Black Shadow

Black Shadow
Kekuatan yang Tidak Terduga


__ADS_3

Lip berjalan menghampiri Raddas yang sedang menjauh darinya. Tubuhnya terbalut energi yang sungguh mengerikan. Hal tersebut membuat suasana mencengkam. Tubuh Raddas gemetar, keringat mengucur deras.


 


“Ini sudah berada di luar rencana,” batin salah seorang penonton turnamen. Sementara itu, Lip muncul di hadapan Raddas. Hal tersebut membuatnya terjatuh ke belakang dan merangkak mundur. Menjauh dari Lip.


 


Lip bergerak dengan cepat, hingga menarik rambut Raddas. Tubuh Raddas bergelantungan dengan rambut yang tertarik, membuatnya memekik kesakitan. “Arrgghhh.”


 


Lip tersenyum puas, dia sangat menikmati rasa sakit yang diterima oleh Raddas.


 


Sebuah pukulan mengenai perut Raddas. Pukulan tersebut membuat tubuhnya condong ke belakang. Rasa sakit yang diakibatkan oleh pukulan tersebut membuatnya kelimpungan, tubuhnya tidak tahan lagi menerima pukulan yang dipenuhi oleh rasa sakit dan membuat pandangannya buram. Ingin pingsan. Akan tetapi, dia teringat tujuannya mengikuti turnamen tersebut. Untuk menjadi perwakilan Kerajaan Selatan dalam pagelaran turnamen terbesar diantara keempat kerajaan yang ada.


 


Rasa sakit yang ada dalam tubuhnya seketika hilang, tidak berbekas. Raddas tiba-tiba merasa seluruh tubuhnya hangat. Tubuhnya terlapisi api tipis, sangat tipis.


 


Lip merengsek ke samping melayangkan sebuah pukulan dengan energi yang sangat pekat. Bum! Pukulan tersebut berbunyi, menghantam udara.


 


Seluruh penonton terpekik tertahan, menyaksikan pertarungan mereka berdua. Lip kesal menggertakkan gigi, dengan suara serak basah dia berkata, “Bagaimana mungkin?!”


 


Raddas juga bingung, tanpa sadar dia dapat menghindari serangan Lip yang begitu ganas.


 


“He!? Bagaimana mungkin kecepatannya bertambah begitu pesat?” Mata hitam tersebut semakin pekat, tidak ada yang lain. Hanya hitam.


 


Raddas merasakan kekuatan dalam tubuhnya melimpah-ruah, mengalir tanpa hambatan. “Ada apa ini? Mengapa kekuatan besar mengalir di tubuhku?”


 


“Hei, Yan. Lihatlah, Si Bocah Api itu bertambah kuat dalam sekejap.” Gin heran, sambil menunjuk-nunjuk ke arah Raddas.


 


“Saya tahu, Gin. Saya bisa merasakannya. Bukan hanya kamu yang memiliki mata, saya juga punya.” Yan agak kesal terhadap Gin.


 


Di saat turnamen berada pada puncaknya. Lihatlah, dia sekarang hanya mengoceh, tidak bisa diam. Tidak hanya Gin yang heran, Yan juga. Bahkan dia lebih heran dan sangat terkejut dengan kemajuan yang dimiliki Raddas.


 


Raja beserta orang-orang yang berada di sisinya, juga merasa terkejut. “Hei, Barbara. Saya tidak tahu latihan seperti apa yang kau berikan pada anakmu? Tapi, sepertinya dia bisa diandalkan.”


 


Sementara itu, Barbara mengepalkan tangan senang. Dia tidak menyangka putranya bisa bertambah kuat dalam waktu singkat. Meski dia juga merasa bingung dengan peningkatan kekuatan putranya yang begitu misterius.


 


Pertarungan Raddas dan Lip begitu mengguncang para penonton. Kecepatan keduanya hampir tidak bisa diikuti oleh para penonton, hanya sebagian kecil yang bisa mengikuti kecepatan keduanya.


 

__ADS_1


Raddas dan Lip saling bertukar pukulan, tak ada yang mau mengalah. Mereka bergerak cepat, ke sana-kemari untuk saling menyerang.


 


Lip mengeluarkan energinya untuk menyerang Raddas. Ini rumit, Raddas sedikit tersentak dengan serangan tersebut. Tak sedikitpun terpikir olehnya. Untungnya, dia masih bisa menghindari serangan tersebut dengan melengkungkan tubuh ke belakang.


 


Tak sampai disitu, Lip terus menyerang dengan energinya. Raddas melentingkan tubuh ke sana-kemari menghindari serangan musuh.


 


Lip bergerak ke arah Raddas, bukannya menghindar. Raddas hanya tersenyum, berdiam diri ditempatnya.


 


Lip mengerahkan pukulan, dapat dihindari hanya dengan memiringkan tubuh dan menendang perut Lip dengan lututnya. Hal tersebut membuat tubuh Lip melengkung ke belakang.


 


Raddas menggabungkan telapak tangan dan memukul punggung Lip. Hal tersebut membuatnya terbaring di lantai turnamen, memuntahkan darah hitam.


 


Penonton terdiam, tidak bersuara. Turnamen kali ini sangat berbeda dari sebelumnya. Turnamen ini jauh lebih seru, lebih mendebarkan dan sangat menakjubkan.


 


Tiba-tiba seluruh penonton bersorak, “Pertarungan macam apa itu tadi?” Samar-samar teriakan dari arah penonton terdengar.


 


Raddas dengan mata awas menunggu Lip bangkit. Dia tahu lawannya tak akan mudah dikalahkan begitu saja. Tiba-tiba saja, tubuh Lip menghilang dari hadapan Raddas. Hal tersebut membuatnya waspada dan menatap sekelilingnya.  Dia kesal. Ternyata tinggal pertarungannya saja yang belum selesai.


 


Tubuh Raddas terpental jauh, terkena serangan Lip. Dia bangkit kembali, Lip menghilang lagi. Lagi-lagi, Raddas terpental. “Arrggghhh.”


 


 


Dia mengawasi sekitar, menutup mata. Mencoba merasakan keberadaan lawannya, tapi nihil. Dia menggertakkan gigi, mulai kesal.


 


Raddas melemparkan bola api ke segala arah, bahkan hampir mengenai peserta turnamen yang sedang duduk santai, mengamati pertarungan mereka.


 


Para peserta tersebut belum bisa keluar dari arena. Bisa saja mereka bertarung satu sama lain, tapi mereka memilih untuk menonton pertarungan Raddas dan Lip yang sangat mengagumkan. Para peserta tersebut kocar-kacir menghindari serangan Raddas. Mereka semua mengumpat dalam hati.


 


Raddas secara samar merasakan keberadaan Lip di belakangnya, dia memutar tubuhnya dengan cepat dan menghantamkan bola api pada Lip. Bum!


 


Lip terpental mundur, tak hanya sampai disitu. Raddas tak membiarkan Lip untuk menghilang lagi dari matanya, dia bergerak maju dengan lengan diselimuti oleh kobaran api yang menyengat.


 


Bum! Bum! Bum! Serangan beruntun Raddas dapat ditangkis oleh Lip. Keduanya saling menyerang satu sama lain, cepat sekali.


 


Lip menghilang lagi dari hadapan Raddas, tapi sia-sia. Kini teknik tersebut tak lagi mempan terhadapnya. Lip agak kesal karenanya.

__ADS_1


 


Raddas mengeluarkan banyak bola api berukuran kecil yang mengelilingi dirinya, sementara Lip melapisi seluruh tubuhnya dengan energi hitam pekat.


 


Gin merinding merasakan kekuatan yang keluar dari tubuh Lip. “Hei, Yan. Apa mereka ingin saling membunuh?”


 


Yan hanya mengangkat bahu, dia fokus menonton pertarungan.


 


Raddas merengsek maju, dia mengerahkan pukulan terhadap Lip. Tapi, ditangkis dengan mudah. Dia menendang Lip, dapat ditangkis. Lip meninju Raddas, sebuah bola api kecil menghantam pukulannya.


 


Hal tersebut membuat Lip terpental ke belakang. Semua bola api yang tertinggal di belakang Raddas bergerak cepat ke arah Lip.


 


Sebuah ledakan besar muncul. Debu mengepul. Raddas tersenyum lebar, dia mengira Lip sudah kalah. Akan tetapi, dia tercekat ketika Lip muncul di belakangnya dan menghantamkan pukulan yang membuat Raddas terpental jauh.


 


Raddas bahkan sampai muntah darah oleh pukulan tersebut, “Cih, bagaimana bisa dia lolos dari seranganku sebelumnya? Kekuatan orang ini benar-benar gila!”


 


Lip muncul di hadapan Raddas. Begitu mendadak, tapi Raddas cukup siap. Dia bahkan telah pelapisi kakinya dengan api yang sangat panas.


 


Dia menendang Lip, tapi dapat dihindari. Lip menyerang balik dengan sebuah tendangan keras, ditangkis oleh Raddas. Tubuhnya terpental tiga meter karenanya, dia tak sanggup menangkis tendangan yang sangat kuat tersebut.


 


Raddas bergerak dengan cepat, dia menghantam Lip dengan sebuah tendangan, pukulan dan tandukan kepala. Kedua orang tersebut saling jual-beli pukulan. Bahkan lantai turnamen, tempat mereka berpijak retak-retak. Karena lonjakan energi keduanya saling berbenturan.


 


“Sepertinya, aku harus mengakhiri pertarungan ini.” Raddas tak sekedar membual, energi dalam tubuhnya melonjak. Tubuhnya, kini semakin panas. Bahkan, mengubah suhu sekitar. Lantai sekitar dengan radius dua meter terbakar.


 


Mata Lip semakin pekat, aura pekatnya semakin tajam. Dia mengacungkan tangannya ke depan, mengarah pada Raddas. Raja beserta petinggi kerajaan yang menonton sontak berdiri.


 


“Ini... Apa kekuatan ini benar-benar milik kedua bocah itu?” Raja tidak percaya dengan yang terpampang di hadapannya sendiri.


 


Bola pekat muncul di depan tangan Lip, dia bergerak ke arah Raddas. Raddas membuat bola api raksasa yang mengelilinginya, dia juga membentuk bola-bola kecil dari api yang begitu panas.


 


Mengarahkannya pada Lip. Bola-bola kecil tersebut tak langsung menyerang Lip, berhenti di sekitar tubuhnya. Mengitari Lip.


 


Tepat saat Lip melepaskan bola pekat tersebut, bola-bola kecil bergerak menyerangnya. Raddas menghilang dari hadapan Lip. Dia muncul di sebelah kirinya. Cukup jauh, dia melepaskan bola raksasa yang sangat panas tersebut.


 


Satu hal yang tidak diwaspadai oleh Raddas. Bola pekat milik Lip mengikutinya ke manapun.

__ADS_1


 


Bom! Beberapa orang panitia turun langsung membuat tameng. Agar percikan serangan dari kedua peserta tak mengenai penonton.


__ADS_2