
Raja hanya terdiam, saat salah satu berandal menarik bangku. Duduk di sampingnya, sambil memeluk bahunya, “Ah, ayolah. Saya tahu, kau punya cukup banyak uang, meski berpenampilan seperti ini. Daripada dihabiskan sendiri. Lebih baik, kau berikan pada kami ini.”
Raja tetap diam tidak menanggapi, tetap santai menyeruput tehnya. Merasa diabaikan membuat berandalan tersebut naik pintam, menarik kerah baju Raja. Berandal tersebut tersenyum lebar, menatap lekat pada Raja, “Saya akan membunuh dan tidak akan memaafkanmu. Kecuali, kau bersujud padaku sembari meminta maaf. Mungkin hal tersebut dapat kupertimbangkan.”
Perkataan berandal tersebut membuat tawa teman-temannya pecah, mimik wajah Raja seketika berubah marah. Akan tetapi, mimiknya kembali datar, acuh dengan berandal di depannya. Matanya malah menyapu sekitar, dari sela-sela kumpulan berandal yang mengelilinginya. Raja melihat pelanggan lain yang kepalanya dilekatkan ke meja. Ada yang disiksa dengan pukulan. Hal itu disebabkan, karena mereka tidak sudi memberi uang kepada para berandal.
Raja tidak bisa lagi menahan amarah, dia memukul berandal yang sedang menarik kerah bajunya. Hal tersebut membuat berandal terhempas ke belakang dan menabrak kawannya. Berandal yang di pukul oleh Raja langsung terkapar tidak sadarkan diri, terdapat sedikit darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
Hal tersebut membuat berandal yang lain, pucat fasih. Mereka tidak menyangka akan salah sasaran. Orang yang mereka hadapi saat ini, bukan orang sembarangan. Mereka semua memiliki mental kecil, karenanya para berandal tersebut lari tunggang-langgang meninggalkan satu kawannya yang masih terkapar pingsan.
Sementara, para pelanggan yang lain bersyukur dengan adanya pria berbaju compang-camping tersebut. Tidak lain adalah Raja Selatan. Dia mampu mengusir kumpulan berandal seorang diri, meski ada tiga petarung dari klan-klan besar di situ yang ingin menonton, peserta yang berasal dari klan mereka masing-masing.
Mereka semua duduk di meja yang terpisah, sesuai klan masing-masing. Lihatlah, mereka tertawa terbahak, padahal di sekitar mereka baru saja tertimpa masalah.
Mereka tidak peduli dengan kekacauan yang ditimbulkan oleh para berandal tadi. Selama mereka tidak terganggu, maka mereka membiarkan para berandal melakukan semua hal keji di kedai teh.
Diam-diam Raja melihat gerak-gerik orang-orang tersebut, “Baru kali ini, saya melihat ada berandal yang memasuki Ibukota dan membuat kekacauan seperti ini,” batin Raja.
Raja dengan cepat meninggalkan kedai teh, setelah muak melihat peringai orang-orang yang berasal dari berbagai klan tersebut. Ini bukan kali pertama melihat wajah orang-orang tersebut, bahkan terlalu sering Raja melihat mereka datang ke istana meminta bantuan padanya dengan berbagai alasan, mengajukan misi tanpa membayar ke Kerajaan dengan alasan inilah-itulah.
Raja benar-benar tidak tahan melihat wajah mereka. Selalu saja menampakkan wajah malaikat di depannya, tapi saat di belakang sifat dan wajah mereka selaras berubah menjadi seperti iblis bertanduk.
__ADS_1
Raja memutuskan berkeliling, sembari melihat perkembangan perbaikan kota. Dia mendengar perbincangan beberapa petani yang sedang duduk sambil menikmati roti yang telah dipesan. Mereka berasal dari desa, datang menjual hasil panen ke Ibukota. Merasa penasaran, Raja langsung duduk di meja yang paling dekat dengan mereka.
Kedai tersebut menaruh meja dan kursi di luar, karena memang bangunan kedai tersebut sangatlah kecil. Jadi, pelanggan kedai harus menikmati roti di luar, tepat pada meja yang telah tersedia. “Pajak dari Kerajaan terus naik dan panen juga sering kali gagal, karena hama dan kemarau yang berkepanjangan.”
“Ya, kau benar. Pajak yang tinggi, begitu mencekik. Sering kali, kita harus merugi.” Salah satu dari petani menghembuskan nafas gusar.
“Karena kerugian tersebut, kerap kali kita petani sulit untuk membiayai hidup. Belum lagi harus terpaksa membayar pajak, jika tidak salah satu dari anak kita akan di bawa oleh para prajurit untuk dijual sebagai budak.” Raja mendengar hal tersebut gemetar, matanya memerah, emosinya memuncak, bahkan dia reflek memukul meja hingga hancur.
Hal tersebut membuat semua sorot mata yang berada di sekitar kedai, tertuju padanya. “Bagaimana semua ini bisa terjadi? Bukankah, saya sudah memerintahkan Barbara untuk menurunkan pajak rakyat, memberi waktu bagi rakyat yang tidak mampu membayar, atau bahkan tidak memaksa mereka untuk membayar pajak,” batinnya.
Raja mengepal tangan kuat sembari mengeluarkan lima koin emas, meletakkannya pada napan pelayan yang sedang termangu, memegang napan pesanan pelanggan. Dia berjalan pergi dengan penuh amarah, setiap orang berpas-pasan dengan Raja akan merasakan nuansa yang mengerikan.
Nafas mereka sempat tertahan, baru bisa berhembus lega ketika Raja sudah melangkah jauh dari tempat mereka berada. “Aura yang sangat mengerikan, baru kali ini saya merasakan aura semengerikan itu.”
“Kau benar, siapa orang hebat itu? Saya juga baru merasakan aura seperti itu, bahkan kakiku masih gemetar sampai saat ini.”
“Apa dia monster? Bagaimana mungkin manusia bisa memiliki aura seperti itu?” Bisik-bisik diantara para petarung hebat.
Meski, sedang emosi Raja tetap dapat masuk dalam Kerajaan tanpa ketahuan seorang ‘pun. Dia masuk kamar dan melepas semua penyamarannya.
__ADS_1
Dengan mengatupkan rahang Raja memerintahkan seorang prajurit, “Panggil komandan pasukan khusus untuk menghadap padaku. Secepatnya!”
Seketika prajurit tersebut terjatuh pingsan. Dia syok melihat Raja yang dikenalnya murah senyum, seketika marah di hadapannya. Apalagi ditambah dengan aura yang sangat menyeramkan, membuatnya lupa bernafas.
Raja yang sedang dipenuhi emosi, seketika tenang. Akibat melihat prajurit yang terjatuh pingsan di hadapannya, “Apa saya terlalu melepaskan emosi, ya? Sampai membuat prajurit ini pingsan. Sebaiknya, saya menenangkan diri terlebih dahulu dan menyelesaikan turnamen tahun ini. Sebelum mengadakan rapat dadakan, sekaligus sidang.”
Raja hanya bisa menggelengkan kepala tidak percaya, dia tidak menyangka emosinya menjadi tidak stabil seperti ini. Kemudian Raja memanggil beberapa orang prajurit dan memerintahkannya untuk membawa prajurit yang sedang pingsan tersebut.
Raja kemudian masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat. Mengeluarkan peluit, lalu meniupnya, seperti sebelumnya tak ada suara yang keluar. Menunggu beberapa menit, akhirnya Kilin muncul.
“Maaf telah membuat Raja menunggu. Apakah ada misi baru?” Kilin heran, misi sebelumnya saja. Dia belum dapat menyelesaikannya. Jika dugaanya benar, maka Raja akan memberikannya misi baru.
“Kau benar, Kilin. Ada misi baru untukmu, meskipun saya tahu. Misi sebelumnya belum bisa kamu pecahkan, tapi saya minta kamu harus fokus pada misi yang satu ini.” Kilin mengernyitkan dahi.
Raja mengerti maksud kerutan tersebut. Akhirnya, Raja menjelaskan tentang perbincangan para petani yang mengeluhkan pajak yang diberlakukan pihak Kerajaan. Raja menjelaskan dengan emosi yang membludak, serta aura yang keluar tanpa disadari.
Kilin pucat pasih, baru pertama kali melihat Raja semarah itu. Apalagi sampai mengeluarkan aura yang sangat mengerikan. “Ini sungguh misi yang sangat sulit, terbukti dari kemarahan Raja yang membuncah seperti ini,” batin Kilin.
“Kau boleh membunuh orang yang menjadi otak dari semua ini, jika orang tersebut di luar kemampuanmu laporkan padaku. Saya yang mengeksekusi orang tersebut.” Kilin terkejut mendengar perintah Raja.
__ADS_1
“Apa masalah yang kutangani seserius ini?”