Black Shadow

Black Shadow
Tua Bangka


__ADS_3

Gin dan Yan memasuki Kota Bintang, saat matahari sedang malu-malu muncul dari ufuk timur. Mereka berdua menuruni kuda dan berjalan sambil menarik kuda masing-masing. Pemandangan Kota Bintang sangat berbeda dengan Kota Yure.


Kota Bintang sangat ramai oleh hiruk-pikik manusia, bangunannya besar-besar, ada yang satu lantai, dua, tiga, bahkan ada yang sampai empat dan lima lantai. Setiap bangunannya, berjejer rapi, sangat simetris satu sama lain. Ada celah yang cukup untuk orang bisa lewat, pada setiap bangunan.


Masih sepagi ini, tapi Kota sudah seramai ini. Sejauh mata memandang tidak ada pengemis yang bertebaran, tidak seperti Kota Yure yang banyak menampung pengemis. Bahkan, secuil sampah pun sulit untuk di temukan dalam Kota ini.


Mata Gin berbinar-binar melihat isi Kota, orang-orang berlalu-lalung. Pedagang meneriakkan jualannya, para pandai besi sudah semangat menempa besi sepagi ini. Juga toko-toko sudah ramai saja, oleh pengunjung.


Kota yang makmur, tapi jangan salah menilai hanya dengan penampilan luarnya saja. Sebab dalamnya belum tentu seperti yang terlihat di luar.


Gin berjalan riang, pemandangan kota tersuguh di depannya. Madei setia menemani Tuannya, “Yan, apa Madei dan Sicepat akan tidur bersama kita di penginapan nantinya?”


Mendengar hal tersebut membuat Yan geleng-geleng kepala, kepalanya tiba-tiba sakit mendengar pertanyaan temannya itu. Ayolah, hal sesederhana itu perlu ditanyakan juga? “pasti Gin sedang bercanda, bukan? Hei, memang Gin tinggal di mana selama ini? Sampai hal seperti ini saja dipersoalkan,” pikir Yan.


Melihat Yan sibuk dengan pikirannya sendiri, membuat Gin tidak terlalu mengharapkan jawaban atas pertanyaannya. Mereka berdua menyusuri kota, sesekali ingin memasuki toko. Akan tetapi, dihalangi oleh Yan.


Gin menggerutu setengah mati, “bukankah, kita masih memiliki seratus koin emas? Dan semua koin itu miliku, tapi mengapa dia yang sibuk membatasi keinginanku? Lagipula, belanjaannya jauh lebih ‘wow.’ Lihatlah, tiga tanaman obat di pelana Sicepat. Jika saja, Walikota tidak berbaik hati memberikan semua secara cuma-Cuma, mana bisa dia memilikinya.”


“Tak perlu menggerutu seperti itu, Gin. Saya tahu semua koin adalah milikmu, tapi demi kebaikan bersama. Kita harus berhemat, agar kita bisa mendapatkan tempat yang layak di ibukota nanti. Apa kamu mau kita tidur di jalanan ibukota nanti?” Yan menjelaskan kondisi mereka dengan sabar.

__ADS_1


Gin hanya bisa menghembuskan nafas halus, tak bisa membantah sama sekali. “Ah, ini dia. Kukira penginapan ini sudah tutup. Ternyata masih berdiri kokoh seperti setahun silam.” Yan tersenyum lebar.


Terdapat seorang pelayan penginapan yang menghampiri mereka, saat keduanya menginjakkan kaki pada halaman penginapan. “Kami ingin menginap, masih ada kamar kosong bukan?”


Pelayan tersebut tersenyum ramah, “Masih ada. Untuk berapa malam Tuan muda? Tuan muda ingin mengambil peket ekonomis, kelas atau VIP?”


Yan tersenyum, “Saya mengambil paket ekonomis saja. Untuk tiga malam ke depan ya. Oh ya, tolong rawat Sicepat dan Madei dengan baik ya. Beri mereka nutrisi kuda terbaik yang kalian miliki, masalah biaya. Tenang saja, itu bisa diatur.”


Mendengar hal tersebut Gin termangu. “Hei, Yan memesan yang terbaik untuk Madei dan Sicepat, sementara mereka harus irit dan memesan paket ekonomis? Yan sedang bercanda kan?” batin Gin. Frustasi, mungkin itu yang sedang dialaminya. Cemburu terhadap Madei dan Sicepat, mungkin itu juga termasuk.


Penginapan yang mereka tempati merupakan yang paling sederhana dibanding yang lain, penginapan ini juga memiliki tiga lantai saja. Lantai pertama untuk pengunjung ekonomis, memang pelayan yang didapatkan pengunjung ini juga sangat terbatas. Sementara, lantai dua untuk paket kelas, tentu pelayanannya juga lumayan. Untuk lantai tiga adalah khusus pelanggan VIP, pelayan terbaik milik penginapan dikerahkan semua di lantai tiga.


Memang soal kualitas penginapan ini, kalah dengan penginapan lain. Akan tetapi, soal pelayan tidak kalah kok. Penginapan ini, dikhususkan untuk golongan menengah ke bawah. Meski begitu, penginapan ini jarang pengunjung. Makanya, Yan sempat khawatir penginapan ini sudah tutup.


Di samping tangga berjeret belasan pintu, sementara sebelah kiri meja penerima tamu, juga berjeret belasan pintu. Pintu-pintu tersebut adalah penghubung untuk memasuki kamar, terdapat nomor di tengah atas pintu. Disetiap pintu terdapat nomor tersebut.


Yan menghampiri meja penerima tamu, “masih harga yang sama kan?” perempuan tersebut mengangguk mantap. Dia kemudian menyerahkan tiga koin emas. Itu koin emas yang diberikan Gin sebelumnya, belum dikembalikan sama sekali kepadanya, seperti sudah menjadi hak milik saja.


Yan menuju ke kanan samping tangga, terus berjapan melewati deretan pintu kamar. Sepertinya, dia sudah hafal dengan penginapan ini. Yan baru berhenti setelah berada tepat di depan kamar nomor tiga belas. Gin setia mengikutinya di belakang. Yup, mereka sekamar, lagipula mereka sejenis, tidak masalah bukan.

__ADS_1


Gin langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, kamar tersebut tidak ada istimewahnya. Hanya sebuah tempat tidur dan sebuah meja di sampingnya, ada juga sebuah lemari pakaian, juga toilet untuk mandi dan ups jika diperlukan, hanya ada sebuah jendela di kamar tersebut.


Gin sudah terlelap, cepat sekali. Yan sampai heran dibuatnya, masalah tidur dia juaranya. Yan sampai ingin berguru kepada Gin soal tidur, tapi tentu itu hanya bercanda. Tapi, jika dipikir-pikir wajar juga Gin bisa tidur secepat ini, mereka melakukan perjalanan selama berhari-hari tanpa tidur. Istirahat hanya di atas bukit saja. Lalu kembali melakukan perjalanan tanpa henti, hingga sampai di Kota Bintang.


Yan ikut tidur di samping Gin.


Yan terkesiap, saat wajahnya terkena pukulan sampai terjungkal ke lantai. Bum! “Aduh!” Yan mengadu kesakitan, dia terkena pukulan Gin yang mengigau.


“Parah, bertarung sampai kebawa mimpi. Dasar maniak pertarungan!” Yan kesal terhadap Gin. Berlalu pergi ke luar untuk menghirup udara segar. Mata Yan langsung menyipit saat terkena sinar matahari yang berada tepat di atas kepalanya, saat sudah berada di luar penginapan.


Yan berjalan tak tentu arah, sesekali memasuki toko makanan kering untuk perbekalan mereka selama perjalanan nanti, perbekalan dari Walikota sudah mulai menipis.


***


Gin terbangun saat matahari akan tenggelam di ufuk barat, tidak melihat keberadaan Yan. Gin menghamburkan diri keluar penginapan. Dari pada mencari Yan yang tidak jelas keberadaanya, mending mencari makanan yang bisa di makan. Perutnya sudah berbunyi, lagipula dirinya masih memiliki simpanan, selain koin dalam Pekom.


Gin terus berjalan melihat-lihat sambil mencari sebuah restoran, sebenarnya sudah beberapa restoran yang dilewati, tapi bau makanannya kurang sedap. Jadi, terus mencari, bukan tanpa alasan bagi Gin, “Makanan yang sedap itu, memiliki bau yang sedap pula.”


Terus mencari, tapi belum ketemu juga, sampai matanya melihat seorang yang sedang duduk di tanah sembari memeluk sebuah pedang. Gin penasaran dengan orang tersebut, dengan tekat bulat dia mendekati orang yang memeluk pedang itu.

__ADS_1


Saat Gin sudah mendekati orang tersebut, terdengar suara perut keroncongan. “Eh, orang ini sedang kelaparan? Tapi, mengapa dia tidak mencari makan? Ah, sebaiknya kuajak saja. Biar saya yang bayar semuanya. Melihat dari wajahnya sih orang ini masih muda, tapi entah mengapa naluriku berkata bahwa orang ini sudah sepuh.”


“Apa kamu lapar, Tua bangka? Maukah kita makan bersama? Lagipula makanannya akan terasa hambar, kalau memakannya sendiri.” Gin kecoplosan mengatakan orang tersebut ‘Tua bangka.’ Dia segera menutup mulutnya reflek.


__ADS_2