
Gin terduduk di atas arena. Dia sangat kelelahan, mengatur nafas dengan baik. Sementara itu, peserta lain melanjutkan pertarungannya.
Di sisi lain, terdapat pertarungan hebat lainnya. Tidak kalah hebat dengan pertarungan yang baru saja terjadi. Gin terbelalak, dia melihat lawannya yang sudah tersungkur, tidak berdaya. Kini berdiri tegap kembali, ada yang berbeda darinya.
Terdapat energi yang sangat pekat mengelilinginya, mata yang hitam pekat. Gin yang melihat fenomena tersebut dari dekat. Menelan ludah. Hei, melihatnya dari jauh sangat berbeda.
Gin bergerak maju, tapi tubuhnya terhempas ke belakang. Cepat. Dia merasakan sakit wajahnya, bengkak. “Kecepatannya sangat luar biasa.”
Yan, Bulan dan Putri yang melihat hal tersebut, berseru tertahan. “Jelas, orang itu bukan lawan yang sebanding dengan Gin saat ini.”
Gin baru saja berdiri, terkena serangan bertubi-tubi. Dia menjadi sam-sak hidup, tidak bisa melawan. Dia terlalu cepat untuknya.
Gin mencoba untuk menghindar, tapi pukulan tersebut sangat cepat. Dia memang bisa menghindari beberapa serangan, tapi tidak dengan sisanya.
Para penonton yang melihat hal tersebut, hening. Tidak ada sorakan sama sekali, berbeda dengan tadi. Mereka sangat semangat. Tidak percaya dengan penglihatan sendiri.
Masalahnya, lawan Gin bertambah kuat dalam waktu singkat. Bukan hal yang wajar di mata penonton, kejadian ini sama seperti yang terjadi pada beberapa peserta di group A dan B.
Gin membiarkan tubuhnya terbaring di atas lubang arena. Berpikir keras. Sementara itu, Lawan Gin menyerang peserta lain yang sedang bertarung satu sama lain. Ada beberapa yang membuat perlawanan. Sisanya, gagal keluar arena, tidak sadarkan diri atau menyerah.
Sisa peserta yang ada di atas turnamen tinggal lima orang, termasuk Gin. Tiga orang yang terkena diganggu pertarungannya, tidak terima. Mereka kerja sama untuk mengalahkan orang di hadapan mereka.
Ketiga orang tersebut mengeluarkan energi mereka, berpencar ke tiga arah. Mengerumuni peserta yang berenergi pekat. Gin beristirahat sebentar, duduk manis menonton pertarungan mereka.
Dia belum berniat untuk ikut dalam pertarungan tersebut, terlalu mengambil resiko. Pikiran tersebut, hanya ada di pikiran Yan. Jelas Gin, tidak suka seperti itu. Dia langsung berdiri, bergerak maju menyerang pria berenergi pekat.
Dihindari dengan mudah, sebuah tendangan mementalkan Gin. Ketiga peserta yang tadi sudah bersiap, mereka bergerak maju. Bertarung secara bersisian. Saling mengisi satu sama lain.
Tabrakan energi meletup-letup. Arena turnamen bergerak aktif menyerang ketiga peserta, menghindar ke sana-kemari.
Gin bergerak melapisi tangan energi tipis, memukul arena turnamen yang menyerang peserta lain. Dalam sekejap arena tersebut hancur, tapi kembali utuh. Tidak putus asa, Gin terus menyerang arena yang bergerak tersebut. Sementara ketiga peserta sibuk menyerang pengguna arena.
Gin berulang kali menghancurkan arena yang bisa bergerak tersebut. Sialnya, arena tersebut kembali utuh, sama seperti semula. Sementara ketiga peserta sedang jual-beli pukulan dengan pengguna arena.
Mereka dibuat terkejut, saat melihat energi lawan semakin besar saja. Tidak ada jalan mundur, mereka harus menghadapinya. Ketiga peserta tersebut menjadi sam-sak hidup, muntah darah berkali-kali.
Gin melihat kondisi ketiga orang tersebut, dia mengambil alih melawan pengguna arena. Sementara ketiga orang tersebut menghancurkan bagian arena yang dapat bergerak.
__ADS_1
Gin melapisi tangannya dengan energi yang sedikit lebih besar pada tangan dan kakinya, menelan ludah. Bergerak maju, menyerang lawan. Jual-beli pukulan diantara keduanya tidak terhindarkan.
Gin miring ke kanan, menangkis tendangan pengguna arena. Dia mengerahkan pukulan, lawannya terpental jauh. Padahal pukulan Gin belum mengenainya, tidak hanya sampai di situ.
Mata lawan Gin semakin pekat, mengusap darah pada sudut bibirnya. Gin muncul di sampingnya, menendang kepalanya. Hal tersebut membuat lawannya tersungkur di lantai arena.
Gin mengerahkan pukulan secara bertubi-tubi ke arah lawan. Hal tersebut membuat lawannya menggulingkan tubuh. Menghindari serangan Gin.
Kepingan lantai arena turnamen berhamburan, akibat pukulan Gin. Retak di mana-mana, dia terus mengejar lawannya. Tidak ingin memberinya peluang sama sekali.
Gin lengah, terlalu bernafsu menyerang lawannya. Hingga, dia tidak sadar telah memberikan celah pada lawannya. Tubuh Gin terpental jauh, terkena sebuah serangan yang dilapisi oleh energi yang kuat.
Bangkit kembali, dia bergerak saling jual-beli pukulan dengan lawannya. Gin meliukkan tubuh. Menghajar lawan menggunakan tangan kanannya, lawannya mundur tiga langkah.
Bergerak lebih cepat kali ini, dia telah melampaui batas kemampuannya sendiri. Muncul di hadapan lawan, mengarahkan sebuah tendangan keras. Namun dapat dihindari dengan mudah.
Tangan Gin ditangkap, dia dibanting oleh lawannya. Akan diinjak, namun dengan cepat menggulingkan tubuh. Gin berdiri, mengerahkan pukulan yang mengenai perut lawan. Hal tersebut membuat tubuh lawan melengkung ke belakang. Muntah darah.
Gin menyiku lawannya, hingga membuatnya menghancurkan lantai arena. Lawannya berdiri kembali, lompat menendang kepala Gin. Dia menunduk, memutar tubuh. Mengerahkan sebuah pukulan, namun dapat ditangkis dengan mudah.
Lawan Gin menempelkan tangannya pada lantai arena. Tiba-tiba, tangannya berubah seperti warna arena. Tangannya saat ini lebih kuat dari baja, karena dilapisi oleh energinya.
Tangan Gin kebas, ketika harus menahan pukulan lawan yang terus datang. Dia terpekik menahan sakit, tidak tahan dengan pukulan yang datang silih-berganti.
Lawannya tersenyum, “Kau cukup tangguh, Bocah!”
Gin mundur ke belakang, dia seperti pernah mendengar suara tersebut. Tapi, sedikit lupa telah mendengarnya di mana.
Yan mengepalkan tangan, sesekali berseru menahan nafas. Saat melihat Gin dihajar habis-habisan. Dia juga bersorak, saat Gin mendaratkan sebuah pukulan yang teramat kuat pada lawannya.
Dia bawah sana, Gin sedang bertarung mati-matian melawan orang yang lebih kuat darinya saat ini. Yan tersenyum, ketika melihat Gin berkembang selama pertarungan tersebut. Kecepatannya bertambah.
Gin menghembuskan nafas halus, dia tidak menyangka pertarungannya akan serunyam ini. Jika saja, kecepatannya tidak berkurang drastis, dia tidak akan sesulit ini menghadapi lawannya.
Jual-beli pukulan terjadi, Gin bergerak gesit meliuk-liukkan tubuhnya. Menghindari serangan yang datang. Dia tidak hanya sekedar menghindar saja, memberikan perlawanan juga.
__ADS_1
Gin jatuh-bangun, terhempas. Dipaksa mundur beberapa langkah ke belakang. Di balik hal tersebut, kemampuannya terus berkembang selama bertarung. Tanpa disadari olehnya.
Dia sangat keras kepala, tidak mau menyerah. Terus berdiri lagi. Tidak mau kalah begitu saja. Gin mengelak, hampir saja terkena serangan dari arah belakang. Arena turnamen yang bergerak mengincarnya. Lolos dari pengawasan ketiga peserta.
Gin menghapus peluh, tersengal. “Saya tidak bisa, seperti ini terus. Harus bergerak cepat. Mengalahkan orang ini.”
Gin bergerak maju, mengerahkan pukulan. Lawan Gin termundur dua langkah ke belakang. Bergerak cepat menendangnya. Namun dapat dihindari dengan mudah. Gin tidak menyerah, melakukan tendangan memutar. Mengincar lehernya.
Lawan Gin terjungkal, karenanya. Leher patah. Hanya saja, dia berdiri kembali dengan senyum sumringah. Menunjuk Gin. Dia memegang kepala sendiri, meluruskan kembali lehernya. Terdengar suara tulang yang berbunyi.
Gin merinding mendengar hal tersebut. Lawan Gin mengeluarkan energi yang sangat besar, arena turnamen pecah. Terbentuk bola besar dari pecahan bebatuan arena tersebut. Tepat di atas lawan Gin.
Ketiga peserta heran, cambuk yang terbuat dari arena. Tiba-tiba tidak bergerak, pecah menjadi bebatuan. Naik ke atas menjadi bola raksasa.
Gin melompat mundur secara perlahan, terus seperti itu. Sampai tidak sadar, dia telah berada di sudut arena. Paling pinggir.
Bola raksasa yang terbuat dari bebatuan tersebut dikerahkan ke arah Gin. Reflek, Gin mundur. Dia mendarat di luar arena, para penonton yang sedang tegang melihat bola raksasa tersebut, terbahak. Begitu juga dengan Raja dan para petinggi Kerajaan Selatan. Sementara Bulan mencak-mencak, mengumpat, menyumpah serapah pada Gin. Putri hanya menggelengkan kepala. Tidak menyangka, Gin akan sebodoh itu.
‘Jurus angin kegelapan, tornado kegelapan’ Tornado berwarna gelap muncul mengitari Gin, tornado tersebut semakin lama menjadi besar. Menutupi tubuh Gin. Dengan cepat wasit membuat kubah raksasa, retak. Masih kurang, para panitia yang lain turun tangan, ikut membantu. Memperkuat kubah tersebut.
Semua tawa yang bergema, kini redup. Para penonton menahan nafas, tidak percaya dengan penglihatan mereka sendiri. Sementara Raja berdecak kagum, saat melihat jurus Gin.
Yan mengepalkan tangan, meninju ke arah udara. Dia tidak menyangka, Gin akan mengeluarkan jurus tersebut. Arena turnamen kacau, balau. Ketiga peserta yang ada di atas arena berseru ketakutan. Tidak habis pikir dengan skala kekuatan yang dikeluarkan oleh Gin dan lawannya.
Ketiga peserta turnamen tersebut tiarap, berharap tidak terkena imbas dari jurus kedua orang tersebut. Namun tiba-tiba dua orang muncul di dekat mereka, menarik mereka menjauh dari arena.
Ketiganya tiba-tiba, muncul di atas tribun. Menyaksikan betapa dasyatnya, tabrakan antara kedua jurus yang saling beradu. Mereka berseru tertahan, menggelengkan kepala. Menelan ludah sendiri.
Tidak lama, muncul sebuah ledakan besar. Membuat retak kubah besar. Para penonton menjerit melihat hal tersebut. Hingga, akhirnya kubah raksasa tersebut hancur berantakan.
Raja mengambil alih, membuat pertahanan yang sangat kuat. Mencegah ledakan merembes keluar. Terlebih pecahan bebatuan arena yang terhempas. Pecah.
Perlahan-lahan tornado yang mengelilingi Gin, mengecil. Hingga akhirnya menghilang. Tak bersisa. Tidak ada kepulan debu di sekitar. Arena turnamen, hanya tinggal bongkahan batu saja.
Gin terlihat tersenyum konyol, sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sementara itu, lawannya tidak sadarkan diri. Berlumuran darah.
Para prajurit muncul dari pintu masuk. Mereka bergerak cepat dengan tandu, mengangkat tubuh lawan Gin. Membawanya ke Tabib, agar mendapat perawatan dan pengobatan.
__ADS_1
Turnamen group D telah berakhir. Gin tidak lolos ke babak selanjutnya, dia menyesal. Karena sudah mengerahkan seluruh kemampuannya. Hari yang melelahkan baginya.