Black Shadow

Black Shadow
Perkara Luka di Pipi


__ADS_3

Drak dan Rog terkena cambukkan api milik perempuan kecil tersebut, mereka menjerit kesakitan. Mereka tidak bisa berbuat banyak. Hanya bisa berteriak, sembari menahan sakit yang begitu sangat.


 


Drak terpental jauh, memuntahkan darah yang cukup banyak. Tidak jauh berbeda dengan Rog. “Kita lari dari sini secepatnya, jika ingin tetap hidup. Kita benar-benar tidak punya kesempatan kali ini, sebelumnya kita hanya beruntung bisa menghabisi sebagian besar dari musuh. Kali ini berbeda!”


 


“Hei, jika kita lari sekarang. Sama saja membunuh para prajurit itu. Kita harus bertahan, setidaknya sampai bala bantuan tiba. Bukankah, kau sendiri yang mengatakannya sebelum ini?” Rog menjawab. Posisi mereka tidak terlalu berjauhan.


 


Drak bergerak maju dengan cepat, mengerahkam pukulan yang sangat keras. Namun dapat ditangkis dengan mudah menggunakan cambuk milik perempuan kecil.


 


Perempuan kecil melakukan gerakan memutar, mengerahkan serangan cambuk yang hampir mengenai kaki Drak. Untungnya, dia melompat untuk menghindari serangan tersebut.


 


Drak bergerak dengan cekatan, mengerahkan pukulan bertubi-tubi. Namun semua serangannya hanya mengenai udara kosong. Perempuan kecil yang sedang kesal, dia mengerahkan cambuknya. Memukul Drak, hal tersebut membuatnya terpental ke belakang. Meringis kesakitan.


 


Tidak hanya itu, perempuan kecil memberikan cambukan bertubi-tubi pada Drak yang sedang terbaring di tanah, belum sempat berdiri dia. Drak berteriak kesakitan, suaranya sampai menggema.


 


Sempat terlintas dalam benak untuk menyumpah serapahi Rog yang tidak kunjung menolongnya, atau sekedar menyerang perempuan kecil. Memberinya ruang lolos dari amukan perempuan kecil. Padahal semua kemarahan perempuan kecil, dialah penyebabnya. Melukai wajah perempuan kecil. “Rog, apa kau sudah lari menyelamatkan diri. Meninggalkanku tersiksa di sini?”


 


Rog mengatupkan rahang dengan keras, bergerak cepat mengerahkan kapak miliknya untuk menyerang perempuan kecil. Namun perempuan kecil melilitkan cambuknya pada pegangan kapak milik Rog, dia menarik cambuk miliknya. Hal tersebut membuat Rog ikut tertarik. Bertahan sekuat mungkin, tidak ingin terhempas ke arah perempuan kecil.


 


Tubuh Rog tertarik oleh perempuan kecil, dia melesat. Untung saja, Drak mampu membuat perempuan kecil terhempas jauh dengan pukulannya. “Apa kau baik-baik saja?”


 


“Menurutmu, saya tetap akan baik-baik saja, setelah menerima pecutan cambuk berapi di seluruh tubuh?” Drak kesal pada Rog. Baginya pertanyaan Rog sama saja dengan meledeknya. Tidak membantu sama sekali. Mereka bergerak secara simultan, saat perempuan kecil melancarkan serangan kepada mereka.


 


Mereka bergerak cepat untuk menghindari serangan yang datang, ke kanan dan kiri, tanpa henti. Pecutan cambuk milik perempuan kecil meninggalkan bekas pada tanah, lubang kecil.


 


Bebatuan berhamburan di mana-mana, akibat pecutan cambuk milik perempuan kecil. Dia masih kesal pada Drak yang telah melukai wajahnya, “Berani sekali, Bocah itu. Melukai wajah cantikku begitu saja. Kupastikan kau akan menyesalinya, Bocah!”


 


Drak tertegun. Dia tidak tahu sebabnya, hanya saja tiba-tiba merasakan sesuatu yang menakutkan. Tapi, dia tidak tahu jelasnya. Keringatnya tiba-tiba mengucur, tanpa sebab.


 


Perempuan kecil muncul di hadapannya dengan senyuman sinis. Hal tersebut membuat keringat Drak semakin deras, perempuan kecil muncul terlalu tiba-tiba. Terlebih, dia kurang fokus tadi.


 

__ADS_1


Drak tercekik lehernya, kesulitan dalam bernafas. Terlebih, pada lehernya mulai tercipta luka bakar. Perempuan kecil mengerahkan energi apinya yang terpusat pada tangan kanannya. Persis pada tangan yang digunakan untuk mencekik Drak. Menambah luka bakar yang sebelumnya ada di lehernya, luka bakar dari cambuk.


 


Hal tersebut membuat Drak memekik kesakitan, dia mengerahkan sebuah tendangan keras. Hanya saja, dapat dihindari oleh perempuan kecil. Mundur tiga langkah.


 


Drak terbatuk, menghirup nafas sebanyak mungkin. Nafasnya sesak, akibat tercekik oleh perempuan kecil tersebut. Dia berulangkali mengumpat dalam hati, karena dicekik oleh perempuan kecil tersebut. Padahal tingginya hanya sebahu, tapi dia bisa mencekik Drak tanpa kesulitan.


 


Drak bergerak cepat, mengerahkan pukulan keras pada perempuan kecil. Sementara itu, Rog mengayunkan kapaknya dari samping. Serangan dua arah, tapi tidak membuat perempuan kecil gentar. Dia dengan santai mundur ke belakang, mengerahkan pecutan cambuk pada keduanya. Cepat sekali gerakannya, dalam waktu singkat mampu membuat Drak dan Rog tersungkur.


 


Melayangkan pecutan cambuk padan keduanya. Hal tersebut membuat mereka memekik menahan sakit, Rog menggelindingkan tubuhnya. Akan tetapi, cambuk tersebut mengikutinya. “Saya sudah mencobanya tadi, itu tidak akan berhasil. Tapi, teruskan itu bisa membuatmu menjadi sasaran.”


 


Drak bergerak cepat, mengerahkan pukulan kuat pada perempuan kecil. Namun dia terhempas, mengumpat keras dalam hati. Cambuk itu sangat cepat menyeramgnya, dia tidak sempat menghindar. Terlebih, sepengetahuannya cambuk tersebut sedang mengejar Rog.


 


Perempuan kecil menciptakan harimau dari energi apinya, harimau api tersebut berlari ke arah Drak. Menabraknya begitu saja, ledakan lumayan besar muncul.


 


Drak yang sempat menutup mata tadi. Heran, dia tidak merasakan sakit. Hanya benturan punggungnya pada tanah, padahal jelas-jelas harimau api itu sedikit lagi mengenainya tadi. Begitu membuka mata, dia melihat sesosok remaja berdiri tegap di hadapannya. Bukan Rog! “Mungkin, dia yang telah menangkis harimau kecil itu.”


 


 


“Tua bangka? Maksudmu?” Drak masih tidak mengerti, bersamaan dengan Rog yang muncul di samping Drak membantunya untuk berdiri.


 


Raddas menghembuskan nafas kasar, “Sepertinya kalian tidak mengenalnya. Hei, dia itu salah satu Tetua Klan Api, kita bertiga melawannya sekaligus tidak akan mampu mengalahkannya. Beruntung, dia tidak langsung membunuh kalian berdua.”


 


“Apaaa?!” Drak dan Rog berteriak secara bersamaan, mereka tidak pernah menyangka perempuan kecil yang dilawan sejak awal adalah salah satu tetua Klan Api.


 


“Kau tidak sedang bercanda ‘kan? Hei, seorang bocah menjadi tetua di Klan besar? Mustahil.” Drak masih tidak percaya pada perkataan Raddas.


 


“Huft, sepertinya kalian tidak memperhatikan perkataanku. Sudah kubilang, dia itu tua bangka. Tubuhnya saja yang kecil, tapi umurnya bahkan bisa tiga kali lipat dari umurmu, Drak. Kalian benar-benar tertipu dengan penampilannya. Dia itu satu-satunya tetua yang selalu bertindak seenaknya dalam Klan, hanya mendengarkan ucapan Ayah. Selain itu, jangan harap!” Raddas berkata jujur.


 


“Sebaiknya, kita mencari cara untuk lari darinya. Jika tidak? Jangan harap, masih hidup esok hari. Menghadapinya tidak semudah membalikkan telapak tangan, terlebih dengan kekuatan kita yang sekarang.” Radas berkata terus-terang, tidak ingin menyembunyikan apapun.


 


Pertempuran para prajurit masih terus berlangsung, banyak dari mereka merasa kelelahan. Pertempuran itu berlangsung sengit. Namun jumlah kedua belah pihak sudah berkurang banyak. Bahkan, bisa dibilang pihak Kerajaan sedang berada di atas angin, Raddas sempat membantu tadi. Hanya saja, dia terpaksa memisahkan diri untuk menolong Drak.

__ADS_1


 


Raddas sudah memberi instruksi pada salah satu pasukan khusus, dia memberitahunya agar cepat mencari tempat aman begitu berhasil mengalahkan musuh.


 


“Hei, kau ingin menjadi pengecut, Raddas?” Sebenarnya Drak setuju pada Raddas, hanya dia ingin menjaga wibawanya di depan Raddas.


 


“Eh, kau tidak berada di pihak Ayahmu, Raddas? Membantunya untuk menggulingkan tahta Raja sekarang.” Rog bertanya pada Raddas. Sementara itu, Raddas kesal pada Drak dan Rog. Mereka masih banyak tanya, sementara Raddas sedang pusing memikirkan cara untuk lari dari perempuan kecil.


 


“Hentikan pertanyaan bodoh kalian, sebaiknya kalian mencari cara untuk kita bisa lolos darinya. Tepat sepuluh menit setelah para prajurit Kerajaan memenangkan pertempuran mereka, benar kita harus memberikan mereka waktu sepuluh menit. Agar mereka mencari tempat aman.” Tatapan Raddas tidak pernah lepas dari perempuan kecil tersebut. Dia benar-benar waspada padanya.


 


Begitu perempuan kecil bergerak, Raddas ikut bergerak menyerang. Mereka bertarung, saling menghantamkan energi api satu sama lain. Drak dan Rog tidak hanya sekedar menonton saja. Mereka ikut membantu, bertarung secara bersisian melawan perempuan kecil.


 


Gerakan mereka, seperti saling terhubung satu sama lain. Saling mengisi. Mereka cocok dalam satu tim, terbentuk secara alami. Tidak dibuat-buat. Satu terhempas, maka akan diisi satu orang. Sementara yang lain, akan menjadi support sistem dari belakang, menghalau serangan yang datang. Kerja sama yang sangat baik.


 


Mereka terus bertarung, bertahan hidup. Beberapa kali harus jatuh-bangun, hal yang biasa dalam pertempuran. Terhempas jauh, bangkit lagi untuk melawan. Perempuan kecil terbahak, tawanya mengisi udara.


 


Pertempuan energi Raddas dan perempuan kecil menciptakan ledakan kecil. Membuat ketiganya mundur beberapa langkah ke belakang, sementara perempua kecil tidak terkena efek apapun.


 


Pertempuran para prajurit telah selesai, mereka terpukau oleh pertarungan ketiga bocah tersebut melawan perempuan kecil. Menurut para prajurit, pertempuran tersebut sangat mengagumkam. Mereka lupa harus mencari tempat yang aman, terpukau oleh pertarungan tersebut. Sementara Raddas dan yang lain mengumpat keras dalam hati. Menyumpah serapahi para prajurit Kerajaan yang masih tetap di tempat menonton pertarungan tersebut. Padahal mereka sudah susah payah, setengah mati menahan rasa sakit oleh serangan perempuan kecil yang datang bertubi-tubi.


 


“Hei, kita harus menjauh dari tempat ini, mencari tempat yang aman. Atau membasmi musuh yang masih berkeliaran. Orang itu bukan lawan kita.” Salah satu dari anggota khusus mengingat pesan Raddas sebelumnya. Mereka pergi dari tempat tersebut.


 


Begitu melihat para prajurit menjauh, membuat Raddas dan yang lain menghela nafas lega. Mereka masih harus bertarung sedikit lebih lama lagi. Ketiganya sudah kelelahan, mendapat luka parah. Terlebih Drak dan Rog.


 


“Jika kau bukan anak dari ketua Klan. Cih, sudah sejak awal kau terbunuh di tanganku, Bocah!” Perempuan kecil menggeram marah, begitu mendapat lebam pada wajahnya. Dia mengerahkan cambuknya ke sana-kemari menghancurkan tempat tersebut.


 


Raddas dan yang lain kesulitan menghindari seramgan tersebut. Mereka sesekali, terpental jauh terkena serangan tersebut. “Ini mulai menyebalkan!”


 


Raddas melepaskan serangan bola api yang lumayan besar secara beruntun, mengenai perempuan kecil. Ledakan muncul secara bertubi-tubi. Ketiganya bergantian saling menatap, bergerak menjauh dari tempat itu. Lari sejauh yang mereka bisa.


***


Raja terdiam, dia merasakan energi yang sangat besar. Tidak menyangka, Gin menyimpan energi sebesar itu dalam tubuhnya. Meski sudah jauh dari posisi Gin, dia tanpa sadar mundur dua langkah ke belakang. Mereka saling berpandangan satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2