Black Shadow

Black Shadow
Hampir


__ADS_3

Para prajurit yang tersisa maupun sudah tersadar dari pingsan, hanya bisa melongo menyaksikan pertarungan Gin dan Si Jubah Hitam. Mereka baru teringat akan Gin, dia bukan prajurit pribadi Tuan Putri.


 


Melainkan, dia adalah salah satu peserta turnamen. Mereka pernah melihatnya saat sedang berjalan-jalan mengawasi alur pendaftaran, sembari memastikan tidak ada yang berbuat curang maupun yang merusak pendaftaran turnamen.


 


“Hei, bukankah bocah itu adalah salah satu peserta turnamen. Saya pernah melihatnya mendaftar saat itu, tapi mengapa dia bisa keluar berlenggak-lenggok tanpa beban sama sekali? Jelas Raja telah membuat peraturan, agar seluruh peserta tidak boleh meninggalkan kamar mereka, kalau kedapatan akan langsung didiskualifikasi. Dan bagaimana dia bisa meloloskan diri dari ketatnya penjagaan prajurit?”


 


“Kau ini! Pasukan khusus seperti kita saja, dapat dikelabuinya dengan mudah. Apalagi para prajurit yang menjaga sepanjang asrama, mungkin kedengarannya agak kasar. Tapi, dia telah mempermainkan kita dan sepertinya ahli dalam bidang menipu.” Salah satu dari pasukan khusus menghembuskan nafas.


 


“Apa kita akan melaporkannya ke pihak panitia turnamen?” tanya salah satu dari mereka.


 


Mendengar hal tersebut, Tuan Putri berdehem. Dia sudah berada di depan pintu, sejak para pasukan khusus membicarakan Gin. Mendengar deheman Tuan Putri, reflek mereka semua berbalik dan mengambil sikap setengah berlutut, kecuali Gin. “Ampun, Tuan Putri. Kami tidak menyadari keberadaanmu.”


 


“Berdirilah, tak perlu seformal itu. Oh ya, saya harap kalian tidak melaporkan temanku ke panitia turnamen, karena saya yang memaksanya kemari. Kalau sampai saya mengetahui, teman saya didiskualifikasi oleh hal ini. Maka terima akibatnya, saya tidak akan mengampuni kalian. Meskipun, kalian adalah pasukan khusus, saya tidak peduli.” Mendengar ancaman Tuan Putri membuat nyali mereka menciut.


 


Tuan Putri menarik pergelangan tangan Gin dan masuk ke dalam ruang latihan, “Iblis Kecil, lepaskan tanganku!”


 


Pasukan khusus yang mendengar teriakan Gin, saling menatap dan bersuara secara bersamaan. “Iblis Kecil?”


 


Pasukan khusus menjerit, tidak menyangka Tuan Putri akan dipanggil seperti itu oleh rakyat biasa seperti Gin. “Kurasa, bocah itu terlalu berani di hadapan Tuan Putri. Dia bahkan menyebut Tuan Putri dengan ‘Iblis Kecil.’ Keberaniannya sudah melewati batas.”


 


“Kau benar, bahkan sangat benar. Tapi, selama Tuan Putri tidak keberatan, kita bisa apa?” Salah satu dari mereka berpikiran lebih terbuka dibanding yang lain, lagipula bila mereka mempersalahkan Gin dengan sebutan tersebut. Sementara, Tuan Putri tidak. Itu menjadi masalah tersendiri bagi mereka.


 


Mereka semua hanya bisa menghela nafas secara bersamaan. Pasukan khusus membagi tugas, setelah seluruh anggota mereka sadar dari pingsan. Akibat pertarungan melawan Si Jubah Hitam, satu kelompok berisi tiga orang harus melapor kepada Raja. Atas yang terjadi, namun kejadian sebenarnya telah dimanipulasi sedemikian rupa.


 

__ADS_1


Sementara, sisa pasukan harus berjaga di depan pintu ruang latihan, sampai Gin dan Tuan Putri keluar. Sesuai perintah Raja, ke mana ‘pun Tuan Putri pergi mereka harus ikut. Pasukan khusus merupakan orang-orang terlatih, meski sebagian besar dari mereka adalah mantan anggota prajurit Anwai.


 


“Mengapa kau meninggalkanku seorang diri di dalam ruang latihan tadi?” Tuan Putri kesal sembari melipat kedua tangan dan mengembungkan pipi.


 


Kuping Gin mendadak panas mendengar Tuan Putri mencak-mencak, tapi teringat kesadisannya pada Gin membuatnya urung untuk protes.


 


Gin menyapu seisi ruangan untuk mencari pedangnya, lelah mencari. Gin bertanya pada Tuan Putri, “Iblis Kecil, kau letakkan di mana pedangku?”


 


“Kau belum menjawab pertanyaanku, Gin!” ucap Tuan Putri sembari menunjuk-nunjuk Gin. Sementara yang ditunjuk hanya bisa menelan ludah. Tentu saja, Tuan Putri agak geram terhadapnya. Bukannya menjawab pertanyaannya, Gin malah menanyakan pedangnya.


 


“Bukankah sudah jelas, saya membantu prajurit di depan pintu yang diserang orang misterius.” Gin menjawab seadanya.


 


“Huft,  perihal pedangmu masih pada tempatnya tadi, di samping meja. Lagipula, saya tidak bisa mengangkat pedang sialan itu. Kukira lengan akan putus tadi, seakan pedangmu tidak ingin dipegang oleh orang lain, selain dirimu.” Tuan Putri tidak mengerti, dia bahkan tidak bisa menggeser pedang tersebut.


 


 


Gin yang mangut-mangut sembari mengitari ruang latihan, melihat itu Tuan Putri menjadi kesal. “Sebenarnya, apa yang ada dalam otakmu, hah?!”


 


Mendengar tersebut lamunan Gin terputus, “Yang ada dalam otakku? Saya juga bingung dengan isi otakku. Apa kau tahu yang ada dalam otakku, Iblis Kecil?”


 


“Apa kau meledekku? Kau saja tidak tahu, isi dalam otakmu. Apalagi saya, dasar bodoh!” Tuan Putri geregetan dengan tingkah Gin, dia sampai dibuat mencak-mencak olehnya. Tuan Putri sampai bingung dengannya.


 


“Dia ini terlewat polos, apa bodoh? Hal ini membuatku bingung,” batin Tuan Putri, dia baru pertama kali berhadapan dengan orang seperti Gin. Apalagi Tuan Putri belum banyak berinteraksi dengan orang lain.


 


Tiba-tiba Tuan Putri tersenyum picik, Gin yang melihat hal tersebut dibuat merinding. Perasaannya menjadi tidak enak, jadi sebelum Tuan Putri bersuara. Dia berinisiatif meninggalkan tempat latihan tersebut.

__ADS_1


 


“Hmm, Iblis Kecil. Inikan sudah larut malam, saya belum istirahat seharian. Saya juga manusia biasa yang butuh istirahat ekstra, setelah disiksa olehmu.” Gin menjelaskan dengan hati-hati. Dia tidak ingin melakukan kesalahan yang membuat semuanya menjadi runyam.


 


Akan tetapi, dengan perkataan seperti itu. Tentu akan mengundang masalah baginya, sama saja Gin sedang menggali kuburannya sendiri.


 


Tuan Putri memicingkan mata. Hal tersebut membuat Gin bergidik, dia mundur ke belakang secara perlahan-lahan dan tanpa aba-aba. Dia sudah bergerak cepat menuju pintu besar dan membukanya. “Gin!!!”


 


Teriak Tuan Putri, saat melihat Gin pergi meninggalkannya sendirian. Dia menjadi kesal terhadapnya dan menghentakkan kaki ke lantai dengan keras.


 


Suara Tuan Putri menggema ke seluruh ruang latihan, bahkan seluruh pasukan khusus menjadi terperanjat karenanya. Mereka ‘pun menatap tajam pada Gin yang baru keluar dengan wajah pucat. Hal tersebut menimbulkan banyak pertanyaan di benak mereka.


 


“Ke mana Tuan Putri?”


 


“Mengapa dia tidak keluar bersamamu?”


 


“Mengapa wajahmu pucat seperti mayat hidup, seperti itu?”


 


Gin menjadi frustasi mendengar pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh beberapa anggota pasukan khusus kepadanya, dia bingung harus menjawab yang mana dulu. “Saya tidak bisa menjawab pertanyaan kalian satu-persatu. Jelasnya saya tidak bisa berdiam lama di sini atau tidak nyawaku bisa melayang dalam sekejap.”


 


Gin berlari dengan cepat, tapi sebelum pergi terlalu jauh. Dia berteriak, “Sebaiknya, kalian berhati-hati. Iblis Kecil itu sedang mengamuk besar-besaran.”


 


Seluruh anggota pasukan khusus, mengernyitkan dahi. Mereka tidak mengerti dengan maksud perkataan Gin, seketika mereka semua tertawa bersama. Tapi, sialnya. Tawa mereka bersamaan dengan keluarnya Tuan Putri dari dalam ruang latihan.


 


Melihat emosi yang terpancar dari wajah Tuan Putri, membuat mereka menelan ludah. Bagaimana tidak, dia menatap seluruh anggota pasukan khusus dengan mata yang menyala-nyala. Mereka semua langsung merutuki Gin dan meratapi nasib mereka sendiri.

__ADS_1


__ADS_2