaga memiting Gin yang sedang memberontak. Dia sebenarnya sangat kewalahan, tapi lebih baik seperti ini, menurutnya. Dibanding harus melihat Gin terdiskualifikasi.
Seketika, Gin mengingat ketentuan Wasit. Kalau peserta boleh menyerah, “Woi, Kaki Leher Jerapah. Jangan menyerah! Kau tidak boleh kalah kali ini dan jangan membuat dirimu disiksa seperti hewan. Ingatlah ini! Maju meski mundur, takkan mundur meski seribu pasukan menghadang!”
Teriakan Gin membuat semua orang melihat ke arahnya, termasuk Si Kaki Ajaib. Dia berusaha mendongak, hanya demi melihat orang yang meneriakinya. “Kata-kata macam apa itu?” Si Kaki Ajaib membatin. Meski begitu, hanya dengan melihat Gin, dia mengembangkan senyum.
Yan yang merasa semua tatapan mengarah pada mereka, memaki Gin dalam hati. Sementara itu, Raja Selatan sedikit tertarik pada Gin.
Meski tidak mengerti dengan perkataan Gin, tapi Si Kaki Ajaib merasa seluruh tenaganya kembali pulih. Setelah mendengarkan teriakan Gin, dia meraih kaki Boo dan menariknya. Hal tersebut membuat Boo yang tidak siap menjadi terjatuh, dia terlalu senang karena merasa sudah menang atas Si Kaki Ajaib sampai membuatnya menurunkan kewaspadaan.
Si Kaki Ajaib bangkit dan menyeret tubuh Boo. Dia melemparkan tubuh Boo ke udara, saat Boo akan terjatuh. Dia melompat ke udara, melakukan tendangan salto. Hal tersebut membuat Boo muntah darah dan menghantam arena.
Debu melingkupi sekitar tempat jatuhnya Boo. Si Kaki Ajaib berdiri tegap kali ini, meski sedang berada dalam kepungan debu yang semakin menipis.
Tiba-tiba Boo muncul dari balik kepulan debu, dia mengerahkan sebuah pukulan ke Si Kaki Ajaib. Set, Si Kaki Ajaib menghindar, meski harus mundur dua langkah. Terkena sedikit serangan Boo. Dengan cepat Si Kaki Ajaib membalas serangan Boo.
Dengan menendang kaki Boo yang masih pincang. Hal ini, membuat posisi Boo menjadi duduk setengah lutut dan bertopang pada satu kaki saja.
__ADS_1
Tidak hanya sampai disitu saja, Si Kaki Ajaib menendang Boo. Tubuhnya terlempar jauh dengan memuncratkan darah segar. Si Kaki Ajaib bergerak menyusul tubuh lawannya, tidak membiarkan Boo menyentuh lantai.
Bum! lagi-lagi Si Kaki Ajaib menendang Boo. Tubuh Boo, melesat ke udara, cukup tinggi. Pada saat tubuh Boo terjatuh, Si Kaki Ajaib melompat tinggi. Dia menendang tubuh Boo, hingga terhenpas keras di atas arena.
Hal tersebut membuat seluruh penonton menahan nafas beberapa detik. Kemudian berteriak kencang, nama Si Kaki Ajaib terdengar ke seluruh sudut arena. Si Kaki Ajaib tidak menurunkan kewaspadaan.
Dia tetap mengamati tempat Boo berada, debu masih mengepul. Si Kaki ajaib memasang kuda-kuda. Tepat Boo muncul dari balik debu, tapi ada energi yang sangat menakutkan menyelimutinya. Hal tersebut membuat Si Kaki Ajaib menelan ludah.
Bohong! kalau Si Kaki Ajaib tidak ketakutan. Bohong! Kalau Si Kaki Ajaib tidak gemetaran. Bohong! Kalau Si Kaki Ajaib tidak ingin lari dari pertarungan. Secara naluriah, Si Kaki Ajaib mundur satu langkah ke belakang. Satu langkah lagi.
Tiba-tiba, tubuh Si Kaki Ajaib terhempas. Terkena pukulan Boo. Si Kaki Ajaib mengeluarkan darah yang begitu banyak. Lagi, Boo menyerang Si Kaki Ajaib dengan melompat. Hal tersebut membuat Si Kaki Ajaib terbaring di atas arena.
Darah yang keluar dari mulutnya semakin banyak. Boo meremas rambut Si Kaki Ajaib dan mengangkat tubuhnya. Satu pukulan ke perut Si Kaki Ajaib. Kyaaa! Satu teriakan keras dari mulut Si Kaki Ajaib. Dan jangan lupakan darah yang keluar dari mulutnya, juga bercipratan di baju yang Boo kenakan.
Hal tersebut membuat Boo geram, energi yang berada pada sekitar tubuhnya semakin membesar. Kejadian tersebut membuat sebagian penonton bergidik ketakutan, sekaligus bertanya-tanya dari mana asal kekuatan yang dimiliki oleh Boo. Juga beberapa peserta di atas lapangan.
Hal ini, tak lepas dari pengamatan Sang Raja. “Sepertinya ada yang aneh dengan turnamen kali ini.” Batinnya.
Boo terus memukuli Si Kaki Ajaib, tanpa melepaskannya. Teriakan menyedihkan dari Si Kaki Ajaib menghiasi langit-langit arena. Sementara, Boo. Hanya tertawa seperti orang kesetanan.
Si Kaki Ajaib terus berteriak, hingga suaranya tak mampu lagi terdengar. Karena tak mampu lagi, tubuh sudah terlalu lemah untuk melakukan hal tersebut. Melihat lawannya sudah tak berdaya, Boo bersiap melakukan pukulan terakhir.
Pada saat pukulannya mengenai Si Kaki Ajaib. Hal tersebut membuat tubuhnya terhempas tidak berdaya, hingga keluar arena.
__ADS_1