
Gin dan Yan menaiki pelana kuda, tugas kedua remaja tersebut sudah selesai. Selama beberapa hari ini mereka berkutat dengan pekerjaan yang diberikan oleh Walikota. “Kalian sudah bekerja dengan baik, anak muda. Jangan lupa mampir, jikalau suatu hari nanti kalian melewati kota ini. Seluruh penduduk akan sangat merindukan kalian.”
“Oh ya, saya hampir lupa! Tanaman obat yang kau inginkan ada di pelana kudamu, anak muda.” Tunjuk Walikota pada Yan.
Selama beberapa hari ini Gin dan Yan kurang tidur. Terutama Yan yang lagi-lagi menjadi pemasok kayu untuk membuat lemari-lemari besar yang terdapat banyak sekali laci. Laci itu berfungsi sebagai tempat obat-obatan nantinya. Jika malam tiba, Gin lebih banyak tidur dibanding bekerja, tapi tetap saja kurang tidur.
Mereka berdua bekerja bagaikan tidak ada lagi hari esok. Untung saja, banyak penduduk yang menemani mereka lembur, lebih tepatnya menemani Yan tidur. Sering kali, Gin disiram air, agar tetap bekerja.
“Tega sekali mereka, menyiramiku air, dikiranya saya ini bunga? Sampai harus disiram. Lagipula saya baru saja tidur. Capek tahu bekerja dari tadi,” batin Gin. Bekerja? Dia lebih banyak planga-plongonya dibanding bekerja.
Banyak penduduk yang mengantar kepergian mereka. Gin dan Yan bersiap-siap memacu kuda. “Apa kau bisa menunggangi kuda, Gin?” Gin mengernyit, merasa terhina dengan ucapan Yan.
“Apa kau sedang memakiku, Yan?” Gin kesal memacu kudanya sembari melambaikan tangan kepada penduduk kota, tak lupa menolehkan kepala ke belakang, seutas senyum dari wajahnya sebagai tanda terima kasih kepada seluruh penduduk.
Melihat Gin yang melesat pergi bersama kuda tunggangannya, Yan berpamitan kepada penduduk desa dan Walikota. Sebelum kuda Yan melesat pergi, Walikota melemparkan sebuah botol kecil berwarna biru muda, membuat Yan mengerutkan dahi. “Pakai itu, jika temanmu dalam kondisi parah. Meski memiliki bakat yang luar biasa, tapi melihat sifatnya yang sembrono. Pasti dia akan membutuhkan sesuatu dalam botol itu.”
“Simpanlah baik-baik botol itu, suatu hari akan sangat berguna bagi kalian. Percayalah! Sifatnya itu mengingatkanku akan seseorang di masa lampau,” ujar Walikota dengan seutas senyum.
Tanpa basa-basi lagi, Yan mengangguk dan memacu kudanya cepat. “Siak.” Kuda Yan melesat cepat bagai suara yang merambat. Hanya dalam waktu singkat, Yan dapat menyusul Gin yang sedari tadi meninggalkan Kota.
“Kuda ini, cepatnya bukan main. Baru pertama kali, saya naik kuda secepat ini. Bahkan, monster kuda di hutan terlarang tidak secepat ini.” Gin riang berkata pada Yan.
__ADS_1
Mendengar perkataan Gin membuat Yan terbahak, menurutnya Gin sedang berbohong. Orang gila mana juga yang mau memasuki hutan terlarang? Jika pun ada, dia tidak akan keluar hidup-hidup! Yan sangat yakin hal itu. menurutnya hanya orang gila yang memasuki hutan tersebut. Hutan terlarang yang ada di Kerajaan Selatan, bukanlah hal yang asing lagi di telinga masyarakat.
Jangankan untuk mendekat atau memasuki hutan terlarang, memiliki niat saja penduduk Kerajaan Selatan sudah tidak berani. Hutan tersebut begitu mistis bagi orang-orang di Kerajaan Selatan. Bahkan, kabar tentang begitu menakutkannya hutan terlarang sampai ke empat Kerajaan.
Tidak sedikit orang yang mencoba memasuki hutan tersebut, hanya karena penasaran. Alhasil mereka tidak pernah terdengar lagi kabarnya.
Jadi mendengar perkataan Gin membuat Yan tertawa. Hal tersebut membuat Gin kesal, kudanya berlari kencang meninggalkan Yan di belakang.
Yan yang melihat Gin, hanya bisa menggelengkan kepala. Dia memacu kuda melaju cepat menyusul kuda Gin. Mereka berdua seperti sedang lomba kuda saja, kuda mereka berlari gesit diantara pepohonan, gesit menyebrangi sungai, gesit melompati lumpur. Cepat sekali lari kuda mereka, bahkan kecepatannya tidak berkurang saat mendaki perbukitan.
Mereka berhenti sejenak di puncak bukit, sekedar menikmati pemandangan yang astri. Nampak pepohonan palem di bawah sana, juga terdapat padang berduri di depannya. Lebat sekali, padang perdu itu.
Ada juga yang bilang ‘Pohon beringin angker, cocok untuk pesugihanlah. Cara cepat menambah uang.’ Hei di dunia ini juga terdapat hal yang seperti ini. Lagipula mitos bisa tersebar luas di mana pun. Bahkan, di sini juga.
Gin dan Yan beristirahat di bawah pohon itu, bukan karena kuda mereka yang lelah, tapi merekanya saja yang lelah ingin menambah energi. Pinggang mereka ngilu, duduk di atas pelana kuda selama berhari-hari tanpa istirahat, mereka bahkan rela makan dan minum di atas kuda yang masih berlari kencang.
“Kita sudah dekat dengan Kota, Gin. Kota besar, bahkan lebih besar dan megah di banding Kota Yure. Saya tahu kamu belum ke sana, bukan?” Gin hanya mengangkat kedua alis, lalu tersenyum.
Mereka berdua menikmati kesiur angin yang bertiup lambai, rumput-rumput bergoyang tanpa mengeluh, tubuh mereka diayun-ayunkan angin. Tidak seperti manusia yang sedikit-sedikit mengeluh, suara daun pohon beringin yang tertiup angin terdengar. Membuat ngantuk keduanya, tapi sigap saja, Yan berdiri loncat ke atas kuda.
Gin yang masih baring terlentang dengan menggigit setangkai rumput, berdiri lompat ke atas kuda, setelah melihat Yan bergerak loncat ke atas kudanya.
__ADS_1
“Maju, Madei.” Kuda Gin berteriak mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi, melesat cepat bagai kilatan petir.
Yan mengerutkan dahi, memacu kudanya. “Siak.” Yan berusaha keras, agar kuda Gin tersusul. Keras usahanya untuk menyusul kuda Gin.
“Kamu memberi nama kudamu, Gin. Kayak manusia saja pakai nama.” Gin tertawa mendengar pernyataan Yan. Di ke empat kerajaan memang adalah hal yang tabuh, jika memberi nama hewan tunggangan.
“Benar, nama kuda ini adalah Madei. Hei, hewan tunggangan juga perlu diperlakukan khusus, karena mereka yang membawa kita ke tempat tujuan, hewan tunggangan juga selalu berada di sisi kita. Jadi, bukan hal yang aneh, kalau hewan tungganganku diberi nama, bukan?” Mendengar penjelasan Gin, Yan hanya mangut-mangut.
“Benar juga katamu! Baiklah, saya juga akan memberi nama kuda ini. Hmm, ah, sudah kuputuskan namanya adalah Sicepat.” Kuda milik Yan yang masih berlari berhenti sejenak dan berteriak mengangkat kedua kaki depannya. Sepertinya, kuda Yan senang diberi nama.
Kuda Yan, lalu melesat cepat, bahkan sangat cepat hingga melewati Gin yang sudah berada jauh di depannya.
Gin tidak mau tinggal diam, kudanya disuruh untuk lari lebih cepat. Kuda mereka cepat saja, menuruni bukit yang cukup terjal. Kuda Gin dan Yan saling bersisian, saat ini mereka sedang melewati pohon palem yang terlihat dari atas bukit tadi.
Lincah sekali, kuda-kuda itu melewati pohon palem yang terkadang saling berhimpitan. Apalagi tanpa harus mengurangi kecepatan sedikit pun.
Kuda Gin dan Yan sudah keluar dari kumpulan pohon palem, berganti padang berduri. Tajam sekali, padang berduri ini, bahkan sesekali lengan Gin terluka. Tak jauh berbeda dengan Yan, hanya saja bajunya terkoyak di mana-mana. Sementara, jubah Gin baik-baik saja, meski terkena padang berduri sekalipun.
Kulit kuda mereka tebal sekali, tidak terluka sedikit pun saat melewati padang berduri. Untungnya, mereka cepat saja melalui padang itu. Jika tidak, bisa-bisa baju Yan habis, karena sobek terkena duri.
Kuda mereka terus melaju tanpa henti, hingga Gin dan Yan melihat sebuah kota dari kejauhan. “Itu pasti Kota Bintang. Kita semakin dekat dengan ibukota, setelah melewati Kota ini, Gin. Melihat kecepatan Madei dan Sicepat, kita bisa beristirahat di dalam kota beberapa hari. Tapi, ingat kita tidak boleh boros. Jika, tidak ingin menjadi gembel nanti di ibukota. Kita juga hanya bisa menyewa penginapan sederhana.” Gin hanya mengangguk saja ketika mendengarkan penjelasan Yan. Lagipula, dia tidak suka, kalau harus hidup bermewah-mewah.
__ADS_1