Black Shadow

Black Shadow
Berpisah itu Menyakitkan


__ADS_3

“Sepertinya, memang belum lama terjadi pertarungan hebat di sini. Apa orang bertarung di tempat ini masih bisa disebut manusia?” Gin bertanya dalam hati.


 


“Ah iya, saya hampir lupa. Kamu dipanggil Raja untuk menghadap, Gin. Dia ingin membicarakan sesuatu padamu. Sebaiknya, kita kembali sekarang.” Putri menaiki elang berbulu hitam tersebut. Diikuti Gin.


 


Mereka menuju istana, mendarat tepat di halaman. Prajurit yang berjaga di depan istana bersiaga, mengacungkan senjata pada Gin dan Putri.


 


Gin berjalan santai di hadapan para prajurit yang sedang bersiaga, siap untuk bertarung. Siap untuk menyerang keduanya. Diantara mereka tidak ada yang mengenali Gin maupun Putri.


 


Gin bergerak cepat, muncul di belakang para prajurit, dia berbisik, “Sebaiknya, kalian membiarkan kami lewat, karena Raja yang memanggil kami untuk menghadap padanya. Jika kalian menghambat kami untuk menemuinya, kalian tahu tanggung sendiri akibatnya!”


 


Ucapan Gin berhasil membuat para prajurit tersebut bergidik ngeri. Meski berbisik, mereka semua dapat mendengar dengan jelas ucapan Gin. “Baiklah, silahkan lewat. Buka pintu istana, cepat!”


 


Pintu istana dibuka dengan secepat mungkin, Putri Mutia berjalan memasuki istana yang diikuti oleh Gin. Mereka berjalan santai, tidak ada lagi halangan. Meski Gin pernah tinggal di istana, tapi tidak banyak prajurit mengenalinya. Jangankan dia, Putri Mutia yang sudah tinggal di istana dari lahir saja, hanya beberapa orang mengenalinya. Meski, hal tersebut bukan tanpa sebab.


 


Putri tidak mengikuti Gin sampai ruang singgasana, dia tidak tertarik untuk ikut dalam urusan istana, maupun Kerajaan Selatan. Baginya hal tersebut begitu membosankan. Tidak ada yang menarik tentang hal tersebut.


 


Pintu ruang singgasana langsung dibuka oleh anggota pasukan khusus, mereka tentu mengenali Gin. Dialah penyelamat hidup mereka. Itulah sebabnya mereka masih mengingat Gin.


 


“Eh, Pahlawan Muda (Gin). Silahkan masuk, Raja dan para Petinggi Istana sudah menunggu Pahlawan muda sejak tadi. Sebaiknya, Pahlawan Muda segera masuk, sebelum kesabaran orang-orang itu segera habis.” Salah satu anggota pasukan khusus memberikan saran. Gin mengangguk mantap.


 


“Pahlawan muda memasuki ruang singgasana.” Seketika anggota khusus tersebut menutup mulutnya, dia tidak sengaja berteriak seperti itu. Sementara Gin hanya bisa menggelengkan kepala.


 


Gin berjalan santai di atas karpet merah, dia tidak memperdulikan tatapan para petinggi istana yang menatapnya dengan penuh kemarahan. Hal tersebut diakibatkan oleh Gin yang sudah membuat mereka menunggu lama, sementara Raja yang sudah menunggu sejak tadi, terlihat bosan. Dia sampai menguap.


 


Gin berhenti di depan tangga, karena seorang Tetua menahan tubuhnya dan berbisik, “Mundur lima meter, kau terlalu dekat dengan singgasana Raja dan berlututlah pada Raja.”


 

__ADS_1


Gin tidak mau bergeser dan berlutut, dia menatap Raja yang sedang sibuk melamun. Sesekali menguap, melihat hal tersebut Gin ikut menguap. “Heeeaaaa,”


 


Hal tersebut membuat lamunan Raja terhenti, dia berdiri dari singgasananya. Semua petinggi istana ikut berdiri, bersuara mengomentari Gin yang tidak mau berlutut di depan Raja. Bahkan satu-dua petinggi  istana meneriaki Gin untuk berlutut, tapi dia abai saja. Memilih untuk mengupil, sembari menatap Raja.


 


Raja berdehem, hal tersebut membuat para petinggi istana terdiam. Tidak berani bersuara sedikitpun. “Kenapa kamu memanggilku?”


 


Semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut terpekik, bahkan untuk bernafas saja kesulitan. Mereka tidak menyangka Gin akan seberani itu di depan Raja.


 


Salah satu petinggi yang masih menghormati Raja, bukan takut. Marah besar, dia mengeluarkan energi yang sangat besar untuk menekan Gin, namun sia-sia. Hal tersebut tak berefek baginya.


 


Petinggi tersebut bergerak cepat untuk memaksa Gin berlutut, “Hentikan! Jika tidak? Dapat kupastikan nyawamu melayang hari ini juga.”


 


Putri Mutia berjalan anggun di atas karpet merah, sementara para petinggi yang melihat itu terheran-heran. Tidak mengenal perempuan yang baru masuk, hanya tiga orang yang mengenalinya dalam ruangan tersebut.


 


Raja, Gin dan Tetua yang mengelola istana selama Raja beristirahat di tempat pengungsian khusus saat itu. Raja yang melihat hal tersebut menghembuskan nafas halus, “Anak ini selalu berbuat seenaknya. Tapi untuk tindakannya yang satu ini, saya menyukainya, dia telah menyelamatkan kehormatanku sebagai seorang Raja.”


 


 


Petinggi tersebut berbalik ke arah Raja, dia membungkuk, “Raja izinkan saya untuk menghukum kedua anak yang tidak menghormatimu sama sekali!”


 


“Kaulah yang seharusnya dihukum, kau sudah membentak Putriku. Kau juga sudah lancang dengan meminta izin padaku untuk menghukumnya. Prajurit! Bawa dia dan beri seribu cambukan berduri.” Para petinggi Kerajaan saling menatap, kaget dengan kenyataan tersebut. Kecuali, Tetua itu.


 


Petinggi tersebut pucat, benar-benar pucat. Dia tidak menyangka telah menyinggung orang yang salah. “Ampuni saya Raja. Ampun. Saya tidak bermaksud lancang pada Tuan Putri.”


 


Petinggi tersebut diseret oleh dua anggota khusus yang berjaga di depan pintu ruang singgasana Raja. Sementara itu, Gin masih sibuk mengupil, seakan tidak peduli dengan semua yang telah terjadi dalam ruangan tersebut.


 


Raja menatap tajam, menyapu seluruh petinggi istana, maupun para tetua dengan tatapan tajam tersebut. Tidak ada yang berani bersuara, kecuali Gin yang sedang menguap lebar. Suaranya menggema ke seluruh ruangan. Putri Mutia yang melihat hal tersebut tertawa kecil, Raja yang melihat momen langka tersebut mengembangkan senyum kecilnya. “Langsung saja, maksud saya memanggilmu menghadap padaku adalah untuk berterima kasih secara langsung, karena telah menyelamatkan nyawaku dengan bertarung bersama anak berambut putih melawan Barbara. Benar kata salah satu anggota, kau... kalian adalah pahlawan muda Kerajaan Selatan!”

__ADS_1


 


Semua yang berada di dalam ruangan tersebut tersontak kaget, sementara Putri mendorong bahu Gin. Hal tersebut membuatnya hampir terjatuh. Itu hanya tipuan Gin. Sengaja.


 


“Karena hal tersebut, kau akan dianugrahi dengan sebuatan pahlawan muda, diangkat menjadi Komandan pasukan, dan nama kota baru yang akan didirikan di wilayah gersang hutan es-api berasal dari namamu, yaitu Kota Es-api Nig.” Gin memiringkan kepala, sambil mengupil. Dia tidak peduli dengan hal tersebut.


 


“Saya menolak semua pemberianmu, kecuali uang! Uang lebih baik dari semua itu, sebaiknya kau berikan semua itu untuk dirimu sendiri.” Putri Mutia tertawa kecil, wajah Raja merah padam. Menahan malu.


 


Raja menghembuskan nafas halus, menatap Gin. “Baiklah, permintaanmu begitu mudah. Akan kuberiakan satu juta koin emas untuk dirimu.”


 


Gin menggeleng, “Cukup seratus koin emas sudah cukup bagiku.”


 


Setelah menerima hadiahnya, Gin langsung pergi dari ruangan tersebut. Dia tidak nyaman berada di tempat tersebut. Hampir semua orang berada di ruangan tersebut menatapnya dengan penuh kemarahan.


 


Gin pergi tanpa seizin Raja. Baginya, setelah hadiah tersebut diberikan, maka urusannya dengan Raja selesai. Putri mengikuti Gin.


 


“Setelah ini, kamu akan tinggal di istana ‘kan?” Gin menggeleng tegas. Hal tersebut membuat senyum Putri lenyap, langkahnya juga terhenti.


 


Gin sadar, Putri berhenti di belakang sana. Dia menghentikan langkah, menghembuskan nafas halus. Berbalik arah, melangkah ke arah Putri Mutia. “Saya tidak bisa menetap di tempat ini, meski menginginkannya sekalipun. Masih ada tujuan yang harus kucapai. Kuharap kau mengerti itu, kau teman yang baik.”


 


Gin mengusap air mata Putri yang berada di pipinya, lalu pergi begitu saja. Tanpa kata perpisahan.


 


Gin berjalan tanpa menoleh sedikitpun ke belakang, dia berat untuk meninggalkan Putri Mutia. Akan tetapi, dia tidak memiliki pilihan lain, satu-satunya pilihannya adalah melanjutkan perjalanan. Bahagia bisa memiliki teman sepertinya.


 


Gin pulang ke rumah Si Tua Obat untuk berpamitan. Sebenarnya, dia tidak ingin berpamitan, karena hanya akan membuatnya semakin berat untuk melanjutkan pertualangannya.


 


Si Tua Obat memberinya beberapa obat untuknya selama perjalanan, sembari menangis keras. Dia benar-benar menyayangi Gin, memarahinya selama ini untuk menutupi rasa sayangnya tersebut. Karena Si Tua Obat memiliki ego yang tinggi.

__ADS_1


 


Setelah berpamitan, Gin berlari cepat membela gelapnya malam. Menyusuri hutan tak tentu arah, satu yang dihindarinya, yaitu berjalan ke arah gubuk reotnya dan Bibi Merume. Hanya itu. Dia bergerak di tengah gelapnya malam, bersama kenangan yang terus berputar di dalam pikirannya. Kenangan tentang dirinya dan Yan.


__ADS_2